oleh

Stigma Dunia Sihir “Mariara” di Minahasa, Benarkah Dilarang Dibicarakan?

Dalam parade Halloween di Irlandia yang disebut Savage Grace Galway, masyarakat setempat biasanya menghadirkan boneka raksasa nenek sihir, lengkap dengan serigala, dan burung hantu. Di Amerika Utara, penyihir disebut juga sebagai dukun dan ahli pengobatan. di Tuva, Rusia, ada dukun Ai-Churek. Di Minahasa, Sulawesi Utara, dukun atau penyihir disebut Mariara.

Dunia sihir dan perdukunan telah menjadi momok sepanjang sejarah. Semenjak ratusan tahun mereka ditakuti hingga dibenci. Pada Abad ke-16, di Eropa, terutama di Inggris, penyihir menjadi sosok yang paling diburu.

Usai merilis “Daemonologie”, sebuah buku yang membahas tentang sihir jahat, Raja Skotlandia James I (1394-1437) menyerukan permusuhan dengan apapun yang berbau dunia sihir dan gaib. Ia membujuk Parlemen untuk membuat Witchcraft Statute. Sesuai ketentuan statuta itu, orang yang terlibat dengan segala hal yang berbau sihir dihukum mati.

Di Minahasa, api kecemasan publik terhadap segala hal yang berbau sihir dan penyihir, digambarkan secara detil dalam sebuah cerpen yang ditulis Denny HR. Pinontoan berjudul “Mariara”:

—“Saudara-saudara. Sudah dua warga kita yang menjadi korban sihir. Pelakunya sudah kita ketahui. “Nenek sihir”, nenek Omi sudah kita lenyapkan. Tapi masih juga ada korban yang berjatuhan. Ternyata, ilmu sihirnya telah diturunkan kepada lelaki yang sebentar lagi kita akan bakar ini, yaitu Yopi…”

“Bakar dia! Lenyapkan mariara dari kampung kita!” warga berteriak sambil tangan mereka mengepal ke udara.

“Iya, kita akan membakar dia. Tidak boleh ada mariara di kampung ini,” sambung Hukum tua. “Hari ini, kita akan membakar hidup-hidup mariara yang telah meresahkan kampung kita. Ini menjadi pelajaran bagi warga yang akan menjadi mariara. Tidak ada yang bisa lolos…”

Setelah hukum tua selesai berpidato, pendeta diminta untuk mendoakan kampung mereka agar dijauhkan dari gangguan kuasa-kuasa setan, seperti mariara. Dia mengakhiri doanya dengan berkata, “Dalam nama Yesus, kami akan melenyapkan kuasa jahat itu. Amin.”—

Membaca kutipan cerpen yang di tulis seniman, budayawan Minahasa yang juga teolog ini, –seperti gelombang suram yang dialami pasca-Witchcraft Statute diberlakukan di Inggris– tampak betapa mengerikan masa lampau dunia perdukunan dan sihir, termasuk juga di Minahasa.

Perdukunan dan sihir sesungguhnya adalah penghinaan kepada dunia non medis yang telah memakan banyak korban. Satu dekade sejak statuta Raja James I diterapkan, tak sedikit individu yang dituduh, ditangkap, diadili, dan dihukum mati atas tuduhan terlibat dalam praktik sihir.

Muflika Nur Fuaddah, dalam sebuah artikelnya yang dilansir Intisari, Juli 2019, mengatakan perdukunan adalah cara yang digunakan manusia untuk memahami alam semesta dan tempat kita berada. Tidak terikat dengan dewa atau dogma tertentu, seorang dukun memperhatikan dirinya sendiri dengan alam dan menggunakan wawasan untuk menyembuhkan (secara fisik, mental, atau spiritual).

Menurut fuaddah Perdukunan bukan sihir, namun tentang keterhubungan dengan lingkungan, menciptakan energy positif, dan mencapai pontensi penuh dari diri.

Sama dengan pesan moral dalam cerpen yang ditulis Pinontoan, Fuaddah menyayangkan konsensus yang bekembang di antara para peneliti, cendekiawan, atau orang awam tentang apa sebenarnya dukun dan praktik perdukunan itu, sehingga merekah harus mati dalam suasana yang mengerikan.

Pinontoan, juga menyesalkan kekeliruan stigma yang terjadi selama ini terhadap dunia perdukunan itu dengan menghadirkan tokoh Yopi sebagai sosok yang dituduh mariara.

Sebelum dieksekusi, Pinontoan mengambarkan dimana tokoh Yopi menemukan tikus-tikus mati dari mata air yang menjadi sumber air minum masyarakat setempat. Di tengah api yang menyala-nyala memanggang tubuhnya, Yopi masih memegang erat tikus-tikus yang ditemukannya itu. Dia mungkin bermaksud menyampaikan pesan dengan tikus-tikus mati itu, kalau selama ini warga desanya mati karena penyakit pes. Dia dan nenek Omi bukan mariara. Tapi, mereka telah mati dibakar.

Menurut Greenhill Weol, seorang budayawan Minahasa, Miriara adalah stigma yang mengerikan dan yang tak pantas dan tak patut dibicarakan.

“Di banyak kebudayaan berbagai suku bangsa, dunia perdukunan seperti Mariara itu dilarang dibicarakan. Ada semacam perjanjian tak tertulis untuk tidak dibicarakan. Namun di Tondano, masih marak orang membicarakan kemunculan makhluk halus Pontianak,” kata Weol.

Menurut dia, di Minahasa, praktik-praktik kultural semacam ritual-ritual fosso dan kercayaan-kepercayaan tua, termasuk ‘pengetahuan tua semacam Mariara, sejak dulu sudah diserang oleh mimbar gereja.

“Kemungkinan di masa lalu Mariara itu tidak menempati posisi menakutkan seperti sekarang, dimana mindset Kristen Barat sudah mendominasi,” kata dia.

Ketika para zendeling mendarat di Minahasa, mereka pasti mengalami culture shock, ungkap Weol. “Sebab berbeda dengan dunia yang mereka akrabi sebelumnya di Eropa, mereka menemukan sebuah pranata sosio-kultural yang berbeda. Dan seperti kebanyakan para pembawa Injil, apa yang ‘berbeda’ langsung di-label sesat,” imbuhnya. (*)

Penulis : Iverdixon Tinungki

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed