oleh

Sejarah Letusan Gunung Awu Sangihe Yang Menggemparkan Dunia

Bencana dasyat letusan Gunung Awu telah terjadi dalam beberapa kurun waktu menyebabkan lebih 8000 orang tewas, dan sempat memecahkan lempengan pulau Sangihe jadi pulau-pulau kecil.

Rikho Sidangoli (23) sedikitnya sudah 26 kali mendaki Gunung Awu, gunung dengan jenis strarovolcano yang terletak di pulau Sangihe yang menjulang setinggi 1320 meter dari permukaan laut.

“Berdiri di puncak Awu serasa berdiri di suatu negeri di atas awan nan indah dengan pemandangan yang menakjubkan,” kata dia.

Sebagaimana anak-anak muda kota Tahuna, Sangihe, Rikho lebih banyak memilih tamasya waktu senggangnya ke puncak gunung yang dalam legenda Sangihe disebutkan tercipta dari sepasang raksasa bernama Bakeng dan istrinya.

“Raksasa itu lagi tidur, jadi keadaan di dasar kawah gunung aman-aman saja saat ini. Hanya ada uap-uap putih yang muncul di celah bebatuan,” kata pemuda pecinta alam Sangihe itu kepada Barta1.com (19/11/2019) di Manado.

Namun membaca dan mengenang kembali berita tempo dulu di era Hindia-Belanda, kita akan dipertemukan dengan sejarah letusan Awu yang benar-benar mengguncang dunia, terutama lutusan pada malam 7 Juni 1892 yang mengakibatkan kehancuran besar di wilayah sekitarnya.

Menurut data dipaparkan misionaris D Brilman letusan tersebut sangat mengerikan dan dramatis dengan korban jiwa sebanyak 2000 orang.

Setelah gemuruh yang dasyat, dalam seketika waktu saja dari puncak hingga ke garis pantai berubah menjadi lautan api gas. “Lautan api itu membawa kematian dan pemusnahan total ke segala penjuru.

Dari negeri Tabukan hingga Tahuna seluruh tanaman, hutan dan tanah ditutupi abu panas yang tebal, tulisnya dalam buku “Onze Zendingsvelden De Zending op de Sangi-en Talaud-eilanden”.

Letusan ini catat Brilman, selain memuntahkan lahar panas, juga menggelontorkan 45 juta meter kubik air dari dalam kawah yang telah mencapai titik didih. Sementara hujan abu amat lebal terlontar ke pulau-pulau sekitar di antaranya mencapai pulau Siau dan Tagulandang.

Ribuan orang mati di desa-desa kaki gunung. Dan yang paling mengerikan adalah temuan di sebuah gereja desa Bahu, dimana nampak pemimpin jemaat yang berdiri memimpin ibadat dan anggota jemaat yang duduk di bangku-bangku telah terbakar dan saat disentuh langsung hancur menjadi abu.

Peristiwa letusan gunung Awu ketika itu diberitakan luas media massa di Hindia-Belanda dan bahkan juga media massa Belanda saat itu.

Koran Java-Bode, pada bulan Juni 1892 menerima telegram dari Makassar tentang kabar duka dari kepulauan Sangihe, kepulauan di sebelah ujung utara Pulau Sulawesi yang saat itu masuk ke dalam residentie Menado.

Java-Bode mengulas kabar mengenai bencana alam letusan Gunung Awu yang disebutnya sebagai letusan yang dahsyat menghancurkan rumah-rumah penduduk dan juga lahan perkebunan kelapa yang menjadi salah satu sumber mata pencaharian utama masyarakat di sana.

Kapal uap “Hecuba” milik perusahaan Inggris Ocean S.S. Company yang sedang berada di Menado saat itu pun segera disewa pihak terkait dan diberangkatkan ke lokasi bencana dengan membawa regu penolong.

Letusan besar gunung Awu lainnya terjadi pada tahun-tahun 1711, 1812, 1856, 1892 and 1966 yang menyebabkan lebih 8000 orang tewas. (*)

Penulis: Iverdixon Tinungki

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed