oleh

Panji Salib dan Bulan Sabit di Nusa Utara

Empat abad perang dan kolonialisme tak hanya menelan banyak korban jiwa, tapi juga menjumpakan masyarakat Sangihe Talaud dengan Islam dan Kekeristenan.

Singkil Sindulang, sebuah daratan yang menjadi pintu terpenting penyebaran panji Salib ke Nusa Utara. Sebelum Peter Jesuit Diego De Magelhaes membunyikan lonceng krencengan kecil di tahun 1563, tulis sejarawan Sem Narande dalam “Vadu La Paskah”, pesisir yang terletaknya di sekitar muara kali Tondano telah menjadi salah satu titik penting sekaligus bandar pertemuan orang-orang dari berbagai suku bangsa di Timur Nusantara untuk mencari pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari.

“Selalu ada perahu layar merapat memasuki muara kali, bersauh, lalu menunggu angin berubah membawa mereka pergi,” ungkapnya.

Para pemburu harta dari Cina dan Eropa juga mewarnai kawasan ini. Mereka datang bersama kisah-kisah perang dan penaklukan. Ini sebabnya, empat abad lalu, perkampungan Singkil Sindulang menyimpan jejak orang-orang keturunan Spanyol dan Portugis. Mereka menetap dan membangun kampung-kampung Borgo di tepi pesisir, meninggalkan tradisi tari Katrili dan Volka yang saat ini menjadi kesenian masyarakat Borgo.

Semuanya bermula ketika 1500 orang rakyat bersama Raja Manado Kinalang Damopolii dan Raja Siau Posuma menerima sakramen baptisan dari Peter Jesuit Diego De Magelhaes. Peristiwa baptisan itu ditegaskan sebagai awal mula perjumpaan masyarakat alifuru dan para penganut animisme yang mendiami kawasan pesisir ini dengan kekristenan yang datang bersama kapal-kapal dagang Spanyol dan Portugis yang mencari rempah dan kebutuhan makanan lainnya bagi kebutuhan pasar-pasar Eropa.

Mesionaris D. Brilman dalam “Onze Zendingsvelden, De Zending op Sangi-en Talaud-eilanden”, membenarkan adanya efektuasi yang luar biasa dalam kehidupan iman jemaat dan masyarakat di lingkungannya sesudah 14 hari Peter Diego De Magelhaes membaptis 1500 orang jemaat yang pertama sekaligus bersama 2 orang Raja yaitu Raja Manado dan Raja Siau. Kesaksian yang sama juga ditulis dr. Godee Molsbergen dan Wessels, Schwengke, Peter Muskens, dan buku dari Dr. Muller Kruger, seorang dosen yang pernah mengajar di sekolah tinggi Theologia Jakarta.

John Rahasia, sejarawan dan penulis buku “Tagaroalogi” dalam ceramahnya di gereja Patmos Bunaken tahun 1980 menjelaskan, 5000 anggota jemaat yang ditemukan Ds. Werndly di tahun 1707 di Manado adalah produk dari penginjilan masa Portugis . “Kita mendapatkan data pada tahun 1563 Peter Diego De Magelhaes datang dari Ternate. Ia dijemput oleh Raja Manado waktu itu, Kinalang Damopolii dan Raja Siau Posuma bersama 1500 orang rakyat. Raja Posuma sendiri adalah putra dari Raja Lokongbanua yaitu raja pertama di kerajaan Siau. Kedua Raja serta 1500 orang itu meminta Peter Diego De Magelhaes dari gereja Roma Katolik, zaman Portugis; untuk dibaptis!” (Valdu La Paskah, 1980, 333).

Sebelum kedatangan Ds. Werndly tahun 1707, pendeta Ds. Montanus sebagai pendeta Belanda pertama yang datang ke kawasan ini menemukan segolongan orang yang merupakan Jemaat Kristen di pesisir Manado di tahun 1675.

Kendati begitu, pada tahun 1675 saat Pendeta J. Montanus mengunjungi Manado, ia mendapati jemaat-jemaat di Manado sudah sangat lemah, hingga pada tahun 1677 VOC menetapkan Pendeta Zacharias Cacheing untuk bertugas di Manado. Kemudian sampai tahun 1700 tidak banyak lagi pendeta yang mau datang ke Indonesia, sebab kekristenan pada masa VOC terjadi bukan karena keimanan tetapi karena tekanan politik, kutip dari Prof Dr I.H. Enklaar: Sejarah Gereja Ringkas, 81, 1966.

Dalam catatan sejarah jemaat GMIM Nazaret Tuminting yang resmi berdiri pada 17 Maret 1933 atau 1 tahun lebih tua dari usia GMIM, dipaparkan dimana gereja itu tumbuh dari sebuah organisasi kristiani yang bernama “Hosana Ambang Susah” yang didirikan di kisaran tahun 1850 oleh orang-orang Sangihe Talaud yang beragama Kristen, yang mendiami pesisir Manado Utara.

Catatan itu mengambarkan sebuah arus bolak-balik perjalanan injil Kristus pasca pembantisan Raja Posuma dari Siau di Pantai Sindulang, yang kemudian dalam waktu yang tidak terlalu lama memicu perkembangan jumlah umat Kristen di Siau menjadi 25.000 orang. Serta atas bantuan raja Posuma pada 9 Oktober 1568 Peter Makarenas membaptis 10.000 orang di Kalongan, pulau Sangihe. Benih kekristenan itu juga menyebar ke Talaud yang ketika itu kawasan pulau-pulau Talaud merupakan daerah-daerah yang berafiliasi dengan kerajaan Siau dan kerajaan-kerajaan Sangihe.

Dalam sejarah Gereja Masehi Injili Talaud (GERMITA) yang berdiri pada tanggal 23 Oktober 1997 hasil pemekaran dari GMIST disebutkan, kekristenan di kawasan itu berkembang pesat dari hasil penginjilan Badan Zending dari negeri Belanda dan Eropa pada umunya, terutama sejak abad 19. Khususnya dari Komisi “zendeling tukang” (Zendeling-werkleiden atau zendeling-werkman).

Seperti juga di kawasan Nusa Utara pada umumnya, kedatangan para “zendeling tukang” di Talaud terbagi dalam dua rombongan, yaitu, rombongan pertama untuk kepulauan Sangihe, Siau dan Tagulandang terdiri dari empat orang yakni: Carl W.L.M. Schroder, E.T. Steller, F. Kelling dan A.Grohe. Sedangkan rombongan kedua untuk kepulauan Talaud, terdiri dari lima orang pemuda yaitu: A.C. Van Essen, P. Gunther, W. Richter, K.E.W. Tauffmann dan Fischer. Mereka berangkat dari negeri Belanda pada tanggal, 23 November 1857 dan tiba di Batavia pada 12 April 1858. Khusus untuk Fischer, Komisi harus memanggilnya kembali ke Belanda karena kekurangan sikapnya selama dalam perjalanan, dan harus mengembalikan ongkos perjalanannya kepada pemerintah Belanda sebanyak 536 Gulden.

Pada tanggal 1 Oktober 1859 tercatat dalam sejarah kekristenan di kepulauan Talaud adalah waktu tibanya empat orang “penginjil tukang” tersebut, sehingga pada tanggal 1 Oktober ditetapkan menjadi Hari Pekabaran Injil di kepulauan Talaud. Mereka digelari “penginjil tukang” karena diperlengkapi dengan ketrampilan khusus, seperti membuat sepatu dan kereta. Dengan adanya ketrampilan tersebut mereka diharapkan dapat membiayai kehidupannya sendiri, tanpa tergantung kepada badan zending yang mengutus mereka dari Eropa.

Sementara tahun 1606, Raja Tagulandang yang dicatat Valentijn dengan nama Roytelet bersama putrinya meminta dan kemudian dibaptis Kristen Katolik oleh Pater Jesuit Antoni Pereira di Siau. Raja Tagulandang dan putrinya datang ke Siau untuk urusan pernikahan dengan Raja Siau. Kepada Pater Antoni Pereira, Raja Tagulandang menjanjikan bahwa semua rakyatnya akan menjadi Kristen asalkan padri tersebut datang ke pulaunya. Pater Antoni(us) Pereira, asal Portugis bertugas di Siau tahun 1604-1606.

Sayang tidak disebut nama Kristen yang telah dipakai oleh Raja Roytelet setelah dibaptis Pater Antoni Pareira, atau apakah ia identik dengan tokoh Balango yang berkuasa di Tagulandang sejak tahun 1609. Sebab, tahun 1606 adalah masih masa pemerintahan Lohoraung. Sedangkan raja dari versi tersebut adalah seorang pria. Begitu pun agama Katolik, tidak diketahui apakah sempat berkembang ketika itu. Namun, menilik nama-nama raja, sangat tidak terdampak seperti Siau, Tabukan,Taruna (Tahuna) atau pun Manganitu yang raja-rajanya banyak memakai gelaran Don atau nama berkesan Portugis atau pun Spanyol sampai Kompeni Belanda berkuasa yang bernuansa Kristen.

Kristen Protestan kemudian berkembang di Tagulandang ketika Raja Tagulandang dan sejumlah penduduknya memeluk agama Kristen. Daghregister Batavia 1664 mencatat Raja Tagulandang bersama istrinya telah dibaptis oleh Predikant Ternate Ds.Sibelio (Petrus Sibelius), bersama 152 orang dewasa dan 31 anak-anak. Meski tidak menyebut nama raja, tapi dapat dipastikan kalau raja dimaksud adalah Bawias atau Bawioso. Nama serani yang dipakainya adalah Anthony (Anthonie atau Anthonisz) Bapias atau menurut Valentijn Anthoni Bapeas.

E.T. Steller Di Manganitu

Alexander Pasikuali (77), salah satu generasi “tukang” paling terkemuka dari pulau Sangihe. Siapa menyangka lelaki yang hanya mengenyam pendidikan hingga kelas III SD di sebuah desa, di pulau perbatasan Indonesia- Filipina itu dikemudian hari menjadi ahli rancang bangun kapal bertonase dari 100 hingga 600 GT (Gross Tonnage).

Diwawancarai penulis di rumahnya, kelurahan Tuminting Lingkungan 3 Manado, pada September 2018, putra kelahiran Lesa, Sangihe, 27 September 1941 ini mengatakan keahliannya membangun kapal tak lepas dari pelajaran pertukangan dari masa misionaris E.T. Steller. “Sejak usia 13 saya mulai belajar kerja pertukangan dari orang-orang tua lepasan ‘Sekolah Gunung Manganitu’ yang didirikan tuang Pandita Stellere,” ujarnya.

Setelah menguasai teknik pertukangan rumah, lelaki yang akrab disapa Opa Pasikuali ini, mengatakan ia mencoba mengerjakan pembuatan perahu, lalu berkembang ke pembuatan kapal bertonase besar di Sangihe.

Sejak 1975 puluhan kapal buatan lelaki berjuluk “anak Ajaib” ini meramaikan jalur pelayaran rakyat Indonesia Timur yang pada masa itu masih dalam keadaan kekurangan sarana angkutan laut antar pulau.

Kapal-Kapal buatannya diantaranya, KM Patmos, KM Kalvari, KM Sentosa, KM Agape, KM Agape Jaya, KM Verolis, KM Agape Mulia, KM Agape 1, KM Agape 2, KM Monalisa, KM Teluk Tahuna (Cargo), KM Agape star, KM Agape Indah, KM Ave Maria, KM Teratai, KM Getsemani. KM Agape Sejati, serta puluhan kapal Pajeko, Kapal Ikan Viber, Kapal Pesiar, Kapal Puskesmas keliling, dan berbagai jenis perahu.

Sebagai orang pertama yang meletakkan pola pembangunan konstruksi Kapal bertonase besar di Sangihe, Opa Pasikuali mengaku telah mewariskan keahlian pertukangannya kepada para muridnya. “Sekitar seratusan murid saya sekarang telah menjadi ahli pembuat kapal di berbagai daerah di Indonesia baik jenis kapal berkonstruksi kayu hingga yang berkonstruksi besi,” ujarnya.

Dikatakannya, ilmu pertukangan yang dimilikinya harus diwariskan karena hal tersebut merupakan salah satu misi dalam pelajaran hidup yang diajarkan para pendeta di masa lalu.

Pendeta A. Makasar,M.Th dalam sebuah artikelnya yang berjudul: “Jejak Petualangan Penginjil Tukang” mengatakan, kehadiran Steller telah membuat perubahan dan perkembangan luar biasa di wilayah Manganitu, Sangihe dan sekitarnya.

E.T. Steller membuka sekolah di Gunung Manganitu untuk “pemuridan”. Pada sekolah ini para pelajar dididik dengan berbagai disiplin ilmu pertanian, pertukangan dan pengetahuan pendalaman alkitab untuk menjadi penolong Injil guna membantu tugas pelayanannya.

Berkat semangat dan kerja Steller maka telah terjadi transformasi yang luar biasa, sehingga jemaat-jemaat yang diasuh sudah boleh membaca, menyanyi bahkan ada yang tampil trampil menjadi tukang dengan mengusai teknik pertukangan dunia Barat, menjadi ahli-ahli pertanian dan menjadi guru-guru penolong injil dan ilmu pengetahuan lainnya.

“Melalui penginjil tukang maka menjadi sebuah wacana umum yang telah terheriditas dalam konsep masyarakat pada umum bahwa orang-orang Sangir terkenal sebagai tukang yang trampil dan professional, baik membangun rumah maupun membangun kapal,” kata Makasar.

Berbarengan dengan ekspansi VOC ke negeri rempah nusantara, di Eropa pada tahun l848 Badan Zendeling yang menangani urusan pekabaran Injil membuka kesempatan bagi pemuda-pemuda untuk menjadi misionaris.

Memanfaatkan kesempatan yang ada, Erens T. Steller seorang Jerman ingin memberi diri menjadi tenaga misionaris dibawa Badan Zendeling tukang. Zendeling Tukang adalah sebuah Badan yang didirikan oleh Lembaga Misioner Gereformmed untuk mengantisipasi kekosongan tenaga misionaris dibeberapa tempat yang sulit.

Para tenaga misionaris ini datang dari latar belakang status sosial yang rendah sehingga mereka mampu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan alam dimana mereka ditugaskan. Melalui keterampilan pertukangan yang dimiliki Steller maka diapun diutus ke Pulau Sangir setelah ditahbiskan pada l7 Desember l854 di Jerman.

Dalam kurun waktu 3 bulan setelah mereka tiba dari Jerman kemudian diberangkatkan dengan kapal “Stad Scheveningen” dari Rotterdam menuju Hindia. Kemudian Steller bersama kawan-kawannya menempuh pelayaran selang 95 hari menuju Batavia dan tepat pada tanggal 3 Juli 1855 kapal yang mengangkut mereka tiba di Batavia.

Pada bulan Oktober 1856 Gubernemen memberikan izin kepada mereka untuk menjadi tenaga zendeling di pulau-pulau Sangihe dimana pada tanggal 5 Nopember 1856 mereka menerima dari pengurus Gereja Protestan di Batavia qualificatie-acte (surat hak sebagai pendeta), kemudian barulah pada tanggal 24 Oktober 1856 mereka dapat meneruskan perjalanan ke Manado.

Tepatnya pada malam Tahun baru mereka tiba di pelabuhan Kema, dan langsung menginjakkan kaki perdana di daratan Minahasa. Selama kurang lebih setengah tahun mereka menetap di Minahasa dan membantu melakukan pekerjaan pelayanan, selanjutnya melakukan pelayaran ke pulau-pulau di Sangihe Talaud dengan menumpang kapal raja-raja hendak pulang setelah mengantar upeti kepada Gubernemen (gubernur).

F.Keling dan A. Grohe di utus ke Siau dan Tagulandang. Keling bertugas di Ondong (Siau Barat dan Tagulandang), Grohe bertugas di Ulu Siau. Terbentur dengan masalah-masalah politik dan juga sikap raja-raja yang kurang toleran, maka pada tahun 1867 Grohe pindah ke pulau Sangihe Besar yang bagian selatannya masih termasuk wilayah Siau.

Sementara itu E.T. Steller dan C.W.L.M. Schroder di utus ke Sangir Besar pada tanggal 20 Juni 1857 dari pelabuhan Manado bersama-sama dengan raja Manganitu menuju lapangan kerja mereka di Manganitu.

Kedatangan mereka rupanya sudah diketahui oleh penduduk, sehingga pada tanggal 25 Juni ketika mereka tiba penduduk/masyarakat menyambut mereka dengan begitu hangat melalui nyanyian anak-anak sekolah. Steler tinggal di Manganitu yang merupakan wilayah pelayanannya sendangkan Schroder ditugaskan di wilayah Tabukan.

E.T. Steller menikah dengan Auguste Paulina Schrode (11 Mei 1859). Dari hasil perkawinannya ia dikaruniakan 5 orang anak dan sesuai dengan permintaan pemerintah Hindia Belanda maka, anak-anaknya di sekolahkan di Belanda.

Selama 40 tahun ia melayani sebagai penginjil tukang di Sangihe, dan tutup usia pada 3 Januari 1897 di Manganitu, sedangkan istrilnya meninggal pada 25 Mei 1889. Keduanya dimakamkan di Kompleks rumah Pastori Gereja Manganitu sekarang Jemaat Petra Manganitu.
Kerajaan Kristen Siau

Selain Kerajaan Larantuka di Flores bagian timur, dan Kerajaan Manganitu di pulau Sangihe, di era kejayaan Nusantara, Kerajaan Siau adalah salah satu Kerajaan Kristen di Sulawesi bagian utara sejak abad ke-16 Masehi. Keunikan Kerajaan Siau adalah negeri yang dibaptis.

Dan ini sebabnya, Minggu menjadi hari yang istiwewa di sana. Zending Daniel Brilman ketika bersinggah pada 1927 sempat menulis deskripsi yang menakjubkan tentang keistimewaan itu; –Saat lonceng gereja mendeting pertama kali di suatu pagi, hari Minggu, 34.000 penduduk pulau tersebut seakan serentak bergerak menuju rumah-rumah ibadat– Kaum pria mengenakan celana dan baju bersih yang diseterika rapi. Kaum wanita dengan kebaya dihiasi renda lebar yang mahal dan dipakukan dengan peniti emas. Lainnya mengenakan sarong sutera, sanggul ikat dengan sisir besar yang indah dari kulit penyu dan peniti bertatahkan kancing emas. Selop-selop yang bagus dan sebuah payung sutera. Sementara kaum muda mengenakan gaun gaya Eropa.

Pemandangan Minggu itu sudah lazim sejak masa yang lebih jauh, ungkap penulis buku “Onze Zendingsvelden De Zending op de Sangi – en Talaud- eilanden”, yang kemudian diterjemahkan oleh GMIST menjadi “Wilayah-wilayah Zending Kita, Zending di Kepulaun Sangi dan Talaud” ini. Ada keistimewaan lain lagi di pulau penghasil pala terbaik dunia itu, yaitu gunung Karangetang yang menjulang 1784 meter. Gunung ini pernah meletus pada tahun 1675, mengeluarkan lava pijarnya dengan sangat dahsyat. Karangetang sebelumnya tercatat sudah mengalami erupsi sebanyak 41 kali sejak tahun 1675 hingga masa Brilman. Dan, salah satu ciri khas dari gunung api ini, adalah satu-satunya gunung berapi di dunia yang pernah di baptis.

Karangetang dibaptis oleh Pendeta F. Kelling pada 1857. Ia seorang misionaris Nederlandsche Zending Genoodschaap (NZG) yang datang ke Siau untuk menyebarkan Injil. Pendeta tersebut menamakannya Yohanis. Sementara gunung tidak berapi di samping Karangetang yang dikenal dengan nama Tamata, juga ikut dibaptis, dinamakan Yohana.

Raksasa yang sedang berasap adalah metafora Brilman untuk menggambarkan lanskap pulau Siau. Sementara nama Kerajaan Siau sudah disebut dalam suatu publikasi peter Antonio Marta pada tahun 1588 dan Ds. F. Valentijn pada 1700, ungkap Brilman. Data lain yang menyebutkan, pencantuman nama Kerajaan Siau dalam sejumlah sketsa dan peta pelayaran abad 16 oleh sejumlah penulis, diantaranya, catatan harian Antonio Pigaffeta, “Primer Viaje en Torno del Mondo” yang mencatat perjalanan eskader yang dipimpin Laksamana Magelhaes melewati Kepulauan Sangihe dan Talaud pada Oktober dan November 1521. Tome Pires, dalam “The Suma Oriental of Tom Pires and the Book of Fransidco Rodriques” Armendo Cortesao, menyebut pulau Siau dengan nama Chiaoa. Nicolas Desliens pada tahun 1541 menyebut Siau dengan Siao. Huich Allardt menyebut Siaw pada 1652.

Lebih menarik lagi data yang dipapar sejarawan Dr Ivan RB Kaunang SS MHum. Dalam bukunya “Bulan Sabit di Nusa Utara, Perjumpaan Islam & Agama Suku di Kepulauan Sangihe Talaud”, ia menyebutkan, nama Siau sudah dicantumkan dalam buku pentunjuk pelayaran pelaut Cina, sebelum pelaut Spanyol dan Portugis melintasi perairan Nusa Utara (Kepulauan Sangihe Talaud). Mengutip buku petunjuk pelayaran Shun Feng Hsin Sung tahun 1500, dosen Fakultas Ilmu Budaya (dulunya Fakultas Sastra) Universitas Sam Ratulangi Manado ini menyebut, nama Shao (Siau) telah dicatat sebagai bagian dari jalur Utara Cina melewati Zamboanga ke bagian Timur Mindanao, kemudian ke Selatan menuju pengunungan Shao atau Siau.

Seperti juga D Brilman, Kaunang mengungkapkan, jauh sebelum armada Eropa melintasi Sangihe Talaud, para pelaut dan pedagang Cina, Arab dan India telah menjadikan pulau-pulau Sangihe Talaud ini sebagai tujuan untuk mendapatkan produk-produk andalan seperti kayu hitam, minyak kelapa, kelapa, cengkeh, pala dan fuli serta persediaan makanan. Juga sebagai daerah lintasan dari Mindanao ke Maluku.

Kerajaan Siau didirikan raja pertama Lokongbanua pada tahun 1510 dan eksis selama lebih 4 abad hingga masa akhir Presiden Pengganti Raja Siau Ch David, tahun 1956, atau 11 tahun setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 di Jakarta. Awal persentuhan Siau dengan kekristenan catat sejumlah sumber sejarah Gereja di Sulawesi Utara, seiring expedisi Potugal dan Spanyol yang membawa imam-imam Katolik (Missionaris-missionaris Katolik) memasuki perairan Sulawesi Utara dan Maluku Utara sejak tahun 1511 dan 1522.

Sebelum disentuh kekristenan, penduduk negeri itu catat Brilman, menganut semacam “kepercayaan mana”, penyembahan orang mati dan kepercayaan pada roh-roh serta dewa-dewa. Kata “mana” adalah suatu kata bahasa Milanesia yang pertama-tama digunakan oleh Zendeling Inggris Codrington untuk menyatakan suatu tenaga sakti penuh rahasia.

Dalam catatan sejarawan Pitres Sombowadile, pada 1516 misi Katolik Portugis pernah singgah dan menyelenggarakan misa paskah di ibukota Kerajaan Siau, Paseng. Disebutkan, Raja Lokongbanua ikut menghadiri misa paskah tersebut. Meski Katolik sudah menggelar acara misa, namun tahun itu tidak serta merta disebut agama Katolik sudah dianut kerajaan ini. Karena dalam catatan Portugis nanti pada tahun 1563 agama itu dianut, yaitu oleh Raja Siau II Posuma (1549-1587). Agama ini dibawa oleh paderi Diego de Magelhaes dari Kesultanan Ternate.

Misi Katolik itu tulis Sombowadile, dikirimkan Portugis untuk mendahului kedatangan rombongan yang diutus Sultan Khairun dari Kerajaan Ternate untuk membawa siar Islam ke Sulawesi Utara. Rombongan siar itu bahkan langsung dipimpin Pangeran Baabullah.
Sementara sejarawan Sem Narande dalam “Vadu La Paskah” menyebutkan, Raja Posuma tercatat dibaptis menjadi Katolik di sungai besar di Kota Manado bersama 1500 orang rakyat dan Raja Manado Kinalang Damopolii. Diego de Magelhaes datang bersama expedisi Panglima Portugis Heurique de Sa yang membawa 2 kapal.

Mesionaris D. Brilman membenarkan adanya efektuasi yang luar biasa dalam kehidupan iman jemaat dan masyarakat di lingkungannya sesudah 14 hari Peter Diego De Magelhaes membaptis 1500 orang jemaat yang pertama sekaligus bersama 2 orang Raja yaitu Raja Manado dan Raja Siau. Dalam berbagai literatur Portugis dan Spanyol, Posuma dikenal dengan nama baptis, Don Jeronimo atau Hieronimus. Dalam masa pemerintahan Raja Posuma, di Siau umat Kristen sudah mencapai 25.000 orang. Meskipun sudah sejak zaman Raja Posuma memeluk agama Katolik, namun nanti pada zaman Raja Winsulangi kerajaan Siau layak disebut sebagai kerajaan Kristen Katolik, ungkap Sombowadile.

Berbagai catatan paderi menyebutkan bagaimana penyebaran misi Katolik difasilitasi dari Siau ke berbagai tempat di Sulawesi Utara dan Tengah. Kejayaan kerajaan ini dicapai pada masa raja Batahi ((1639-1678) dan anaknya, Raja Ramenusa (1680-1715). Tercatat sebelum masa VOC- Belanda, pada tahun 1594 Raja Siau Ketiga Winsulangi (1591-1639) atau yang dikenal dengan nama baptis Don Jeronimo Winsulangi mengikat perjanjian kerjasama keamanan dan perlindungan dengan gubernur Spanyol untuk wilayah Asia (Filipina) di Manila. Sejak itu kerajaan Kristen Siau dijaga oleh Spanyol. Dua benteng pertahanan di pulau Siau yang dirintis sejak Portugis (Santa Rosa dan Gurita) langsung dihuni bala tentara Spanyol. Juga merupakan tempat mukim para paderi Spanyol, Portugis dan Italia.

Meskipun wilayahnya kecil dan tidak dikenal banyak orang Indonesia, kerajaan Siau pernah memegang peran penting di Sulawesi bagian utara dan Timur Indonesia, tulis Hubert Jacobs, S.J. yang terkenal dengan rangkuman serial sejarah wilayah Indonesia Timur Documenta Malucensia. Ungkapan Hubert Jacobs itu dikarenakan Kompeni Belanda pernah sangat kesulitan mencaplok kerajaan Siau ke dalam lingkup kekuasaannya, karena kerajaan ini merupakan wilayah yang dilindungi Spanyol yang berpusat di Manila, di benteng Intramuros (Filipina).

Pusat kerajaan ini di pulau Siau yaitu pulau di Laut Sulawesi yang terletak pada 02o 45’ 00’’ LU dan 125o 23’ 59’’ BT yang kini merupakan wilayah Kabupaten Kepulauan Sitaro (Siau, Tagulandang dan Biaro). Daerah ini adalah salah satu kabupaten perbatasan Utara Indonesia dengan negara Filipina. Pulau Siau sendiri hanya berukuran luas tak lebih dari 100 Km2. Namun dalam catatan sejarawan Pitres Sombowadile dan situs Arkeologi dan Riset Sejarah, dalam kiprahnya, wilayah kerajaan Siau pernah mencakup daerah-daerah di bagian selatan Sangihe, pulau Kabaruan (Talaud), pulau Tagulandang, pulau-pulau teluk Manado dan wilayah pesisir jazirah Sulawesi Utara (kini Minahasa Utara), serta ke wilayah kerajaan Bolangitan atau Kaidipang (Bolaang Mongondow Utara) bahkan sampai ke Leok Buol.

Perluasan wilayah Kerajaan Siau tersebut terjadi, terutama, di masa pemerintahan Raja Don Geronimo Winsulangi hingga Raja Don Fransiscus Xavirius Batahi, yang ditopang penuh kekuatan armada angkatan laut yang besar, tulis Max S. Kaghoo dalam bukunya “Jejak Leluhur, Warisan Budaya di Pulau Siau”, yang diterbitkan PT. Kanisius 2016.

Dalam sejumlah catatan sejarah disebut, pembangunan dan modernisasi besar-besaran Armada Angkatan Laut Kerajaan Siau dilakukan pada tahun 1612 di bawah pengawasan Laksamana Hengkengunaung, seorang panglima perang yang diangkat Raja Don Geronimo Winsulangi. Kerajaan Siau pun bangkit menjadi salah satu kekuatan besar di kawasan timur Nusantara, terutama dalam pengamanan territorial laut kawasan pulau Sulawesi hingga Mindanao Selatan.

Di masa itu, catat Kaghoo, Angkatan Darat kerajaan Siau dibagi menjadi 3 pasukan yaitu, Pasukan Kompania, Upase, dan Labadiri. Sementara Angkatan Laut dibagi menjadi 3 pasukan menurut jenis armada tempur yakni, Pasuka Bininta, Konteng, dan pasukan Kora-kora. Sementara sebelumnya, pada tahun 1592, penguasa Spanyol, Gubernur Jenderal Perez Dasmarinas di Filipina, sebagaimana catatan misionaris D. Brillman dalam “Onze Zendingsvelden, De Zending op Sangi-en Talaud-eilanden”, mengabulkan sejumlah bantuan militer dan persenjataan, terutama bantuan armada kapal perang yang diperlengkapi persenjataan modern kepada kerajaan Siau, kendati tak seluruh kesepakatan bantuan itu terealisasi karena Dasmarinas, kemudian terbunuh oleh awak kapalnya sendiri.

Pitres Sombowadile dalam sebuah artikelnya menyebutkan, kerajaan Siau dalam berbagai catatan Belanda dan sejarawan lokal di Manado, H.M. Taulu, disebut-sebut pernah mengusir armada Kerajaan Makassar yang menduduki wilayah Bolaang Mongondow. Tidak terhitung juga menghalau para armada perompak asal Mindanao.

HB Elias dalam buku “Sejarah Pergerakan Kebangsaan Indonesia di Siau (1973)” mencatat Hengkengunaung, seorang Laksamana Angkatan Laut Kerajaan Siau, mencapai kejayaan di masa pemerintahan Raja Don Fransiscus Xavirius Batahi, ditandai dengan kemenangannya dalam sejumlah pertempuran laut di kawasan timur Nusantara. Nanti pada tahun 1677 Siau ditundukkan oleh Belanda dengan mempergunakan Sultan Ternate Kaitjil Sibori sebagai pelaksana. Tercatat sejak 9 November 1677 kerajaan ini menjadi bagian dari wilayah yang tunduk pada kehendak VOC-Belanda sebagaimana perjanjian lange contract yang ditandatangani Raja Franciscus Xaverius Batahi. Di antara pasal penting yang ditanda-tangani adalah kerajaan Siau beralih agama ke Kristen Protestan Belanda.

Raja Batahi adalah Raja Siau yang memeluk agama Katolik dan penggantinya Raja Raramenusa adalah Raja Siau pertama yang memeluk agama Kristen Protestan. Semua itu merupakan kondisi yang dilahirkan oleh battle ground perang Batahi.

Pada zaman VOC (Kompeni Hindia Belanda) sama sekali tidak diperkenankan penyebaran misi Katolik. Pelarangan penyebaran misi Katolik itu berlangsung dari tahun 1602 sampai tahun 1800. Nanti di zaman GubJen (Gubernur Jendral, Daendels, sesudah VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie) dibubarkan pada tahun1800, maka barulah diluaskan agama-agama lain masuk Indonesia. Hal ini disebabkan oleh tampil semboyan yang terkenal dalam sejarah demokrasi di dunia : “Egalite, Eraternite, Leberte “ dari Revolusi Perancis.

Bulan Sabit di Negeri Pelaut

Tumbuh sebagai bagian dari keberagaman yang indah, Islam, 5 abad jejak dan sejarahnya di Sangihe Talaud menjadi menarik dan patut ditelisik.

Di Kota Tahuna, ada Sjahrul Ponto. Ia budayawan Sangihe dari keturunan raja-raja Kerajaan Kendar (Kendahe) dan Kerajaan Tabukan—bahkan juga kerajaan Siau. Menyimpan sejumlah peninggalan kerajaan dan aneka karya sastra lama, adalah bagian dari hobi lelaki yang tinggal di salah satu rumah Raja tersebut.

Budayawan bernama Mahare juga di sana, ketika penulis berkunjung ke kediaman Sjahrul Pontoh, pada 2013. Sambil menyerup kopi di beranda rumah tua dengan arsitektur campuran gaya Eropa dan Sangihe ini, penulis juga disugukan permainan tetabuhan Tagonggong mengiringi syair-yair “Sasambo” oleh keduanya. Meski sesekali diselingi celoteh, ada suasana magis ketika itu, apalagi malam mulai larut, dan angin laut dari teluk Tahuna sayup-sayup menerpa pepohon di bebukit jalan dari Tahuna menuju negeri yang dulunya menjadi pusat kerajaan Tabukan. Betapa tidak, Sasambo adalah seni ritual, mengalir dalam perpaduan ritmik bunyi ketukan Tagonggong dan puisi lama bercirikan mantra, talibun dan gurindam. Pada kelokan laguan tertentu, nuansa Islami sangat terasa membalun.

Pak Mahare, panggilan keseharian budayawan senior asal Kendahe itu, tentu tak diragukan lagi kepiawaiannya dalam memainkan alat music tradisi, serta kedalaman penguasaan pengetahuan sastra dan budaya negerinya. Ia termasuk tokoh budaya yang selalu tampil memimpin berbagai pelaksanaan pesta budaya, di antaranya “Tulude” pada setiap 31 Januari saban tahun.

Sementara meski terbilang berusia muda, Sjahrul, juga boleh dikata lancar melafalkan syair-syair tua dari era ratusan tahun silam. Bahkan ia dikenal mendalami ilmu semedi –semacam yoga—dari khazanah kebudayaan kerajaan masa lalu. “Kerajaan Kendar dan Tabukan telah mewariskan tradisi dan nilai-nilai adiluhung dalam khazanah kebudayaan Indonesia,” kata Sjahrul. Selain pada puisi lama, dalam hal pengobatan tradisional, pembuatan kapal, perahu dan rumah, kata dia, masyarakat tradisi di sana masih mengenal syariat (syarat atau aturan) yang selayaknya diikuti dan dipatuhi sehingga apa yang diharapkan bisa terpenuhi.
“Di sini semua pohon dan tumbuhan, serta alam pada umunya diyakini memiliki roh penjaga, maka segala tindakankan yang berhubungan dengan semua itu harus melewati syariatnya,” ungkapnya.

Puisi-puisi mantra yang berkunci larik “Bismillah bisa”, lazim ditemukan di Sangihe Talaud. Bahkan tradisi lebaran ketupat yang diketahui merupakan warisan budaya Jawa sejak masa pemerintahan Raden Fatah dari Kerajaan Islam Demak pada abad ke-15, seperti Hari Raya Islam lainnya, dirayakan dengan takjub. “Di sini lebaran ketupat dirayakan pada hari ke 8 (delapan) di bulan syawal, dengan pemaknaan antara lain, hari perayaan sesudah melaksanakan puasa Syawal 6 (enam) hari, hari untuk menyantuni setiap orang dengan menyuguhkan ketupat, dan hari meleburkan diri untuk saling memaafkan agar bersih dari dosa dan kesalahan kepada orang untuk kembali kepada fitrah,” ungkap Ridwan Naki SAg, satu tokoh NU di kepulauan Sangihe.

Ada patahan instrumen sejarah yang mengelompokkan kerajaan-kerajaan yang pernah ada di Kepulauan Sangihe dan Talaud sebagai bagian dari kerajaan bercorak Kristen, sehingga alur sejarah Islam di kawasan itu sekadar mendapat tolehan yang muram.

Sementara ribuan peninggalan karya sastra lama, tradisi dan budayanya memancarkan jejak Islam nan elok di negeri para pesyair dan pelaut itu, sebagaimana disyaratkan puisi lama bernuansa Islami peninggalan Kerajaan Kendahe, Sangihe di bawah ini:

Dumaļeng su apeng nanging
Manendeng banuang
Banuang datungĮangi
Soļe tama soļe
Buntuang takumakibang
Iamang ianang magenda putung
Su hiwang Fatimah
Duatang Langi
(Terjemahan: Berjalan di pantai cahaya
Membawa gemerlap budaya
Kalam Tuhan bunda Semesta
Geser tak bergeser
Lapar tak menyerah
Ayah dan anak memetik api
di pangkuan Fatimah
dan Tuhan yang sejati)
————-Terjemahan penulis. Sumber: Sjahrul Ponto.

Buruntung, kendati baru sedikit bacaan yang bisa dijumpai menelisik sejarah dan pertumbuhan Islam di Kepulauan perbatasan antara Indonesia-Filipina ini, “Bulan Sabit di Nusa Utara, Perjumpaan Islam dan Agama Suku di Kepulauan Sangihe dan Talaud. (2010)” karangan Dr. Ivan R.B. Kaunang, S.S. M. Hum, cukup memberi sinar di tengah sedikitnya literatur yang membincangkan Islam di negeri itu.

Kerajaan Kendar atau Kendahe (1600) dan Kerajaan Tabukan (1530), ungkap Kaunang, merupakan 2 kerajaan Islam di pulau Sangihe yang pernah eksis selama ratuhan tahun, dan mewariskan Islam hingga kini di negeri 124 pulau ini. Jejak kebudayaan Islam di Sangihe Talaud memang terlihat jernih hingga kini, selain pada puisi-puisi mantra, artefak kerajaan, juga pada sejumlah tradisi profetis Islami yang masih terpelihara.

Jauh sebelum bangsa Barat datang ke Nusantara, penduduk di Kepulauan Sangihe dan Talaud telah lama membangun hubungan dagang dengan para pedagang asing dari Cina, Arab, India dan pedagang pribumi seperti Makassar, Jawa, dan lainnya yang berkunjung ke daerah tersebut. Di era itulah Islam mulai menyentuh Sangihe Talaud.

D Brilman mengungkap, sebelum Ferdinand de Magelhaes sampai ke pulau-pulau ini pada 1521, orang Cina dan Arab sudah lama berdagang dengan penduduk Sangihe Talaud dan kawin mawin dengan penduduk pribumi setempat. Penduduk pulau-pulau ini juga sudah berhubungan dengan para penangkap ikan paus dari Amerika.

Mengutip laporan pelaut Pieter Alstein dan David Haak pada tahun 1689, Brilman menyebutkan di era itu penduduk Sangihe Talaud telah melakukan pelayaran dengan perahu-perahu milik mereka sampai ke Batavia, Malaka, Manila, dan Siam. Sementara dalam catatan Kaunang, pasca-runtuhnya kerajaan Islam Demak pada 1546 para pedagang dan ulama serta pejuang Islam mulai mengalihkan perhatian mereka ke melayau, Aceh, Makassar, Kalimantan, Maluku sampai Sulu-Filipina lewat aktivitas perdagangan.

Perkembangan Islam di Maluku terutama di Ternate dan Tidore awal abad 15, tulis dia, menyebabkan mata rantai pulau-pulau yang berdekatan dengan Ternate terutama pantai-pantai di Sulawesi mulai mengenal Islam. Sangihe Talaud sebagai daerah di tepian perlintasan antara Jalur Utara Filipina dan Jalur Selatan Ternate sebagai pusat Islam di Indonesia Timur menjadi muasal persentuhan dengan Islam pada kurun awal ungkap penulis Drs Alex J. Ulaen DEA dalam “Nusa Utara Tepian Perlintasan” (1997).

Tepian perlinatasan itu, tulis Ulaen, terletak pada jalur pelayaran dari daratan Cina Selatan ke Kepulauan Maluku melalui Laut Cina Selatan, Laut Sulu, Laut Sulawesi, dan Laut Maluku. Sangihe Talaud menjadi tempat persinggahan para pelaut dan pedagang ini. Tentang Jalur Utara Kesultanan Sulu-Mindanau, Filipina Selatan yang berperan besar sebagai pintu masuk agama Islam ke kepulauan Sangihe Talaud, Sulawesi Utara, juga terungkap dalam Seminar Sejarah Nasional III tahun 1981 di Jakarta. Seminar itu menyimpulkan, Kepulauan Sangihe Talaud pada abad ke 16 sudah mengenal Islam. Masuk lewat jalur perdagangan dan pelayaran pada masa itu yang turut membawa kebudayaan Islam lewat jalur Filipina dari utara dan jalur selatan melalui Ternate.

Perlu diketahui, jarak antara Pulau Miangas di Talaud dengan pulau-pulau bagian Selatan Filipina 75 mil laut. Lebih dekat lagi kalau dari Pulau Marore di Sangihe hanya 35 mil laut. Jarak antara pulau Siau dan Ternate 40 mil laut. Sementara dari Miangas ke Manado sebagai ibukota Provinsi Sulut 145 mil laut.

Sejumlah sumber sejarah juga menyebutkan, penyebaran agama Islam di Kepulauan Sangihe Talaud erat hubungannya dengan kegiatan perdagangan laut terutama sejak kejatuhan Malaka ke tangan Portugis (1511). Kegiatan perdagangan memungkinkan adanya kontak dengan pelaut dan pedagang – pedagang asing, termasuk pelaut dan pedagang yang memperkenalkan agama Islam. Namun sebagaimana sentil Kaunang, sumber sejarah mengenai hal ini hanyalah berupa historiografi lokal maupun peninggalan purbakala yang masih terbatas jumlahnya. Salah satu di antaranya adalah peninggalan situs bekas istana kerajaan Islam terbesar, yakni kerajaan Tabukan di Pulau Sangir Besar.

Menurut Tumenggung Sis, kutip Kaunang, agama Islam masuk ke Nusa Utara (Sangihe Talaud) pada akhir abad ke- 15 di Kerajaan Tabukan dan mencapai puncak kemantapan pada pertengahan abad ke- 16, yakni tahun 1550. Melalui suatu kurun waktu yang panjang, papar dia, Kerajaan Kendahe dan Tabukan khususnya, dan umumnya Kepulauan Sangihe dan Talaud, menerima pengaruh Islam dari dua jurusan. Pertama, agama Islam masuk dari arah utara, yakni dari Kedatuan Sulu-Mindanao, setelah melalui suatu perjalanan yang panjang dari Malaka, Brunei, Sulu, Mindanao, Sangihe dan Talaud yang diperkirakan pada akhir abad ke- 15.

Sumber–sumber lokal mencatat hubungan pertama dengan agama Islam yang datang dari kesultanan Sulu-Mindanao dimulai akhir abad 15 yang bermuara di Kedatuan Lamauge pada masa Datu-Raja Taboi memerintah, dalam wilayah kekuasaan Kedatuan Tabukan. Selain Kedatuan Lumauge, Kedatuan Kendahe juga mendapat pengaruh Islam yang di bawah oleh Syarif Mansur Ali, seorang bangsawan muslim bergelar kulano dari Kedatuan Mindanao.

Pada masa kedatangan Syarif Mansur Ali, jelas Kaunang, Kedatuan Kendahe di bawah kekuasaan seorang kulano-datu bernama Wagama. Kulano-datu Wagama kemudian digantikan oleh Syarif Mansur Ali dan agama Islam pun mulai menyebar sampai Kedatuan Talawide.
Pada masa Mansur Ali, agama Islam pun selain dianut oleh raja, bangsawan dan kerabatnya, juga telah mendapat simpati dari rakyat dalam kehidupan bermasyarakatnya, walaupun disadari masih ada yang menganut agama tradisional yang percaya pada kuasa aditinggi I Gengghonalangi Ruata (Dia Pencipta yang berkuasa di atas langit dan bumi).

Di Kerajaan Tabukan, agama Islam semakin kokoh pada paruh pertama abad ke- 17, yakni pada masa pemerintahan Raja Gamanbanua (1610). Pada masa ini dengan kepeloporan Raja Gamanbanua di Tabukan dan Syarif Mansur Ali di Kendahe dan Talawide, tata pemerintahan mulai diatur menurut akidah keislaman, termasuk di dalamnya berbagai hak dan kewajiban seorang muslim.

Selain Syarif Mansur Ali, tulis dia, dikenal juga tokoh pribumi sezaman yang turut mengislamkan Nusa Utara. Nama tokoh tersebut adalah Umar Massade atau Mas’ud yang kemudian lebih akrab dikenal dengan panggilan Imam Massade. Dijelaskan, Pada umur enam belas tahun, Massade dari Kerajaan Lamauge pergi belajar dan berguru agama Islam di Tugis-Mindanao atau Tubis menurut sebutan orang Sangir, kemudian ke Ternate dan menyempatkan diri naik haji ke Mekkah. Ini sebabnya, ungkapnya, boleh jadi sebelum agama Islam diperkenalkan oleh para mubalig dari Suku-Mindanao, agama Islam telah dianut oleh sebagian kecil masyarakat secara individu dalam rangka hubungan perdagangan dan dilanjutkan dengan hubungan – hubungan perkawinan dengan wanita – wanita pribumi. Hal ini terlihat dari keaktifan yang dilakukan Imam Massade bersamaan dengan kedatangan para kulano muslim dari Sulu-Mindanao, yakni memperdalam agama Islam di Tugis-Mindanao, kemudian ke Ternate.

Lebih jauh, selain Imam Massade atau Mas’ud, dikenal juga tiga orang imam yang pernah berguru dan mendalami dasar – dasar keislaman di Kedatuan Sulu dan Mindanao. Ketiga orang imam tersebut adalah Imam Hadum atau Hadung, Imam Mahdum atau Makhung, dan Imam Biangkati.

Dalam sejarah lokal Filipina, tulis Kaunang, abad ke- 13 sampai abad ke- 16 banyak pedagang – pedagang Islam yang datang ke Kalimantan terus melanjutkan perjalanan ke Sulu-Filipina dalam perjalanan mereka ke utara menuju Cina. Selanjutnya dijelaskan, selain para pedagang Islam tersebut, pada pedagang Islam yang berasal dari Indonesia, yang pulau–pulaunya berdekatan, juga datang di Kedatuan Sulu dalam rangka penyebaran agama Islam. Disebutlah salah satu nama yang datang, yakni Mahdumin, yang ajarannya banyak dipengaruhi oleh sufisme. Mahdumin, selain mengajarkan unsur – unsur dasar Islam, juga mendirikan masjid – masjid sederhana. Dapat dipastikan nama ini adalah Mahdum atau Makhung yang dikenal sebagai imam yang menyebarkan agama Islam di Sangihe Talaud.

Akan tetapi, ungkap dia, dalam tempo yang tidak begitu lama, agama Islam harus berbenturan dengan bangsa – bangsa Barat yang membawa panji – panji Salib, yang juga mempunyai kepentingan ekonomi, politik, dan meyebarkan agama Katolik, Protestan di wilayah ini.

Bangsa Barat pertama yang dikenal di daerah ini adalah bangsa Portugis dan Spanyol (abad ke- 16). Portugis masuk melalui kesultanan Ternate- Maluku, sedangkan Spanyol masuk melalui Filipina. Selanjutnya VOC- Belanda (abad ke- 17) melalui Ternate.

Perkembangan kemudian Spanyol dan Portugis harus angkat kaki karena kekuasaan VOC- Belanda atas Ternate pada masa gubernur Jendral Padbrugge yang mengklaim Sangihe Talaud masuk dalam bagian kerajaan Ternate.

Kerajaan Islam Kendahe

Kendahe (1600), salah satu dari dua kerajaan Islam di pulau Sangihe pernah eksis selama ratusan tahun. Wilayahnya melebar hingga ke Filipina Selatan. Pada 2006, dan tahun-tahun berikutnya, saya melakukan perjalanan ke Kendahe. Dan sejatinya, Kendahe hari ini masih lekat dengan akar sejarah dan budaya Islam peninggalan masa lalu. “Itu yang menarik apabila membincangkan Kendahe,” ujar Sjahrul Ponto.

Sudah cukup lama saya mengenal Sjahrul Ponto, budayawan Sangihe dari keturunan raja-raja Kerajaan Kendahe. Ia mengatakan, siar Islam berkembang luas di kepulauan ini pada zaman raja Syarif Achmad Mansyur (Egaliwutang=Mehegalangi).

Syarif Achmad Mansyur memerintah pada 1600-1640. Raja ini adalah anak dari Sultan Syarif Maulana dari kesultanan Mindanao. Permaisyurinya anak dari raja Tahuna, Tatehe Woba bernama Taupanglawo.

“Hingga kini, wilayah Kendahe dan Tabukan Utara merupakan pusat kebudayaan Islam di kepulauan Nusa Utara. Peninggalan syair-syair tua bernuansa Islam merupakan bagian dari kekayaan khazanah sastra purba Nusa Utara,” ungkap dia.

Sementara, pengaruh Islam di Nusa Utara tidak saja berasal dari kawasan selatan Filipina, tapi juga dari kesultanan Ternate dan Tidore, tambahnya.

Melewati hari-hari yang panjang di Kendahe bersama Sjahrul Ponto, beruntung saya bisa menulis beberapa sajak tentang negeri indah bernuasa Islami itu, diantaranya sajak berikut ini:

MAULANA
Fatimah di mantra api
memancar siar suci selatan negeri
muadzin melantun adzan
sakralah langit kandahar
dalam sajaksajak maulana
Egaliwutang Taupanglawo
bersujud lima cahaya timur
menyingkap fajar istana Aling
di jejak tasauf sultan syarif
menyingsing pagi kaum fakir
membram surga bergetar di doa malam maulana
pucukpucuk daihango di kedalaman jurang
menyaksikan jibril berkuda kencana
berpacu dari arah qiblat
menjemput dzikir kandahar
di atas baitbait Al-Fateha
seorang lelaki bersorban putih
muncul di syair puncak Awu
di balik surau keramat
yang dijaga Islam tua

Beberapa situs di Mindanao menyebut Kendahe sebagai Candahar. Awalnya, kerajaan Kendahe merupakan bagian dari kerajaan Mindanau Tubis, Filipina. Setelah berpisah dengan kerajaan Tubis, menurut data Situs Sangir, wilayahnya tinggal terdiri dari Bahu, Talawid, Kendahe, Kolongan, Batuwukala dan pulau-pulau sekitarnya termasuk Kawio, Lipang, Miangas sampai sebagian Mindanau Selatan.

Merujuk pada data Valentijn, wilayah kerajaan Kendahe di Mindanao yaitu Coelamang, Daboe (Davao), Ijong, Maleyo, Catil dan Leheyne. Kerajaan ini berpusat di Makiwulaeng dengan raja pertama Wagania (1570-1600). Terletak di barat laut pulau Sangihe, diperinci dari Kontrak November 1885 dengan Residen Manado, van der Wijck.

Datu Jamal Ashley Abbas dalam historiografi yang diiterbitkan The Philippine Post, 26 Desember 1999 mengungkap, pada abad 16 di pulau Sarangany dan Balut, Candahar merupakan kerajaan yang kuat memegang kekuasaan di pesisir timur Mindanao (sampai Tandag), Teluk Sarangani, Teluk Butuan (sekarang Teluk Davao) dan bahkan di wilayah Sangir, pulau-pulau di Maluku Utara.

Penduduk kedua pulau itu tulis Abbas, berbicara bahasa Sangil atau Sangir. Bahkan ungkap dia, bahasa Sangir ketika itu, diucapkan oleh sekitar 200.000 orang Sangir di Maluku. Pada tahun 1575, Sultan Bajang Ullah yang tangguh dari Ternate membuat sebuah perjanjian pertahanan bersama dengan Datu dari Sarangani atau raja dari Candahar, yang ibukotanya berada di pulau Balut.

Abas memerinci, di masa lalu, Magu Penguasa indanao’s, Buayan’s, Sarangany, Candahar dan Sangir adalah satu keluarga. Misalnya, pada paruh kedua abad ke-17, anak-anak Datu Buisan dari Sarangany a.k.a. raja Candahar ada di seluruh wilayah ini. Anak-anaknya termasuk Kudjamu, Rajah dari Buayan; Samsialam dan Makabarat, co-penguasa Buayan yang kemudian memilih tinggal di Ternate; dan Pandjalang Perdana Menteri Tabukan di Sangir Utara. Anak perempuannya menikah dengan Sultan Barahaman dan Katchil Bakaal dari Maguindanao, dan Sultan Tabukan. Putri kesayangannya, Lorolabo, yang menikah dengan sultan Tabukan, memiliki seorang putra, Joannes Calambuta, yang kemudian dipilih Buisan untuk menggantikannya sebagai Rajah dari Candahar. Rajah Buisan adalah putra Datu Buisan dari Davao.

Kandahe -Taruna adalah dua kerajaan bertetangga di pulau Sangihe yang pernah saling bersaing, tapi kemudian disatukan jadi satu kerajaan. Kedua kerajaan kecil saja. Pada tahun 1898 Kerajaan Kendahe dan Kerajaan Taruna digabung menjadi satu. Di dua wilayah inilah tahun 1919 Raja Soleman Ponto memerintah dengan pusatnya di Kota Tahuna kini.

Tabukan dan Kendahe di Sangihe Besar, kental mendapat pengaruh sistem kekuasaan di Sulu dan Mindanao. Meski kalau ditelusuri lebih dalam semua silsilah raja-raja Sangihe-Talaud, Siau, Bawontehu (Manado) dan para keturunan Mokoduludug, praktis semua terkait kawin-mawin dengan para penguasa di Mindanao.

Kendati demikian, penting digarisbawahi pada waktu lalu konsep kekuasaan tidaklah total dipahami sebagai kekuasaan kewilayahan dalam pemahaman kini. Kala itu, kekuasaan dominan terkait dengan kemampuan membentuk kekuatan bersenjata untuk merebut kendali atas perdagangan tenaga kerja budak dan monopoli atas produk-produk dagang.

Maselihe( Laut Berarus) adalah sebutan lain untuk kerajaan Kendahe (Kendar-Kandahar). Di masa raja ke IV Samensi Alang (Sam Syah Alam) yang memerintah pada tahun 1688-1711, istana kerajaan Kendahe yang berada di tepi pantai tenggelam dan amblas ke dalam laut bersama daratan Kendar lama akibat letusan gunung Awu pada tahun 1711 dan letusan susulan pada beberapa masa berikutnya. (*)

Penulis : Iverdixon Tinungki

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

1 komentar

News Feed