oleh

Belajar dari Teladan Tokoh Pemekaran Sitaro yang Dipanggil Tuhan

Manado, Barta1.com – Ratusan pelayat mengiringi prosesi ibadah hingga pemakaman Penatua Wempriet Jacobs di pekuburan milik GMIM Yarden Singkil Kampung Islam, Kamis (14/11/2019).

Tak ada yang tak sedih. Apalagi sahabat-sahabatnya yang mayoritas pelayan meratapi kepergian Wakil Ketua Badan Pekerja Wilayah Manado Utara 1 tersebut. Jalan panjang perjalanan pelayanan sungguh luar biasa.

Wempriet menjadi Ketua Pemuda GMIM Yarden Singkil Kampung Islam pertama pasca pemekaran dengan GMIM Betani Sindulang Singkil di usia 17 tahun atau masih duduk di Kelas 2 SMA Agape Manado.

Dari situlah kiprah pelayanannya terus ditapaki. Menjadi Penatua Kolom, Ketua PKB Jemaat hingga silih berganti memegang amanah sebagai Wakil Ketua dan Sekretaris Jemaat. “38 tahun almarhum menjalani pelayanan. Sungguh totalitas yang benar-benar memberi diri untuk Tuhan. Di akhir hayatnya pun Wempriet masih bertugas sebagai Penatua Kolom 20 dan Wakil Ketua BPMJ,” kata Sekretaris BPMJ GMIM Yarden Singkil Kampung Islam, Pnt Elisa Umar.

Sikap dan sepak terjang almarhum patut diteladani. “Saya tahu beliau juga termasuk paling vokal dalam rapat-rapat yang digelar Sinode GMIM, terutama menyangkut pelayanan yang ada di Wilayah Manado Utara 1,” ujar Wakil Ketua Bidang Hubungan Kerja Sinode GMIM, Pdt Ventje Talumepa saat menjadi khadim dalam ibadah pemakaman.

Tak sampai di situ, ayah dari Nikita dan Brayen ini dalam kiprah organisasi kemasyarakatan cukup mengesankan. Dia merupakan salah satu tokoh lahirnya pemekaran Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro). “Iya, atas nama Pemkab Sitaro merasa kehilangan sosok panutan, cendikiawan dan tokoh pemekaran Sitaro,” tutur Sekretaris Kecamatan Biaro, Golfinger Kalensang ketika membawa sambutan mewakili Pemkab Sitaro.

Serangan Jantung

Kabar duka datang begitu cepat. Selasa (12/11/2019) sekitar pukul 17.00 WITA, Empi, begitu sapaan akrab mantan guru SMP Negeri 5 Manado ini mengaku seperti ada sakit di dadanya. “Cuma maag stow ini. Nda apa-apa, nda perlu bawa ke rumah sakit,” cerita Nikita Jacobs, anak tertua.

Namun tetangga yang mayoritas anggota kolom bersih keras membawanya ke Rumah Sakit Wolter Monginsidi Teling. Dalam perjalanan ke rumah sakit fisik almarhum mulai drop. Sekitar pukul 18.00 WITA masuk Unit Gawat Darurat dan menghembus nafas terakhir. “Papa memang ada riwayat penyakit gula. Dan itu salah satu penyebab serangan jantung. Kami sayang papa tapi Tuhan lebih sayang,” kata Nikita.

Almarhum menghembuskan nafasnya di usia ke-58 tahun. Semua orang pun tak percaya ketika mendengar kabar duka tersebut. “Jujur saya belum percaya ketika mendengar informasi Pnt Wempriet meninggal. Informasi pertama beredar di grup WA Pelayan, bahwa Pnt Wempriet dirawat di UGD dan mohon dukungan doa semua pelayan. Tapi beberapa menit kemudian kabar duka itu datang,” ujar Pnt Helpi Poluakan, Pelayan Khusus Kolom 12 GMIM Yarden Singkil Kampung Islam.

Di akhir hayatnya dia masih tercatat sebagai guru di SMK Discovery Manado. Bahkan mengabdi di sekolah tersebut sejak sekolah itu berdiri yakni selama 13 tahun.

Peliput: Agustinus Hari

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed