oleh

Persipura Vs PSIS: Manado Rasa Jayapura dan Stadion Sarat Kenangan

Manado, Barta1.com — Publik sepak bola Kota Manado kembali bersuka cita saat Stadion Klabat menjadi tuan rumah Shopee Liga 1, setelah arena di Karombasan ini dipilih Persipura Jayapura sebagai homebase. Laga perdana langsung bergulir Minggu (01/03/2020), menghadapkan Tim Mutiara Hitam kontra Skuad Mahesa Jenar, PSIS Semarang.

Layaknya musafir, sudah beberapa kali Persipura berpindah kandang yang cukup jauh dari Jayapura. Namun bukan tanpa alasan manajemen klub besar itu kali ini memilih Manado sebagai kandang baru mereka, mengingat saat ini Stadion Mandala tengah direnovasi. Salah satunya karena jarak dari Sulut ke Papua relatif dekat.

Alasan lain, “Kesamaan Papua dan Sulawesi Utara sebagai sesama Indonesia Timur,” tandas Sekretaris Umum Persipura Rocky Bebena pada wartawan di Manado.

Rocky benar adanya. Publik sepak bola di Manado dan kota-kota lain di sekitar kerap menganggap Persipura adalah bagian dari Sulawesi Utara. Publik bahkan bisa menghapal banyak bintang jebolan Persipura yang menjadi langganan tim nasional. Termasuk pula deretan wonder kid klub ini yang wara-wiri di tim nasional junior. Sehingga tak sedikit nanti pendukung fanatik Persipura dari Manado, Tondano, Bitung, bahkan Siau dan Tahuna di daerah kepulauan akan hadir di Klabat menyemangati tim favorit mereka.

“Saya dukung Persipura, saya ingin lihat langsung Boaz (Salosa) mencetak gol, selama ini hanya dari TV sekarang bisa lihat langsung,” kata Rolando Hanny Sepang, suporter dari Langowan Minahasa, sambil berjanji akan membeli tiket terusan untuk menyaksikan tim kebanggannya.

Pendeknya, pemain dan official Persipura bakal bisa merasakan suasana Manado tak akan berbeda dengan Jayapura. Laga perdana nanti buktinya.

Di kubu lawan PSIS Semarang, menghadapi tim sekelas Persipura Jayapura jelas menjadi laga pembuka yang berat. Namun mereka punya motivasi berbeda saat bertandang di Manado. 21 tahun silam, Laskar Mahesa Jenar pernah merayakan kemenangan Liga Indonesia di Stadion Klabat.

“Mudah-mudahan dapat poin, PSIS pernah menang di sana,” ujar pelatih kiper I Komang Putra.

Tahun 1999 situasi keamanan di Jakarta lagi tak menentu hingga partai final Liga Indonesia dipindahkan ke Manado. Stadion Klabat menjadi saksi laga panas antara tim kuat sarat bintang Persebaya menjamu kuda hitam PSIS. Kala itu Persebaya dihuni nama-nama besar; Sugiantoro, Hendro Kartiko, Chairil Anwar Ohorella, Uston Nawawi, Aji Santoso, Anang Maaruf yang juga punggawa Timnas, termasuk striker tajam Musa Kallon. Media-media mengunggulkan Bajul Ijo akan kembali mengunci jawara kompetisi mengulang prestasi tahun sebelumnya.

Sementara PSIS datang dengan pemain muda berbakat, Nova Arianto, Supriyono dan Gendut Doni yang masih usia belasan, bergabung dengan pemain senior Bonggo Pribadi, Agung Setyabudi dan kapten Ali Sunan. I Komang Putra sendiri saat itu menjadi kiper utama. Tapi bintang utama mereka adalah Tugiyo, pemain berjuluk Maradona dari Purwodadi.

Ujung tombak itu bertubuh pendek dan bodi tambun, persis Maradona. Punya gocekan lengket dan kecepatan, tak mudah jatuh kendati ditekel — seperti melawan hukum gravitasi. Ini yang membuat bek sekelas Bejo Sugiantoro dan Chairil Anwar kesulitan mengawal gerakan Tugiyo. Pemain ini pula yang akhirnya membobol gawang Persebaya, sekaligus menjadi satu-satunya gol dalam laga dramatis tersebut.

“Berkahnya Manado tetap di PSIS,” ujar Komang Putra, mengenang piala yang diangkatnya di Stadion Klabat. (*)

Penulis: Ady Putong

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed