oleh

Burung-burung Rinceng, Naskah Drama Iverdixon Tinungki

PEMAIN:

RINCENG TUA: Sosok burung sawah yang sudah tua.
RINCENG NAKAL: Sosok burung sawah muda yang nakal.
BANG RINCENG: Sosok burung sawah, suami dari Bing Rinceng.
BING RINCENG: Sosok burung sawah, istri dari Bang Rinceng.
ANAK BING RINCENG: Sosok burung sawah kecil. Anak dari Bing dan Bang Rinceng.
RINCENG KECIL: Sosok Rinceng kecil pemberani.
IBU RINCENG: Sosok burung sawah, ibu dari Rinceng Kecil.
AYAH RINCENG: Sosok burung sawah, ayah dari Rinceng Kecil.
PATEIR RAKSASA: Sosok orang-orangan sawah yang besar.
ANAK-ANAK PATEIR: Sosok orang-orangan sawah yang kecil, anak Peteir Raksasa.
BURUNG-BURUNG RINCENG: Sosok burung-burung sawah.

(Bunyi mesin buldoser, dan tiang pancang terdengar. Burung-burung Rinceng panik dan ketakutan. Setiap kali terdengar, bunyi itu seperti kian mendekat.
Di atas tanah sawah, di bawah Pateir Raksasa, burung-burung Rinceng itu putus asa. Telah tersiar kabar sawah tempat mereka mencari makan akan ditimbun untuk lokasi pembangunan gedung sebuah perhotelan)

RINCENG TUA:
Ayo menyingkir!
Menyingkir!

(Semua bingung dan saling bertanya mau menyingkir ke mana. Seekor Rinceng Nakal yang bertengger di atas cabang tiba-tiba membuka nyanyiannya.)

RINCENG NAKAL:
Bencana dicipta.
Bencana dipuja.
Itu jahatnya manusia.

(Rinceng-Rinceng pun ikut bernyanyi, dan terdengar seperti paduan suara)

BURUNG-BURUNG RINCENG:
Kamilah burung-burung rinceng…
Rinceng…
Rinceng…

Kamilah burungburung rinceng…
Rinceng…
Rinceng…

Gelisah dan meratap
kemana sayap mau dikepak
sawah-sawah akan lenyap

RINCENG NAKAL:
Mengapa kita semua
Seperti terlahir hina
Dipermainkan kuasa
Merdeka itu apa

Rinceng rinceng kita kaum jelata
Politik dan hukum tak melihat kita
Didobrak penguasa, ditindas pengusaha
Rinceng kita, rinceng yang jelata

(Rinceng tua yang pilu dan ketakutan mendekati kelompoknya)

RINCENG TUA:
Sudah semakin dekat!
Boldoser-boldoser itu akan tiba di sini.
Sawah ini akan ditimbun.
Bangunan tinggi akan berdiri di tempat ini.
Bergegaslah menyingkir!

(Mendengar ucapan Rinceng Tua, semuanya makin gelisah. Mereka bergegas mengemas barang-barang, sambil menyanyikan kegelisahan.)

SOLO RINCENG NAKAL:
Di sini, di sana.
Di mana-mana.
Tak ada lagi rasa cinta.

Bencana dicipta.
Bencana dipuja.
Itu jahatnya manusia.

BURUNG-BURUNG RINCENG:
Kamilah burung-burung rinceng…
Rinceng…
Rinceng…

Kamilah burungburung rinceng…
Rinceng…
Rinceng…

Gelisah dan meratap
kemana sayap mau dikepak
sawah-sawah akan lenyap

(Ditengah kesibukan dan kepanikan para Rinceng berkemas, Bang Rinceng menghardik Bing Rinceng istrinya yang tampak lamban bergerak.)

BANG RINCENG:
Woi, wangala, capat jo! Ngana pe palang skali bagara e.
Keburu mampos tatutu deng tanah torang.
Bawah jo barang-barang yang masih torang perlu saja.
(Hai, aduh, cepatlah! Pelan sekali kau bergerak.
Kita keburu mati tertimbun tanah kalau begini.
Bawa saja barang yang masih diperlukan)

BING RINCENG:
Ngana cuma banya mulu. Maskena!
Iko kwa manipang, jang cuma tiki pinggang di situ ngana!
(Kamu banyak mulut saja. Pemalas!
Ikutlah berkemas, kamu enak-enak saja di sana)

ANAK BING RINCENG:
(Beteriak menangis)
Mama kita so tabera calana.
(Ibu aku terberak di celana.)

(Rinceng Nakal terbahak-bahak melihat Anak Bing Rinceng menangis.)

BING RINCENG:
(Bergegas mendekati anaknya)
Pustemaleh deng ngana!
Dunya somo ancor masihleh pake acara bera calana.
Pigi baganti sana.
(Sialan kamu!
Dunia sudah mau hancur kamu masih berak celana lagi.
Pergi ganti sana.)

(Anak Bing Rinceng keluar.
Bunyi boldoser dan tiang pancang kian mendekat.
Anak Bing Rinceng masuk lagi, ketakutan sambil menjerit.)

ANAK BING RINCENG:
(Menangis)
Mama… Kita tako!
Ada hoga di luar sana.
(Ibu… aku takut!
Ada penculik anak di luar sana)

(Rinceng Nakal terbahak-bahak melihat Anak Bing Rinceng ketakutan.)

BING RINCENG:
Wangala jo ngana!
Nyanda ada hoga kwa.
Paling-paling itu cuma tikus-tikus.
Datang ba reno-reno di sini.
(Waduh kamu ini!
Tidak ada penculik anak.
Paling-paling itu cuma tikus-tikus.
Datang mengerat di sini.)

ANAK BING RINCENG:
Mar depe muka kwa rupa setang ma.
(Tapi wajahnya seperti setan bu.)

BING RINCENG:
Mamang bagitu muka tikus-tikus.
Tukang bareno. Mulu tai minya.
Kapista biru, tukang alih isu, supaya orang tako hoga,
Tai blao. Jang tako pa dorang.
(Memang seperti itu wajah tikus-tikus
Suka mengerat. Mulut licin.
Preman tengik, tukang alih isu, agar orang takut penculikan,
Tahi biru. Jangan takut sama mereka.)

(Bing Rinceng marah ke Bang Rinceng suaminya)

BING RINCENG:
Woi kapista! Jang cuma jadi tiang garang ngana situ.
Urus ni anak!
(Ke anaknya)
Pigi deng ngana pe pai!
(Hai bangsat! Jangan jadi patung kau di situ.
Urus ini anak!
(Ke anaknya)
Pergi sana sama bapakmu!)

(Anak Bing Rinceng beranjak menuju bapaknya)

BANG RINCENG:
Ngana memang parampuang pang marah!
Dasar mulu pece!
(Kamu memang perempuan pemarah!
Dasar cerewet!)

BING RINCENG:
(Ngamuk)
Kalo kita mulu pece, kiapa ngana babini deng kita dang?
(Kalo tahu aku cerewet, kenapa kamu kawin sama aku)

BANG RINCENG:
(Marah)
Ngana bantar kita…
(Ntar kamu aku…)

BING RINCENG:
(Melawan)
Bantar apa? ngana mo pukul pa kita?
(Entar apa? kamu mau pukul aku?)

RINCENG NAKAL:
(Senang sendiri)
Woi! Baku cigi, baku garo, baku banting,
baku salempang jo ngoni!
(Hoi! Saling jambaklah, Yo saling garuk, saling banting,
Saling gebuklah kalian!)

(Rinceng-rinceng tiba-tiba berhenti berkemas. Semua seakan siap-siap menyaksikan pertengkaran Bing Rinceng dan Bang Rinceng yang akan mau pecah. Untung dengan cepat diredahkan Rinceng Tua.)

RINCENG TUA:
Sudah! Jangan bertengkar!
Keadaan sudah gawat kalian masih menambah masalah.

(Keduanya tidak jadi bertengkar. Rinceng-rinceng berkemas lagi sambil menyanyi.)

SOLO RINCENG NAKAL:
Bencana dicipta.
Bencana dipuja.
Itu jahatnya manusia.

BURUNG-BURUNG RINCENG:
Kamilah burung-burung rinceng…
Rinceng…
Rinceng…

Kamilah burungburung rinceng…
Rinceng…
Rinceng…

Gelisah dan meratap
kemana sayap mau dikepak
sawah-sawah akan lenyap

RINCENG TUA:
(Marah)
Berhenti bernyanyi!
Ini keadaan sudah gawat. Boldoser-boldoser itu sudah dekat.
Truk-truk tanah akan datang menimbun tempat ini.
Batu-batu akan berjatuhan menindih tempat ini.
Hanya sekejap sawah ini akan lenyap.
Kalian masih saja bernyanyi.
Apa kalian mau mati?

RINCENG NAKAL:
Aku mau mati.
Mana pestol…mana pestol…
Aku mau menembak kepalaku.
Biar kepalaku bocor oleh pelor dari pada mati disosor
Boldoser dan otak-otak manusia kotor yang cuma berisi celana color,
dan tolor.

RINCENG TUA:
(Marah)
Diam kamu!

RINCENG NAKAL:
Pak tua, mulutku bisa diam.
Tapi, bagaimana dengan hatiku.
Hatiku saat ini lagi mengangankan ada tali gantungan.
Aku ingin gantung diri.
Biar leherku tercekik tak bisa memekik dari pada mati digigit
Boldoser dan otak-otak manusia genit yang cuma berisi bau sengit,
dan dedemit.

RINCENG TUA:
(Marah)
Diam kamu!
Aku tidak main-main.

RINCENG NAKAL:
(Bergumam)
Wangala jo. Cuma bagituleh napsu.
Kalo ndak inga ngana orang tua,
so pica ngana Pak Tua.
(Ah. Cuma begitu saja marah.
Kalau tidak ingat kau orang tua.
Sudah pecah mulutmu Pak Tua)

RINCENG TUA:
(Marah)
Apa kamu bilang?
Coba bilang lagi!

(Sesaat keadaan menjadi sunyi)

RINCENG TUA:
(Masih marah)
Mengapa kalian diam?
Ayo berkemas. Kita harus segera pergi dari sini!

RINCENG KECIL:
Kita akan pergi ke mana Pak tua?

(Rinceng Tua kaget mendengar pertanyaan sang Rinceng Kecil.)

RINCENG NAKAL:
Nah, betul itu nak!
Nah saudaraku para rinceng, kalau kita memang akan pergi,
kita mau pergi ke mana?
di negeri ini, semua tanah telah dikuasai pemilik dana.
rakyatnya ditendang kian ke sana.
Kita mau pergi ke mana?

(Rinceng-rinceng tiba-tiba sadar kalau tak ada sawah lain di sekitar tempat itu. Semua saling bertanya mereka mau pergi ke mana. Mereka kemudian ribut dengan pertanyaan dan segala jawaban yang tak pasti. Bahkan ada yang mulai bertengkar.)

RINCENG TUA:
Sudahlah! Berhentilah membuat keributan!
Masalah tak akan selesai dengan keributan!
Yang kita perlukan saat ini akal sehat!

RINCENG-RINCENG:
(Sedih)
Kita akan pergi ke mana Pak tua?

RINCENG 1 :
Tidak adalah lagi sawah tersisa di dekat sini.
Hutan di belakang persawahan ini sudah dibabat.
Kita akan pergi kemana?
Kita hanya burung sawah yang berharap hidup
dari remah gabah yang jatuh dari tangan petani.
Kita akan pergi kemana?

RINCENG NAKAL:
Itu persoalannya.
Persoalannya, manusia masa kini,
manusia pencipta bencana, pemuja bencana.
Mereka sangat buas, bahkan lebih buas dari hewan.
Mereka sangat jahat, bahkan lebih jahat dari setan.
Setan hanya mencelakai manusia. Tapi manusia saling mencelakai
sesama manusia, mencelakai hewan, mencelakai alam, bahkan mencelakai
Tuhan dengan dan atas nama Tuhan sendiri. Manusia telah jadi
Tuhan bagi dirinya. Itu persoalannya Pak Tua!

RINCENG 2:
Manusia telah mengambil semua apa-apa yang harusnya
menjadi habitat hidup kita. Sawah ditimbun. Hutan ditebang.
Tanah diracuni. Air dikotori.
Manusia tidak lagi mencintai kita pak tua.
Manusia kini hanya memikirkan dirinya. Kesenangannya.
Hartanya. Kekuasaannya.

RINCENG NAKAL:
Mereka tak lagi peduli dengan burung-burung.
Bahkan mereka tak peduli alam semesta ini hancur.
Mereka tak peduli. Mereka hanya mempedulikan dirinya.
Kita akan pergi ke mana, Pak Tua?

RINCENG TUA:
Dalam keadaan seperti ini kita butuh akal sehat.
Hanya akal sehatlah yang bisa menjawab: kita akan pergi ke mana.
(Berpikir sejenak)
Saudara-saudara, burung-burung rinceng yang malang.
Kalau kita bertahan di sawah ini, kita akan mati.
Jadi tidak ada pilihan lain selain pergi meninggalkan tempat ini.

RINCENG 1:
Tapi tidak ada tempat lagi untuk kita di luar sana.
Tidak ada harapan hidup bagi kita di luar sana.

(Rinceng-rinceng kembali ribut, saling bertanya soal kemungkinan hidup di luar sana tanpa mendapatkan jawaban yang pasti.)

LAGU IBU RINCENG:
(Sangat sedih)
Aku ibu burung rinceng
Rinceng…
Rinceng…

takut dan gelisah
kemana sayap mau dikepak
sawahsawah akan lenyap

RINCENG TUA:
Coba tenangkan hati kalian.
Kita harus membuat keputusan!
Memang tak ada keputusan tanpa risiko.
Tapi sebuah keputusan harus ada karena,
keputusan itu memberi kita arah.

(Rinceng-rinceng kembali menyanyi dengan sedih)

BURUNG-BURUNG RINCENG:
Kamilah burung-burung rinceng…
Rinceng…
Rinceng…

Kamilah burungburung rinceng…
Rinceng…
Rinceng…

Gelisah dan meratap
kemana sayap mau dikepak
sawah-sawah akan lenyap

RINCENG TUA:
Sebagai tetua kalian, aku memutuskan:
Kita pergi dari sawah ini.
Di luar sana, memang belum tentu kita punya harapan.
Tapi dengan pergi, setidaknya kita telah berupaya
mencacari jalan memperjuangkan kehidupan.

(Semua diam tercekam.
Bunyi Buldoser dan Tiang Pancang menggelegar)

LAGU RINCENG KECIL:
(Sangat sedih)
Aku seekor anak rinceng sedih sekali
Ayah ibu akan pergi
Aku tinggal sendiri

AYAH RINCENG:
Kau tak boleh tinggal di sini, Nak.
Kau harus ikut ayah ibu pergi

LAGU RINCENG KECIL:
(Sangat sedih)
Aku seekor anak rinceng lahir di sawah ini
Ayah ibu akan pergi
Aku tinggal sendiri

IBU RINCENG:
Ini bukan tanah airmu lagi, Nak.
Kita hanya burung. Kita hanya rinceng.
Kita harus pergi. Kalau tidak kita akan mati bersama sawah ini.

RINCENG KECIL:
Kita harus melawan, Ma.
Harus kita pertahankan sawah terakhir ini, Ma!

(Rinceng-rinceng tiba-tiba seperti mendapatkan jawaban baru yaitu melawan. Mereka tiba-tiba bersemangat lagi. Mereka mulai menyerukan perlawanan dalam lagu mereka.)

BURUNG-BURUNG RINCENG:
Perlawanan…perlawanan…perlawanan
Rinceng…
Rinceng…
Rinceng… Rinceng…Rinceng…

Kita harus melawan!

(Rinceng Nakal melihat Pateir Raksasa bergerak, dengan cepat ia memberi pengumuman.)

RINCENG NAKAL:
Woi… cilaka…cilaka!
Pateir itu bergerak.

(Rinceng-rinceng terpaku di tempat masing-masing. Mereka tiba-tiba begitu takut. Mereka berkumpul di suatu tempat saling berdesak menyembunyikan diri, seandainya Pateir Raksasa itu mengamuk.)

PATEIR RAKSASA:
Ehem…ehem…ehem.
Wahai para rinceng.
Apakah kalian akan melawan?

(Semua terdiam. Tak ada yang berani menjawab pertanyaan sang Pateir. Namun tiba-tiba Rinceng Kecil maju dengan berani menghadapi Pateir Raksasa, sementara ayah dan ibunya tampak begitu kuatir dengan tindakan anak mereka.)

RINCENG KECIL:
Aku akan melawan Pateir.

PATEIR RAKSASA:
(Tertawa lagi)
Bagus…bagus…
Masih ada keberanian.

RINCENG KECIL:
Sayapku terlalu kecil untuk terbang berlari.
Satu-satunya yang kumiliki adalah,
keberanian menyongsong mati.

PATEIR RAKSASA:
Ehem…ehem…ehem.
Rinceng kecil, kau pemuda yang berani.
Sudah lama aku tak melihat keberanian semacam ini ada di hati kalian.

RINCENG KECIL:
Dari luar sana manusia sedang mengirim ke sini
mesin-mesin pemusnah sawah tempat hidup kami.
Di sini, di sawah terakhir ini kau bergerak lagi mau mengusir kami?
Maka tak ada pilihan bagiku selain melawan!
Meski melawan itu artinya mati!

PATEIR RAKSASA:
Bah! Aku suka, aku suka keberanian ini.

(Ibu Rinceng menghambur keluar sambil menangis mendekati anaknya. Ia sangat takut melihat keberanian anaknya akan menimbulkan malapetaka.)

IBU RINCENG:
Jangan melawan Nak. Dia bukan tandinganmu.
Dia besar. Dia kuat. Dia akan meremukkan tubuhmu.
Jangan lakukan itu, Nak!

RINCENG KECIL:
Ibu, ketika aku menetas dari cangkangku,
Ketika itu ibu langsung berbisik: Inilah dunia nak.
Bila kau ingin hidup, maka kau harus berani menantang kematian.
Mengapa kini ibu menangis?

IBU RINCENG:
Tapi dia Pateir, Nak. Ia penjaga sawah. Dia besar. Dia kuat.
Sejak nenek moyang kita, semua patuh dan tunduk padanya.
Kalau dia bergerak menyuruh kita pergi, kita harus pergi.
Jangan melawan dia nak. Dia sangat buas.
Dia akan menelanmu hanya dengan sekejap.

(Ayah Rinceng Kecil yang sangat kuatir ikut maju menghadap Pateir Raksasa memohon ampun atas tindakan anaknya)

AYAH RINCENG:
Wahai Pateir, maafkan anakku.

PATEIR RAKSASA:
Aku tak ingin memaafkan apapun!

AYAH RINCENG:
Jangan… jangan, Pateir. Jangan kau apa-apakan anakku.
(Bicara ke anaknya)
Rinceng Kecil, minta ampunlah padanya.

PATEIR RAKSASA:
Jangan paksa dia memohon ampun.
Aku ingin melihat keberaniannya.

IBU RINCENG:
Ambillah nyawaku, Pateir!
Asal kau bebaskan anakku!

AYAH RINCENG:
Remukkanlah tubuhku untuk menganti kesalahan anakku.

PATEIR RAKSASA:
(Tertawa)
Kalian pengecut!
Di mana semangat perlawanan kalian.
Pasrah dan menukar nyawa itu kepengecutan yang tak termaafkan!
(Tertawa lagi. Lalu bicara ke Rinceng Kecil.)
Rinceng Kecil tunjukkan keberanianmu nak. Mari bertarung denganku!
Apakah kau masih berani?

(Pateir Raksasa langsung bergerak mengayunkan kedua lengannya yang besar, anak-anak Pateir mendorong Pateir Raksasa untuk berjalan. Suara Tawa pateir Raksasa bergemuruh.)

PATEIR RAKSASA:
Menjauhlah kalian semua.
Aku ingin melihat keberanian si kecil ini.

(Rinceng Kecil dengan gagah berani mengambil sebatang kayu lalu maju memukul kaki Pateir Raksasa. Pateir Raksasa mengayun-ayunkan tangannya yang kaku seperti menari menikmati setiap hataman kayu dari Rinceng Kecil. Tawa Pateir Raksasa terdengar begitu bangga melihat keberanian Rinceng Kecil. Beberapa saat kemudian, Ibu dan ayah Rinceng Kecil yang ketakutan berusaha menarik Rinceng Kecil dari medan pertemburan.)

AYAH RINCENG:
Berhentilah, Nak. Kau tak akan mampu melawan dia.
Kau tak akan mampu meremukkan makhluk sebesar dan sekuat dia.
Kau tak akan menang melawannya.

RINCENG KECIL:
Bukan persoalan kalah menang ayah.
Aku hanya mau menunjukan bahwa aku tak takut padanya.
Aku tak takut pada kematian.

PATEIR RAKSASA:
(Terbahak)
Aku puas … aku puas.
Hari ini aku melihat keberanian.
Keberanian yang masih tersisa,
meski itu hanya ada dalam diri makhluk kecil seperti ini.

IBU RINCENG:
Wahai Pateir Raksasa. Ampunilah anakku!
Jangan bunuh dia. Jangan remukan dia!
Ambilah nyawaku sebagai gantinya. Aku mohon.

(Pateir Raksasa, menurunkan tangannya. Ia nampak diam terpaku di tempatnya.)

IBU RINCENG:
Terima kasih, Pateir. Kau mengampuni anakku.
Terima kasih, Pateir.

PATEIR RAKSASA:
Jangan berterima kasih kepadaku.
Berterimakasihlah pada anakmu.
Kalian semua harusnya belajar keberanian padanya.
Karena tanpa keberanian kalian tak bisa hidup di dunia ini.
Dunia ini memang hanya untuk makhluk-makhluk yang berani.
Aku hanya Pateir, penjaga sawah yang diciptakan manusia
untuk menakut-nakuti kalian.
Padahal, untuk mencabut selembar bulu kalian saja aku tak mampu.
Aku heran kalian begitu takut padaku.
Aku sedih dengan cara hidup kalian.
Kalian telah dijajah oleh ketakutan.
Di dunia ini musuh paling berbahaya adalah ketakutan itu sendiri.
Untuk itulah manusia selalu menciptakan sesuatu yang menakutkan,
Untuk menakut-nakuti makhluk berjiwa seperti kalian.
Manusia memang makhluk paling berbahaya.
Mereka adalah mesin.
Manusia yang termesinkan.
Kekuasaan yang termesinkan.

(Anak-anak Pateir tiba-tiba menyanyi)

ANAK-ANAK PATEIR:
Ketika pikiran termesinkan.
Kekuasaan akan termensinkan.
Agama-agama termesinkan.
Manusia ikut termesinkan.

(Pateir Raksasa ikut bernyanyi bersama anak-anaknya)

ANAK-ANAK PATEIR DAN PATEIR RAKSASA:
Penjagalan telah menjadi gaya.
Kematian telah menjadi biasa.
Tangisan tak lagi mulia.
Suara manusia telah menjadi sumbang.
Bumi adalah makam raksasa.
Bumi adalah makam raksasa.

(Rinceng-rinceng ikut bernyanyi bersama Pateir Raksasa dan anak-anaknya seperti paduan suara bersama.)

PADUAN SUARA BERSAMA:
Penjagalan telah menjadi gaya.
Kematian telah menjadi biasa.
Tangisan tak lagi mulia.
Suara manusia telah menjadi sumbang.
Bumi adalah makam raksasa.
Bumi adalah makam raksasa.

(Bunyi buldoser dan tiang pancang menggelegar)

RINCENG TUA:
Sudah semakin dekat!
Kita harus menentukan sikap.

PATEIR RAKSASA:
Wahai para rinceng. Tinggalkan sawah ini.
Carilah keselamatan.
Pergilah!
Pergilah!

(Bunyi buldoser dan tiang pancang.
Para rinceng berhamburan keluar.
Lampu padam.)

(Terdengar suara unjuk rasa orang-orang yang protes pengambilalihan lahan persawahan mereka. Suara ujuk rasa itu terdengar ramai dan gaduh. Tiba-tiba terdengar serentetan tembakan senjata.
Lampu menyala, tampak kabut asap telah meliputi kawasan sawah itu. Anak Rinceng nampak memeluk sebuah tiang kayu. Rinceng Nakal berdiri di atas sebuah batu seperti sedang mengawasi kejadian yang tak jauh dari situ. Anak-anak pateir mendorong Pateir Raksasa ke arah tengah panggung sambil menyanyi.)

ANAK-ANAK PATEIR DAN PATEIR RAKSASA:
Penjagalan telah menjadi gaya.
Kematian telah menjadi biasa.
Tangisan tak lagi mulia.
Suara manusia telah menjadi sumbang.
Bumi adalah makam raksasa.
Bumi adalah makam raksasa.

(Setelah sampai agak ke tengah panggung, Anak-anak Pateir berhenti mendorong Pateir Raksasa. Dari berbagai arah para Rinceng yang tadi berhamburan keluar, kembali ke tempat itu dengan lesu.)

PATEIR RAKSASA:
Mengapa kalian kembali.
Bukankah kalian telah pergi menyelamatkan diri?

RINCENG TUA:
Kau benar Pateir.
Tak ada gunanya berlari bila di luar sana pada akhirnya kami akan mati.
Bila harus mati, bukankah lebih baik mati dengan gagah berani di atas tanah air sendiri.

(mereka semua lalu bernyanyi)

RINCENG NAKAL:
Apa ta bilang. Pake acara larileh kwa.
Kumpul jo sini, mari torang baku ambor.
Mampos kalo mampos!
(Apa kubilang. Masih mau lari juga.
Kumpul saja di sini. Kita harus melawan.
Mati kalau mati!)

SEMUA:
(Menyanyi)
Penjagalan telah menjadi gaya.
Kematian telah menjadi biasa.
Tangisan tak lagi mulia.
Suara manusia telah menjadi sumbang.
Bumi adalah makam raksasa.
Bumi adalah makam raksasa.

(Terdengar serentetan bunyi tembakan)

RINCENG NAKAL:
(Menunjuk ke suatu tempat di depan)
Korban berjatuhan di sana.

PATEIR RAKSASA:
Begitulah manusia. Untuk bisa makan,
mereka tak segan saling bunuh satu dan lainnya.

(mereka semua bernyanyi lagi)

SEMUA:
Penjagalan telah menjadi gaya.
Kematian telah menjadi biasa.
Tangisan tak lagi mulia.
Suara manusia telah menjadi sumbang.
Bumi adalah makam raksasa.
Bumi adalah makam raksasa.

RINCENG KECIL:
(menyanyi sendiri)
Bumi adalah makam raksasa.
Bumi adalah makam raksasa.

(Lampu padam)

Tamat

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed