oleh

Ada Pertempuran 10 November di SMA Negeri 1 Bitung

Bitung, Barta1.com – Teater memang media yang tepat untuk pendidikan. Paling tidak untuk menyemaikan benih-benih nasionalisme dan patriotisme dalam jiwa para pelajar.

Seperti yang dilakukan di SMA Negeri 1 (SMANTU) Bitung. Senin (11/11/19). Alkisah, seusai upacara bendera, Kepala Sekolah (Kepsek) SMANTU Bitung, Fonny Tumundo SPd MPd, meminta ribuan siswanya untuk tidak segera masuk ke kelas, tapi menonton pementasan teater yang bertema Hari Pahlawan.

Begitulah. Di hadapan ribuan siswa dan puluhan guru, pementasan teater yang merefleksikan pertempuran 10 November 1945 di Surabaya itu dihelat oleh Sanggar Cakrawala milik sekolah yang berlokasi di Jalan Wolter Mongisidi Kelurahan Girian Weru II.

Di bawah arahan sutradara Jilbert Damopolii bersama asisten sutradara Novena Moningka, puluhan pemain tampil dengan gerak teaterikal yang memukau. Ada yang berperan selaku pejuang arek-arek Surabaya, ada yang melakoni peran serdadu-serdadu Inggris diboncengi Belanda (NICA), dan rakyat.

Nuansa historis heroik kian terasa dengan terdengarnya pidato berapi-api Bung Tomo, melalui tata musik di balik ‘pentas’ terbuka.

Suasana haru pun tercipta ketika para pejuang gugur di medan laga. Apalagi adegan itu diback-up dengan pembacaan puisi perjuangan yang dilakukan oleh Angeline Matantu, siswi Kelas XI IPA-1.

Tampilan anak-anak Sanggar Cakrawala itu tak ayal disambut gembira Jendrico Sastrapribadi Galatang. Jendrico, yang secara genealogis mewarisi ‘darah biru” pendiri Sanggar Tangkasi Kota Bitung layak bergembira. Maklum, sejauh ini dia bertugas menggarap Sanggar Cakrawala untuk hajatan Festival Teater Remaja Sanggar Tangkasi.

Jendrico pun kagum dan memuji kemandirian Jilbert dan Novena dalam menggarap pementasan yang berdurasi sekira sepuluh menit itu.

“Jujur, saya tidak mengarahkan mereka. Lagian, saya tidak tahu kalau kemarin dulu anak-anak itu spontan berlatih dan langsung tampil pada momen upacara bendera peringatan Hari Pahlawan tadi,” katanya.

Tapi Jendrico memaklumi kemandirian anak-anak binaannya itu. “Ya, maklum Jilbert dan Novena itu kan aktor-aktris terbaik. Jadi pantaslah mereka menggarap sanggarnya untuk pementasan intern,” pungkas Jendrico yang akrab disapa Opo itu.

Peliput: Albert P Nalang

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed