oleh

Mengabadikan Nyanyian Angsa Walekofiesa, Sebuah Dokumentasi Tulisan

-Kultur, Seni-1.308 views

Oleh: Iverdixon Tinungki

Agar tak tercecer ditelan waktu, berikut ini adalah dokumentasi 6 tulisan tentang pertunjukan Nyanyian Angsa Anton Chekhov yang ditaja komunitas teater Walekofiesa, pada Pentas Sastra 2019, Sabtu, 31 Agustus 2019. Di aula Balai Bahasa Sulawesi Utara. Dilansir secara bersambung oleh situs BARTA1.COM pada Agustus 2019.

  1. MEMBACA TANDA-TANDA CINTA

Pearly Eirene dan Latirka Toar adalah sepasang manusia yang sedang dilanda cinta. Dan saya merasa Anton Chekhov menulis “ Nyanyian Angsa” untuk mereka.
Drama ini akan dipentaskan pada Pentas Sastra 2019. Sabtu, 31 Agustus 2019. Di aula Balai Bahasa Sulawesi Utara, jalan Diponegoro nomor 25 Manado. Pukul 18.30 wita.

Dan sebagaimana catatan pembuka saya, kisah cinta Pearly Eirene dan Latirka Toar, menjadikan pertunjukan drama ini menarik ditunggu. Mengapa?

Pertama, “Nyanyian Angsa” Chekhov telah ditulis ulang oleh Eirene Debora dan Latirka Toar sendiri. Maka sebagaimana pepatah Perancis “Traduire est Trahir” –menerjamahkan adalah menghianati– penulisan kembali ini bisa jadi adalah penunggangan tanpa ampun atas ide era romantic Chekhov, ke masa kini Pearly Eirene dan Latirka Toar, yang dalam bahasa saya, notabene sepasang manusia kesepian yang mencoba membaca sisa tanda-tanda kehidupan di ujung paling rentah hidupnya.

Kedua, drama ini disutradarai oleh Eirene Debora, seorang sutradara muda yang sedang berjuang “naik kelas” kendati di era dimana kelas tak menarik lagi diperbincangkan.

Upaya naik kelas ini ternyata tak tanggung-tanggung, Eirene Debora, gadis berparas klasik yang membuat saya harus membayangkan “Madam Wu’ –sosok tokoh anggun dalam novel klasik Cina— ikut berperan sebagai Pearly Eirene bersama, Allan Zefo Umboh, seorang penyair esentrik dan Eric Dajoh, salah satu nama besar dari deretan bintang Teater Populer-nya Teguh Karya.

Ada kolaborasi menarik juga di sana, Jane Angela Annastasia Lumi, salah satu penyair terkemuka Sulut di pasang sebagai penata music dan puisi. Ada juga Tashya Lumi (Pelukis) serta Mesty Londa (Penata Rias & Busana).

Menyelami Dunia Chekhov

Namun sebelum membicangkan Nyanyian Angsa ala Pearly Eirene dan Latirka Toar, mari membicangkan Anton Pavlovich Chekhov (1860-1904). Dramawan ini adalah salah seorang penulis cerita pendek (cerpen), dramawan modern Rusia, serta dokter. Ia memandang dunia dalam karyanya adalah sebuah dunia yang indah dan romantik, tanpa pahlawan dan penjahat.

Gayanya bercerita yang dramatis, mengaduk psikologis pembaca, diselingi humor-humor khas serta ciri linguistik Chekhov, membuat karyanya khas dan berkarakter.

Dalam buku A Russian Affair terdapat empat karya Chekov: Tentang Cinta, Rumah Berloteng, Kunjungan ke Teman-Teman, Lonych, dan Wanita dengan Anjing Kecil.

Cerita Chekhov adalah cerita tentang kehilangan cinta, cinta pada waktu yang salah dan cinta yang tidak pernah didapat. Dari tema cinta ini pembaca akan diperkenalkan untuk (men)cinta tanpa henti, tentang kemungkinan-kemungkinan cinta yang menarik dan ekstrem.

Dari beberapa literature disebutkan, Chekhov lahir 1860. Ia dibesarkan di Taganrog, Rusia Selatan, dekat Laut Azov. Ia anak ketiga dari enam bersaudara. Ayahnya pemiliki toko kelontong. Kakek Chekhov adalah seorang budak yang membeli kebebasan keluarganya pada tahun 1841. Sementara ayahnya mencoba memperbaiki status sosial dengan membuka toko. Chekhov muda dan saudara-saudaranya bekerja di toko keluarga dan belajar di sekolah setempat. Tahun 1876 ayahnya bangkrut dan pindah ke Moskow untuk memulai usaha baru. Ibunya kemudian menyusul. Chekhov masih tetap tinggal hingga menyelesaikan sekolahnya.

Gambaran tokoh-tokoh dalam karya Chekhov rata-rata adalah tipikal orang yang berbudaya, baik, bermakna, tetapi pada akhirnya kecewa hingga apatis dan tidak efektif secara politis atau sebaliknya. Sementara ia pribadi yang menemukan kondisi aktivitas yang membosankan karena lingkungan yang konservatif. Akibatnya terjadi konflik yang melemparkan sebuah bayangan dalam semua ceritanya.
Karya-karya besar Chekhov diantaranya Paman Vanya, The Seagull, dan The Cherry Orchard. Dalam A Russian Affair kita akan melihat adanya fokus cerita pada cinta dan harapan kehidupan. Kisah dalam buku ini menawarkan sebuah harapan di masa depan.

Lantas bagaimana pandangan filsuf Carl Jung terhadap cinta ala Chekov ini? Ikuti serial berikutnya dari tulisan ini. (*)

MENYELAMI CINTA DI USIA 68 TAHUN

Pada bagian awal tulisan ini, saya sadar, saya sangat provokatif menuding Pearly Eirene dan Latirka Toar sebagai sepasang manusia sedang dilanda cinta. Dan menurut Carl Gustav Jung, cinta itu sesuatu yang berbahaya.

Mengapa berbahaya? Menurut Jung, cinta sama saja dengan penyakit obsesif kompulsif. Cinta mengaburkan batasan antara kesehatan mental dan psikopatologi. Cinta melepaskan zat-zat kimia yang memicu hiperaktif, kesembronoan dan kegembiraan yang berlebih.

Dan, astaga! Baru satu jam setelah tulisan bagian pertama saya dilansir situs Barta1.com (26/8), dan dibaca ratusan viewers, actor penyandang gelar 2 titel sarjana Allan Zafo Umboh yang ikut bermain dalam ‘Nyanyian Angsa” langsung menyerang saya di media social.

Allan –sapaan actor yang juga penyair ini— merasa, apa yang saya tulis, jauh dan menabrak esensi dan realitas pertunjukan yang bakal ditaja Walekofiesa, sebuah komunitas pekerja teater Manado, pada Pentas Sastra 2019 , Sabtu, 31 Agustus 2019, di aula Balai Bahasa Sulawesi Utara, jalan Diponegoro nomor 25 Manado, pukul 18.30 wita itu.

Beberapa jam kemudian, messenger saya kedap-kedip. Banyak kawan dalam pesan merasa khawatir dengan tulisan saya yang provokatif itu.

Kekhawatiran mereka mendasar, mengingat ada keterlibatan actor besar dan salah satu pesohor teater Indonesia, Eric MF Dayoh, dalam gelaran tersebut, dan bahkan terlibat sebagai pemeran utama, Vasili Svietlovidoff. Mereka yakin, dengan segala kapasitas intelektualnya, Eric akan segera menerkam saya.
Apakah saya harus surut? Tidak! Karena, titik paling menarik dari drama-drama Chekhov adalah cinta.
Dan saya membayangkan Pearly Eirene dan Latirka Toar adalah bayangan lain dari dua tokoh Chekhov dalam ‘Nyanyian Angsa’ yakni Vasili Svietlovidoff, seorang komedian berumur 68 tahun dan Nikita Ivanitch, seorang promter (pembisik).

Mereka adalah para lansia yang penuh satire, dirubung persoalan psikiatri, tahanan masa lalu di tengah tubuh yang mulai rontok dihisap usur.

“Ketika baru-baru aku naik ke pentas, semasih gairah remaja bergejolak, aku ingat seorang wanita yang jatuh cinta karena aktingku. Dia sangat cantik, tinggi semampai, muda, suci, tak bercela, berseri-seri laksana fajar musim panas. Semuanya dapat tembus menyinari kegelapan malam.” Bukankah ini diucap Vasili Svietlovidoff, mengenang masa mudanya?

Namun apa yang ia alami saat berusia 68 tahun? “Dengan sangat riang mabuk kepayang, aku berlutut di hadapannya. Lalu aku mohon demi kebahagiaan, dan berkatalah ia: tinggalkan pentas! Kau mengerti? Dia dapat mencintai akting. Tetapi, buat mengawininya tidak!” keluh Svietlovidoff, menyentil cinta lamanya yang pergi begitu saja.

Bukankah benar, cinta ternyata sangat berbahaya, apalagi di usia 68 tahun. Menurut Carl Jung, cinta di usia ini hanya tamasya ke masa kanak-kanak, suatu dorongan untuk kembali ke suatu situasi intim ketika kita menyusu pada ibu dalam perasaan damai.

Sumpah! Aku tidak bermaksud jahat pada Pearly Eirene dan Latirka Toar yang saya sebut sebagai sepasang manusia yang sedang dilanda cinta. Tapi saya juga tak lupa pada kisah tragis Raja Eward III yang mengesampingkan seluruh Negara untuk berpaling pada wanita yang dicintainya.

Mengapa saya harus meminjam Carl Jung untuk menganalisis cinta berbahaya Pearly Eirene dan Latirka Toar?

Dalam “Memories Dreams Reflections” –buku ditulis, Carl Gustav Jung– dia dikenal sebagai seorang psikiater Swiss dan perintis psikologi analitik. Pendekatan Jung terhadap psikologi sangat unik dan berpengaruh luas, ditekankan pada pemahaman “psyche” melalui eksplorasi dunia mimpi, seni, mitologi, agama serta filsafat.

Bagi Jung, kepribadian merupakan kombinasi yang mencakup perasaan dan tingkah laku, baik sadar maupun tidak sadar. Jung menekankan pentingnya keseimbangan dan harmoni. Ia memperingatkan bahwa manusia modern terlalu banyak mengandalkan sains dan logika, bahwa manusia akan mendapat manfaat dari pengintegrasian spiritualitas serta apresiasi terhadap dunia bawah sadar.

Dan Jung mengatakan, cinta itu umurnya tidak panjang. Seorang lelaki yang mengatakan “engkau cantik sekali hari ini” kepada kekasihnya, setelah 365 hari kemudian ia akan merasa kecantikan kekasihnya datar-datar saja.

“Cinta tak lebih dari nyala caudate nucleus dalam pangkalan saraf yang jejak kimiawinya sama dengan efek obat gangguan jiwa,” tulis Jung.

Dan saya yakin Pearly Eirene dan Latirka Toar menyadari, dimana cinta paling membara yang mengantar suatu pasangan dalam perkawinan sekali pun, usianya hanya empat tahun. Ya… hanya empat tahun. Lalu, pudar, dan merosot sekadar hubungan persahabatan, atau bahkan kemitraan ekonomi dua orang yang terikat rekening bank.

Sebagaimana sudah saya sentil pada bagian awal tulisan, drama-drama Chekhov adalah cerita tentang kehilangan cinta, cinta pada waktu yang salah dan cinta yang tidak pernah didapat.

Apakah dapat diramal, cinta Pearly Eirene dan Latirka Toar akan berakhir dalam suatu situasi tragis? Saya akan menuliskannya untuk anda pada seri tulisan berikutnya. (*)

MEMBONGKAR ANALEKTA KESUNYIAN

Nyanyian Angsa Chekhov adalah sebuah analekta. Tidak saja dibutuhkan energy besar untuk memerankannya, juga dibutuhkan sejumput pengetahuan untuk menontonnya.

Amato Assagaf adalah sastrawan, dramawan dan ahli filsafat. Seperti juga anda, Amato sangat menanti-natikan pertunjukan lakon “Nyanyian Angsa”.

Lakon karya dramawan modern Rusia Anton Pavlovich Chekhov ini akan dipentaskah Walekofiesa, sebuah komunitas pekerja teater Manado, pada Sabtu, 31 Agustus 2019, di aula Balai Bahasa Sulawesi Utara, jalan Diponegoro 25 Manado, pukul 18.30 wita.

Lazimnya penonton teater Eropa-Amerika, Amato yang punya latar akademik teater tentu akan datang menonton dengan segala persiapan matang.

Mengapa? Sebab, menonton teater tanpa persiapan berupa seperangkat pengetahuan yang dibutuhkan, maka pertunjukan itu akan menjadi semacam gema kosong yang datang pada saat anda tidur.

Pecandu teater harusnya tak beda dengan pencadu sepak bola. Pecandu sepak bola sangat menguasai peta kekuatan berbagai club, menghafal nama dan skill setiap pemain, sejarah dan biografi pelatih, kontur stadion dimana laga berlangsung, bahkan detil-detil lain yang berhubungan dengan permainan lapangan besar itu.

Di Amerika dan Eropa, pecandu teater akan membaca berbagai resensi dan referensi sehubungan dengan pertunjukan sebelum mereka menyambangi gedung teater. Sebab mereka tak ingin membuang waktu untuk kesia-siaan. Mereka harus lebih awal tahu, mengerti, dan memahami apa yang akan dipertunjukan, sehingga mereka bisa menikmati pertunjukan. Tontonan yang menarik segera mendapatkan tepuk sorai, yang jelek segera mendapat umpatan.

Dan menonton karya-karya Chekhov tidaklah mudah. Selain ia adalah penulis drama-drama bekelas, satire Chekhov dipenuhi penanda (signified) dan petanda (signifier) sebagaimana diisyaratkan dalam semiotika Ferdinand De Saussure dan Roland Barthes.

Di lain sisi, drama sebagai karya sastra merupakan cerminan dari masyarakatnya, yang dipenuhi makna simbolis yang perlu diungkap dengan model semiotika. Sebagai karya yang bermediakan bahasa, drama memiliki bahasa yang sangat berbeda dengan yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari maupun bahasa karya ilmiah. Bahasa dalam sastra menggunakan gaya bahasa tersendiri.

Ini sebabnya, harusnya saya menulis lebih awal estetika dramatic “Nyanyian Angsa” Chekhov. Terutama menyangkut alurnya yang kompleks, gramatiknya, bahasa tubuh, pengucapan dan otensitasnya. Namun saya berada di titik terdalam kecemburuan. Cemburu pada Pearly Eirene dan Latirka Toar yang sedang dilanda cinta. Manusiawikah kecemburuan saya?

Harus kuungkap, fase awal manusia manula adalah 55 tahun. Dan saya telah melampaui usia itu. Seperti Vasili Svietlovidoff dan Nikita Ivanitch, dua tokoh Anton Pavlovich Chekhov dalan ‘Nyanyian Angsa’. Barangkali saya mulai didera Post Power Syndrom, penyakit laten kaum manula yang oleh orang Manado disebut “Tuta”.

Tuta semacam ini sering menimpa orang-orang yang dahulu pernah popular, berkuasa, atau memiliki kekuasaan yang sudah memasuki masa pensiun, atau kembali menjadi orang biasa. Sebuah deraan perasaan tidak dihargai oleh orang-orang di sekitarnya. Akibatnya, kehilangan jati diri dan tujuan hidup. Dan selalu terpuruk dalam kenangan-kenangan masa lalu dan kesunyian, sambil menghibur diri dengan sebotol bir. Dan ketutaan ini sangat manusiawi sesungguhnya.

Pada tulisan ketiga ini saya menyadari, dua tulisan sebelumnya adalah bagian dari kengelanturan saya karena dibakar api cemburu pada Pearly Eirene dan Latirka Toar, dua sosok tokoh rekaan saya dari bayangan Svietlovidoff dan Ivanitch.

Serangan aktor Allan Zefo Umboh haruslah saya nyatakan benar. Karena perangkap cemburu dalam diri manula saya sebagai penderita “Tuta”, membuat tulisan pertama dan kedua saya baru mampu melihat ruang kecil, dari semesta besar yang dikandung oleh Nyanyian Angsa.

Saat membuka Rabu pagi tanggal 28 Agustus 2019 langit tiba-tiba menjadi begitu murung. Pertama, saya kehabisan kopi dan rokok. Kedua, dua tulisan saya sebelumnya disebut sebagai bedahan yang centil oleh Olden Kansil, salah seorang staf ahli gubernur Sulut via messenger.

Saya jadi ingat lolucon Rusia yang penuh ironi dan sarkasme: “Kalau ingin punya rokok dan mencecap kopi, jangan jadi penulis.”

Tiba-tiba saya merasa senasib dengan Svietlovidoff dan Ivanitch. Sama dengan Pearly Eirene dan Latirka Toar, seniman manula yang terus menyosong sisa hidup dengan penuh harapan dan sekaligus penuh ratapan.

Seperti kutukan Ikarus yang bermimpi mencapai matahari dengan sayap palsu, atau sysyphos yang terperangkap nihilism, saya harus terus menulis Svietlovidoff, orang tua malang itu. Karena tinggal dengan menulis kami sama-sama masih bisa melihat matahari di masing-masing ujung usia.

“Ayolah kita pergi tukar pakaian. Aku bukan orang tua. Semua itu tolol, omong kosong! (Tertawa gembira) Apa yang kau tangisi? Ini bukan … kemauan! Ya, ya, segalanya ini bukan kemauan! Mari, mari orang tua, jangan terbeliak bigitu! Apa sebab kau terbeliak begitu? Ya, ya, (memeluk sambil menangis) Jangan menangis! Di mana ada seni dan jenius di situ pasti tidak ada segala ketentuan, kesepian, atau penyakitan … hanya kematian itu yang semakin dekat.” ujar Vasili Svietlovidoff, kepada Nikita Ivanitch.

Sebagaimana kekhasan Chekhov, dalam satire paling pedih seklipun selalu diakhiri dengan optimis dan riang gembira. Chekhov seakan mengajak untuk (men)cinta tanpa henti, kendati dengan segala kemungkinan-kemungkinan cinta yang menarik dan ekstrem.

Analekta Kesunyian

Nyanyian Angsa nyaris seutuh monolog yang dimainkan tokoh Svietlovidoff. Nah, Barangkali menarik bila saya menyentil sedikit analekta atau bunga rampai kesunyian yang dialami actor manula itu.

Peristiwa ini terjadi di sebuah teater daerah. Malam hari setelah pementasan. Si sebelah kanan keadaannya tidak teratur dan ada pintu usang tak bercat ke kamar-kamar pakaian. Di sebelah kiri dan latar belakang pentas diseraki oleh bermacam-macam barang usang. Di bagian tengah ada sebuah kursi polos terjungkir.

Ketika ia sedang asyik dengan kesedihan hidupnya, muncullah Ivanitch Nikitushka, seorang juru bisik yang diam-diam juga bermalam di kamar pakaian.

Melihat sang aktor tua dirundung kesedihan, Nikitushka pun mencoba menasihati Svietlovidoff untuk tidak usah larut dalam kesedihan, meskipun tidak ada seorang pun yang peduli dengannya kini. Mereka pun terlibat dalam perbincangan mengenai pengalaman teater mereka.

Dalam malam itu, Svietlovidoff, tengah mabuk dan baru saja tertidur di gedung pertunjukan sehabis pentas. Ia bangun dan masuk ke panggung, meracau sendiri soal keadaan dirinya sebagai aktor dan sebagai lelaki yang ia rasa sudah sempurna. Sebagai aktor yang seringkali mendapat peran-peran besar seperti Hamlet sampai King Lear ia ucapkan dalam racaunya sebagai ujaran kebanggan eksistensi diri.

Seperti saat Svietlovidoff memperagakan tokoh-tokoh dan beradegan dengan Nikita Ivanitch, terlihat bahwa Svietlovidoff selalu ingin mendominasi atau “berdiri sendiri” dari lawan mainnya, memperlakukan lawan mainnya seperti benda yang bisa ia atur semaunya. Meski begitu, ujaran kebanggaan itu nampak seperti sebuah hiburan dari kesedihan, kepedihan, dan terutama kesunyian yang ia rasakan.

Terlebih sebagai aktor teater ternama, yang dalam kehidupan nyatanya tak begitu membantunya sama sekali, bahkan membuat nasibnya menjadi buruk. Beberapa kali ia melamar wanita yang menjadi penggemar karya-karyanya dan selalu saja ditolak karena alasan dunia teater.

Beberapa kali juga ia merasa bahwa para penonton yang menggemarinya, yang membawakannya bunga, mengajaknya berfoto sama sekali tak peduli padanya. Nikita Ivanitch muncul sebagai tokoh lugu dan karena keluguannya sering memberi kesan jenaka. Nikita Ivanitch yang bertemu Svietlovidoff pada malam itu pun sama-sama karena alasan tertidur, ia tertidur di ruang ganti dan terpaksa jadi menginap juga.

Sehingga dalam pertemuan yang tidak direncanakan ini, Svietlovidoff seorang aktor tua yang penuh romantisme masa lalu dan Nikita Ivanitch seorang juru bisik tua menjadi dua orang yang sangat akrab pada malam itu.

Nah, kembali ke Amato Assagaf. Ia telah beberapa kali menonton Nyanyian Angsa di panggung nasional. Dalam percakapan dengan penulis, ia berharap Eirene Debora selaku sutradara mampu menyuguhkan hal baru baik dari sisi tafsir teks dan artistic serta penggarapan actor. Tapi itu, kita akan menyaksikan kelaziman penyajian yang sama hanya saja di panggung yang berbeda.

Lantas siapa sutradara pementasan yang sangat ditunggu ini? Saya akan menyajikannya untuk anda pada seri tulisan berikutnya. (*)

DEBUT PERDANA SUTRADARA EIRENE JULIANA DEBORA

Pegiat teater di Sulawesi Utara bisa jadi masih asing dengan nama Eirene Juliana Debora. Namun menyutradarai lakon sekelas ‘Nyanyian Angsa’ Chekhov, pasti membuat banyak mata menoleh padanya.

Ia masih belia, baru 21 umurnya. Pengalaman berteater pun belum panjang-panjang amat. Namun dalam bimbingan Maestro Eric MF Dajoh, punggawa kelompok Walekofiesa –sebuah komunitas pekerja teater Manado— gadis berparas manis yang akrabnya disapa Pearly ini pun tampak berani membuat kejutan.

Bertempat di Balai Bahasa Sulawesi Utara, Sabtu 31 Agustus 2018, nanti akan menjadi momentum penting bagi Pearly dalam membuktikan karyanya.

Diwawancarai Barta1.com, gadis asal kota Bitung ini mengaku percaya diri menyutradarai salah satu lakon berbobot berat karya dramawan modern Rusia, Anton Chekhov.

Pearly mengatakan telah melakukan berbagai persiapan untuk kiprah pertamanya sebagai sutradara teater.

“Sejak Mei sudah melakukan riset mengenai naskah Nyanyian Angsa, jadi hingga pentas setidaknya ada
3 bulan saya dan tim bikin persiapan hingga latihan,” kata Pearly, baru-baru ini.

Teater adalah liyan, setidaknya itu pengakuan Pearly hingga mau menggelutinya dengan serius. Cabang seni tertinggi itu mampu menampilkan berbagai persoalan sosial dalam dialektika, termasuk mimik dan gerak.

Dia juga bisa merasakan perbedaan karakter manusia dalam Nyanyian Angsa. “Teater berbeda, kita bisa belajar soal kehidupan dan ini pengalaman yang menarik bagi saya,” ujar perempuan yang pernah terlibat dalam produksi pentas Cahaya Zaman di Taman Mini Indonesia Indah ini.

Menangani karya seniman sekelas Anton Chekhov, Pearly dimentori aktor teater Eric Dajoh. Namun dia mengaku mendapat kebebasan penuh untuk menentukan berbagai sisi teknis.

Yang menjadi tantangan bagi dia adalah kehadiran Erick sendiri sebagai pemain utama, yang notabene tergolong senior dan memiliki nama besar di pentas teater nasional.

“Tapi saya banyak belajar dari bang Erick, ini menjadi kesempatan bagi saya untuk mengenal lebih luas dunia peran di bawah bimbingan beliau.”

Pementasan Nyanyian Angsa akhir Agustus ini juga menampilkan penampilan penyair perempuan Jane Angela Anastasia Lumi, pelukis perempuan Tasya Lumi, serta aktor Alan Zeffo Umboh. Semuanya masih berusia muda. (Catt: Khusus tulisan bagian ke 4 ini ditulis oleh Ady Putong, Redpel Barta1.com.)

ERIC MENGAJAK PARA SAHABAT MENONTON

Dilarang datang mengintip latihan mereka, itulah sangsi buat kecerewetan tulisan-tulisan saya sebelumnya. Tapi semalam –seperti perompak—saya menerobos pintu ruang teater Balai Bahasa Sulut, saya benar-benar ingin bertemu sahabat yang tengah kesepian Eric MF Dayoh.

Eirene Juliana Debora, sang sutradara lagi di sana bersama kru dan para pelakon Nyanyian Angsa, Chekhov, ketika saya muncul. Saya tidak datang sendiri. Ada Pimred Barta1.com Agus Hari dan Redpel Ady Putong.

Cinong Papaakang Nalang dan Eki Pontolondo juga saya sertakan. Dua penyandang sabuk hitam kareta ini harus ikut, sebab, jangan-jangan dampak dari tulisan-tulisan saya bisa memicu friksi di ruang teater Balai Bahasa yang selalu suram sejak dulu itu.

Tapi apa yang saya khawatirkan tidak terjadi. Eric MF Dayoh, sahabat yang kini memikul kodrat kesepian ini, justru menyambut saya dengan pelukan. Sutradara Eirene Juliana Debora bahkan buru-buru menyeduh kopi.

Dan astaga! Kopi buatan gadis yang selalu kupanggil dengan nama manisnya Pearly ini, benar-benar memikat lidah. Ia ternyata punya keahlian barista. Kopinya pas, setara senyuman peraciknya.

Namun bukan itu yang ingin kuceritakan! Ruang teater Balai Bahasa Sulut kali ini dilanda gairah kesenian. Sebuah proses latihan yang berkelas tengah berlangsung dan didukung sejumlah actor dan aktris termasuk pekerja panggung yang juga sama-sama berkelas.

Saya melihat penyair sekaligus pemusik Jane Anastasia Lumi tengah berlatih dengan seorang gadis penyanyi soprano lagu-lagu mewah seperti The Swan dan Le Cygne.

Allan Sefo Umboh, nampak melakukan latihan gestikulasi sambil sesekali berlari-lari seperti demit penjaga gedung teater tua. Ia konon memerankan tokoh baru dalam lakon bakal ditajah ini, sebagaimana hasil adaptasi terhadap teks aslinya

Ada aktor yang agak kurus namun bertubuh cukup tinggi sedang memantapkan gerak-gerak erotica, sambil sesekali mencandai para perempuan dengan kesundalan yang pura-pura.

Mereka semua serius berlatih. Tak luput Eric MF Dajoh yang memerankan Vasili Svietlovidoff, manula tua, actor bernasib malang yang selalu kesepian, pengidap Post Power Syndrom. Ia sesekali menegak Cassanova, bir murah produksi Manado, sebagai property latih, karena menghindar bir asli berharga tinggi.

Tapi saya tak tertarik membicarakan biaya produksi, terutama berkaitan dengan program Pentas Sastra Balai Bahasa Sulut yang memang dulu sangat terbatas. Namun setidaknya, Balai bahasa telah melakukan apa yang paling bisa mereka lakukan. Dan juga barangkali sudah nasib proyek pembinaan kesenian di daerah kita yang harus diterima sebagaimana nasib miris Ikarus dan atau Sysyphon; Mati segan, hidup tak mau. Sudalah.

Tapi dasyatnya, Eric Dayoh yang tak lama seusia tokoh Vasili Svietlovidoff yaitu 68 tahun, yang sering bersedih karena cinta bertepuk sebelah tangan itu, dengan susah payah mengingat dialognya. Ia kadang harus diteriaki Nyongka Rangga Bayu Restu, stage manager yang juga bertugas sebagai promoter, untuk mengingatkan sambung hafalannya.

Pearly, sutradara yang ternyata ikut main dalam lakon ini dengan serius melatih peralihan emosi dari sedih, takut ke gembira, sambil terus melafalkan potongan puisi –kebetulan karya saya—yang ikut masuk dalam proses adaptasi lakon Nyanyian Angsa Chekhov ini.

Dan saya harus angkat jempol buat komunitas teater Walekofiesa yang begitu tegar menyiap pertunjukan yang berkelas ini. Tabik harus disampaikan pula buat seniman Begawan Eric MF Dayoh yang dalam sejarah berkeseniannya boleh dikata satu-satunya tokoh seni dari Sulut yang sejak akhir 1980-an hingga kini terus memberi diri membangun jaringan seniman Sulut dengan para penggiat kebudayaan dan seni di seluruh pelosok tanah air.

Usai latihan, kami berdiskusi sedikit membedah lakon Nyanyian Angsa Chekhov yang akan menjalani pentas perdana pada Sabtu, 31 Agustus 2019 Jam 18.30 wita – selesai
di Balai Bahasa sulut Lt.3.

“Saya mengundang semua sahabat datang menonton. Lepas dari pementasan lakon Nyanyian Angsa, saya merindukan bertemu dengan semua sahabat saya dalam momen pertunjukan ini,” ujar Eric.
Pentas perdana ini kata Eric, gratis, tanpa dipungut biaya. Jadi siapun bisa datang menonton. (*)

MENGUMPAT CIUMAN SEPOTONG DARI SEPOTONG NYANYIAN ANGSA

Menonton teater setara dengan bercinta. Berharap, dimana setiap elemen dari pertunjukan itu, merangsang kemistri menuju ekstase spiritual yang menakjubkan.

Tapi apa jadinya. Hingga siang, 1 September 2019, saya masih binggung, entah harus mulai dari mana membincangkan sepotong ciuman dari sepotong pertunjukan Nyanyian Angsa, Walekofiesa yang ditajah di ruang teater Balai Bahasa Sulut, Sabtu, (31/8).

Sudah berlalu selama 20 jam, antara mengumpat dan memuji, pertunjukan itu menghantui saya.
Andaikata pertunjukan itu tak dimulai dari musikalisasi puisi yang musiknya diaransir Arireda kemudian diramu dengan manis musikus Jane Anastasia Angela Lumi, barangkali umpatan saya akan mencapai kulminasi. Dan pertunjukan itu akan menjadi potongan-potongan tak beraturan, seakan jeroan daging korban “tabrakan maut” dalam kritik saya. Sebab, membicarakan teater pada akhirnya adalah membicarakan seluruh elemen teater itu sendiri.

Dan apalagi pertunjukan itu hanya berlasung separoh dari keseluruhan isi lakon yang seharusnya dimainkan. Saya memetaforkannya sebagai ciuman yang pasrah dari sepotong bibir saja. Puas atau tidak puas, saya harus menerima dengan semacam kejengkelan sekaligus keikhlasan.

Tapi, pertama-tama saya harus jujur menyatakan, saya jatuh cinta dengan suara Monica Christine Tangapo, perempuan yang punya suara seindah Angel Voice saat memusikalisasi puisi Sapardi Djoko Damono di bawah ini:

aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan
kepada hujan yang menjadikannya tiada

Dan saya meneteskan airmata haru pertama untuk suara indahmu Christine, kendati di tengah gelap ruang teater yang ‘sumpah”, sangat tak layak untuk pertunjukan lakon semewah Nyanyian Angsa.
Panggung kecil beratap rendah, ketersediaan tata cahaya yang jauh dari ideal, kualitas Sound System yang super buruk, –yang maaf, membuat saya bertanya-tanya sebegini inikah fasilitas pemerintah di Balai yang justru berurusan dengan sastra, bahasa dan seni budaya.

Namun Christine Tangapo meluluhkan hati saya. Saya ikhlas menerima begitu saja, kendati saya kemudian begitu menderita melihat kekangan dan himpitan panggung yang membuat tokoh Leonardo harus bermain hingga ke tepi panggung, di luar sorotan lampu yang kualitas cahayanya buruk itu. Bahkan, sang actor harus berhati-hati melakukan control panggung jangan sampai jatuh terjengkang di sisi tangga.

Ya sudahlah, urusan fasilitas Balai Bahasa Sulut adalah urusan mereka para petinggi di instansi pemerintah ini, yang juga toh, hanya segelintir saja yang nampak hadir menonton, padahal mereka adalah para fasilitator bahasa, seni dan sastra yang harusnya menjadi orang pertama menjadikan pertunjukan ini sebagai ruang tontonan dan apresiasi dalam pengayaan pengetahuan mereka. Di lain sisi, pertunjukan perdana ini adalah bagian dari program Pentas Sastra berbiaya 2 juta rupiah potong pajak yang digelar bulanan oleh instansi tersebut. Tapi mengapa saya harus menyusahkan hidup saya dengan memikirkan persoalan yang toh bukan urusan saya.

Hanya saja, khusus untuk persoalan elemen teater di atas, harus menjadi pekerjaan rumah Eirene Debora dalam membenah manajemen pertunjukan dia pada pentas berikutnya mengingat drama sebagai seni kolektif baru disebut berhasil apabila seluruh elemen berjalan dalam suatu kesatuan yang harmonis.

Selebihnya, adalah perkara akting actor Eric MF Dajoh yang nampak masih perkasa memerankan tokoh Leonardo yang diadaptasi Latirka Toar dan Eirene Debora dari karakter Vasili Svietlovidoff dalam teks asli “Nyanyian Angsa” karya dramawan modern Rusia, Anton Pavlovich Chekhov.

Dan tepat pukul 12,53 wita, jari saya pertama kali menyentuh tuts laptop. Soft performance Nyanyian Angsa Walekofiesa di Balai Bahasa Sulut itu, atau disebut apalah pertunjukan perdana ini, apresiator Amato Assagaf benar, perkara aktinglah satu-satu yang mendorong saya wajib mengatakan bahwa pertunjukan tersebut sebuah peristiwa kebudayaan atau momentum kesenian yang patut diapresiasi dan dicatat.

Kendati dirubung perih lambung, saya datang menonton. Sebuah peristiwa kesenian yang mewah –yang jarang-jarang terjadi– semacam ini jangan sampai lewat dari amatan saya. Dan ruang teater Balai Bahasa Sulut padat terisi oleh penonton. Dan tidak main-main, penontonnya boleh dikata berkelas, karena yang tampak hadir, rata-rata para bengawan dari berbagai profesi, dan latar.

Tawaran Baru Dalam Konsep Penyutradaraan

Memahami konsep penyutradaraan dan penggarapan karakter tokoh yang ditawarkan sutradara Eirene Debora, saya jadi ingat pengantar Enrique Molina pada buku tipis penyair Argentina Alejandra Pizarnik “Luka Tunggal Sang Pencinta”.

Kehidupan tokoh Leonardo (Vasili Svietlovidoff) dalam tafsir baru Eirene, dapat digambarkan dalam frasa; sebagai sosok yang melintas sendiri, dalam suatu gelombang El Bosco di mana ada banyak pasangan telanjang berbaring dalam dunia yang begitu halus yang hanya karena keajaiban sehingga tidak memecah di setiap saat.

Pizarnik menyebut; “Ini hari kau pandang diri di cermin// dan pilu –kau sendiri// cahaya meraung udara bernyanyi// tapi kekasihmu tak kembali.”

Sementara sosok Reumanen ((Nikita Ivanitch) yang dalam konsep Chekhov adalah perempuan renta, seorang promoter (pembisik) yang juga dirundung gelombang kesepian hari tua tanpa harapan, diadaptasi menjadi sosok wanita yang relatif muda, yang masih digelorai beragam fantasi dan hasrat libidinal.

Ada kecenderungan Eirene mau keluar dari kelaziman Chekov. Sutradara muda ini ingin memberi udara yang lebih segar dibanding kecenderungan Chekhov yang membiarkan tokoh-tokohnya tercebur dalam di kubangan berbagai tragika.

Eirene memasukan pergulatan khazanah psikologi analitik Carl Gustav Jung, sehingga pencarian, kesunyian dan kehampaan serta deraan Post Power Syndrom, penyakit laten kaum manula Leonardo menemukan tamasya cinta.

Tokoh Reumanen yang menggantikan nama tokoh Nikita Ivanitch dalam teks asli Nyanyian Angsa Chekhov adalah satu-satunya petanda dimana Eirene Debora ingin menggiring Nyanyian Angsa garapannya ke latar kultural Minahasa. Ia ingin membawa keluar Nyanyian Angsa dari latar budaya Rusia ke alam budaya Minahasa.

Untuk ini, saya harus melontarkan kritik pada penata music dan artistic yang tidak memberikan support pada konsep peralihan latar budaya pertunjukan tersebut. Andaikata, Jane Anastasi Anggela Lumi selaku penata music bisa memasukan unsur music bernuansa Minahasa, maka tokoh Reumanen bisa menemukan roh keminahasaan dalam bangunan karakternya.

Tata artistik pun jauh dari harapan, selain tak menunjukan sedikit pun symbol-symbol keminahasaan, saya mencurigai, tata artistic ini dilakukan dengan buta, tanpa konsep. Barangkali ada persoalan pendanaan yang menyebabkan petaka tata artistic semacam ini. Tapi penonton tetap saja tak mau tahu dengan persoalan kalian. Penonton selalu inginkan suguhan yang utuh, tanpa titik koma alasan.

Lepas dari berbagai kekurangan, tafsir baru karakter dua tokoh utama dalam Nyanyian Angsa Chekhov ala Eirene ini harusnya membuat pertujukan lebih seru ditonton andaikata pertunjukannya berlangsung hingga tuntas. Sebab penonton akan dipertemukan dengan makna-makna simbolis baru sebagaimana diisyaratkan model semiotika Ferdinand De Saussure dan atau Roland Barthes.

Konsep yang menggairahkan ini sayangnya patah di ujung 30 menit pertunjukan yang mendadak dinyatakan selesai, padahal masih banyak scene menarik setelahnya yang dapat dilacak pada teks aslinya. Juga terlihat ada upaya ornamentasi emosial imajinatif yang melibatkan sosok penari hitam. Sayang sekali eksistensi pengembangan tokoh-tokoh baru ini ikut patah seiring berhentinya pertunjukan.

Kendati pertunjukan itu mengantung dan tak tuntas, tapi nampak terasa sebuah energy penyutradaraan yang komplit dari sisi garapan keaktoran. Meskipun pada elemen lain terutama tata suara dan tata lampu yang selalu bermasalah, dan kadang mengganggu kenyamanan penonton dalam menikmati pertunjukkan, —dan saya kira juga mengganggu intensitas emosi para actor saat menjalani perannya—Eirene Debora setidaknya telah berhasil menunjukkan titik terang dalam bahasa estikanya sendiri sebagai sutradara.

Kekuatan Aktor dan Misteri Lagu Dona-Dona

Sebagaimana teks aslinya, peristiwa ini terjadi di sebuah teater daerah. Malam hari setelah pementasan. Di sebelah kiri dan latar belakang pentas diseraki oleh bermacam-macam barang usang. Di bagian tengah ada beberata stage kecil baik untuk tempat botol minuman, lilin dan sebuah topeng. Juga ada stage yang dijadikan tempat tindur.

Hal baru adalah di sebelah kanan panggung di isi kelompok musik yang menjadi pengiring pertunjukan. Penonton dituntut harus mampu membagi ruang panggung kecil itu menjadi tiga dimensi secara imajinatif, dimana sisi kanan harus diabai dari pandangan karena bila tidak, pergerakan-pergerakan kecil yang dilakukan para pemusik akan mengganggu fokos penonton ke central stage yang menjadi ruang pertunjukan sesungguhnya. Sementara bagian belakang sekadar menjadi latar panggung saja.

Pertunjukan dibuka di suatu malam, Leonardo, tengah mabuk dan baru saja tertidur di gedung pertunjukan sehabis pentas. Ia bangun dan meracau sendiri soal keadaan dirinya sebagai aktor dan sesekali memanggil tokoh misterius Soara’H yang hingga pertunjukan selesai, tokoh misterius ini tak jua tampil. Hanya suaranya sesekali terdengar menggumam dan ikut meracau. Mungkin tokoh Soara’H akan muncul di bagian yang terpotong, namun entahlah.

Sebagai lelaki, Leonardo merasa sudah sempurna. Sebagai aktor yang seringkali mendapat peran-peran besar seperti Hamlet sampai King Lear ia ucapkan dalam racaunya sebagai ujaran kebanggan eksistensi diri. Namun dalam kehidupan nyatanya tak begitu membantunya sama sekali, bahkan membuat nasibnya menjadi buruk. Beberapa kali ia melamar wanita yang menjadi penggemar karya-karyanya dan selalu saja ditolak karena alasan dunia teater tak menjanjikan kehidupan yang nyaman dan mapan.

Beberapa kali juga ia merasa bahwa para penonton yang menggemarinya, yang membawakannya bunga, mengajaknya berfoto sama sekali tak peduli padanya.

Reumanen yang pada malam itu pun sama-sama karena alasan tertidur, ia tertidur di ruang ganti dan terpaksa jadi menginap juga masuk menemui Leonardo. Sehingga dalam pertemuan yang tidak direncanakan ini, Leonardo seorang aktor tua yang penuh romantisme masa lalu dan Reumanen seorang juru bisik yang relatif muda menjadi dua orang yang sangat akrab pada malam itu, dan saling berbagi suka duka, bahkan berbagi pelukan cinta.

Ada yang keluar dari kelaziman Chekhov. Chekhov cenderung membiarkan perasaan cinta bermain lewat symbol di alam bawah sadar. Tapi Eirene Debora justru menariknya ke permukaan. Bahkan verbal. Hasrat cinta terselubung Leonardo, justru mendapatkan ruang dada yang terbuka dalam pelukan Reumanen.

Contohnya adegan dengan dialog berikut ini: “Dia bisa menyukai dan bahkan mencintai akting saya, tetapi menolak dinikahi! Sejak hari itu, mata saya terbuka. Sekian lama menjadi aktor, bergumul dengan diri sendiri dan peran peran yang saya bawakan, menyangkal diri, masuk ke dalam liang eksplorasi yang rumit. Ternyata dianggap tak lebih dari khayalan dan mimpi kosong. Mereka mau menonton pertunjukan saya, memuji akting saya, tetapi menolak mencintai keaktoran saya. Ini tidak fair!”

Dasyatnya, keluhan suram Leonardo yang seharusnya terjadi dalam kehampaan itu, malah justru berlangsung dalam dekapan romantis Reumanen, diperankan Pearly Eirene, yang bermain cukup bagus mengimbangi kekuatan akting actor sekelas Eric MF Dajoh.

Lebih dasyat lagi ketika adegan itu berlangsung, para pemusik yang terdiri dari Monica Christine Tangapo, Tashya Lumi, Adelheid Paraeng, Inggrid Pangkey dan Jane Anastasia Angela Lumi mengirinya dengan sebuah lagu yang dipopulerkan gitaris folk song Joan Baez “Dona-dona”. Adegan ini menjadi klimaks dari total sepotong pertunjukan yang harus saya sebut menarik dan menyentuh.

Saya meneteskan airmata yang kedua di titik ini kerena terbakar haru dan diterjang misteri lagu “Dona-dona” yang saya kira, dihadirkan secara sengaja dalam pertunjukan ini untuk menghidupkan karakter Leonardo yang diperankan Eric MF Dayoh yang akan saya singgung agak serius berikut ini.

Tanpa bermaksud mengusik ruang privasi, namun saya mau menyitir pendapat pengajar akting Rusia Richard Boleslavsky yang mengatakan: “Pengalaman adalah harta terbesar seorang actor.”
Dan harus diakui, Eric MF Dayoh memerankan Leonardo dengan penuh totalitas karena berhasil mengeksplorasi modal pengalaman dalam keseharian hidupnya. Sejak detik pertama ia muncul di panggung, Eric telah “menjadi” Leonardo. Ada kesamaan riwayat hidup yang melatari Eric dan tokoh yang diperankannya.

Ada kesunyian, kehampaan, kesepian, cinta yang gagal dalam riwayat pemeran dan tokoh yang diperankannya. Ini sebabnya, penonton seperti saya –yang nota bene sahabat dekat Eric—langsung merasa drama yang tengah berlangsung adalah tentang kisah nyata Eric sendiri. Dan kehadiran lagu Dona-dona pada klimaks sepotong pertunjukan itu kian mempertegas betapa pertunjukan itu adalah biografi sang pemeran, bukan sekadar biografi tokoh yang diperankannya.

“Ternyata bung Eric sangat-sangat mencintai Donna,” kelakar dramawan Amato Assagaf yang duduk persis di samping saya malam itu.

Malam itu, saya terus terang tak mampu menimpali kelakar Amato, selain membiarkan airmata ketiga saya menetes sambil membayangkan Eric dan Donna, sahabat saya. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed