oleh

Mengapresiasi “Museum” Karya Iverdixon Tinungki pada Pentas Produksi MTH Kreatif

-Fokus, Opini-1.183 views

Catatan: Achi Breyvi Talanggai

Sabtu, 09 November 2019, sebelum hujan turun, di Aula Gedung Mapalus Kantor Gubernur Sulawesi Utara, MTH (Manado Theater Holic)-Kreatif menyajikan Museum. Ratusan anak muda Sulut mendatangi Museum dalam helatan Pentas Produksi yang pertama oleh MTH. Disutradarai oleh Richard Salensehe (opo), pertunjukkan Teater malam itu nyaris sempurna.

Lakon Museum karya Iverdixon Tinungki memang merupakan salah satu karya yang fenomenal. Drama ini sempat memenangkan festival Teater Pelajar Nasional di Jakarta beberapa tahun silam. Tapi kita tidak akan membahas kemenangan itu di sini, melainkan merayakan kemenangan warga Teater Sulut yang bisa menyaksikan pertunjukkan teater di awal November dengan nyaman, dalam Gedung ber-ac milik pemerintah, dan alamak, gratis! tidak disewa, makase.

Baiklah, sekarang kita bicara soal pementasan. Ibarat table manner, MTH Kreatif menawarkan sebuah hidangan appetizer (menu pembuka) lewat pembacaan puisi yang ditampilkan Aldes Sambalao, rasanya enak saja, namun terlalu biasa untuk penampilan seorang Aldes. Ternyata ini strategi, ketika pementasan teater dimulai, saya sadar, bahwa kelompok ini menyajikan Main Course (menu utama) yang lezat dan bergizi. Aldes, adalah tahapan pengolahan emosi penonton untuk siap menerima gempuran makna. Black out, dan Museum dibuka.

Teknik entrance dengan musik yang dramatis langsung mengantar penonton masuk ke dalam ilusi Museum. Nyanyian Kantata yang diperankan oleh Debora Maengko begitu bergetar. Tik tik tik, bunyi hujan di atas genteng, eh maaf, maksudnya bunyi mesin tik, dan ibarat jaringan internet, kini penonton terhubung. Bagaimana tidak, komposisi tata panggung yang simbolik langsung menjawab penasaran penonton ketika bunyi mesin tik dimainkan Kantata yang tampak agung menghadap frontal ke penonton.

Kantata yang disimbolkan sebagai penyair membawa penonton masuk dan terus terjaga di belantara kata, tepat ketika ia mendendangkan dialog “seperti malam yang kehilangan matanya.” Saya terserap ke dalam Museum. Di dalamnya berjumpa dan seolah ditarik ke Samudera, karakter yang diperankan oleh Christy Tinungki. “Laut yang membentur-bentur tubuhku adalah wajah-wajah beringas yang menikam jiwa para betina sesaat sebelum mereka mencampak tubuhnya.” Dialog yang ia sampaikan begitu mengerikan dan menyayat hati, mengingatkan kasus Marsinah. Saya dibawanya masuk pada Monolog karya Ratna Sarumpaet. Detail dan perih.

Iverdixon sang penulis, benar-benar gila. Ia punya segudang diksi yang puitis dan penuh perenungan. Tak heran, karya-karya dramanya selalu diburu untuk dipentaskan. Christy malam itu berakting penuh penghayatan, kepedihan dan dendam karakter Samudera yang diperankannya tersampaikan. Kelenturan tubuhnya yang simbolik penuh magis, meski kostum hitamnya sebagai simbol berkabung tidak terlalu dipaksakan hingga ia di sisi lain tidak terlihat sebagai patung.

Meski begitu, ketika ia bermain, semacam ada energi yang dikirim Christy ke penonton, lalu ditariknya lagi seperti magnet, mengoyak-ngoyak hati. Ia bermain terlalu menonjol, terlalu keren hingga sialnya, menurut saya ia melampaui Kantata sebagai pengantar plot cerita. Namun bukan berarti Kantata tidak bermain prima, ia maksimal untuk sebuah karakter, hanya saja, letak cahaya terlalu jauh darinya, juga make up tidak terlalu kuat menonjolkan garis-garis karakternya, hingga beberapa detail ekspresi Kantata yang harusnya kuat bila tersorot cahaya, malah memudar.

Di dalam Museum, ratusan penonton berjumpa dengan Lakon, tokoh yang diperankan oleh Stenly Entjarau. “Namaku Lakon, ini waktu ke 310980 jam sejak aku terkurung di ruangan museum ini, atau sama dengan 25915 hari, 852 bulan, 71 tahun sejak aku dipajang sebagai patung! Ya, sebagai Patung!.” Ia mengeluh, tentang betapa tersiksa dan sial hidupnya. Permainan angka yang merujuk pada rentang waktu telah membuka imajinasi penonton pada sebuah jam raksasa. Di dalamnya hidup peradaban yang berputar sebegitu cepatnya hingga membawa saya masuk pada imajinasi detik-detik sebagai manusia yang lahir dan mati.

Kehidupan dan kematian dalam karakter Lakon benar-benar dipertimbangkan matang oleh pengarang. Nama Lakon menggambarkan begitu banyaknya sosok manusia dan kisah yang hidup dalam peradaban. Hanya saja, kali ini seorang petani menjadi media karakter penyampaian pesan pengarang. Petani yang sederhana, justru diserang dengan kecurigaan penguasa yang berakhir ditangkap dan disiksa. Sebait sejarah kelam bangsa ini tersirat ke dalam adegan itu, yang dikemas rapi oleh Opo pada momentum jelang ditangkapnya tokoh Lakon.

Bunyi derap sepatu, penangkapan, dan dilemparnya Lakon oleh aparat membawa penonton pada ingatan periodisasi sejarah ketika banyak petani ditangkap dan dieksekusi dengan tuduhan Komunis. Saya sendiri masuk pada ingatan adegan difilm Gie.

Saya merasa apa yang ingin disampaikan pengarang dalam drama ini adalah persoalan Poskolonial. Pengarang rupanya ingin menunjukkan bentuk-bentuk tindakan feodal yang tertinggal sebagai warisan sejarah penjajahan kolonial terhadap bangsa ini, yang terus dipertontonkan kekuasaan. Penindasan pasca-kemerdekaan memang marak terjadi, berbagai macam dinamika kekerasan lahir sejak era Soekarno hingga puncaknya Soeharto bahkan tidak berlebihan bila kita akui, sampai saat ini masih saja terjadi.

Sikap pengusa yang senang mencuci tangan nampak jelas dalam adegan ketika tokoh Penguasa yang diperankan oleh Seftino Sambalao membalas dialog ke tokoh Lakon, katanya “aku tak bersalah! Aku tak bersalah atas apa yang kau alami! Aku tak bersalah!” ketakutan dan rasa bersalah justru tersirat dalam senyum karakter Penguasa malam itu di Aula Mapalus. Ironis. Di situ, Sandro (sapaan akrbanya) berhasil memainkan sisi humanis seorang penguasa. Ketakutan yang tersirat.

Sandro sapaan akrabnya, memainkan Penguasa dengan kemampuan olah tubuhnya. Aktingnya bertumpuh pada Handproperty yang terus dipegangnya, hingga ia nampak komunikatif. Kursi yang terus ia bawa adalah simbol kekuasaaan yang gamblang nan frontal, dan hal inilah yang rasanya ingin ditekankan Sutradara sebagai sebuah perspektif, bagimana kekuasaan adalah barang mahal yang diidam-idamkan banyak orang.

Opo memang jeli melihat kemampuan keaktoran Sandro ada pada permainan gestur, sebab drama ini membutuhkan aktor yang demikian, dan ia memainkannya rapih, meski beberapa kali terasa kurang dalam pengolahan vokal dan ekspresi. Entah apakah ini pengaruh penataan make up dan cahaya di panggung yang memang terbatas, atau apakah magis Samudera (Christy) terlalu kuat hingga keaktorannya menjadi pembanding yang sulit dikejar para aktor di atas panggung. Menurut saya, Christy tak bisa disalahkan karena bermain terlalu keren, bukan begitu? Iya dong ah. Atau energi Sandro yang bertumpuh pada simbol tubuh Penguasa terlalu besar, hingga kecolongan pada wilayah kontrol vokal, atau apakah gegara akustik ruangan yang tidak terlalu bagus? Tapi saya duduk paling depan.

Tak hanya Sandro sebenarnya, Stenly sebagai Lakon juga beberapa kali melakukan hal yang sama. Di beberapa bagian ia nyaris kehilangan vokalnya. Kelihatan secara stamina, ia tidak bermain fit. Keaktoran Lakon memang sangat riskan, sebab Opo menempatkannya pada adegan-adegan yang berat dan menguras energi. Ia dilempar (kasiang katu) dan bahkan berperang bersama penari kawasaran sebagai simbol perjuangan sejarah. Stenly bermain lincah, dan karenanya membuat panggung jadi seimbang secara komposisi. Sebab di sebelah ujung panggung, Samudera dalam diamnya menguras energi penonton.

Keempat tokoh, Kantata, Samudera, Lakon dan Penguasa bukanlah wajah baru di Teater Sulut. Wajah-wajah ini sering menghiasi festival dan meraih aktor maupun aktris terbaik. Kemampuan akting mereka tidak perlu diragukan lagi, sebab pada dasarnya mereka memainkan permainan yang apik dan penuh kontrol, tidak sembarangan, dan tidak dalam kondisi trens. Terlihat beberapa kerjasama pemain dalam mengolah adegan yang dikonsep sutradara berhasil. Pada pembukaan adegan para pemain bergerak pelan, selaras dengan musik, dan begitu menghanyutkan. Detail-detail estetika keaktoran sangat diperhatikan sutradara.

Semisalkan munculnya sosok-sosok yang menggerogoti Samudera, sebuah adegan yang artistik. Kertas yang diketik Kantata mengitari museum mengikat karakter satu dengan lainnya. Tombak yang dilempar penari kawasaran kepada Lakon. Posisi Penguasa yang lebih rendah dibanding pengisah (Kantata) begitu kuat memberi kesan kekuasaan tidak sepenuhnya berkuasa dan tidak selamanya di atas. Ada yang lebih berkuasa, yakni kata-kata yang dimiliki penyair.

Para seniman sebagai pengawal peradaban, ditempatkan lebih tinggi dan berhak mengeja kisah-kisah, mengkritik atau bahkan menciptakannya. Para pencuri yang muncul menjelang akhir pertunjukkan membawa warna baru yang ceria namun penuh tragedi. Pencuri dibagi pada tiga karakter pemeranan, ada yang tampak tolol, melambai dan konyol.

Karakter-karakter ini sangat berhasil sejak kemunculannya yang misterius dari bangku penonton. Aparat yang kompak melempar Lakon, bergerak mengikuti irama musik menghasilkan perpaduan adegan yang selaras dengan konsep pematungan. Para aktor, memainkan tugasnya dengan maksimal sesuai kemampuan mereka.

Opo sebagai sutradara menjaga tempo pertunjukkan tetap terjaga, rapat. Nah, saya menyinggung penari kawasaran. Pada adegan pembuka, ketika cahaya muncul, semacam ada sesuatu yang mengganjal. Nanti pada pertengahan pertunjukkan mata makin terganggu dengan sosok kedua patung. Kostum merah menyala, dibandingkan kostum para pemain utama, kedua penari tersebut jadi kontras dan terasa tidak selaras dalam estetika warna kostum. Mereka mencolok, padahal tidak terlalu simbolik.

Tanpa kehadiran mereka, pertunjukkan tetap akan terjaga ritmenya. Justru kedua patung aparat berdiri membelakangi penonton dan sembunyi di balik pilar yang sebaiknya nampak. Secara komposisi gestur dan kostum (body painting) mereka begitu estetis, sayang sekali tidak nampak sepenuhnya, padahal bila kedua patung tersebut muncul, akan membentuk proyeksi terhadap betapa kuatnya feodalisme dalam bangsa ini dan unsur Poskolonial yang terkandung dalam drama semakin nyata. Ini mungkin kecolongan? Terasa ada upaya melakukan pendekatan etnis secara empirik kepada penonton. Barangkali ia bermaksud membuka perspektif Minahasa dalam melawan kolonialisme, namun serasa kurang tepat. Ditambah lagi kedua aktor yang menjadi patung kawasaran bermain dengan penghayatan yang tidak seimbang.

Sejak awal hingga pertengahan, saya berusaha mencari-cari warna Opo dalam penyutradaraan, konsep penyutradaraannya jelas, simbolik. Hanya saja semacam ada sesuatu yang hilang, karakter penyutradaraannya yang tengil dan absurd dalam mengemas adegan-adegan komedi sepertinya tidak nampak. Memang pengaruh dramaturgi yang begitu ketat dan frontal serta penuh kritik sangat terasa. Hingga akhirnya, menjelang usai pertunjukkan, saya baru merasa, ini karya penyutradaraan Richard Salensehe.

Apalagi ketika masuknya para pencuri ke Museum. Penonton pecah. Warna opo kelihatan. Para koruptor yang disimbolkan dalam karakter Pencuri yang dimainkan Ando dkk memberikan hiburan bagi penonton. Itu yang ditunggu penonton yang kekeringan setelah lama berjalan di jalan tandus, menyusuri belantara kata dan ketragisan kisah-kisah Samudera dan Lakon dalam Museum. Mereka butuh air, butuh ketragisan yang patut ditertawakan, dan Sutradara memberikannya, tepat.

Ketegangan yang panjang, kepedihan, dan kerasnya kritikan dicairkan oleh adegan-adegan kocak yang dimunculkan menjelang ending. Saya menanti tiga unsur teater, tentang mendidik, mengkritik, dan menghibur, dan akhirnya sebagai sebuah sajian, Museum melengkapi itu. Penonton sedih, dibuat marah, kasihan, lalu akhirnya tertawa dengan konsep komedi satir yang ditawarkan di babak terakhir pertunjukkan. Tetap saja, komedi menjadi tragedi.

“tapi para lelaki itu merampas ketidakberdayaanku seiris demi seiris dan melemparkannya bagai seonggok daging yang diserbu segerombolan serigala liar ?” Kantata.

“aku tak dapat menghentikannya, tapi ingat, kata-kata adalah peluru, kata-kata adalah senjata. Kata-kata adalah pedang yang memiliki seribu mata. Ia bisa menghujam kemana saja.” Penguasa.

Iverdixon tinungki, memang sang penambang kata-kata. Ia mengolah kata-kata ke dalam Drama maupun puisi menjadi emas sekaligus pedang. Dua dialog di atas dalam Museum perlu ditinjau unsur-unsur Poskolonial dan pengaruh Sastrawan dalam Peradaban. Pramoedya Ananta Toer, contohnya, salah satu sastrawan dengan resistensinya melawan kolonialisme. Yah, rasanya bila harus mengulas panjang, melalui teori pengkajian drama, Museum karya Iverdixon Tinungki akan saya kupas panjang lebar, tapi secara singkat saya hanya merayakan kebahagiaan bersama, dan memberikan sedikit catatan apresiasi pertunjukkan teater kepada kawan-kawan MTH Kreatif.

Pementasan Museum yang disutradarai Opo sukses secara keseluruhan. Beberapa catatan teknis soal cahaya, make up, musik dan kostum memang lumrah bagi pertunjukkan teater. Tidak dipersoalkan. Begitu juga dengan penataan panggung yang perlu banyak mendapat kompromi di Gedung yang bukan dikhususkan untuk pementasan teater.

Gedung pertunjukkan memang mempengaruhi capaian estetika sebuah kelompok, namun dengan keterbatasan yang ada, MTH Kreatif adalah kelompok yang dewasa dan cerdik mengakali kekurangan fasilitas yang disiapkan. Akhirnya, atau setidaknya, terima kasih untuk Pemprov Sulut yang bersedia memberi ruang untuk teater dalam mengawal pemerintahan dalam karya. Semoga lekas-lekas dibangun

Gedung pertunjukkan untuk warga teater Sulawesi Utara, biar perayaan peristiwa teater sebagai ruh peradaban akan lebih megah dan meriah. Terus berkarya kawan-kawan MTH Kreatif, kita kawal peradaban. Salam kreatif! Salam seni!

Manado, 10 November, 2019.
Mabes ISBIMA, Pakowa.

(Penulis adalah pegiat teater Sulawesi Utara)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed