oleh

Bagaimana Orang Sangihe Talaud Masa Lalu Melawan Wabah Virus? Ini Kisahnya…

Dalam kisah masa lampau orang-orang Sangihe Talaud, dikenal sebuah tradisi yang disebut “Hari-hari Penebusan Umum”. Di sana seseorang akan dibunuh pada sebuah altar persembahan, sebagai ritual melawan virus dan wabah penyakit.

Orang-orang Sangihe Talaud masa lampau sangat menjaga tatanan keseimbangan alam. Segala bentuk tindakan dan perbuatan manusia yang merusak tatanan keseimbangan alam, diyakini akan mendapatkan balasan dari alam, baik dalam bentuk serangan wabah penyakit dan bencana alam.

Serangan virus dan wabah penyakit dalam masa lalu kepulauan ini sebagaimana ditulis misionaris Daniel Brilman dalam “Onze zending velden De zending op de sangi-en Talaud – eilanden”, selalu dipandang sebagai pekerjaan roh-roh dan makhluk halus yang mewakili unsur alam itu. Untuk memperdamaikan atau melawan itu, masyarakat menggelar ritual menolak bala.

Pada tahun 1563, Peter Antonio Marta, menulis tentang sebuah pesta kurban terbesar yang di gelar di kepulauan itu untuk melawan sebuah wabah penyakit. Mereka melakukan penyembahan kurban kepada roh, yang mereka namakan Monham.

Bunyi tambor dan breng-breng bertingkah-tingkah mungusik malam dalam rimba. Ini hari pertama. Perkemahan sudah di bangun. Mesbah ritual pun sudah tersedia. Semua itu disiapkan selama berhari-hari dengan mengikuti aturan-aturan tradisi yang ketat. Tak ada yang boleh keliru. Sebagian besar penduduk pulau pun ada di sana. Dari pulau-pulau lain perwakilannya juga hadir mengikuti upacara ritual pengusir bala ini.

Kian larut bunyi mistis magi ini terus meresik rincing-gerincing. Semuanya sedang berjuang menentramkan roh-roh dan makhluk-makhluk halus, maupun untuk menghilangkan amarahnya yang kini menimpa kepulauan.

Berjenis-jenis korban telah tersaji di mesbah khusus di tengah kurumunan orang-orang. Bunga, buah-buahan dan makanan disajikan di sana bagi roh-roh halus itu. Semuanya ditata apik dalam piring-piring khusus berwarna putih serta keranjang-keranjang ayaman Rotan dan Ginto. Meja itu laiknya mesbah persembahan Abraham kalau kita membaca Bible.

“Bersama darah mengalirlah kehidupan!” Teriakan Datu yang memimpin ritual itu terdengar melengking. Orang-orang pun bersorak. Para penari perempuan kian rancak. “Oleh aliran darah terbebaskanlah sesuatu kuasa yang kuat yang menjadi arus-lawan terhadap pelbagai kejahatan dan wabah,” desisnya.

Di arena, seorang lelaki telah disiapkan sebagai korban puncak. Lelaki itu kemudian dipukul di kepalanya. Mata lelaki itu berkelinjatan dalam perih, saat balok yang dihatam kepadanya membentur kepalanya.

“Dengan memukul keras seseorang di kepalanya, nyawanya dapat melayang, sekalipun tanpa pertumpahan darah. Kepala itu adalah pembawa suatu kuasa tersembunyi. Mengaktifkan tenaga-tenaga yang tersembunyi di dalam aliran darah. Dan kepala itu untuk menolak malapetaka. Itulah maksud upacara membawa korban ini,” kata Datu

Hari-hari berikutnya wanita-wanita tua penangkap roh terus saja menari dan menari hingga satu-satu mulai kerasukan, dan roh-roh mulai berkata-kata lewat wanita-wanita itu.

Sementara di sisi kerumunan yang lain ada beberapa wanita melakukan sembahyang kepada roh-roh lain dan Ompung-Ompung. Mereka bagaikan sedang berhalusinasi mengeluarkan serentetan kata ditujukan kepada orang yang ia sangkakan hadir di situ. Dan makin lama, makin bertambah gejolak semangatnya. Kedua mata mereka tidak dikatupkan, tetapi dibiarkan berputar-putar dalam lobangnya.

Mereka berbicara sementara berdiri dan secara berganti-ganti mereka memanggil roh-roh, jiwa-jiwa leluhur. Kadang-kadang mereka menjerit-jerit mengeluarkan serentetan kata-kata yang dihubung-hubungkan menjadi kalimat-kalimat yang panjang sekali, hingga mereka seakan tidak mempunyai waktu untuk bernafas dan busa keluar dari mulut mereka.

Pada permulaan setiap kalimat yang baru diucapkan secara berganti-ganti, kekiri dan kekanan mereka menghentakkan kaki di tanah untuk menambah kekuatan kata-katanya. Tidak banyak orang sanggup bersembahyang dengan cara ini. Sebab, bahasa yang digunakan adalah sastra tinggi, yang tidak diketahui umum. Hanya para dukun dan golongan tertentu yang menguasainya. Roh-roh konon tidak merasa malu bergaul dengan orang-orang ini. Mereka adalah bangsawan tinggi dengan sejarah hidup yang hebat.

Pesta persembahan umum ini berlangsung selama sembilan hari. Dari segala pelosok orang datang membanjirinya. Hutan ini telah dipenuhi orang-orang. Perkemahan dibangun di mana-mana. Semua orang seperti menanti harapan hari baik setelah upacara ini lewat.

Di sana juga dibuat sebuah pondok daun-daunan besar. Itu rumah persembahan yang sebenarnya yang di sekeliling beberapa yang lebih kecil, menjadi tempat bernaung untuk peserta yang banyak itu. Peserta-peserta mengambil bagian dalam santap bersama.

Mendengarkan sembahyang-sembahyang, bercakalele, bersasalo, atau menonton tarinya yang dilakukan oleh wanita-wanita, lalu sebagai selingan makan lagi untuk kemudian mulai lagi. Siang atau malam kurang diacuhkan. Siapa kelelahan bisa mencari suatu tempat sepi untuk tidur sebentar. Sesudah bangun, orang bergabung lagi dengan yang berpesta. Seluruh pesta persembahan berakhir, biasanya karena banyak minum saguer, ada yang mabuk dan terjadi perkelahian.

“Ini pesta kurban terbesar setelah kejadian yang sama seperti kesaksian Peter Antonio Marta, pada tahun 1563,” tulis Brilman. Mereka memberinya makan daging babi atau ikan sebagai lauk, dan tuak sebagai minuman, yang disajikan dengan menari-nari sambil memukul genderang dan membunyikan lonceng-lonceng. Semua itu dikerjakan kaum wanita.

Selain dukun dan dukun wanita resmi, orang juga menghormati tukang sihir dan petenung. Kekuatan fetis-fetisnya ada kalanya dapat membawa pertolongan. Jika pertolongan dukun ternyata tidak mempan, orang pergi kepada si “Bikawika”, tukang sihir yang dapat meramal.

Kepada si “Tahapamitua” yang dapat menerangkan mimpi. Meminta pertolongan si Tahapebikawera yang dapat menghilangkan khasiatnya kutukan. Meminta pertolongan pada si “Tahatariang” atau si “Tahapebitung” yang hampir selalu dapat mengetahui roh mana yang menyebabkan penderitaan. Jika hal ini diketahui, maka orang lalu pergi pada dukun untuk menghilangkan pengaruh roh itu. Tetapi sesekali tukang sihir itu dapat langsung menolong untuk menghilangkan penderitaan atau menyembuhkan seseorang yang sakit.

Jika seorang dukun atau tukang sihir tidak berhasil dengan cara mereka yang biasa untuk menghilangkan suatu penyakit atau malapetaka, maka dicobalah dengan menggunakan praktek-praktek syamanis mencari hubungan dengan roh seseorang yang sudah mati.

Bila melihat orang tidak waras otaknya, maka keadaan ini dianggap terjadi karena sesuatu roh. Kebanyakan disebabkan roh-roh alam yang rendah. Roh itu telah memasuki tubuh dan menyebabkan sakit.

Histeri, penyakit ayan, katalepsi, letargi dan sonambulisme yang juga terdapat pada orang primitif maupun pada kita, tidak dapat diterangkan selain mempercayai bahwa suatu roh jahat telah menempati tubuh.

Masyarakat juga mengenal “Doro” sebagai roh yang dapat memasuki seseorang dan menempati dia untuk sementara waktu atau disebut Sumawang. Mereka mengenal juga “tau piadoro” seorang yang dapat menyuruh roh masuk ke dalamnya dan mengenal juga “medaroro” yaitu upacara untuk dukun-dukun wanita mendatangkan roh-roh dalam dirinya.

Untuk memperlancar hubungan langsung dengan makhluk-makhluk halus ini dipakailah pelbagai cara. Cara yang paling sederhana yaitu, dukun wanita meninggalkan salah seorang dari muridnya dalam rumah orang sakit yang kesembuhannya diusahakan bersama dengan keluarga si sakit itu. Ia sendiri pergi ke kubur seorang kepala keluarga yang terakhir meninggal.

Sementara semua orang yang terkumpul di sana menangis, maka dukun wanita itu membentangkan sapu tangannya di atas kubur itu, menempatkan tangannya di bawah sapu tangan itu, kemudian mengumpulkan keempat ujungnya bersama-sama dan dengan demikian membawa roh yang sudah meninggal itu ke rumah si sakit.

Isi sapu tangan itu dikebaskan di atas kepala murid yang ditinggalkan. Sang murid kemudian mulai meliuk-lampai dan mengeluarkan bermacam-macam bunyi yang tidak dapat dimengerti. Tetapi dukun wanita itu mendengar dengan teliti dengan telinga pada mulut muridnya, sampai ia dapat menyatakan kepada keluarga si sakit, bahwa roh yang dicari itu telah hadir.

Hal ini selalu terjadi dengan isyarat lemah, dan tidak pernah menyebut suatu nama, karena hal terakhir ini akan berakibat buruk bagi si sakit. Orang-orang yang di sekelilingnya diperingatkan oleh dukun wanita untuk diam, karena roh itu hendak menyampaikan suatu pesan.

Perantara itu sesungguhnya mengeluarkan beberapa bunyi, tetapi hanya si dukun wanita mengerti maksudnya dan menyampaikan keinginan roh itu kepada keluarga dan mereka ini berjanji akan memenuhinya. Sesudahnya, roh itu dikembalikan ke kubur dengan upacara yang sama.

Suatu metode yang lain untuk mencari hubungan langsung dengan roh, adalah membuat orang, juga di luar golongan dukun, berada dalam keadaan “ekstase” (emosi yang berlebih-lebihan). Dengan jalan sambil duduk membiarkan dia menghirup asap kemenyan. Sementara itu orang-orang memukul breng-breng (ceracap atau alat pukul dari tembaga) dalam irama cepat.

Sesudah beberapa waktu mulailah nampak kekejangan pada si perantara. Ia meloncat ke atas diiringi oleh pukulan breng-breng yang sama. Kemudian ia meloncat-loncat dari belakang ke muka, sambil mengibas-ngibaskan tangan dan kaki, sampai ia jatuh karena kekejangan. Inilah tanda, bahwa roh telah memasuki dia. Dari bunyi-bunyi yang tidak beraturan itu yang dicetuskan oleh si perantara, orang mencoba menangkap keinginan roh.

Dalam keadaan-keadaan yang gawat atau roh mengamuk lewat perantara, bertindaklah tiga atau empat orang dukun wanita. Maka bukan saja di serambi depan rumah itu disiapkan satu tempat tidur berhias, dimana orang coba bertemu dengan roh, tetapi juga di halaman didirikan baginya sebuah rumah penginapan sementara.

Dukun-dukun wanita itu tujuh malam berturut-turut datang dan tinggal sampai jauh malam untuk menarikan beberapa jenis tari-tarian, juga tari-tarian perang – dengan dilengkapi pedang kayu – dalam tempo yang memanaskan semangat diiringi oleh breng-breng. Tiap kali seorang dari dukun-dukun wanita itu jatuh bagaikan tidak sadarkan diri, segera ditanyakan oleh yang lain dekat pada telinganya nama dari roh yang memasuki dia.

Tetapi di sini, keinginan roh harus dicari dari bunyi-bunyi yang tidak beraturan itu. Dan jika sesudah beberapa waktu si pengantara itu sadar lagi maka orang-orang sekelilingnya tidak dapat mendengar apa-apa, kecuali dari keterangan bunyi-bunyi yang diberikan oleh dukun-dukun wanita yang lain.

Pada malam ketujuh suasana ramai memuncak baik dari dukun-dukun wanita maupun dari para penonton. Disembelihlah binatang kurban, yang darahnya diminum oleh dukun-dukun wanita dan daging-dagingnya dibagi-bagikan kepada orang-orang yang hadir. Akhir upacara untuk memanggil makhluk-makhluk halus ini adalah membasuh diri di laut.

Orang-orang Sangihe Talaud masa lalu, memandang bermacam-macam kemalangan orang disebabkan amarah makhluk-makhluk halus sebagai pembalasan atas perbuatan-perbuatan buruk manusia secara sadar atau tidak, ungkap Brilman.

Orang harus selalu berjaga menghindari pengaruh-pengaruh yang merugikan dari amarah mahluk halus itu dan hal ini bisa tercapai dengan jalan melakukan tindakan-tindakan tertentu yang akibat seluruhnya dipikirkan secara magis, sehingga orang merasa diri aman lagi terhadap pembalasan dendam dewa-dewa.

Editor : Iverdixon Tinungki

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed