oleh

Daluga, Kisah Seksi Pangan Sangihe Di tengah Bencana Wabah Penyakit dan Perang

Umbi lokal Daluga (Cyrtosperma merkussi), dalam sejarahnya merupakan sumber bahan pangan alternative di tengah krisis pangan akibat serangan wabah penyakit dan perang bagi masyarakat Sangihe Talaud.

Ketika perang dunia II pecah sejak tanggal 1 September 1939. Harga kopra anjlok hingga tingkat terendah. Ekonomi kerajaan Tagulandang benar-benar terpukul dan terpuruk. Kerajaan kecil berpenduduk 11.401 jiwa ini pun dilanda krisis pangan.

Raja Tagulandang Willem Philips Jacobz Simbat (1936-1942), pun meresepkan menu pokok untuk pangan rakyatnya ketika itu yaitu Daluga –atau dalam sebutan lokal “Kiha” – lewat ‘Titah Raja’ di awal tahun 1939. Bahkan Raja menyarankan, perayaan pesta oleh penduduk cukup dengan menyediakan Daluga, lemper dan jenis-jenis umbian lokal untuk menu pesta.

Mengutip Ensiklopedia Hindia-Belanda 1939 disebutkan sepuluh ribu penduduk kerajaan Tagulandang ketika itu tak lagi mengkonsumsi gula dan teh. Kue kering pun ditabukan apabila disiapkan dari tepung. Kebijakan Raja Simbat ini didasarkan pada pertimbangan penghematan di tengah perang yang melanda dunia waktu itu.

Sementara di Kerajaan Siau, dalam catatan sejarawan, Adrianus Kojongian, Daluga juga diresepkan sebagai penyelamat pangan oleh Raja Frans Pieter Parengkuan, bersama-sama dengan umbi-umbian lokal termasuk sagu yang banyak tumbuh di kawasan Mburake dan danau Kapeta.

Raja Frans Pieter Parengkuan adalah raja Kerajaan Siau yang dilantik secara resmi sebagai raja pada tanggal 16 September 1930 oleh pejabat Belanda Risiden Manado Anton Philip van Aken, dan dikukuhkan dengan beslit gubernemen 2 Februari 1931 nomor 7.

Ketika terjadi krisis pangan pada tahun 1941 akibat Perang Dunia II, kerajaan Siau tertolong oleh ketersediaan cadangan pangan berupa umbi-umbian lokal ini, termasuk kebijakan Raja Parengkuan menjadikan kawasan Mburake dan danau Kapeta sebagai sentra produksi tanaman pangan diantaranya, singkong, talas, ubi jalar, pisang, padi, bawang, tomat, dan rica.

Selama memerintah, Parengkuan menerapkan pembangunan lumbung pangan di beberapa kampung dan menyimpan 6000 karung padi. Ini sebabnya, ketika terjadi krisis pangan pada tahun 1941 akibat Perang Dunia II itu, kerajaan Siau tertolong oleh ketersediaan cadangan pangan ini.

Masyarakat di kepulauan Sangihe dan Talaud, tak lepas dari sejarah serangan berbagai wabah penyakit, termasuk kolera, di tahun 1820. Begitu pula, ketika 1920, wabah flu menerjang, dan memangsa lebih dari 500 juta penduduk bumi di berbagai belahan barat dan timur, bahkan hingga ke Kutub Utara yang dingin.

“Di Sangihe Talaud pada tahun 1860, wabah penyakit cacar menyerang masyarakat dan mengakibatkan penderitaan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata. Jumlah kematian begitu besar sehingga dalam beberapa desa tidak ada lagi orang tersisa untuk menguburkan orang – orang yang sudah mati. Seringkali orang hanya membongkar beberapa helai papan, dari lubang ini dimana mereka dibiarkan begitu saja di bawah rumah,” tulis misionaris Brilman dalam “Onze zending velden De zending op de sangi-en Talaud – eilanden”.

Pada tahun 1563, Peter Antonio Marta, juga menulis tentang sebuah pesta kurban terbesar yang digelar di Sangihe Talaud untuk melawan sebuah wabah penyakit yang menyerang secara massif penduduk kepulauan itu.

Daluga Kian Seksi

Di Sangihe Talaud, Daluga belakangan ini telah menjadi pangan yang terbilang seksi. Karena umbian lokal ini mulai nampak disajikan pada pesta bergengsi, di antaranya pada pesta perkawinan, ulang tahun, pesta adat, dan pesta di kalangan pemerintahan.

Tanaman pangan lokal ini menurut penelitian sejumlah pakar disebutkan mempunyai nilai penting bagi masyarakat Kepulauan Sangihe dan sekitarnya dalam menunjang program pemerintah untuk meningkatkan ketahanan dan kemandirian pangan.

Rawa adalah tempat tumbuh tanaman Daluga. Merupakan jenis umbi yang tergolong family Araceae, tumbuh pada rawa berpasir dengan berat umbi sekitar 0,18-2 kg, mengandung karbohidrat tinggi sekitar 32,53%.

Umumnya masyarakat pulau Sangihe dan Talaud mengkonsumsi umbi Daluga setelah direbus, dikukus, dipanggang, atau digoreng. Umbi ini juga diolah menjadi kue kering atau kue tradisional yang dikenal sebagai “kue katan.

Sepanjang sejarah krisis pangan di Sangihe Talaud akibat bencana alam, wabah penyakit dan perang, Daluga menjadi pangan penyelamat penduduk dari bencana kelaparan.

Sekilas Sejarah Krisis Pangan

Sebagaimana sepanjang sejarah peradaban, kondisi perang dan serangan wabah penyakit –seperti COVID-19 saat ini – bukan tidak mungkin akan memicu krisis pangan. Pada era modern, kesadaran akan bahaya kelangkaan pangan tersebut muncul di kalangan masyarakat internasional. Sejak 1981, Food and Agriculture Organization (FAO) melalui resolusi PBB No 1/1979 menetapkan 16 Oktober sebagai Hari Pangan Sedunia (HPS). .

Jika merujuk pada sejarah, terungkap bagaimana krisis pangan juga telah menjelma sebagai momok melintasi peradaban. Sejumlah peradaban kuno pernah menjadi saksi bagaimana jutaan orang meninggal karena kekurangan pangan.

Menurut Peter Garnsey, dalam bukunya Famine and Food Supply in the Graeco-Roman World, dalam peradaban Romawi kuno, air menjadi barang penting dalam kehidupan manusia. Ketika kekeringan dan banjir yang silih berganti membuat keadaan air kurang bersahabat. Air menjadi rumah patogen yang dengan mudah bisa berpindah pada tubuh manusia.

Ditambah kekeringan yang berkepanjangan menyebabkan kekurangan bahan pangan dan kelaparan. Laut Mediterania beralih seolah menjadi kolam renang untuk penyakit menular. Dua penyakit mewabah saat itu adalah malaria dan skistosomiasis (infeksi yang disebabkan oleh cacing pipih (cacing pita)).

Laut yang menjadi jalur lalu lintas itu menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk. Dari sinilah malaria menjadi masalah kesehatan yang serius. Skistosomiasis (bilharzias) selama ribuan tahun menjadi momok. Mewabahnya penyakit ini salah satunya karena air yang mengalir ke ladang pertanian masyarakat melalui irigasi dan banjir.

Menurut Peter Garnsey, dalam buku Cities, Peasants and Food in Classical Antiquity/, bencana kelaparan dapat berlangsung secara berkala saat terjadi gangguan politik. Selalu ada hubungan sebab akibat antara perang, penduduk lokal dan asing, dengan kelaparan.

Athena dan Roma mengalami masa sulit ketika krisis pangan. Di Roma, antara 509 dan 384 SM, juga antara 123 dan 50 SM, terjadi kekurangan bahan pangan sebagai akibat dari perang, kekacauan sipil, penyakit, dan penyimpangan iklim.

Dalam buku Empires of Food: Feast, Famine, and the Rise and Fall of Civilizations karya Evan Fraser dan Andrew Rimas terungkap, wabah kelaparan pernah menjadi mimpi buruk dalam sejarah Negara Tirai Bambu. Di Cina Utara, dalam periode tiga tahun, angka kematian mendekati 13 juta jiwa. Diperkirakan, dalam sehari, 12 ribu orang meninggal.

Masa kekeringan yang terjadi pada 1876-1878 menjadi penyebab utama dari wabah kelaparan di Cina Utara. Bayangkan sebuah wilayah yang cukup luas tak pernah diguyur hujan selama bertahun-tahun. Situasi tersebut menimbulkan dampak adanya aksi kriminalitas yang cukup tinggi. Bahkan, tindakan bunuh diri menjadi hal yang biasa. Respons menakutkan lainnya adanya kanibalisme dan menjual anak-anak.

Serangkaian banjir yang terjadi di Mesir juga menyebabkan bencana kelaparan. The Mind of Egypt: History and Meaning in the Time of the Pharaohs karya Jan Assmann mengungkapkan, banjir yang terjadi selama beberapa tahun membuat warganya menderita kelaparan, terjangkit wabah penyakit, dan kerusuhan sipil.

Pada 967 M, banjir menyebabkan kelaparan yang menewaskan 600 ribu orang tewas di sekitar Fustat. Kelaparan merupakan suatu bencana alam terburuk di bumi. Efeknya sangat luas, kerusakan yang disebabkan oleh bencana ini bisa bertahan selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.

Saat ini ketika serangan wabah COVID-19 melanda dunia, Ekonom Bank Permata Josua Pardede, kepada pers di Jakarta, Sabtu (28/3/2020) menyatakan krisis ekonomi dan keuangan global cepat atau lambat bakal turut memengaruhi perekonomian Indonesia. Sektor yang pertama kali terpukul oleh krisis tersebut adalah sektor produksi dan pengeluaran.

“Transmisi dampak COVID-19 terhadap perekonomian Indonesia mempengaruhi sisi produksi dan sisi pengeluaran perekenomian,” ujar Josua. Akibatnya, konsumsi hingga daya beli masyarakat bakal ikut terimbas bila tidak segera diantisipasi secara baik oleh pemerintah.

Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) juga menyatakan ekonomi dan keuangan global saat ini tengah mengalami krisis akibat pandemi virus corona (COVID-19). Lantaran virus ini telah mewabah di hampir seluruh negara dan sekaligus melumpuhkan ekonomi.

Apabila dunia terperosok dalam Krisis pangan, maka bahaya kelaparan akan menjadi wabah menakutkan. Bencana yang sangat sulit dibayangkan daya rusaknya. Erich Fromm, filsuf penulis “The Sane Society” (Masyarakat Yang Sehat) barangkali merinding ketika berpikir dan membayangkan bagaimana seandainya 90 persen penduduk dunia yang merupakan kaum miskin itu bangkit merampas harta milik kaum kaya.

Gelombang besar amukan itu –sebagaimana disimpulkan Karl Marx dalam teori pertentangan kelasnya– segera melindas habis 10 persen kaum kaya. Bahkan negara bisa koyak bila rakyatnya lapar.

Editor : Iverdixon Tinungki

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed