oleh

Angkumang dan Posuma, Kisah Perang Saudara di Kerajaan Siau

Oleh: Jolly Horonis

Menelusuri sejarah leluhur masyarakat Nusa Utara saat ini memang agak sulit. Beruntung ada beberpa pegiat budaya dan sastra yang terus menerus mencatat serpihan-serpihan sejarah masa lampau nenek moyang suku Sangihe. Suku yang membentang dari dataran besar nusa lawo (Sangihe: sasahara) hingga pulau-pulau dalam wilayah Pemerintahan Kabupaten Siau Tagulandang Biaro.

Para pegiat menelusuri secara suka rela jejak nenek moyang mereka lalu menuangkan dalam berbagai artikel maupun catatan singkat. Catatan-catatan ini mempermuda generasi saat ini untuk lebih mengenal jati diri mereka.

Saat ini, sangatlah jauh berbeda dibanding puluhan tahun yang lalu, dimana saat itu leluhur masyarakat Nusa Utara sangatlah kurang minat dalam menulis. Hal ini bisa dibuktikan dengan tak ditemukannya tulisan-tulisan leluhur masyarakat Sangihe. Tulisan sejarah dicatat oleh para sending yang datang di Sangihe.

Leluhur suku Sangihe gemar bercerita dan bernyanyi. Lewat bercerita dan bernyanyi itulah mereka mentransfer kehidupan dan sejarah. Tradisi bercerita ini disebut mebio dan tradisi bernyanyi disebut mukantari. Mebio dan mukantari sering dijadikan hiburan jika ada hajatan besar di suatu wilayah suku Sangihe.

Kedua tradisi ini sama-sama memiliki nilai penting dalam pemertahanan budaya, meski saat ini mebio mulai hilang dari panggung hajatan. Hal ini karena muncul jenis pentas yang lebih modern juga karena semakin berkurang orang yang mahir dalam mebio (penghikayat).

Namun, soal bercerita tentang legenda, fabel, mite dan sage, di Sangihe terlebih di daerah Siau hal ini tidak hanya didominasi oleh ahli mebio. Mereka yang suka dengan bernyanyi (kantari) yang tidak ada kemampuan dalam bertutur cerita di panggung juga terlibat dalam menceritakan kisah-kisah daerah yang ia cintai ini. Mereka meramu cerita-cerita ini menjadi satu lirik lagu utuh yang sarat kisah.

Dengan nyanyian bisa saja pendahulu suku Sangihe ini beranggapan bahwa media bernyanyi merupakan media mentransfer ilmu dan sejarah yang baik, maka tidak sedikit lagu yang mereka ciptakan yang menuliskan syair kepahlawanan.

Salah satu syair lagu yang utuh tentang serpihan sejarah kedatuan/kerajaan Siau adalah lagu masamper Angkumang dan Posuma. Liriknya demikian:
Bila ingat masa dulu
Bersetru Ondong dan Ulu
Tidak barang perdamaian
Ketika buat pilihan
Karena Lokongbanua dirajakan utama
Telah mangkat, putranya Angkumang Posuma

Jadi pangkal peperangan
Ulu lantikan Angkumang
Tak senang Ondong terima
Ondonglah mau Posuma
Karena pertempuran tent’ra bersaudara
Sampai skarang dinamakan orang Luwua Daha

Ketika p’rang Ulu banyak dibunuh
Berhenti p’rang Angkuman pulang malu
Agar senang dijadikan Jogugu

Posuma menang sambil pulang dengan gagah
Di Ondong dinobat jadi raja

Baru hilang peperangan
Perdamaian berkesenangan.

Pada catatan HB Elias: SEJARAH PERGERAKAN KEBANGSAAN INDONESI DI PULAU SIAU yang ditulis tahun 1973, ia menceritakan panjang lebar tentang sejarah Lokongbanua. Tentang kisah Angkuman dan Posuma seperti lirik lagu di atas, Elias menuturnya dengan singkat juga. Demikian kutipannya pada halaman 69-71.

Pada tahun 1549 Raja Longkongbanua meninggal dunia, dan tak meninggalkan pesanan siapa antara kedua putranya yang harus mengganti beliau di tahkta kerajaan Siau. Begitu raja berpulang kerahmatullah, begitu timbul pertengkaran yang hebat antara kakak beradik memperebutkan singgasana kerajaan itu. Pasumah tidak mau mengalah kepada abangnya Angkumang.

Karena abangnya sudah lama berdiam di Ulu Siau tidak lagi berada di istana ayahnya, maka pengaruhnya kepada pengawal dan semua menteri kerajaan sudah sangat tipis, sehingga ia lari dengan segera meluputkan diri ke Ulu Siau dengan membawa dendam kesumatterhadap peri tinkah laku adiknya, yang tidak mau menyerah kepada dia yang tua.

Begitu Angkumang berangkat meninggalkan istana baginda maka Pasumah mengatur siasat peperangan, karena Angkumang sudah mengancam dia dengan satu perkelahian yang seru untuk mendapatkan kedudukan yang kini mau terlepas dari tangannya. Pasumah mendatangi komandan benteng gurita di Ondong, meminta prajurit Spanyol, mengikuti dia dari belakang, manakala ia sudah berangkat ke gunung Bunu untuk berhadapan dalam medan pertempuran tengada kakaknya.

Pada besok hari Pasumah berangkat dengan satu pasukan pilihan ke arah timur dan benar-benar lewat bongkong Bunu ia ketemu pasukan abannya dari Ulu Siau dan terjadilah peperangan yang seru antara pasukan kakak beradik. Kalau prajurit Spanyol Portugis kemudian tiba di medan peperangan, sebenarnya Pasumah sudah berada dipihak yang menang dan tentara dari ulu Ulu semangkin terdesak.

Dengan beradanya tentara Spanyol di medan pertempuran, dan pastilah hasil peperangan itu. Angkumang lari terbirit-birit ke Ulu meninggalkan mayat beratusan bergelimpangan di medan peperangan. Dari pihak Pasumah pun tewas beberapa ratus laskar, sehingga terjadi semacam telaga darah alias kolam darah dan olehnya pada waktu sekarang ini tempat itu bernama Liwuadaha artinya kolam darah.

Di dalam JEJAK LELUHUR, Max Kaghoo dkk tidak jauh berbeda pengisahannya dengan Elias saat menceritakan peristiwa ini. Tim Jejak Leluhur menonjolkan persaingan pemertahanan budaya ‘yakang ganting gaghurang’ antara Angkumang sebagai yakang (anak sulung) dan Posuma sebagai adik.

Angkumang teguh pada pendirian sebagai pengganti orang tua (ganting gaghurang) namun Posuma tidak mengindahkan kebiasaan itu. Dalam Jejak Leluhur juga ditonjolkan perseteruan antara sikap Angkumang yang tidak suka dengan Spanyol (Katolik) karena fanatiknya terhadap Sundeng (kepercayaan lokal). Tim Jejak leluhur juga mencatat perbedaan mencolok yaitu PASUMAH versi Elias dan POSUMA versi Jejak leluhur. Dalam buku Jejak Leluhur dapat dibaca pada halaman 48-52.

Kisah perang saudara ini memang menarik untuk tetap diceritakan kepada anak cucu ke depan sebagai bentuk penghargaan pada sejarah dan juga sebagai kembanggan kita terhadap peradaban negeri yang kita cintai. Rasa bangga terhadap sejarah ini menjadikan para pendahulu kita berupaya untuk menuturkan dengan berbagai cara, termasuk menjadikanya sebagai lirik sebuah lagu. Sayang, penulis lagu ini juga tidak diketahui, beruntung saya bertemu dengan ibu Betribe Sasongke yang dengan susah payah menenun ingatanya agar bait demi bait ini bisa tersampaikan. (*)

Penulis adalah pegiat budaya, lulusan FBS Unima

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed