oleh

Menangkap Ikan Dalam Cermin Tradisi Nusa Utara

Di pulau Intata, Kakorotan, Talaud Utara, penduduknya masih memelihara Mane’e. Sebuah tradisi tua menangkap ikan dengan janur kelapa. Di hadapan daun berbalut magis tradisi lama, ikan-ikan seakan tunduk dan patuh untuk ditangkap.

Dalam tradisi aslinya, Mane’e terdiri dari 9 tahap. Tahap pertama disebut dengan Maraca Pundangi atau memotong dan mengambil tali hutan termasuk mengumpulkan janur. Prosesi ini dilakukan 3-4 hari sebelum acara utama dilaksanakan. Disusul upacara permohonan kepada Tuhan yang disebut Mangolompara. Kegiatan dilaksanakan pada subuh sebelum alat penangkapan ikan disebar ke laut. Kemudian dilanjutkan dengan Matuda Tampa Panee atau acara menuju lokasi upacara Mane’e di mana di sana mereka akan membuat perangkap ikan menggunakan janur dan prosesi ini dinamakan Mamabi U Sammi.

Setelah peralatan siap mereka akan menebar sammi atau perangkap ikan dari janur yang telah di buat tadi ke tengah laut, tahap ini dinamakan Mamoto U Sammi. Selanjutnya warga akan menarik sammi ke darat atau Mamole U Sammi. Setelah ikan mendarat mereka mengambil hasil tangkapan,membaginya dan diakhiri dengan melakukan kegiatan syukuran yang masing-masing tahap disebut dengan Manganu Ina, Matahia Ina dan Manarima alami.

Sebagaimana tradisi orang-orang di selatan Sangihe yang diwarnai legenda bahari masa lampau, bagi banyak orang, menangkap ikan dengan daun kelapa seakan sesuatu yang mustahil. Tapi di Kakorotan hal itu nyata, dan menjadi akar penting dalam membentuk kesadaran diri masyarakatnya mencintai laut. Sebagai anak-anak kepulauan, mereka tidak asing dengan gelegak hidup nelayan yang berteman angin, bersahabatkan ombak.

Prof Dr Ir Frans G Ijong MSc, seorang pakar perikanan Sulawesi Utara menyimpulkan, tradisi menangkap ikan semacam ini adalah simbol kesadaran intelektual masa lalu orang-orang Sangihe Talaud (Nusa Utara).

SAWAKKA

kenduri bidadari
pesta penghulu mata angin
batu hitam. batu kata
bisa ya bisa
bertamburlah!
tetua menghunus belati
menyatu moyang
brengbreng. tarian lepas
hati menepung dan lepas
ombak adalah sejarah tua tak kenal rentah
merentak di setiap tubuh mencari sebuah pucak mantra:
siapa engkau
aku naga. naga menyan berwarna ungu dan merah
wewangian liang hati asal cinta bertubah
berapa rupa bunga
berapa tangkai melati
untuk kudupa pada bumi
aku hanya minta kau mengingatku bagai kekasih
sulihlah mimpi hutanhutan ingin tumbuh
laut tak kau lupa
katakata tak beku
jadi?
mari menari dengan arakku
darah pulau karang selalu mendidih
–di pagi hari saat matahari tiba
ada dunia di balik kita berbisik—

Namun sebelum membincangkan Mane’e di pulau magis Kokorotan, Talaud, saya ingin mengajak anda ke selatan, ke Sangihe, ke pulau Para, ke negeri “Tonaseng” yang hidup dalam tradisi laut mereka yang unik.

Di puncak bukit pulau Para ada pohon “Kalisusu”. Kemboja (Plumeria) tua itu konon berusia ratusan tahun menaungi sebuah batu datar berlobang yang sesekali mengeluarkan air. Di situlah para Tonase ditahbiskan dalam sebuah upacara tradisi orang laut. Ratusan tahun tradisi ini masih terjaga sebagaimana orang-orang pulau merawat laut mereka. Kata para tetua, Soekarno, sang proklamator Indonesia pernah dimandikan di sana.

Tentang tradisi di bukit Kalisu ini, tercatat dalam larik 28 dan 29 Sasahola Laanang Manandu (De lange Sasahola), sebuah jenis puisi lama orang Nusa Utara yang direkam dan diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda oleh penulis Barat W. Aebersold, dalam buku Sangirese tekst met Ned. Vert” In: Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 1959: “28 Ilëmmangke, ilëmmangke, irakje, irakje; 29 ilëmmangke sarang Para, daki sarang Malëkaheng”.

Opo Lao Mamonto adalah sedikit dari para pemelihara tradisi yang masih ada ketika nyaris setahun saya menghabiskan waktu di pulau itu pada 1987. Seperti orang-orang di pulau-pulau lain di kawasan kepulauan ini, laut adalah jalan satu-satunya untuk sampai ke tempat lain. Di sini tak ada satu orang pun yang pernah lahir tak melewati laut. Bahkan lautlah guru yang mengajarkan mereka teguh menjalani hidup.

Opo Lao Mamonto mengatakan, ada mantra di dalam diri para Tonaseng sehingga alam laut mengenal mereka. Ketika awan mencongklang dan angin berhembus di sisi pulau, para Tonaseng akan pergi ke bibir pantai dan berbicara dengan laut. Setelahnya baru mereka memutuskan apakah Seke melaut atau tidak.

Bersahabat dengan para nelayan tradisional. Menyimak semangat kebahariwan para Tonaseng, bahkan melaut bersama armada seke, telah mengantarkan saya pada pemahaman di mana laut adalah cermin tradisi. Di sanalah orang-orang laut ini melihat wajah dan diri mereka sendiri.

Albertus Sakendatu, lelaki berusia 66 tahun itu, salah satu dari generasi terkahir para tonaseng yang masih hidup. Sebagaimana Tonaseng lainnya, Albertus mengaku mengetahui sifat-sifat ikan, begitu juga pusaran arus ketika menebarkan jaring Seke. Dan itu menurutnya menjadi salah satu syarat utama dalam pengangkatan Tonaseng Seke, selain dari garis keturunan Tonaseng.

“Syarat orang diangkat menjadi Tonaseng adalah dia mengetahui hal-hal seputar Seke. Mulai dari dia bisa membuat Seke dan kemampuannya tentang laut. Ada juga turun-temurun. Sebab Tonaseng mempunyai tugas utama ketika Maneke, seperti memberi komando mengatur posisi Seke. Jadi dia harus tahu melihat arus. Jangan sembarang melepas Seke,” ujarnya.

TONASE SEKE

asin samudera
begitu darah Tonase
juga ombak,
juga arus itu

orang pulau adalah serdadu
kerena nasib tak henti mengadu

malam ketika kota tidur
dada Tonase berdebur
tangannya beranyun menyibak udara
gelap pun runtuh
jutaan kunangkunang air
berbagi cahya ke langit tujuh

di lantai samudera
seke telah terhampar
Tonase menanti dengan beberapa lelaki
uraturat liat menyatukan kekuatan temali
tak penting berapa ikan tertangkap hari ini
kerena hidup peperangan itu sendiri

Menangkap ikan dengan menggunakan Seke adalah tradisi turun temurun. Alat tangkap ikan tradisional ini pertama kali dibuat oleh dua orang leluhur mereka bernama Dolongpaha dan Takapaha di kisaran tahun 1713. Sebuah alat tangkap ikan yang terbuat dari Bulu Tui, (Bambu Kuning Kecil), Gomutu (Ijuk), dan Kayu Nibong (Batang Nira) serta Janur Kelapa, atau lebih detilnya sebuah alat tangkap tradisional yang terbuat dari rakitan bambu halus berdiameter 2-3 sentimeter yang dipotong sepanjang setengah depa atau sekitar 80 hingga 90 sentimeter.

Pada 1987, tercatat ada 6 organisasi Seke di Para yaitu Seke Champiun, Lumairo, Lembo, Lembe, Rame, dan Balaba. Balu, sebelum menjabat kepala desa Para adalah salah satu dari pemimpin kelompok seke. Dia menuturkan penggunaan alat tangkap Seke ditanam di kedalaman 10 hingga 15 meter, dan hanya khusus untuk menangkap ikan Malalugis.

“Jadi alat ini ditanam sore sekitar jam 6, begitu juga kalau ditanam pagi ia harus sekitar jam 5. Karena bayangan dari alat ini sampai ke atas permukaan air, sehingga ikan Malalugis enggan keluar dari atas permukaan, karena juga ikan Malalugis takut tehadap daun kelapa,” jelas lelaki yang lengkapnya bernama Elengkey Nesar.

Melakukan aktivitas Seke biasanya disebut Maneke. Struktur yang mencakup pembagian kerja, yaitu (1) Tonaseng yang merupakan pemimpin kelompok yang turun menjaring ikan, (2) Matobo, ia bertugas menyelam untuk mengamati gerak-gerik ikan, (3) Mandor, sebagai pembagi hasil tangkapan,(4) Mata-Mata, memantau orang-orang yang terlibat aktif di lokasi Maneke, dan (5) Penasehat, adalah mantan Tonaseng.

Namun lebih dari itu, ingatan masyarakat setempat dalam mengenang Seke-Maneke ialah tradisi kebersamaan, kerukunan yang terjaga antar sesama masyarakat dalam membagi hasil tangkapan Seke.

Mengunakan alat tangkap tradisional itu para nelayan seke bisa meraih hasil sampai 5 perahu atau 10 ton ikan Malalugis. Balu menyebutkan alat Seke merupakan pencaharian yang mempunyai nilai sosial yang sangat tinggi bagi mereka warga Para. Suasana kebersamaan dalam tatanan tradisi suku Sangihe sangat terjaga dalam aktivitas Seke-Maneke.


Mari kembali ke Talaud! Sri Wahyumi Maria Manalip masih menjabat Bupati Kepulauan Talaud ketika saya mewawancarai dia di tahun 2018. Sri ketika itu sedang gencar-gencarnya menggenjot pembangunan sector perikanan. Sebab sebelumnya, ada pemandangan ironis di negeri ikan ini. Puluhan tahun masyarakat kepulauan itu ternyata sempat bergantung pada pasokan ikan –terutama ikan asin— dari pulau tetangganya, Sangihe.

Mardonis Damura, pengusaha ikan asin (ikan garam) di Tahuna, Sangihe. Dalam suatu percakapan dengan penulis pada 1998 di rumahnya, Apeng Simbeka, Mardonis mengatakan setiap bulannya, ia memasok 3 sampai 5 ton ikan asin ke pedagang di Talaud, terutama di Kota Lirung dan Beo. Menurut kisah Mardonis, orang-orang Talaud saat itu lebih suka bertani dari pada berprofesi nelayan. Ini sebabnya, kata dia, Talaud menjadi pasar ikan asin yang menguntungkan.

Kisah Mardonis itu, bisa jadi sebuah ironi bagi daerah yang memiliki laut seluas 1.288,94 km2 tersebut. Namun sejatinya, –pada umumnya daerah-daerah kepulauan– Indonesia pernah kehilangan laut di era kolonial hingga masa Orde Baru, ketika Indonesia sebagai negara kepulauan dijadikan negeri agraris.

Bangsa para pelaut ini dipaksa bergantung hidup pada bentangan daratan yang terbatas. Sementara laut yang terhampar luas dengan pantai yang membentang sepanjang 95.181 km, kedua terpanjang di dunia setelah Kanada, luput dipandang sebagai sumber kakayaan dan berkah. Kejayaan kultur maritim pun nyaris punah, dan laut dipandang sebagai pemisah, bukan penyatuh antar suku bangsa.

Tentang hal ini, pernah dikritik habis Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, dan mendapatkan publikasi luas dari berbagai situs berita. Saat berbicara di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis, 12 April 2018, Menteri Susi mengatakan Indonesia lahir secara geografik sudah jadi bangsa maritim karena 70% wilayah kita lautan. Tapi 70 tahun merdeka, kita selalu didoktrin sebagai bangsa pertanian. Kita lupa kita dikelilingi 3 kali wilayah laut yang lebih luas daripada daratan.

Tapi tahukah anda hal terindah saat menyisir laut kepulauan Talaud? Sepanjang tahun kawasan laut utara ini disemaraki pemandangan takjub dan fantastik dari hempasan tuna. Lebih ke utara lagi, ke kawasan pulau-pulau Nanusa, anda akan berjumpa “Mane’e”, di pulau Intata, sebuah tradisi menangkap ikan hanya dengan janur kelapa oleh orang-orang Kakorotan. Semua itu menggambarkan betapa kayanya potensi perikanan Talaud.

Data potensi lestari sektor perikanan kawasan perbatasan ini pertahun sebagaimana papar Dinas Perikanan Sangihe Talaud, sekitar 100 ribu ton. Sementara 80 persen tuna di pelabuhan perikanan Filipina, ungkap mendiang Hopni Ratungalo, berasal dari laut Talaud.

Dalam percakapan dengan penulis pada akhir 2011, Hopni, seorang Pegawai Negeri Sipil di Talaud, yang juga berkiprah di dunia usaha penangkapan ikan dengan mengoperasikan sejumlah armadanya dari desa Bowombaru menceritakan, pelabuhan perikanan di Gensan, Filipina, sangat bergantung pada pasokan ikan dari area tangkapan di Kabupaten Talaud. “Dan itu lebih besar berasal dari hasil aktifitas illegal fishing,” kata dia.

Seiring era reformasi Indonesia, paradigma kelautan dan maritim pun kecang berhembus. Tapi mengubah pola pikir masyarakat yang terlanjur lekat dalam kultur agraris dalam kurun ratusan tahun bukanlah pekerjaan mudah. Sementara kawasan daratan lambatlaun telah menjadi ruang terbatas dan sempit sebagai lahan meraih peruntungan. Menoleh ke laut menjadi pilihan.

Dan Sri Wahyumi Maria Manalip cukup berani mematok target produksi ikan Tuna sebesar 500 ton perhari sejak 2014. Ia bertekat membawa Talaud meraih peruntungan dari laut. Ia mengerahkan segenap tenaga dan kemampuan melakukan lobi ke berbagai pihak terutama Pemerintah Pusat untuk mendukung program pemerintah Talaud dalam memajukan sektor perikanan.

Awalnya, banyak kalangan pesimis dengan program unggulan yang disasar perempuan pertama yang menduduki kursi Bupati Kabupaten Kepulauan Talaud itu. Namun sebagai anak kepulauan sekaligus anak perbatasan, Sri Wahyumi tahu makna laut bagi negeri yang dipimpinnya. Ia terus gigih membuat perubahan dari Talaud yang muram menjadi kabupaten perbatasan yang bersinar. Dan menggantang harap di aras laut menjadi salah satu pilihannya.

“Temanku angin, sahabatku ombak,” ucap Sri Wahyumi. Sebuah ucapan bersayap, namun mengandung makna yang dalam. Sebuah falsafa hidup yang dipetiknya dari realitas keseharian hidupnya, sekaligus realitas hidup nelayan negerinya. Negeri berjuluk “Porodisa” bermakna surga. Karena, masa lalu orang-orang Talaud adalah masa lalu laut sebagai ruang hidup, rumah yang berkelimpahan berkat, ikan-ikan yang menari di celah karang, arus yang menempah jiwa para pemberani. Dan di situlah Sri Wahyumi lahir, dengan masa kecil bersahabatkan angin, bertemankan ombak.

Erwin Tamatompo, seorang penggemar fotografi. Ia banyak mengabadikan lanskap Kakorotan dan pulau sekitarnya. Ia seorang putra asli asal pulau yang disebut-sebut keramat itu.

Sebagaimana generasi muda lainnya yang berasal dari Kakorotan, Erwin, yang kesehariannya pegawai (PNS) di Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Kepulauan Talaud ini, masih sangat menaruh hormat pada budaya dan tradisi warisan leluhur di kampungnya. “Mane’e adalah tradisi tua yang masih hidup dan terjaga keberlangsungannya di pulau kami,” ungkap Erwin, seraya memperlihatkan karya fotografinya yang menakjubkan.

Kakorotan, sebuah pulau kecil yang indah, di kawasan utara Kepulauan Talaud. Kakorotan juga merupakan sebuah desa, meliputi pulau Kakorotan, pulau Intata serta pulau Malo. Dari ketiga pulau di desa ini, hanya Pulau Kakorotan berpenghuni. Desa ini masuk Dalam wilayah Kecamatan Nanusa, Kabupaten Talaud, Sulawesi Utara. Terletak di koordinat 04° 37’ 36” LU dan 127° 09’ 53” BT.

Kedanti di pulau Kakorotan sendiri hanya sekitar 800-san orang yang mukim, namun banyak warga salah satu pulau terluar tersebut tinggal dan bekerja di daerah lain. Mayoritas penduduk berprofesi nelayan, karena di wilayah tersebut potensi perikanan sangat besar. Komoditas lainnya Kopra.

Belakangan ini, pulau Kakorotan sangat dikenal karena penduduknya masih hidup dalam tradisi tua mereka, Mane’e. Tradisi menangkap ikan dengan menggunakan janur (daun) kelapa. Cara manangkap ikan yang unik ini sungguh menyenangkan. Siapa pun bisa ikut bersama. Menangkap dan menangkap ikan dengan gembira. Sebuah budaya lama yang masih terpelihara dan terjaga.

“Banyak wisatawan terpikat uniknya Mane’e,” ungkap Erwin, yang juga menjabat Kepala Bidang Pariwisata di Dinas tempat ia bekerja. Ini sebabnya, lanjut Erwin, Kakorotan beserta pulau-pulau karang di sekitarnya setiap tahun selalu dibanjiri pengunjung dari berbagai tempat dan negara. Mereka datang menikmati festival Mane’e.

Tokoh masyarakat Kakorotan Drs. J.W. Sono mengisahkan, di Kakorotan ada mitos yang masih dipercaya oleh masyarakat setempat, dimana di negeri tradisi ini konon dahulu kala, dari masa para moyang, pernah tumbuh sebatang Pohon Lawa. Pohon ajaib yang ditumbuhkan Ruata (Tuhan), Pencipta semesta alam, sebagai berkah atas doa para moyang tua.

Karena di masa itu, kisah dia, penduduk pulau kecil ini sangat miskin dan merana akibat perang tak berkesudahan dengan para perompak dan bajak laut yang datang dari Pulau Lanun Mindanao, Filipina, yang mereka sebut orang-orang Balangingi. “Para tetua terpaksa mengunci pulau ini dengan mantra, agar perompak dan bajak laut tak melihat mereka. Hanya orang-orang berhati baik sajalah yang bisa melihatnya dan boleh datang ke sana,” ungkapnya.

Lanjut dikisahkan, setelah menggelar doa yang sungguh-sungguh ke hadirat Ruata di puncak Bukit Manongga, maka bersinarlah tempat itu. Sebuah pohon ajaib mulai tumbuh dijaga seorang lelaki bernama Wando Ruata (Manusia Suci). Bergiranglah para moyang tua, atas kehadiran pohon berkah itu yang kemudian dinamakan Pohon Lawa (Pohon Karunia). Tapi para penduduk lebih suka menyebut pohon itu, Bunga Lawa.

Bunga Lawa? Ya! Bunga Lawa! Karena, bunganya sangat harum. Tapi bukan itu saja yang ajaib dari pohon ini. Akarnya besi baja, batangnya tembaga, cabang dan carang-carangnya emas, daunnya kain, bunganya mata uang. Wow…! Dasyat kan? Lalu, bagaimana wujud lelaki yang menjaganya? Wando Ruata dikisahkan sebagai makhluk suci berwujud manusia. Lelaki muda dengan wajah tampan rupawan. Tegur sapanya santun dan bijaksana.

Sebagaimana sebuah legenda, Wando Ruata dilukiskan memiliki mata nan teduh seperti langit pagi hari yang memanggil datang matahari. Alisnya tipis hanya bisa digetarkan oleh bayu yang bersemilir. Rambutnya menjuntai bak puisi langit yang terurai. Pipinya cerah seakan tak ada panas yang pernah menderah. Kumis dan janggutnya tak mampu disajakkan dengan kata, karena hanya Tuhan yang tahu makna bijak di dagunya. Tinggi dan gagah ia. Pohon-pohon seakan tunduk bertaklik setiap ia pergi melangkah. Tapi bukan semua itu yang menarik dari Wando Ruata. Kehadirannya di masa pelik, ini yang lebih bermakna.

Di masa sulit tersebut, konon Dialah yang mengatur pembagian kebutuhan penduduk yang diminta dari Pohon Lawa lewat Ratum Banua (Kepala Kampung dan atau Pemimpin Adat). Dia memberi besi baja untuk ditempa jadi peralatan yang dibutuhkan untuk bertani dan berperang. Dia juga membagi tembaga untuk kebutuhan peralatan rumah tangga dan keris para pemberani.

Setiap cabang dan carang tua yang jatuh dari Pohon Lawa dalam bentuk batangan emas yang matang diberikannya semua kepada penduduk. Daun-daun yang berbentuk lembaran kain setiap hari berjatuhan dari pohon, karena itu penduduk tak berkekurangan lagi bahan untuk pakaian.

Penduduk juga tidak kekurangan uang untuk membeli kebutuhan lain yang dibutuhkan lewat para pedagang yang bersinggah di pulau ini. Uang? Adakah uang di masa itu? Tolong pertanyaan tersebut simpan saja untukmu. Karena lengenda ini sudah begitu dari sananya. Apalagi uang memang sekadar bermakna alat atau sarana untuk bayar membayar. Maka setiap zaman tentu punya alat atau sarana untuk bayar membayar yang semakna dengan uang karena punya nilai tukar.

Lalu bagaimana pembagiannya? Semua diatur dengan baik dan secukupnya saja. Tidak boleh ada penduduk mengambil lebih atau menimbun hasil serta mencari untung dari berkah Pohon Lawa.

Sejak Pohon Lawa tumbuh di bukit Manongga, kehidupan penduduk sontak makmur dan sejahtera. Namun ada yang jadi masalah! Bau harum bunga Pohon Lawa tercium hingga ke pulau-pulau yang jauh, ke tempat para perompak dan bajak laut Balangingi. Balangingi penasaran. Bau apa yang semerbak dengan wangi tak tertanding ini?

Balangingi segera melarung perahunya. Mereka mencari. Mereka mencari seperti orang lapar yang tiba-tiba disergap bau masakan enak. Pedang, tombak, dan alat perang sudah termuat. Perahu mereka berlayar dalam gambaran yang garang. Dasar otak perompak dan bajak, yang dicari hanya harta dan uang semata. Tapi mencari pulau terbungkus mantra adalah kerja sia-sia. Seperti berharap cinta pada gadis cantik yang tak sedikit saja menoleh pada kita. Ah…! Benar-benar sia-sia belaka.

Dikisahkan, suatu ketika sebuah perahu rompak Balangingi kandas di pantai Pulau Kakorotan. Para Balangingi mengira mereka hanya kandas di bentangan Napo (Karang) yang luas. Magis mantra membuat mata orang-orang Balangingi tak bisa melihat wujud daratan dan rumah-rumah penduduk. Apalagi melihat orang-orangnya!

Untuk membuat jera para perompak dan Bajak Laut itu, atas perintah Ratum Banua, orang-orang Balangingi ditangkap. Kepala mereka dikuliti, lalu kembali disuruh pulang ke tempat asal mereka dengan pesan tidak boleh datang lagi. Sejak peristiwa itu, para Balangingi ketakutan. Mereka takut bahkan untuk sekadar mendengar nama Kakorotan. Kesaktian orang-orang Kakorotan tersebar ke mana-mana. Balangingi tak lagi datang ke sana.

Sejak Balangingi menghindar Pulau Kakorotan, mantra pembungkus pulau pun dibuka oleh para moyang tua. Kehidupan penduduk berlangsung normal, makmur dan sejahtera. Suatu ketika, Pohon Lawa lenyap bersama Wando Ruata dari atas bukit Manongga. Konon Pohon Lawa telah dibawa Wando Ruata ke sebuah negeri di bawah air laut yang bernama Negeri Odi. Negeri para bidadari dan peri yang terletak di depan Pulau Kakorotan.

Karena perasaan kasih Wando Ruata untuk penduduk yang ditinggalkannya pergi, maka ia mengirim ikan-ikan dari Negeri Odi untuk tradisi Mane’e yang masih terjaga hingga kini. (*)

Penulis : Iverdixon Tinungki

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed