oleh

Mengenang Wolter Mongisidi Dalam Nama Kodam XIII/Merdeka

-Fokus, Lipsus-3.520 views

Mungkinkah nama Pahlawan Robert Wolter Mongisidi diabadikan sebagai nama Kodam XIII/Merdeka? Di Sulawesi Utara, wacana ini mulai ramai diperbincangkan.

Di Manado, peringatan gugurnya pahlawan nasional Robert Wolter Mongisidi setiap tahunnya ditandai dengan beragam kegiatan, dari seminar, diskusi, hingga pementasan seni. Terakhir, sebuah pentas teaterikal kolosal mengenang dia berlangsung di Gedung Graha Gubernuran Sulut pada 05 September 2019, oleh komunitas seniman teater Sulut.

Vick Cenore Baule, SS, sutradara pertunjukan kolosal bertajuk “Bote” itu mengatakan, Wolter Mongisidi adalah inspirasi bagi generasi kini dan masa depan.

“Itu sebabnya, semangat patriotik Bote jangan sampai padam. Aktualisasi nilai-nilai kepahlawanan dia adalah tugas generasi kini dan masa depan untuk menjaga ibu pertiwi tercinta,” ungkap peteater muda itu.

Menggali dan membicangkan sang inspirator perjuangan melawan NICA ini sesungguhnya tak sulit. Sebab, tak sedikit literatur yang tersedia mengisahkan aksi-aksi heroik patriotik Robert Wolter Mongisidi.

Salah satu buku yang terbit lebih awal adalah “Jejak Kaki Wolter Mongisidi” karya S. Sinansari Ecip. Puluhan situs berita bahkan media massa terkemuka mengupas tuntas berbagai catatan tentangnya. Budayawan dan sejarawan lokal Sulawesi Utara Reiner Emyot Ointoe, terakhir meluncurkan buku biografi Bote dengan pendekatan fiksi sejarah. Dan kisah Wolter Mongisidi telah diangkat ke film layar lebar oleh sineas Indonesia sebagai upaya mengenang nilai-nilai historis sang pejuang asal Sulawesi Utara ini.

Betapa populernya sang pahlawan yang gugur di usia muda ini. “Setia Hingga Akhir Dalam Keyakinan” adalah frasa paling dikenal dan dikenang dari catatan akhir hidupnya. Ia seorang anak muda yang rela mati lebih dini demi mempertahankan kemerdekaan Tanah Airnya Indonesia.

Sang Putra Bantik, Minahasa
Bote, begitu panggilan akrabnya. Dibesarkan di lingkungan keluarga yang religius, dan kultur Bantik yang kental. Ia anak ke-4 dari 11 bersaudara pasangan orang tua Petrus Mongisidi dan Lina Suawa, berdarah Bantik, Minahasa. Lahir pada 14 Februari 1925, di pesisir Desa Malalayang, Manado, Sulawesi Utara.

Selepas sekolah dasar, ia melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi. Ketika baru saja naik kelas 2 di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Frater Don Bosco Manado pada 1942, Perang Pasifik pecah. Selepas studinya, ia melanjutkan ke sekolah pertanian bentukan Jepang dan Sekolah Keguruan Bahasa Jepang, keduanya di Tomohon.

Berbekal kemampuan berbahasa Jepang, ia menjadi guru di desa kelahirannya Malalayang. Bote yang pada saat itu berusia 18 tahun juga mengajar di beberapa daerah lainnya seperti Minahasa, Liwutung, hingga Luwuk Banggai. Tapi, 2 tahun berselang, tak lama setelah Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, Bote pindah ke Makassar.

Setia hingga terakhir dalam keyakinan oleh rio redcross

Berjuang Untuk Ibu Pertiwi
Di Makassar, Sulawesi Selatan, Bote melakukan perlawanan kepada Belanda yang datang lagi dengan wujud Netherlands Indies Civil Administration alias NICA. Belanda bertujuan berkuasa kembali di Indonesia. Dan Bote tak ingin kemerdekaan yang baru dinikmati sesaat tiba-tiba terancam.

Bersama dengan para pemuda lain, Wolter Mongisidi bergabung dalam LAPRIS (Laskar Pemberontak Rakyat Sulawesi Selatan) di bawah kepemimpinan Ranggong Daeng Romo di wilayah Polobangkeng, Makassar.

Oleh Belanda, Wolter Mongisidi sudah dianggap sebagai pemberontak dan gerilyawan. Meskipun begitu, Pasukan Belanda kerap kerepotan terhadap perlawanan dari Wolter Mongisidi dan para pemuda lainnya yang menggunakan taktik perang gerilya. Ia memutuskan ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia di usianya yang masih remaja. Robert Wolter Mongisidi turut dalam pembentukan Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS) pada 17 Juli 1946.

Meski masih belia, catat sejumlah sumber, keberanian Mongisidi sudah teruji. Beberapa kali ia turut dalam peperangan melawan NICA yang bersenjatakan lebih canggih. Kecakapan inilah yang membuatnya dipercaya menjadi salah satu pimpinan LAPRIS. Ia memimpin pasukan sendiri untuk memberikan tekanan terhadap Belanda di Makassar dan sekitarnya.

Bote berperan sebagai perencana operasi militer dan tak jarang harus menyamar untuk menentukan sasaran, catat Agussalim, dalam “Prasejarah-Kemerdekaan di Sulawesi Selatan, 2016:219”. Cukup banyak serangan LAPRIS yang berhasil berkat informasi Mongisidi.

Dikisahkan, suatu ketika, Bote bersama 3 pejuang lainnya yaitu Abdullah Hadade, HM Yoseph, dan Lewang Daeng Matari mengambil-alih mobil yang dikendarai seorang kapten pasukan Belanda masuk ke kandang musuh. Bote memberondongkan senapannya ke area tangsi. Para penghuninya pun panik, bubar, dan lari menyelamatkan diri ke segala penjuru.

Salah satu aksi heroik Mongisidi lainnya terjadi sepanjang pekan ketiga Januari 1947. Pasukannya terlibat kontak senjata dengan pihak Belanda dan berhasil memukul mundur lawan, tulis Syahrir Kila, dalam “Kelaskaran 45 di Sulawesi Selatan, 1995:87”. Beberapa hari kemudian, terjadi saling tembak-menembak lagi. Mongisidi nyaris saja tertangkap, tapi lolos. Serangkaian perlawanan itu membuat Belanda kini mengenali sosok Mongisidi dan menggelar beberapa kali razia besar-besaran untuk menangkapnya. Tanggal 28 Februari 1947, ia terjaring dan dipenjarakan.

Pada 27 Oktober 1947, kawan-kawan seperjuangan Mongisidi berhasil menyelundupkan 2 granat yang dimasukan ke dalam roti. Granat pun diledakkan, seisi kompleks penjara kacau-balau. Melalui cerobong asap dapur, Mongisidi dan ketiga rekannya berhasil melarikan diri.

Setahun berselang, Mongisidi terkepung di sebuah gang. Ia tidak mengira posisinya diketahui oleh Belanda. Rupanya ada yang berkhianat! Belakangan diketahui bahwa mereka yang menikam dari belakang itu justru tiga kawan Mongisidi yang sebelumnya sama-sama tertangkap, yakni Abdullah Hadade, HM Yoseph, dan Lewang Daeng Matari, ungkap Noldi Mandagie, pada belanegarari.com, 2009.

Mongisidi sebenarnya punya sebuah granat yang bisa saja ia lemparkan. Tapi, terlalu tinggi risikonya karena gang tempatnya terkepung itu juga menjadi area pemukiman warga. Mongisidi pun akhirnya menyerah demi keselamatan rakyat.

Tangan dan kaki Mongisidi dibelenggu dengan rantai, kemudian dikaitkan ke dinding tembok tahanan di Kiskampement Makassar. Dalam masa itu, Belanda kerap membujuk Mongisidi agar mau bekerjasama, tapi ia selalu tegas menolak. Akhirnya, pada 26 Maret, ia divonis akan menjalani hukuman mati.

Menurut Drs Yusuf Bauty di majalah Intisari, 1975, pihak Belanda sempat menyarankan kepada Mongisidi mengajukan grasi agar mendapatkan pengampunan, setidaknya lolos dari vonis mati, dengan syarat ia bersedia bekerjasama. Tapi Mongisidi tetap tidak mau. Ia memang telah dikhianati, namun ia anti menjadi pengkhianat.

“Minta grasi? Itu berarti mengkhianati keyakinan sendiri dan teman-teman. Salam pada teman-teman. Saya setia sampai mati!” serunya lantang tulis Yusuf Bauty.

Selama menunggu maut menjemput di sel tahanan, Mongisidi kian mendekatkan diri kepada Tuhan. Selain itu, Mongisidi juga sempat mengguratkan sejumlah catatan berisi pesan-pesan perjuangan, bahwa ia pantang menyerah, bahwa ia tak pernah takut maut demi harga diri dan bangsa.

“Saya telah relakan diri sebagai korban dengan penuh keikhlasan memenuhi kewajiban buat masyarakat kini dan yang akan datang. Saya percaya penuh bahwa berkorban untuk tanah air mendekati pengenalan kepada Tuhan yang Maha Esa.”

“Perjuanganku terlalu kurang, tapi sekarang Tuhan memanggilku. Rohku saja yang akan tetap menyertai pemuda-pemudi. Semua air mata dan darah yang telah dicurahkan akan menjadi salah satu fondasi yang kokoh untuk tanah air kita yang dicintai Indonesia.”

Begitu bunyi sebagian guratan pena bermakna Mongisidi dari dalam penjara yang ditulisnya di lembaran kertas dengan judul “Setia Hingga Terakhir dalam Keyakinan”.

Hari penghakiman datang juga. Senin dini hari, 5 September 1949 berlokasi di wilayah Pacinang, Mongisidi dibawa ke hadapan regu tembak. Mata dan hatinya terbuka menghadapi eksekusi. Mongisidi ingin menikmati saat-saat terakhirnya dengan kebanggaan, “Saya jalani hukuman tembak mati ini dengan tenang, tidak ada rasa takut dan gentar demi kemerdekaan bangsa Indonesia tercinta.”

Sesaat sebelum pelatuk ditekan, Mongisidi berucap kepada para algojo di hadapannya, “Laksanakan tugas, saudara! Saudara-saudara hanya melaksanakan tugas dan perintah atasan. Saya maafkan saudara-saudara dan semoga Tuhan mengampuni dosa-dosa saudara-saudara.“

“Dengan hati dan mata terbuka, aku ingin melihat peluru penjajah menembus dadaku,” tambahnya.

Dan, bersamaan dengan tiga kali pekikan merdeka, 8 peluru menembus tubuhnya. Mongisidi gugur pada waktu subuh di usia yang juga masih terbilang dini, 24 tahun. Sejarah mencatat hanya sedikit orang yang menghadapi sakratul dengan ketenangan karena meyakini apa yang diperjuangkan. Dan salah satu di antaranya adalah Bote, si Putera Bantik.

Robert Wolter Mongisidi dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia pada 6 November, 1973. Dia juga mendapatkan penghargaan tertinggi Negara Indonesia, Bintang Mahaputra (Adipradana).

Kesetiaan dan Wacana Nama Kodam
Beberapa hari sebelum eksekusi 5 September dinihari itu, saudara laki-laki dan ayahnya menjenguk Bote di penjara. Keduanya trenyuh. Bote si pemberani yang pernah lolos dari penjara karena granat selundupan disamarkan di bawah ketul roti, terlihat tak berdaya. Tangan dan kakinya dirantai, terpasung pada dinding.

Papanya, Petrus Mongisidi bertanya,“Kau tak punya kesempatan untuk lolos?” “Bisa,” jawab Bote. “Tapi kalau saya lolos maka yang akan jadi korban adalah warga, jadi biar jalan ini saya hadapi.”

Mengambil pilihan untuk mati demi rakyat jelas tidak pernah mudah. Tapi dalam sejarah perjuangan Indonesia, Robert Wolter Mongisidi memilihnya.

“Bote tahu persis, kalau lolos lagi dari penjara maka tentara Belanda akan mencecarnya ke mana-mana dan sudah pasti ada warga yang jadi korban kalau menolak memberitahukan di mana dia berada,” kata keponakan Bote, Ronny Mongisidi, berkisah pada jurnalis Barta1, Kamis 12 Desember 2019.

Kemerdekaan yang direngkuh pada 1945 bagi dia adalah harga mati, sebagaimana juga kedaulatan negara bernama Indonesia. Karena itu dia, kata Ronny, menolak meminta pengampunan pada Belanda. Meminta grasi artinya mengakui kekuasaan penjajah.

“Bagi Bote, kesetiaan adalah nilai yang muncul setelah melakukan perjuangan, bukan meminta nilai sebelum melakukan sesuatu,” ujar Ronny.

Untuk menghormati jasanya, sejak 2016, ada wacana mengabadikan nama pahlawan bangsa ini untuk nama Komando Daerah Militer XIII/Merdeka (Kodam XIII/Merdeka) pasca-pengaktifan kembali Komando Kewilayahan Pertahanan yang meliputi Provinsi Sulawesi Utara, Gorontalo dan Sulawesi Tengah itu.

Dalam sejarahnya, Kodam XIII/Merdeka pernah berdiri pada tahun 1957 dan dinonaktifkan pada tanggal 12 Februari 1985 melalui SK No: Skep/131/11/1985 tentang likuidasi kodam dan Kodam XIV Hasanuddin menjadi Kodam VII/Wirabuana. Kemudian diaktifkan kembali berdasarkan Keputusan Kepala Staf Angkatan Darat Nomor Keputusan 33 Tahun 2016.

Mewakili Keluarga Besar Mongisidi, Ronny mengaku ada kebanggaan dengan wacana tersebut. Menyangkut nama, keluarga meminta agar nama Mongisidi tidak menghilangkan kata Merdeka yang sudah ada lebih dulu.

“Bisa ditambahkan menjadi Kodam tigabelas Merdeka Robert Wolter Mongisidi,” usul dia.

Wacana ini juga sudah pernah dibicarakan dengan Panglima Kodam XIII/Merdeka tahun 2018 lalu. Responnya sangat baik, kata Ronny. Bahkan rencana juga didukung oleh beberapa tokoh TNI asal Sulut, seperti EE Mangindaan dan Johny Lumintang.

“Yang pasti keluarga bangga dengan rencana nama tersebut, apalagi kami merasakan Robert Wolter Mongisidi itu bukan hanya milik warga Sulut, tapi juga Sulawesi Selatan,” tambah Ronny.

Sejauh ini di Manado, Sulawesi Utara, setidaknya ada 3 patung Robert Wolter Mongisidi. Juga sudah diabadikan menjadi nama Rumah Sakit Angkatan Darat di Teling serta nama ruas jalan. Menyangkut penambahan nama untuk Kodam XIII/Merdeka, pihak Kodam sendiri meresponnya dengan terbuka.

“Silahkan bersurat dengan Kodam,” kata Mayor Suwarno dari Bagian Penerangan Kodam XIII/Merdeka. (*)

Penulis/Editor: Iverdixon Tinungki, Ady Putong

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed