oleh

Menyusuri Kilau Susastra Masa Lampau Nusa Utara (2)

Sebelum terjadi transkonseptualisasi atas citra eksistensial dewa-dewa orang Nusa Utara, terutama pada abad ke-19 yang dirintis para Zendeling, bahkan sebelum kedatangan para pelaut Eropa abad 16, susastra Nusa Utara telah memiliki frasa tentang Tuhan Pencipta Alam Semesta. Di Talaud difrasakan sebagai “Dero” atau “Genggona”. Di Sangihe “Duata” atau “Genghonalangi”.

Namun dalam berbagai catatan sejarah, Nusa Utara masa lampau telah dideskripsikan secara semena-mena sebagai gambaran dunia yang buruk rupa, dunia yang sesat. Seperti anasir film, petualangan “Alice in Wondeland” yang bertemu masyarakat dunia hewan, lengkap dengan perilaku hidup berdasarkan naluri primitif. Begitulah gelagat alam pemikiran dunia barat menilai dunia timur (orientalisme).

Stigma semacam itu juga diungkap dengan begitu dramatis oleh misionaris Daniel Brilman lewat bukunya: “Onze zendingsvelden, De Zending op de Sangi- enTalaud- eilanden” yang diterjemahkan GMIST menjadi “Wilayah-wilayah zending kita, Zending di Kepulauan Sangi dan Talaud”.

Dengan menggunakan data-data tertulis – yang ditulis menurut sudut pandang para penulis Eropa– sejak abad 16, dalam Bab III, Brilman menggambarkan Nusa Utara sebagai dunia para pemabuk, kaum kafir yang bersandar pada fetisy-fetisy, amulet (jimat-jimat), para dukun dan penyihir, penyembahan pada orang mati, kepercayaan pada roh-roh dan dewa-dewa. Dunia para makhluk-makhluk sihir, orang sunggi, taharoti, wanita-wanita songko yang menghantu pada malam hari. Namun sebelum membincangkan itu semua, saya ingin mengajak ke ruang peziarahan berikut ini.

Ziarah Ke jantung Peradaban Nusa Utara
Seperti intuisi komponis kelahiran Salzburg, Wolfgang Amadeus Mozart melihat dunia timur lewat gubahan-gubahan musiknya, penyair Jerman Johann Wolfgang von Goethe pernah menulis sebuah bait “Dort , im reinen und rechten! Will ich menslichen geschelecthen! In des ursprungs tiefe dringen” (ke sanalah, ke kesucian dan kesalehan, aku kan kembali ke asal mula ras manusia).

Namun ameliorasi ala Goethe tentang pandangan para peziarah Eropa yang selalu merindukan Timur dan kembali ke Timur tak serta merta mengubah konstruktivisme Timur yang terbentuk dalam perspektif alam pemikiran Eropa sebagai sebuah dunia sebagaimana digambarkan Brilman dalam awal tulisan ini. Sebuah dunia eksotis orientalis yang dibetuk lewat cara pandang sarjana Eropa yang selama berabad-abad telah menghegemoni dunia Timur.

Sebagaimana disitir Edward Said dalam Orientalisme, bagi Eropa, Timur merupakan koloni-koloni Eropa yang terbesar, terkaya, dan tertua. Sumber peradaban, bahasa, saingan budaya. Bahkan dalam imaji mereka, Timur sebagai “dunia yang lain”.

Untuk memberikan perspektif berbeda, pada bagian tulisan ini saya ingin mengungkap Nusa Utara dari sudut pandang saya sebagai anak Nusa Utara. Bukankah kita lebih bisa bercerita tentang diri kita lewat cara membongkar diri, sebagaimana berikut ini?

Somahe Kai Kehage, Pantuhu Maka Sasalintiho”, falsafah yang samar-samar saya dengar sejak usia 5. Pada usia 7 saya telah menghafalnya dan mengerti maknanya; “Riang Melawan Ombak, Bijaksana Mengikuti Arus”. Itu adalah falsafah purba manusia Nusa Utara (Sangihe-Talaud) yang tertakik dari rahim budaya bahari “Sasahara”.

Di sana, di Nusa Utara, kehidupan laut tampak begitu gemuruh dalam syair-syair tua suku dan anak suku. Ini sebabnya orang Nusa Utara dalam sejarahnya disebut manusia yang berumah di laut. Sebuah syair atavis bernuansa majis berikut, mengambarkan pandangan terhadap kehidupan laut itu;

Dumaleng Su Apeng Nanging (Berjalan di lautan purnama)
Manendeng mbanuang (Menjunjung hidup)
Mbanuang datu langi (Hidup dititis langit)
Sole tama sole (diguncang tak terguncang)
Buntuang taku makibang (Lapar tak jerah)
I anang, I amang (Sang cucu, sang leluhur)
Magenda putung su hiwang (menimba api di pangkuan)
Duatang langi (Dewa langit)

Dari unsur semantik, bantin syair di atas mengusung tema laut yang diungkap dengan perasaan penuh guruh, dengan nada dan suasana laut yang mengecipak. Orang laut Nusa Utara sangat sadar, di mata ombak tak ada juragan, kelasi atau jurumudi. Semua manusia berderajat sama. Juru Kemudi sejati hanya Ilahi (Duata), itulah aspek amanat dalam syair ini. Mereka mau mengatakan di lautlah sesungguhnya mereka menakik api sejati dari ilahi.

Dari unsur sintaksis, syair ini menampilkan irama semacam struktur fisik ombak yang selalu bergerak secara beruntun dan berulang-ulang dalam ritus gerak arus. Dari irama yang berulang (paralelisme) itu terbentuklah rima yang indah dengan pilihan kata (diksi) yang sangat memperhitung tone.

Poetic spirit yang teresepsi pada syair itu merupakan ungkapan kerinduan terhadap rumah spiritual yang berada di alam metafisik. Pada syair di atas terasa sebuah kelana transendental untuk bertemu jawaban ideal sekaligus melontarkan antithesis yang tersirat, menyampaikan hikmah tentang kenyataan hidup di laut yang sesungguhnya.

Lewat syair di atas tampak ajakan memasuki hakikat puisi yang bersifat spiritual, karena ia dihasilkan melalui proses kejiwaan yang berbeda dari penuturan biasa. Dengan menggunakan peralatan intuisi dalam memandang, menanggapi dunia dan keberadaannya, dan membangun ungkapan puitiknya dengan menggunakan imaginasi. Pada puisi ini, sifat ungkapan puitik pada dasarnya melambung tinggi mengatasi kenyataan fenomenal dalam ruang dan waktu.

Mari kita lepas dari tolehan sejenak pada syair di atas, dan kembali pada sejarah! Orang Nusa Utara adalah para pembuat perahu dan penjelajah laut yang ulung. Mereka pandai membaca peta bintang,menghitung musim pergerakan arus. Mereka amat menyadari di atas lautlah hidupnya dilarung.

Setiap baris potongan bulan dinamai dan diartikan seiring pasang dan surut. Mata angin dipilah-pilah ke dalam wujud, nama, dan sifat yang berbeda hingga menjadi 16 mata angin. Karena, hidup mesti tertaut dan berpaut pada gerak angin. “Boleng Balang Sengkahindo” (Tarik Dayung Bersama-sama) adalah falsafah daya hidup bersama mengajar pantang surut melayar. Itulah Nusa Utara lewat dunia susastranya!

Tentang kebahariwan orang-orang Nusa Utara ini sudah ditulis Alex John Ulaen dalam beberapa bukunya, diantaranya: “Nusa Utara: dari lintasan niaga ke daerah perbatasan”. Dalam catatan Ma Huan berjudul “Yengyai Sheng lan”, pada abad 12 saat melayari kawasan Nusa Utara, armadanya dipandu pelaut setempat yang mereka temui di Mindanao. Menurut Ulaen, hal serupa terjadi ketika armada Magelhaes melanjutkan pelayarannya ke Maluku juga dipandu oleh pelaut dari Nusa Utara yang disarankan oleh salah satu datu di Mindanao.

Nusa Utara tak lain bentangan kepulauan di bibir Fasifik yang terbacak indah. Di reruntuk itu ayah dan ibu saya dilahirkan. Masa kecil saya pun dihabiskan di pulau-pulau ini. Di pulau-pulau ini pula saya belajar berenang, berperahu, memanjat pohon pala, pohon kelapa, pohon buah-buahan, membuka makam kerajaan, membersihkan ruang kubur raja-raja, menyusun kembali belulang dan peti-peti mati hingga keturunan baru wafat bisa dimakamkan bersama.

Sejak masa kecil itu pula saya banyak mendengar kisah-kisah sejarah masa lalu tentang kepulauan ini, tentang para pelaut dan bajak laut, tentang peri-peri darat dan mambang laut, tentang kerajaan dan para raja-ratu yang bijaksana dan yang kejam, tentang peperangan melawan penjajah, dongengan-dongengan menghibur yang ditutur ayah, ibu, kakek dan kakak sebelum saya tidur.

Baca Juga: Menyusuri Kilau Susastra Masa Lampau Nusa Utara (1)

Di sini saya belajar berbagai tari tradisi, menyanyikan syair-syair sastra dari masa para leluhur. Membaca kitab-kitab mantra milik kakek-kakekku. Belajar agama dari masa Sundeng, hingga ajaran-ajaran semitik yang dibawa para paderi, zending dan ulama. Mengikuti ritual-ritual adat seperti Tulude, Sawakka, Mane’e, dan Menahulending.

Ayah juga mengajar saya mengartikan berbagai tanda alam di langit, di laut, di mimpi, juga cara bersahabat dengan hutan. Ibu berbagi ajaran tentang anyam-ayaman daun pandan, menanam umbi-umbian, dan memelihara hewan, menyayangi satwa, dan mengartikan bunyi suara burung di siang dan malam hari.

Pernahkah engkau merasa nikmatnya mencium bau garam yang asin dibawa angin di malam hari. Di waktu yang panjang saya menyerup dan menyesapnya ke dalam paru-paru. Dari situlah dikumudian waktu, bau yang terbaun itu, mendetak ke dalam setiap baris puisi yang saya tulis.

Bila pada masa kecil saya menari dalam Klikitong, rancak tari itu juga yang merasuk dalam setiap larik metaphor yang kutulis. Di usia sebegitu lugu,di musim-musim angin yang kuat menderu di atas ranjang papan beralas tikar pandan kami diajar menyenandungkan syair-syair tua yang maknanya sungguh samar. Tapi semua itu telah melatih, mengasah kepekaan batin dan kecemerlangan ruhani yang kini mengilhami, lalu saya maknakan kembali pada syair-syair yang baru.

Syair-syair yang dipenuhi cinta, juga memar yang tempias di ruang haru dan geram. Itu semua yang sejatinya mendorong saya berdialog lewat puisi yang saya tulis untuk masa kini. Karena, semua hal yang saya timbah dari masa lalu itu telah menjadi asal dari keyakinanku di mana puisi yang hidup adalah puisi yang menceritakan kehidupan itu sendiri.

KUKO POLO
matane binohe
Tutuno
Nakasindu naung
Nakakio sinda

Laude timipu
nuhĕngking lanisange
nakalamude ĕlo

Uhisĕ naung kukoho
Kimoho
Kere huso nakompeng
Soha nawoᶅeng

Pai pisine lulenda
Lĕgene gampa

Datu!
Puising woheng karapa
winohe ndai seng nasasa

Sinta,
Bau takaĕnange timuwo
Nutowo
Nukoto

Simĕnang
Nanaᶅĕnding binawa
Nutaing tatĕla
Nĕbawa ia timĕla

Tutĕla sulendane
Wera nangĕdo
Sastrane limĕnno
Nutuhu ghasa
Nundiko matangĕlo

Terjemahan bebas : SANG TERCINTA

matanya keindahan firman
selembut air
mengairi liang hati
menggetari cinta dan sanubari

laut pun menghunuskan gelombang
mengawinkan mantra pada wewangiannya
hingga teduh segala waktu dan hari

Segala lara pilu berlari
Lisut kisut
Seakang karang patah
Hanyut keliang hilang

Karena engkau jelmaan cahaya
Dan tawamu hal terindah dari segala warna

ya Tuhanku
puisi adalah kata-kata yang tunduk pada keindah
apalah arti sajakku di kaki firma ini

Cintaku
engkau ditumbuhkan dari tiada
Menjadi ada
Menjadi hidup dan kehidupan

Engkau sinar diterbitkan kegaiban
Di aras jalan melintasi langit
Dan dengan sayapmu aku terbang
Aku hanya bisa terbang bersamamu

Terbang mengarungi segala indah
Yang tak bisa dituliskan puisi
Yang tak bisa dimetaforakan detil sastrawi
Karena cahaya itu membawaku pergi
Mengarungi makna api melampaui hangat matahari

Di Biaro ada Lamanggo. Di Ruang ada Maleo, Di Tagulandang ada Minanga, Di Siau ada Bokong Bunu, Di Makalehi ada Tenggohang, Di Sangihe ada Medellu, di Talaud ada Makatara. Betapa indah dan puitis nama-nama tempat dan nama manusia di bentangan pulau-pulau ini yang selalu mencari tempat untuk didiksi.

Pada usia 7, saya sudah diajar cara berladang, mencangkul, dan menanam sayuran, umbi-umbian. Pada usia itu pula saya sudah mahir memilah, memetik buah pala yang ranum. Salak yang masak dan yang masih sepat. Saat itu juga saya telah menghafal cukup banyak syair-syair tua yang berisi ajaran kearifan. Sasasa… ya ajaran kearifan itu “Sasasa”. Sasasa dituturkan turun-temurun agar menjadi “Sinasa” (bekal) hidup generasi yang baru. Lalu saya menulis sasasa yang hendak saya wariskan, seperti moyang dulu melakukannya:

SASASA ESE
nihiking bahe
nihiking daki
daraselene selihe

tiu tutiu
sawĕnahe timuhe
mĕpĕderisi lua sukoto lanabe
kalang kukalang
wadang tawe sĕgane

bou maᶅambe dasi
seng nitĕde wahani
natĕde lai barau naung
sutatoghaseu gĕsi
nauwase apang duhi

ese kai ese
ese suᶅuᶅunge
ese lai suᶅaudĕ
toghase puᶅune
toghase lai horone

baneha!

mutaing doᶅong
tawe berane taimaᶅoᶅong
kĕmageng nikĕtau mohong
naung wadang kĕbi singkaᶅoᶅong

Kian waktu saya terus terhisap untuk berbasah-basah dalam ombak budaya dan sejarah bahari negeri yang kaya makna itu. Di kurun perjalanan itu hingga kini saya aktif melakukan berbagai diskusi, penelitian dan wawancara dengan para budayawan setempat mengenai budaya dan berkenalan lebih jauh dengan karya-karya sastra tradisi. Menemui tua-tua adat di setiap desa dan kampung. Mencatat berbagai tuturan tentang legenda, mitos, syair-syair tua. Mencatat nama-nama tempat, pohon,tanjung, gunung. Merekam aktivitas hidup masyarakat desa. Semua itu saya lakukan karena ingin memaknainya kembali ke dalam puisi.

Di Talaud saya mendapatkan tuntunan dari banyak tua adat antara lain Gaghurang Ulaen, dan sahabat saya Tuwongkesong. Di Sangihe saya mendapatkan arahan dan masukkan dari Gaghurang Dionesius Madonsa, Gaghurang Apolos Nikolas Moleh, Gagurang EfraimTatimu, Gaghurang D. Manatar. Juga ada yakang Rembran Randangkilat, dan Tuari Syahrul Ponto. Di Siau, saya berdiskusi dan mengunjungi berbagai tempat dengan Opa Hersen Anise, seorang mantan pelaut yang pernah melayari route internasional. Di Manado, saya berbagi bahasan mengenai budaya etnik Tionghoa dengan pelukis Hendrik Mamahit.

Bersama mereka saya larut dan berlayar lebih jauh ke dalam jantung “Sasahara” dan “Sasalili”, rahim budaya bahari yang mendetakkan hidup manusia Nusa Utara sejak masa purba. Sebuah gambaran dunia Nusa Utara yang sangat jauh berbeda dengan perilaku orang-orang Nusa Utara yang digeneralisir Brilman sebagai masyarakat yang suram yang kaya perilaku jelek yang membutuhkan uluran tangan kebaikan pihak pemerintahan kolonial.

Dan apa yang dilakukan Padtbrugge, seorang Gubernur Belanda yang bertugas di Ternate dan Maluku, untuk mengamankan kepentingan Kompeni (VOC) dalam monopoli perdagangan rempah serta perbudakan? Pada 1 November 1677, ia memimpin 1180 tentara bersama Sultan Ternate Kaitjil Sibori menggempur Kerajaan Siau. Setelah berhasil mengalahkan Siau dan mengusai benteng Sancta Rosa yang dibangun Spanyol, ia menekan pula seluruh kerajaan di Nusa Utara (Kerajaan Tabukan, Tahuna, Kendahe, Tagulandang) dalam perjanjian penaklukan, di antaranya pembakaran seluruh tanaman cengkeh di kepulauan itu, pembakaran budaya dan ajaran-ajaran lama, serta secara licik memaksa raja-raja memberi kesaksian palsu atas tindakannya yang melanggar perjanjian perdamaian antara Belanda dan Spanyol pada tahun 1648 yang mengakhiri perang 80 tahun kedua negara. (Bersambung…)

Penulis: Iverdixon Tinungki

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed