oleh

Wolter Mongisidi, Sang Putra Bantik di Mata Soekarno

Kalau aku punya sembilan pemuda yang keberanian dan semangatnya seperti Robert Wolter Mongisidi, maka akan kurebut Irian Barat, ungkap Soekarno mengapresiasi perjuangan Sang Putra Bantik itu.

Malalayang, udara cukup panas di siang hari awal Januari 2020. Tapi berutung, Soka dan bunga Aster bermekaran, masih membaunkan kesegaran musim penghujan Desember yang belum lama lewat.

Ronny dan Johan Mongisidi, dua ponakan pahlawan Robert Wolter Mongisidi menyambut kami di halaman rumah dengan gaya asitektur Minahasa, lengkap dengan pondok kecil tempat para sahabat bertemu.

Kami memilih berteduh di sana, di pondok dengan beberapa kursi tua dan meja. Ada tempat api berbentuk kotak yang sudah pasti baru dinyalakan pada malam hari untuk menghangatkan pondok. Bau perdu dan daun basah menguar dari balik hutan adat Bantik yang rimbun di belakang rumah yang ditempati Johan Mongisidi ketika itu.

“Hutan adat itu merupakan kawasan yang disakralkan masyarakat Bantik. Orang Bantik sangat menjaga kesakralannya,” kata Ronny Mongisidi.

Dulu, sambung dia, ketika Wolter Mongisidi masih kanak-kanak, masyarakat Bantik berumah di pinggiran jalan utama Malalayang. Tapi perkembangan pembangunan membuat rumah-rumah mulai mengisi pinggiran hutan adat ini.

“Hutan adat inilah yang sering didatangi Wolter pada masa kanak-kanaknya,” ungkapnya. Adat dan budaya bantik-lah diantaranya yang membuat Wolter menjadi pribadi yang kukuh dan teguh dalam menjalani perjuangannya, tambahnya.

Namun yang menarik adalah sebuah album besar berwarna merah yang sampulnya mulai buram tergeletak di atas meja. Album itu kata Johan Mongisidi menyimpan banyak foto pertemuan Presiden Soekorno dengan keluarga besar pahlawan Robert Wolter Mongisidi, terutama ayah Wolter, Petrus Mongisidi.

“Kalau aku punya sembilan pemuda pemberani seperti Robert Wolter Mongisidi, maka Irian Barat sudah kurebut,” begitu kata Soekarno, ungkap Johan mengenang pidato Presiden Soekarno di lapangan KONI, Sario, Manado pada 1957.

Dalam banyak kesempatan bertemu, kata Johan, Soekarno selalu mengungkapkan kebanggaannya pada perjuangan Wolter yang setia hingga akhir hidupnya untuk membela kemerdekaan Indonesia.

“Opa Petrus Mongisidi menceritakan pada kami tentang pertemuannya dengan presiden Soekarno di Istana Negara pada Agustus 1960, dimana Soekarno menyatakan rasa hormatnya kepada Opa yang telah melahirkan seorang putra terbaik bangsa yang rela berkorban untuk membela kemerdekaan,” kisah Johan.

Di Makassar, Sulawesi Selatan, Bote –panggilan akrab Robert Wolter Mongisidi– melakukan perlawanan kepada Belanda yang datang lagi dengan wujud Netherlands Indies Civil Administration alias NICA. Belanda bertujuan berkuasa kembali di Indonesia. Dan Bote tak ingin kemerdekaan yang baru dinikmati sesaat tiba-tiba terancam.

Salah satu aksi heroik Mongisidi lainnya terjadi sepanjang pekan ketiga Januari 1947. Pasukannya terlibat kontak senjata dengan pihak Belanda dan berhasil memukul mundur lawan, tulis Syahrir Kila, dalam “Kelaskaran 45 di Sulawesi Selatan, 1995:87”. Beberapa hari kemudian, terjadi saling tembak-menembak lagi. Mongisidi nyaris saja tertangkap, tapi lolos. Serangkaian perlawanan itu membuat Belanda kini mengenali sosok Mongisidi dan menggelar beberapa kali razia besar-besaran untuk menangkapnya. Tanggal 28 Februari 1947, ia terjaring dan dipenjarakan.

Pada 27 Oktober 1947, kawan-kawan seperjuangan Mongisidi berhasil menyelundupkan 2 granat yang dimasukan ke dalam roti. Granat pun diledakkan, seisi kompleks penjara kacau-balau. Melalui cerobong asap dapur, Mongisidi dan ketiga rekannya berhasil melarikan diri.

Setahun berselang, Mongisidi terkepung di sebuah gang. Ia tidak mengira posisinya diketahui oleh Belanda. Rupanya ada yang berkhianat! Mongisidi sebenarnya punya sebuah granat yang bisa saja ia lemparkan. Tapi, terlalu tinggi risikonya karena gang tempatnya terkepung itu juga menjadi area pemukiman warga. Mongisidi pun akhirnya menyerah demi keselamatan rakyat.

Senin dini hari, 5 September 1949 berlokasi di wilayah Pacinang, Mongisidi dibawa ke hadapan regu tembak. Mongisidi gugur pada waktu subuh di usia yang juga masih terbilang dini, 24 tahun. Sejarah mencatat hanya sedikit orang yang menghadapi sakratul dengan ketenangan karena meyakini apa yang diperjuangkan. Dan salah satu di antaranya adalah Bote, si Putera Bantik.

Untuk menghormati jasa-jasanya, Robert Wolter Mongisidi dianugerahi penghargaan Bintang Maha Putra oleh Presiden Republik Indonesia Ir. Soekarno, bertempat di Istana Negara dan diterima oleh Petrus Mongisidi, ayah Robert Wolter Mongisidi pada 17 Agustus 1960. (*)

Penulis: Iverdixon Tinungki

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed