oleh

Yunita Lumempouw, Pendeta Pegiat Budaya Literasi

Bitung, Barta1.com – Pendeta galibnya identik dengan rutinitas pelayanan gereja. Namun, Pendeta Yunita Lumempouw adalah sosok yang spesial. Maklum, di tengah kesuntukannya menjalankan tugas kependetaan, wanita kelahiran Bitung 1 Juni 1974 ini juga aktif melakoni eksistensinya sebagai pegiat budaya literasi.

Budaya literasi yang digelutinya, terspesifikasi pada dunia kehidupan anak. Itu pun menggeliat di dua kutub yang bertaut dan saling mengisi.

Sang bunda yang akrab disapa ‘Pendeta Ita’ ini, mengatakan kutub pertama adalah kreativitasnya dalam menulis cerita anak (cernak). Kutub kedua adalah inisiatifnya dalam mendirikan Sanggar Literasi bagi anak, yang dinamainya ‘CERDAS’.

Cernak karya Magister Pendidikan Kristen jebolan UKIT ini sebagian besar beranjak dari kisah-kisah Alkitab yang menyuguhkan nilai-nilai positif bagi pembinaan iman dan karakter anak. Itu sebabnya, sejumlah cernak garapan Pendeta Ita turut menghiasi lembaran buku Bina Anak Sinode GMIM yang terbit pada tahun 2018.

“Sebagai orang Bitung, wanita bervokal merdu yang pernah berduet (sepanggung) dengan Choky Sitohang di sebuah momen konser rohani ini tentu juga memanfaatkan kekayaan natur dan kultur lokal Kota Cakalang itu dalam proses kreatifnya.

Ini terbukti dengan kehadiran buku cernaknya tentang yaki (kera) berpantat merah, sebuah buku yang pada akhir tahun lalu diterbitkan dengan judul ‘Wolai’ oleh Balai Bahasa dan Perbukuan Sulut.

“Tentang inisiatifnya mendirikan Sanggar Literasi bagi anak, Pendeta yang sebulan lalu pernah melakukan ‘anjangsana pelayanan gereja’ di ibukota negara Timor Leste ini mengaku, hal ini merupakan pengembangan kegiatan perpustakaan keliling yang dilakoninya sejak beberapa tahun lalu.

“Saya bersyukur karena suami saya pernah menjadi Lurah di Kota Bitung. Kesempatan itu saya manfaatkan untuk menggiatkan Perpustakaan Keliling secara rutin,” kenangnya.

Pendeta Ita bertutur, inisiatifnya menggiatkan perpustakaan keliling yang kemudian dikembangkannya menjadi Sanggar Literasi berangkat dari keterpanggilan pribadinya untuk berperan nyata dalam gerakan literasi nasional dan pendidikan karakter yang dicanangkan oleh pemerintah.

Alhasil, hamba Tuhan yang gemar berinovasi dalam penatalayanan ibadah ini pun berharap, agar sanggar literasi yang didirikannya itu dapat memfasilitasi masyarakat dalam upaya menanamkan kegemaran membaca dan nilai-nilai karakter luhur bagi anak bangsa.

Penulis : Albert P Nalang

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed