oleh

3 Penyair Dari Sulut Dalam Antologi ‘Raksasa’ Dapur Sastra Jakarta

Akhir Februari 2020, penerbit Teras Budaya bakal melepas sebuah antologi puisi dari komunitas sastra Dapur Sastra Jakarta (DSJ). Buku ini boleh dikata ‘Raksasa’ karena berisi sekitar 400 puisi dari 80 penyair Indonesia.

Sebagaimana puluhan buku sebelumnya, buku berjudul “Kumparan Puisi” ini dibidani penyair Remmy Novaris DM dan para pengurus komunitas DSJ. “Setiap penyair menyertakan 5 karya puisinya dalam buku ini,” kata Nunung Noor El Niel, penyair Bali, mukim di Denpasar, yang bertugas sebagai koordinator pengumpulan karya para penyair.

Sementara Remmy Novaris DM mengatakan, “Kumparan Puisi” adalah antologi tahunan dari Komunitas DSJ yang didirikannya. “Setiap tahun kami meluncurkan antologi dari komutas DSJ,” ungkapnya. Anggota DSJ sendiri kata Remmy, adalah ratusan penyair dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan penyair Indonesia yang mukim di luar negeri.

Menariknya, dari beberapa nama, ada 3 penyair asal Sulawesi Utara (Sulut) ikut masuk dalam buku yang terbilang prestisius ini yang patut diperbincangkan karena intensitas mereka dalam berkarya, yaitu: Djemi Tomuka, Jamal Rahman Iroth, Jane Anastasia Angela Lumi.

Penyair Djemi Tomuka, di Manado dikenal sebagai seorang dokter ahli forensik. Kesehariannya selalu berhubungan dengan tubuh manusia setelah mati. Karena itu lewat puisi ia ingin menceritakan kehidupan. Lahir di kota Makassar, 15 Juni 1962 dengan nama, Djemi Tomuka, tapi biasa dipanggil dengan Djemi saja. Sekarang tinggal dan menetap di Jl. Kali Porong. No. 73. Kel. Kombos Barat, Kec. Singkil, Manado, Sulwesi Utara.

Selain bekerja di Rumah Sakit Umum Prof. Kandau, dokter yang doktor ini juga menjadi tenaga pengajar (dosen) di Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado (Unsrat), untuk Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal, juga pada Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, dan Fakultas Hukum Unsrat.

Riwayat pendidikannya, setelah tamat SMA melanjutkan di Fakultas Kedoktaran Unsrat (dokter), lalu melanjutkan kembali pada Program Post graduate Forensic Medicine, Medical Jurisptrudence, Medical Ethics and Human Right, di Groningen University Netherland (DFM), kemudian menimba ilmu hukum di Fakultas hukum UKI Tomohon (SH) dan meneruskan di Pasca Sarjana PIH-PS Ham Unsrat (MH).

Ia dikenal menyenangi semua bidang seni terutama, Sastra (puisi), Musik, Lukis dan patung. Di tengah kesibukan pekerjaannya rutinnya, kegiatan menulis puisi hingga kini terus dijalani.

“Di dunia kesenianlah saya berlibur dan mendapat penghiburan,” ujarnya.

Selain piawai memainkan sujumlah alat musik, ia juga membuat alat musik di bekel musik yang ada di belakang rumahnya. ia melatih vocal group, paduan suara, melukis dan membuat patung. Sejumlah pameran lukisan dan seni rupa telah diikutinya.

Karya-karya puisinya terangkum dalam buku: “Seperti Angin”, Kumpulan Puisi ini diterbitkan Daseng Seni Fordjefo dan Wale Kofie ESA. “Duka Gaza Duka Kita”, Antologi Puisi 99 Penyair Indonesia, Empati untuk Palestina. “Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia”, Antyologi Puisi, Himpunan Masyarakat Gemar Membaca. “Metamorfosis “, Antologi Puisi, Dapur Sastra Jakarta. “Hujan Kampoeng Jerami ” dan “Titik Temu”, Antalogi Puisi, Komunitas Kampoeng Jerami. “Jurnal Puisi”, diterbitkan Sembilan Mutiara Publishing.

Jane Anastasia Angela Lumi adalah penyair yang kesehariannya tidak lepas dari gitar. Ia memang cukup piawai memainkan gitar klasik. Bahkan ketika tampil membaca puisi, iringan petikan gitar ikut hadir di sana. Membaca sekian banyak puisinya, kita dipertemukan dengan diksi-diksi dari khazanah musik klasik Eropa. Jane Anastasia Angela Lumi, memang penyuka musik klasik.

Penyair dan Sarjana Sastra ini lahir di Tomohon, Sulawesi Utara pada, 8 Januari 1980. Bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Utara sejak tahun 2009-2016, dan pada Dinas Kebudayaan Daerah Provinsi Sulawesi Utara sejak Januari 2017 hingga sekarang.

Ketertarikannya pada dunia sastra dan seni dimulai sejak bangku SMP, dimana ia banyak menulis puisi. Menamatkan pendidikan strata satu pada Fakultas Sastra Jurusan Sastra Inggris Universitas Sam Ratulangi Manado tahun 2003.

Pernah mewakili Indonesia pada International Training Program on Ecotourism for Pacific Countries yang diselenggarakan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI berkerjasama dengan Kementerian Luar Negeri RI dan Universitas Gajah Mada Jogjakarta tahun 2011. Dalam program tersebut, Jane –sapaan akrabnya—berkesempatan mempresentasikan Indonesia dan Sulawesi Utara sekaligus potensi seni budaya dan pariwisata.

Pada tahun 2012, bersama lima peserta dari Indonesia, ia mengikuti Japan-East Asia Network of Exchange for Students and Youths Programme di Jepang. Program tersebut turut memperkenalkan khazanah seni budaya Sulawesi Utara dan Indonesia di mata dunia.

Tahun 2012, puisi-puisinya dimuat dalam Antologi Puisi Pinangan bersama 34 Penulis Dapur Sastra Jakarta yang diterbitkan oleh Teras Budaya Jakarta. Kemudian, bersama sepuluh penyair se-Sulawesi Utara, ia tampil membacakan puisi karya penyair Indonesia asal Sulawesi Utara Iverdixon Tinungki pada Festival Maleo, yang menyerukan tentang pelestarian alam di Manado Town Square, Desember 2015.

Selain aktif di berbagai kegiatan pariwisata, seni dan sastra, Jane pernah menjadi anggota paduan suara PSM Unsrat danVox Angelica Choir Manado. Ia juga menulis syair dan lirik untuk komposisi lagu paduan suara berjudul “Gemini Reconciliationist” karya komposer Sulawesi Utara Stevano Samuel. Saat ini ia dipercayakan menjadi pembina paduan suara Deo Cantate Ensemble Choir yang memfokuskan pada kegiatan pelayanan musik di gereja dan masyarakat.

Penyair Jamal Rahman Iroth, saat ini menjabat Ketua KPU Boltim. Di Sulawesi Utara, ia dikenal sebagai fotografer professional sekaligus penyair yang produktif berkarya. Karya fotografinya telah diterbitkan dalam sejumlah buku, majalah, dan media massa lainnya, demikian pula puisinya.

Dalam proses berkarya, dua talenta yang dimilikinya ini tampak saling mempengaruhi bahkan saling berartikulasi. Lewat karya fotografinya kita disuguhkan zona instingtif yang begitu intim dengan perasaan sunyi, kehampaan, kerinduan, dan gelombang hasrat libidinal, juga kegembiraan.

Lewat puisinya kita diajak menjelajahi wilayah fotografi berupa landscape, taferil, komposi, warna, dan cahaya. Jamal berpuisi dengan merayakan pengalaman personalnya di area yang dipenuhi energi psikis yang menurut Carl Gustav Jung, lebih banyak disebabkan adanya suasana ketidakpuasan emosional, sekaligus meringkus pembaca ke dalam pengalamannya sendiri, dan berhasil menampilkan ekspresi artistik yang menandai keberadaban.

Dengan berpuisi ia menjelajahi-diri. Menyelami diri sendiri untuk mencari bahasanya sendiri dan realitasnya sendiri. Dengan kehadiran bahasa dan realitasnya itu, ia memaknai hidupnya sendiri.

Penyair yang rajin manggung baca puisi ke mana-mana ini, bermukim di Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Sulawesi Utara. Lahir di Minahasa Utara, 9 Desember 1979. Ayahnya dari Gorontalo, dan Ibu Minahasa. Jamal –sapaan akrabnya– anak bungsu dari 4 bersaudara.

Lulusan Madrasah Aliyah Negeri Manado, pernah kuliah 4 Semester di STAIN Manado, Jurusan Tarbiyah (1998). Selain menulis puisi, ia juga menyutradarai teater dan film. Pernah bekerja sebagai jurnalis radio dan koran harian di Manado.

Karya-karya puisinya yang telah diterbitkan: Exodus ke Tanah Harapan (Foto dan Puisi), penerbit Walhi 2006. Buyat, Hari terus Berdenyut (Foto dan Puisi), Banana Publisher 2008. Antologi bersama “Metamorfosis”, Penerbit Teras Budaya, 2015. Antologi bersama “Palagan Sastra”, Penerbit Teras Budaya, 2016. Kumpulan puisi tunggal “Torotakon”, Teras Budaya, 2017.

Selain menulis, Jamal juga aktif dalam berbagai pementasan dan pembacaan puisi, di antaranya: Peserta Temu Sastrawan Nasional; Bale Sastra Jakarta 2012. Bintang Tamu Baca Puisi pada Pembukaan Kantor Penghubung Komisi Yudisial Sulawesi Utara 2014. Bintang Tamu Baca Puisi pada Festival Maleo, di Manado Town Square 2015. Penampil utama dalam Festival Konservasi, BKSDA Sulut, di Mega mall Manado, 2016. Baca Puisi pada HUT NU di Bolaang Mongondow Timur Januari 2017. Baca Puisi di HUT ke 7, Spot Photographers Indonesia 2017. (*)

Penulis: Iverdixon Tinungki

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed