oleh

Sejarah dan Legenda Ratu Lohoraung Dari Kerajaan Tagulandang

Di daratan pulau Tagulandang dan Biaro, ingatan massal masyarakat lebih percaya, Lohoraung adalah makhluk legenda.

Saat menumpangi sebuah kapal milik perusahaan Koninklijke Paketvaart Maatschappij (K.P.M) yang melintas di sana, di tahun 1927, misionaris Daniel Brilman menarasikan pulau Biaro sebagai keindahan di bawah kaki langit yang mendatangkan suatu kenikmatan. Dalam tradisi tua “sasahara”, negeri asal legenda raksasa Linsaha ini dinamakan “Kolokolo”.

Kendati tak banyak disebutkan dalam catatan para pelaut Eropa era Kerajaan Tagulandang, pulau eksotis Biaro adalah pintu gerbang selatan menuju negeri Ratu Lohoraung. Luasnya hanya 20,85 km persegi, namun penduduknya berbahasa Sangihe dialek Tagulandang.

Biaro, pulau dengan lanskap nan indah, sitir misionaris Brilman dalam “Onze zending velden De zending op de sangi-en Talaud – eilanden” 1938. Disebut eksotis karena banyak spot penyelamanan, antaranya di Tumora, pantai sekitar pulau karang Teluk Buang dan pantai Kalakuhi dan perairan di teluk Tope. Juga ada pulau Salangka yang tak kalah indahnya, dan Lamanggo.

Setelah dijamu Biaro, akan nampak pulau Ruang (Duang), sebuah pulau dengan gunung berapi yang sejak abad ke-17 berkali-kali meletus. Kerucutnya yang pipih dilapisi abu dan menjulang setinggi 725 meter dari permukaan laut. Lalu pada selempar pandang ke arah barat, Nampak pulau karang rendah Pasige. Dari sana kemudian akan ditemui pesisir Balehumara, di pulau utama Tagulandang.

PESISIR BALEHUMARA

tuanglah samudera ke dalam gelas hingga penuh
biar kusesap nyeri ampas sejarahku, juga sejarahmu
Balehumara dan bau bidadari turun dari perahu
dengan derap penari istana kembang melati
bibirnya ranum muram masa lalu

di depan, pulau Ruang mengapung. ada jejak pisau
darah hitam mengguris di kening laut tua itu

ketika sisa panoramic memapar sisi abadi dari ingatan
berkata: di sini langit selalu tenang menghapus merah senja
menidurkan pasir lelap diusap debur ombak
begitu nelayan belajar ikhlas itu bukan kalah

lalu menyembur harum Roa di asap panggang perapian
juga derak bunyi kayu bakar menjelma renung masa kini
bukankah api berkobar itu setua usia pesisir ini
jala dirajut dulu, kini masih ditebar hingga ke mimpimimpi

setidaknya kini antara luka pisau dan laut
kutemukan ruhku sendiri
menimang bulan sabar
membuka barisbaris cahaya.
sehari seinci
hingga purnama dulu
menyatu di bulat purnama hari ini

Di masa lalu, sebuah kapal K.P.M yang melepas sauh pada sore menjelang malam meninggalkan pelabuhan Manado, akan tiba pada dini hari di Tagulandang. Di pulau seluas 5.000 hektare ini, pada tahun 1570 Lohoraung ditahbis sebagai Ratu, dan sejak itu kerajaan Tagulandang terus berkiprah lebih 5 abad.

Menelusuri 5 abad Kerajaan Tagulandang pastinya menarik. Bibliografi karya Alex J Ulaen: “Membaca Sangi-Talaud Bibliografi 1724-2015”, Amara Books 2016, setidaknya telah menjadi sinar penuntun ke arah melacak dan menyingkap data-data mengenai kerajaan maritim ini.

Peristiwa lain adalah sejumlah perbincangan dengan Adrianus Kojongian. Lelaki yang mukim di Kota Bunga nan sejuk Tomohon itu boleh dikata, salah satu dari sedikit penulis lokal—menghindar sebutan sejarawan yang sering ditampik dia– yang gigih menekuni dan memilah serpihan-serpihan data yang tersimpan dalam berbagai literatur Eropa.

Kojongian mengaku membutuhkan banyak tahun untuk menggali dan menulis sebuah artikel ringkas berjudul “Sejarah Kerajaan Tagulandang Dan Raja-rajanya” yang dilansir pertama kali dalam blog pribadinya. Setelah mengalami proses penyuntingan oleh penulis, artikel tersebut diterbitkan ulang dalam situs Barta1.com.

Namun yang spectacle dari tulisan dua sumber awal tersebut, penulis dipertemukan sejumlah data yang diuraikan dalam tulisan-tulisan: Alderley, Lord Stanley of, The First Voyage Round the World Magellan, London, Hakluyt,1874. Coolhaas, Dr.W.Ph. Generale Missiven van Gouverneurs-Generaal en Raden aan Heren XVII, deel III,. Daghregistergeh Batavia 1664. ANRI. Heeres, Mr.J.E. dan Dr.F.W.Stapel, Corpus Diplomaticum Neerlando-Indicum, derde deel (1676-1691), Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsche-Indie, deel 91, ‘s-Gravenhage, Martinus Nijhoff, 1934. Het Journal van Padtbrugge’s Reis naar Noord-Celebes en de Noordereilanden (16 Aug-23 Dec.1677), Bijdragen tot de Taal-Land-en Volkenkunde van Nederlandsche Indie, tweede deel, ‘s Gravenhage, Martinus Nijhoff, 1867. Jansen, A.J.F., Rapport Resident Menado 12 Agustus 1857, dalam Explanation of the Netherlands Government in reply to a request made on December 21,1926 by the arbitrator in the dispute concerning the Island of Palmas (or Miangas), The Hague, 1927. Staten Generaal Digitaal, Overeenkomsten met Islandsche Vorsten in den Oost-Indischen Archipel. Stibbe, D.G. dan Mr.Dr.F.J.W.H.Sandbergen, Encyclopaedie van Nederlandsch-Indie, achtste deel, ‘s-Gravenhage, Martinus Nijhoff, 1939. Van de Velde van Cappellen, S.D., Verslag eener Bezoekreis naar de Sangi-Eilanden, Mededeelingen van wege Nederlandsche Zendelinggenootschap, eerste jaargang, M.Wijt&Zonen, Rotterdam, 1857. Wessels,SJ, P.Cornelio, Catalogus Patrum et Fratrum e Societate Iesu Qui in Missione Moluccana, Archivum Historicum Societatis Iesu 1.

Ketika Fernao vaz Durado, seorang Eropa pembuat peta pelayaran niaga mencatumkan Kerajaan Tagulandang dengan nama Pagincar di tahun 1580, Ratu Lohoraung telah 10 tahun menduduki tahtanya. Sepuluh tahun kemudian eskader Bertholamev Laso, tepatnya pada 1590, dalam catatannya menyembut negeri penghasil Salak ini Pancare, dan kerajaan ini eksis selama 512 tahun.

Namun boleh dikata, sangat sulit mendapatkan data yang lebih valid tentang kisah hidup sang ratu. Dari sumber yang belum terklarifikasi menyebutkan, Lohoraung seorang putri dari Kerajaan Mangondow, anak dari Raja Mokodompis, cucu dari Raja Binangkang. Sumber lain menyebutkan, ia anak dari datuk Bulango, saudara dekat raja kerajaan Siau, Lokonbanua II.

Di daratan pulau Tagulandang dan Biaro, ingatan massal masyarakat lebih percaya, Lohoraung adalah makhluk legenda. Sang Ratu dikisahkan sebagai seorang dewi yang datang dari lautan. Berpakaian daun-daun kayu. Mimiliki kesaktian terbang. Ia dimitoskan sebagai perempuan yang sangat cantik. Dari ingatan massal penduduk itulah, penulis di tahun 2006 meramu sajak berikut ini:

LOHORAUNG

bila manusia tanpa legenda
hidup sedatar pulau tanpa hutan
tak ada ukuran menilai khilaf
maka perang menjadi hiburan ketangkasan

ini pulau persinggahan balangingi
daratan tada hujan dengan pesisir curam
kubah kawah gunung menetaskan duka
mengeraskan ketabahan tanah liat di kebun umbiumbian

menggonggonglah anjing zaman
perompak mandi di sungai minanga
menepihkan penat di mata gadis bulangan dan humingging
kapal berlabuh di buhias menukar miras dengan pala dan koprah
dirampas perompak lain di laut utara dan selatan

lalu sejarah menegaskan sikapnya
seperti pagi membuka cahaya ke atas lautan
dan dahandahan cempaka mengeluarkan bunga
buat dikalungkan bagi abad yang segera tiba

berbijaklah datuk bulango mencipta legenda
biar kolokolo mandolokang punya tuan, punya kedatuan
karena negeri tanpa keteraturan bagaimana bisa mencapai tujuan
maka gemparlah para pemabuk
mendengar laut mengirimkan Lohoraung
putri berbaju daun, berkulit awan di bawa bulango
dari negeri khayangan di balik lautan
pesona kecantikan membius langit
menurunkan hujan hingga semak berkilauan
mentakbir mantramantra rahasia

ketika meninggalkan perahu ia melayang ke daratan
dan kerikilkerikil bergetar dalam pijakan sakti kelembutan
bersujudlah segala kemegahan teluk yang dulu bertepuk dada
seperti kisah kaisar yang takluk di ketiak perempuan
taklim rakyat pun dicurahkan, karena manusia
tak mungkin melawan dewa diutus Tuhan

bulango mendaulat ratu Lohoraung
diantar ribuan rakyat tagulandang
setelah perahu nawalandang
dari pantai mereka bergerak menuju istana
beriring tambur nanaungan merancak langkah
derap lelaki berbaris di depan memikul hasil ladang
perempuanperempuan menari dengan gaun kofo
kukukuku memerah laka memagiskan udara berbau bataka
anakanak menatap dengan mata berbinar
seakan sejarah mulai menulis matarantai nasib
pada setiap jejak tapak sang dimulia ratu kencana

dan waktu terus menyeret kelokan kisah
kemaharayaan negeri atau lumpur menutup ganggang
di hamparan dataran karang di bawah puncak gunung ruang
meledak seperti pemabuk muntah di tengah malam buta
lalu diesok panginya kota tua kerajaan itu
telah jadi milik pedagang cina
derap lelaki berbaris di pelabuhan
menjadi buruh pengangkut
barang milik orang

Sebagaimana “Kolokolo” adalah nama pulau Biaro dalam bahasa sasahara. “Mandolokang” juga nama sasahara dari Pulau Tagulandang. Dalam sejarahnya, Balangingi –sebutan sasahara buat perompak dari Sulu Mindanao—menjadikan kepulauan Tagulandang-Biaro sebagai tempat persinggahan mereka, terutama di teluk Minanga.

Ch.O. Bingku, seorang Penilik Kebudayaan bertugas di Tagulandang pada tahun 1976 hingga 2001. Dalam kariernya, Bingku sempat merampungkan sebuah buku berjudul “ Ceritera Rakyat Kecamatan Tagulandang”. Dalam buku yang dieditorinya itu, dikisahkan dengan begitu menakjubkan legenda Putri Lohoraung.

Bermula pada sebuah peristiwa badai puting beliung yang dasyat menyaput daratan pulau Tagulandang, terutama di bagian Selatan dan Tenggara pulau itu. Hari masih subuh, Makahiking, seorang petani desa Tulusan, saat badai berlalu, mendatangi kebunnya. Kerusakan parah telah terjadi di mana-mana. Namun astaga! Di bawah sebuah pohon yang tumbang, ia mendapati sesosok tubuh seorang gadis remaja yang berkulit putih halus terbungkus dengan daun-daun pohon yang rubuh. Parasnya cantik dan elok.

Awal Makahiking ragu. Ia menyangka, Sang Putri jelmaan makhluk halus penghuni hutan. Sebelum sempat berbuat sesuatu, terdengarlah suara yang lemah dan bernada memelas di antara isakan tangis dari sang putri: “Ia ko wawine, natuntung bou Pulisang, nawawa su anging mangkilaeng” (Saya seorang wanita, datang dari Pulisang, terbawa angin badai semalam). Itulah ucapan pertama sang puteri yang memperkenalkan asal-usul tempatnya namun tidak langsung memperkenalkan namanya.

Singkatnya, dari hasil kesepakatan bersama penduduk setempat, putri yang ditemukan itu diangkat menjadi anak oleh Makahiking dan istrinya. Kedua orang tua itu menamakannya “Lohoraung” atau “Maraloho su Raung” bermakna ditemukan di antara dedaunan pohon.

Dikemudian waktu, para wahaning Wanua (Pemberani/Pejuang Negeri) antaranya Walandungo, Wansiani, Lahawuateng, bermusyawarah, mengambil prakarsa dan bersepakat menjadikan Mandolokang sebagai sebuah wilayah kerajaan sendiri. Putri Lohoraung diangkat sebagai Ratu sejak tahun 1570 dan memerintah selama 39 tahun.

Saat Ratu Lohoraung berkuasa, ia didampingi Walondungo sebagai Panglima Perang. Walondungo disebut sangat berjasa dalam mempersatukan dan mempertahankan keutuhan kerajaan yang meliputi pulau Tagulandang, Talise, Bangka, dan Lembe. Ratu Lohoraung wafat dan dimakamkan di desa Tulusan yang pada waktu itu berstatus sebagai ibukota kerajaan. (*)

Penulis : Iverdixon Tinungki

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed