oleh

Keunikan Lagu ‘Sarang Apa I Kamene’ dan Nilai Kepercayaan Lokal Sangihe

Oleh: Jolly Horonis

Sarang Apa I Kamene
sarang apa i kamene
mahundingang kerene
limanene mukekai
mata sarang tarai
liung bulrude
liung balrane
tawe otonge
tawe lengane
mang kai matulide
mang kai matulide.

Syair lagu ‘sarang apa i kamene’ memiliki ragam nada yang sama dengan syair lagu Kidung Jemaat no 269; ‘hai musafir mau ke mana’. Namun, ‘sarang apa i kamene’ bukanlah terjemahan langsung dari syair lagu pada Kidung Jemaat ini.

Kedua lagu ini memiliki tema yang berbeda meski ketika dihubung-hubungan kita akan menemukan ada kesamaan maksud yang tersirat. Perbedaan mencolok juga terlihat pada cara penyair kedua lagu ini dalam menentukan larik demi larik. Diperkirakan, lagu ‘sarang apa i kamene’ ditulis pasca zending masuk di wilayah Sangihe.

Membandingkan makna dan maksud syair lagu ini, dalam sastra ada metodologi komparatif sebagai pendekatannya. Namun dalam alam tulisan singkat ini, saya menulisnya dalam bentuk semi ilmiah atau jenis lainnya yang tidak masuk kategori ilmiah.

Syair ‘sarang apa i kamene’ jika diterjemahkan secara bebas;
Hendak ke mana kalian
Beriringang sedemikian
Tangan bergadengan
Mata tertuju ke atas
Lewati gunung
Lewati lembah
Tak pernah singgah
Tak pernah berbelok
Tetap lurusa
Tatap lurus.

Perhatikan syair Kidung Jemaat 269 ayat 1. Hai musafir mau ke mana;
hai musafir, mau kemana kau arahkan langkahmu?
Kami ikut titah Raja dan berjalan tak lesu:
Lewat gunung dan dataran arah kami ke istana,
Arah kami ke istana kota Raja yang kudus.
Arah kami ke istana kota Raja yang kudus.

Pada ‘hai musafir mau ke mana’ jelas tersurat maksud dari syair yakni menceritakan seorang musafir yang ditanyakan tentang arah langkahnya. Pengakuan musafir jelas saat menimpali pertanyaan itu dengan jawaban; mereka mengikuti titah Raja, kemudian menjelaskan situasi perjalanan mereka menuju istana kota Raja yang kudus.

‘Istana kota raja yang kudus’ pada syair ini secara kekristenan jelas merujuk pada kerajaan Sorga. Bisa disimpulkan bahwa lagu ini terinspirasi dari kitab Yohanes 14:1-6. Lagu ini sebagai bentuk penguatan iman setiap pengikut Kristus saat menjalani kehidupan yang penuh dengan ujian iman. Kehidupan kita sebagai manusia tak tentu arah digambarkan seperti musafir yang berjalan tak lesu. Keyakinan tujuan kehidupan bukanlah sesuatu yang tidak tentu, hal ini dikuatkan dengan ucapan Yesus (1, 2, dan 4).

Syair lagu ‘Sarang apa i kamene’ berbeda dengan syair ‘hai musafir mau ke mana’ meski keduanya diawali dengan pertanyaan yang sama (ke mana = sarang apa). Sarang apa i kamene dilanjutkan dengan penegasaan lebih konkret dari pertanyaan awal yakni ‘mahundingang kerene’. Ini merupakan kekaguman sekaligus keheranan melihat perilaku ‘kamene’ (sekelompok orang) yang berjalan beriringan bergandengan tangan sembari menengadah. Sekelompok orang tersebut digambarkan berjalan melewat gunung dan lembah tanpa henti dan tak seorang pun yang mau berbelok. Berjalan lurus dan tetap lurus.

Penggambaran perilaku kamene dalam syair lagu ini, menyiratkan kearifan lokal suku sangihe yakni musasimbuawusa. Musasimbuawusa ini meliputi banyak perilaku, seperti; singkanaung (sehati, sepikir), sendinganeng (bersama-sama, sejalan), senggighilang (satu kesepakatan, sepaham), mupalose (bekerja bersama) dan singkapugio/mudalo (mengucap syukur secara bersama-sama).

Penyair sarang apa i kamene mengajak semua elemen untuk kembali pada cara hidup musasimbuawusa. Ia mengimajinasikan bagaimana harmonisasi kehidupan masyarakat yang utuh tanpa ada perselisihan, saling memahami dan mampu hidup bersosial dengan baik. Penyair menyadari betul bahwa kehidupan yang damai dan sejahtera akan mewujud jika perilaku musasimbuawusa itu tetap dijaga dan diterapkan. Masyarakat lokal mengenal kehidupan seperti ini dengan sebutan kehidupan yang MALUNSEMAHE. Malunsemahe merupakan cita-cita dan dambaan segenap masyarakat suku Sangihe.

Penyair tetap menjaga wibawah kepercayaan lokal Sundeng saat menentukan diksi dalam syair ini. Ia lebih memilih mengunakan penanda ‘mata sarang tarai’ untuk menyatakan Genggonalrangi (Sundeng) dan pemilik istana kudus (Kristen) sesuai KJ 269. Mata sarang tarai menggambarkan sikap penyerahan dan percaya ada kuasa yang lebih tinggi yang patut dijunjung. Percaya lalu menyerahkan perjalanan kehidupan kepada Sang pemilik kehidupan. Sang pemiliki ini diyakini ada di tempat tertinggi dan mengamati setiap perilaku manusia di bumi ini.

Masyarakat sangihe dahulu mengenal sifat keilahian ini dengan sebutan ‘manahimata’. Menengadah (mata sarang tarai) tidaklah dalam bentuk kosong, di dalamnya ada syukur dan doa yang terpanjatkan (gio dan dalo). Di dalamnya penyerahan dan rasa percaya itu tertuang, shingga saat mata menegadah, langkah kaki tetap teguh dan tidak tersandung. Dalam kekristenan, ini hampr sama dengan beriman.

Limanene mekaki menggambarkan sikap sendinganeng. Bersama-sama berjalan melewati setiap rintangan. Saling berpegangan agar tidak lepas satu dengan yang lain, dengan harapan sampai pada tujuan (malunsemahe) secara bersama-sama. Proses ini dibutuhkan sikap mepalose, sengkanaung, dan senggighilang agar kebersamaan itu tetap utuh. Saling menguatkan, mengingatkan juga memotivasi agar tetap sehati dan teguh, jangan ada yang tertinggal dan terpisah saat menggapai cita-cita malunsemahe. Lurus dalam langkah hanya soal jalan yang dilalui melainkan termasuk di dalamnya lurus dalam sikap dan perilaku, tidak serong satu dengan yang lain. Lurus dari hati hingga pada tindakan. Penyair menegaskan lebih dalam pengakuannya dengan memilih kalimat ‘mang kai matulride’ (tetap saja lurus).

Kurangnya memahami maksud dari bait demi bait lagu ini, menyebabkan lagu ini semakin kurang populer. Bahkan lagu ini dinyanyika sekedar lagu dalam permainan. Makna lagu yang sarat didikan ini tergerus karena anggapan orang sarang apa i kamene sepadan dengan syair lagu sarang apa i kau e ungke yang liriknya;
Sarang apa i kau e ungke
Sarang sasi mudea u kina
Kina apa deakeng u ungke
Kina loi tiange labo
(Hendak ke mana engkau ungke
Hendak ke laut mencari ikan
Ikan apa yang hendak kau cari ungke
Ikan loi perutnya besar).

Dalam penulisan lirik demi lirik, sarang apa i kamene terlihat lebih indah. Penyair ketika menulis lirik demi lirik lagu ini tetap memperhatikan dan menjaga ciri khas sastra Sangihe. Rima AB AB tetap terjaga dan diperhatikan.

Penyair memahami betul ciri khas syair sasalamate maupun sasambo lalu memasukannya dalam tubuh lirik lagu ini. Ini nilai lebih sarang apa i kamene dibanding hai musafir mau ke mana dari sudut pandang keindahan sastra.

Sayang, penulis lagu ini sudah tidak dikenal lagi. Namun demikian, cara penulis dalam menulis lirik lagu menggambarkan betapa hebatnya nenek moyang suku Sangihe dalam bersastra. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed