oleh

Cara SD Negeri 12 Manado Memacu Kecerdasan Majemuk Siswa

Puluhan siswa kelas IV dari SD Negeri 11 Tuminting meluber di Pasar Tuminting, Kota Manado, Kamis (07/11/2019) pagi. Selain belanja, bocah-bocah berseragam putih merah ini juga mencatat. Interaksi mereka dengan pedagang ternyata tak kalah dengan orang dewasa.

Beberapa siswa bahkan tak ragu menawar bahan pokok yang hendak dibeli. Setelah mengetahui harga barito, misalnya, langsung dituangkan dalam catatan di buku yang mereka bawa.

“Senang sekali bisa belajar dengan cara seperti ini,” kata salah satu siswi, Deandra Makasala (12) pada Barta1.

Riani Wuisan, guru, menyebut proses belajar-mengajar di lapangan kali ini terutama masih dalam rangkaian memperingati Hari Anak Nasional.

“Harapanya pembelajaran juga harus dilakukan di lapangan agar setiap siswa bisa berinteraksi langsung dengan keadaan dan situasi yang ada berkiatan dengan pembelajaran,” kata dia.

Praktik bidang studi ekonomi ini, siswa dibagi per kelompok. Ada nelayan, petani, guru dan pedagang. Ada kelompok yang menjadi konsumen, juga menjadi produsen. Lewat proses tersebut, siswa bisa berinteraksi langsung dengan kehidupan di dunia nyata, alih-alih ‘terkurung’ dalam ruangan kelas.

Sejatinya apa dipraktikan pengajar SDN 11 ke siswa bisa disebut memacu kecerdasan majemuk anak. Di Indonesia sistem belajar seperti ini telah dilakukan oleh Taman Kreativitas Anak Indonesia yang diasuh psikolog Rose Mini. Lembaga itu lebih banyak menekankan ke orangtua tentang konsep kecerdasan majemuk. Lewat sistem itu, siswa dibekali keterampilan hidup dan cara berpikir kreatif.

Sehingga praktik seperti siswa belanja di pasar tradisional hingga supermarket, mencoba beraga, jenis transportasi dan interaksi dengan pedagang adalah pilihan dari pada memberatkan siswa dengan pekerjaan rumah. Juga mengukur berat badan orangtua, hingga menganalisis binatang dengan kaca pembesar. Secara langsung logika dan kemampuan matematika siswa terasah dalam sesi belajar model begitu.

Dilansir Tirto, Taman Kreativitas Anak Indonesia juga tidak menekankan pada sistem peringkat. Seperti kata Rose Mini, perankingan tak selalu membuat anak sukses di masa depan. Dengan memahami kecerdasan majemuk, orangtua bisa tahu setiap anak memiliki kecerdasan berbeda.

Kecerdasan majemuk sendiri pertama kali diperkenalkan H Gardner pada “Intelligence Reframed: Multiple Intelligences” (1983). Ia membagi model kecerdasan menjadi sembilan bentuk. Pertama, kecerdasan logika matematika yang meliputi kemampuan berhitung, memahami proposisi dan hipotesis, serta menyelesaikan persoalan matematika.

Tipe kecerdasan kedua menyasar kemampuan linguistik yang meliputi cara berpikir dan penggunaan bahasa. Kecerdasan spasial adalah jenis kecerdasan lain, dimana individu dengan tipe ini punya kemampuan berpikir tiga dimensi, yaitu daya khayal ruang bidang, penalaran spasial, manipulasi gambar, keterampilan grafis dan seni. Yang keempat ada kecerdasan musik, yakni kapasitas seseorang membedakan nada, ritme, dan timbre.

Jenis kecerdasan kelima menyangkut kinestetik, biasanya, anak dengan kecerdasan ini cenderung lebih aktif bergerak, menonjol di olahraga atau tari. Tipe keenam adalah kecerdasan naturalis, yakni ketika anak peka dan menyayangi alam, manusia, hewan, dan tumbuhan. Kecerdasan keenam dimiliki oleh individu yang lihai berinteraksi, disebut juga sebagai kecerdasan interpersonal.

Memahami ini, sistem perankingan yang dipaksakan orangtua pada anak akan menjadi pola pendidikan usang. Anak yang dipaksa harus selalu ranking teratas di kelas lewat beragam kursus privat nyatanya bisa membuat mereka stres. Orangtua sepatutnya peka dengan kemampuan majemuk anak. (*)

Peliput: Meikel Pontolondo

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed