oleh

Naskah Drama Paskah Durasi 10 Menit

AKU ROTI HIDUP
(Satu babak dari Puisi Pengharapan)

Karya: Iverdixon Tinungki

PEMAIN
SANG PINTU: sosok Johanes Pembaptis.
MARIA MAGDALENA: Sosok pelacur.
SANG RANGKA: Sosok Manusi sekaligus sosok Yesus.
PEMBURU: Sosok penjahat.
PINTU-PINTU/ SETAN-SETAN.

SATU : LELAKI & SANG PINTU

Merambat, bergeser, bergulir, merangkak, melijit, berkelebat, dan bedebah! Sang pintu dan pintu-pintu itu sudah di sana menanti setiap yang lewat, mengajak masuk, atau mengusirnya seperti penjahat. Bulan sepotong, matahari sepotong, bintang sepotong lewat tertatih-tatih.

SANG PINTU:
Bertobatlah karena kerajaan surga sudah dekat.

PINTU-PINTU:
Bertobatlah kerena kerajaan surga sudah dekat.

Dan mereka terus berkata-kata seperti sediakalah, sepanjang waktu, tanpa henti. Kesurupan, terguling-guling, hingga semua pintu berantakan menjadi puing. Tapi sang pintu terus di sana memikul galon air, menanti datangnya hari pembaptisan.

DUA : SANG PINTU & SOSOK MAYAT

Dalam pengelanaannya, sang pintu bertemu sosok Rangka. Dan dibaptisnya Rangka itu.

SANG PINTU:
Ini tuwung surga. Air dari Sang Bapa. Air mata sang ibu dan sinar pengharapan berlaksa-laksa generasi. Kubaptis engkau.

Sang Rangka bangun, menggeliat, merangkak, kesurupan, dan menemukan dirinya. Sang pintu mengenakan jubah kencana pada sang Rangka yang hidup itu.

SANG PINTU:
Jalanilah nestapamu hingga hari perjamuan kudus.

Sang pintu kembali kepusaranya, dan lelaki mayat menyiapkan adonan dan sosis bagi dirinya. Adonan dan sosis dicamnpurnya seperti perempuan tua membuat roti paskah.

SANG PINTU:
Jika engkau menyiapkan roti
Dan menyantapnya diwaktu pagi dengan segelas kopi
Terasalah jiwamu bersemi berselang hari
Dan ingatlah
Sang Bapa di surga menyiapkan roti dari dagingnya sendiri
Lalu ia berkata : Akulah roti hidup
Dan setiapkan orang datang menambahkan sosis
Menurut selera masing-masing diri
Dan menyantapnya sendiri-sendiri
Dan setiap orang mulai menamai sajian itu
Menurut citranya dan keinginnya masing-masing
Itulah agama!

Maria Magdalena kau dimana
Ia disini
Lelaki yang mencintaimu
Lelaki yang engkau cintai

Maria magdalena muncul bersama seribu setan. Maria menari, Maria jatuh cinta. Maria memeluk dan menciumi sang lelaki Rangka.

SETAN-SETAN :
Berikan ia dunia Maria.

Maria kian panas menari. Tapi lelaki itu masuk ke adonan dan sosis. Ia menjadi roti.

Maria menangis dengan sesal. Orang-orang dan siapapun datang keperjamuan itu dalam keadaan lapar teramat sangat dan memakan roti itu. Maria ikut mencicipinya, lalu ia menangis lagi.

PUISI MARIA MAGDALENA:
(Pengakuan Iman Rasuli diulangnya berkali-kali.)

Setelah kenyang. Orang-orang menjadi betapa cerdas. Orang-orang menyeret rangka lelaki mayat itu dengan tali kemana mereka pergi. Ada yang jadi pendeta, ada yang jadi Muadzin, ada yang jadi pertapa : Mereka semua berkabar berita. Tapi ada yang jadi penjahat. Dan setan, tetap setan menjadi penggoda. Khotbah mereka mendengung seperti lebah.

KETIGA : TINGGAL RANGKA ITU DI PUING-PUING

Rangka itu kembali bergerak, karena betapapun sedunia orang memakannya, ia tak pernah akan habis.
Maria Magdalena bangkit dari kesedihannya dan dengan perkasah memanah rangkah dari roti itu.

PUISI SANG RANGKA:
Ya Bapa ke dalam tanganMu kuserahkan nyawaku.

Berkali-kali ia katakan itu dalam sunyi.
Hingga orang-orang tiba-tiba kembali dengan buas memakannya, mencabik-cabiknya. Lalu pergi, lalu pergi tapi ia tak pernah habis.

SANG RANGKA:
Jika kamu semua masih ingin (7 kali)
Makanlah aku!

Seorang pemburuh tiba-tiba muncul.

PEMBURU:
Salam sejahterah bagi kamu.

Setelah berkata ia menembaki Sang Rangka. Lalu dipanggulnya mayat Sang Rangka entah ke mana.

Tamat

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

1 comment

News Feed