oleh

7 Desa di Talaud Belum ‘Merdeka’ dan Memprihatinkan

Kecamatan Tampan’Amma, Kabupaten Kepulauan Talaud, sebuah kecamatan yang dimekarkan dari kecamatan induknya, Kecamatan Rainis pada November 2004 silam ini. Masih memiliki setumpuk cerita yang belum memasuki babak akhir. Diantaranya yaitu cerita tentang kata ‘merdeka’ yang seakan menjauh dari hiruk–pikuk aktifitas masyarakat di 11 Desa yang ada.

Kondisi jalan nasional yang menghubungkan 11 desa di Kecamatan Tampan’Amma, serta jembatan yang berada dibeberapa titik sangat yang memprihatinkan. Totalnya ada tujuh desa, dari Desa Riung hingga Desa Ganalo sampai saat ini belum merasakan sentuhan jalan beraspal sejak dahulu.

Ditambah lagi dengan beberapa buah jembatan yang sudah tidak layak lagi digunakan karena hanya terbuat dari batang kelapa dan sudah rusak parah.

Tahun 2017, Pemkab Kepulauan Talaud bersama dengan DPRD sempat memberi stimulus dari pemerintah pusat dengan menganggarkan melalui APBD 2017 dengan plot anggaran Rp 13 miliar yang terbagi Rp 4 miliar untuk normalisasi jalan raya Desa Tuabatu–Ammat, Rp 6 miliar untuk normalisasi jalan raya Gemeh dan Rp 3 miliar untuk pembangunan jembatan beli di Kecamatan Tampan’Amma dan Gemeh mengingat akses jalan raya sangat dibutuhkan oleh masyarakat, karena merupakan satu unsur dalam meningkatkan perekonomian masyarakat.

Tetapi, sejak menyandang status jalan nasional, sampai hari ini jalan aspal masih sebatas angan–angan karena belum terealisasi.

Camat Memutar Otak

Camat Tampan’amma, Seprianus Mailuas SH pada Jumat pekan lalu terpaksa menggalang kekuatan masyarakat di 11 Desa tersebut untuk malakukan kerja bakti membangun kembali jembatan batang kelapa dibeberapa titik yang berada di Desa Dapalan dan Dapihe agar kendaraan bisa kembali melintasi jalur tersebut.

Hal ini juga dilakukan karena semenjak jalan nasional tak bisa lagi dilewati karena kondisi jalan apalagi jembatan yang rapuh, semua jenis kendaraan terpaksa melintasi jalan yang berada di tengah kedua desa tersebut. Akhirnya, membuat permukaan jalan di tengah kedua desa tersebut nampak seperti jalan menuju kebun.

Apalagi kendaraan pengangkut material proyek yang berbobot besar ikut melintasi juga di jalan ini. Berlubang dan berdebuh saat musim panas. Berubah menjadi kubangan air ketika musim hujan tiba.

Beruntung saja, Camat yang belum lama menjabat ini memutar otak dan menginisiasi pelaksanaan kerja bakti bersama ratusan warga dari 11 desa sebagai satu upaya untuk membuka kembali akses di jalan nasional yang menurut sebagian warga yaitu jalan yang terlupakan oleh pemerintah pusat ini.

Dengan bermodalkan semangat persatuan seluruh komponen masyarakat, jembatan yang dulunya tak bisa dilintasi oleh kendaraan ini akhirnya berdiri kembali.

“Kalau kita hanya menunggu dan menunggu, maka kondisi jalan di tengah Desa Dapalan dan Dapihe akan semakin rusak. Untuk itu kami mencoba membuka kembali akses di jalan nasional lewat pembangunan kemabli jembatan batang kelapa yang sudah rapuh agar bisa dilewati kembali,” ujarnya.

“Jembatan batang kelapa sudah selesai dibangun oleh. Untuk bagian jalan yang berlubang, kita imbun. Kalau kita hanya menunggu dan menunggu, maka akses jalan ini bisa terputus. Semua ini bisa terlaksana karena persatuan yang kuat dari masyarakat di sebelas desa yang ada,” ungkap Mailuas di tengah ratusan warga yang melaksanakan kerja bakti.

Jaringan Telekomunikasi Ibarat Emas

Tak hanya itu, Persoalan jaringan telekomunikasi ibarat mencari emas didalam perut bumi. Berdesakan, antrian dan terkadang merasa kecewa.

Hal ini terlihat jelas saat warga masyarakat ingin berkomunikasi dengan mengunakan telepon genggam karena akses jaringan yang hanya berada di beberapa titik dan tak selalu jaringan tersebut berkwalitas baik. Bahkan terkadang jaringan tersebut hilang terbawa angin, apalagi kalau listrik padam. Sama halnya dengan akses internet melalui Wifi desa, jaringannya tak selalu normal, bahkan terkadang hilang total.

Sandy Duitan, salah seorang warga Desa Dapihe menerangkan, jaringan internet yang tersedia di Desanya yaitu wifi desa, namun jaringannya tidak selalu normal. Tetapi, jaringan internet yang ada terkadang lelet dan terkadang mati total.

“Kalau jaringan internet ada wifi desa. Tetapi, tidak setiap saat jaringannya normal. Kadang tidak bisa mengakses internet. Apalagi kalau hujan dan angin kencang, jaringan internet hilang total,” tutur Sandy.

Sementara itu, Yusak Bentian warga Desa Dapalan berujar, jaringan untuk menelpon dan SMS saja sulit apalagi jaringan internet. “Jangankan jaringan internet. Susah sekali untuk menelpon saudara di Manado atau ditempat lain. Soalnya, tidak disemua tempat bisa mendapatkan signal.kalaupun sudah mendapat signal, HP-nya jangan digerak-gerakan karena signalnya akan hilang. Apalagi kalau listrik padam, signal hilang total,” katanya.

Terus Berharap

Kembali warga masyarakat di Kecamatan Tampan’Amma menggantungkan harapannya kepada Pemerintah Pusat agar bisa mendengar dan menyelesaikan persoalan yang sejak dahulu hingga saat ini belum teratasi di beberapa desa ini.

“Harapannya, semoga pemeritah pusat bisa mendengar dan menindaklanjuti keluhan kami agar kedepannya akses jalan dan jembatan bisa memperlancar aktifitas masyarakat dalam mengembangkan perekonomian,” kata Rendy Taalempungan, warga lainnya.

Harapan yang sama pula diucapkan Dedi Bule warga Desa Ganalo. Ia berharap, persoalan ini bisa diselesaikan pemerintah. “Tolong perhatikan pembangunan jalan nasional dan jembatan,” ucap Bule.

Desa di Kecamatan Tampan’amma belum di aspal:

  1. Desa Ganalo
  2. Desa Ammat
  3. Desa Ammat Selatan
  4. Desa Dapalan (ibukota kecamatan)
  5. Desa Dapihe
  6. Desa Riung Utara
  7. Desa Riung

Peliput: Evan Taarae

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed