oleh

SANG GEMBALA, Naskah Drama Natal Durasi 15 Menit

SANG GEMBALA
Karya: Iverdixon Tinungki

SEBUAH RUMAH SEDERHANA BERCORAK ISRAEL MASA LALU, MILIK ABIGAIL DAN SUAMINYA, EFRAIM. MEREKA PETERNAK DOMBA. DI SUATUA HARI JELANG KELAHIRAN YESUS. ABIGAIL SEDANG MENGHITUNG UANG, DAN MEMERIKSA BARANG BERHARGA MILIKNYA DI SEBUAH MEJA. SESAAT KEMUDIAN MASUK EFRAIM, SUAMINYA, BARU KEMBALI SETELAH MENEMPUH PERJALANAN JAUH.

Abigail:
Bagaimana kabar dari Jerusalem. Apakah kamu bertemu dengan para pembeli itu?

Efraim:
Tidak! Di tengah jalan aku bertemu tiga orang Majusi. Mereka orang-orang dari timur. Mereka sedang menuju Betlehem untuk bertemu Mesias yang akan lahir.

Abigail:
Mesias?

Efraim:
Ya. Mesias yang dinabuatkan nabiah Mikha itu.

Abigail:
Jadi kamu tidak melanjutkan perjalanan ke Jerusalem setelah mendengar kabar tentang Mesias itu, Efraim?

Efraim:
Iya. Aku harus menyampaikan kabar gembira ini juga padamu Abigail. Kita berdua harus berangkat hari ini juga ke Betlehem. Tempatnya tidak jauh dari sini.

Abigail:
Efraim, bertemu dengan para pedagang di kota itu lebih penting dari pada kita pergi ke Betlehem sekadar menyambut kelahiran Sang Mesias. Domba-domba kita yang tambun itu harus segera dijual.
Apalagi simpanan bulu domba kita juga sudah cukup banyak.

Efraim:
Semua itu bisa ditunda Abigail.

Abigail:
Ditunda? Para pedagang besar itu selalu tidak menetap di Jerusalem Efraim. Mereka berkeliling dari satu kota ke kota yang lain. Kalau kau menunda bertemu dengan mereka hari ini, maka kita harus menunggu lagi kedatangan mereka di waktu lain. Kalau domba-domba kita itu keburu kurus, gimana Efraim?

Efraim:
Tidak Abigail. Ribuan tahun seluruh Israel menantikan kabar suka cita ini. Leluhur kita bahkan menanti sepanjang hidup mereka. Dan kita cukup beruntung, Sang Mesias lahir di saat kita masih hidup.

Abigail:
Dalam sejarah, banyak orang mengaku mesias, padahal mereka adalah mesias palsu. Apakah kau masih percaya dengan dengan kabar itu?

Efraim:
Para Majusi tak akan berdusta Abigail. Aku juga telah melihat sinar bintang Betlehem. Allah telah memberi tanda kelahiran PutraNya. Bagaimana aku tak percaya kepada Allah?

Abigail:
Para pedagang itu akan membatalkan traksaksi dengan kita Efraim.

Efraim:
Berhentilah menghitung dirham, emas dan semua perhiasan itu Abigail. Bukankah Firman telah berkata: mereka yang menyayangi harta akan kehilangan hartanya.

Abigail:
Kalau kita ke Betlehem, lalu bagaimana dengan dengan domba-domba di kandang kita itu? Bagaimana kalau ada pencuri datang mengambilnya?

Efraim:
Tuhan akan menjaga domba-domba itu. Ayo berkemas!

Abigail:
Tidak! Engkau telah kehilangan akal sehat Efraim.

Efraim:
Mesias memanggil kita ke Betlehem. Mari kita pergi melihat Tuhan Abigail.

Abigail:
Tidak aku tidak akan ikut. Biarlah aku di sini Efraim, aku memilih menjaga domba-dombaku.

EFRAIM KEMUDIAN BERKEMAS

Efraim:
Harusnya kamu ikut bersamaku Abigail.

Abigail:
Tidak!

Efraim:
Lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum, dari pada seseorang pengumpul harta melewati pintu surga. Aku pergi Abigail.

EFRAIM KELUAR. ABIGAIL AGAK JENGKEL. IA MENGUMPULKAN UANG DAN PERHIASAN MILIKNYA, LALU DILETAKAN PADA KOTAK PENYIMPANAN. TIBA-TIBA TERDENGAR SUARA AUMAN SERIGALA. ELHUD, SEORANG PERAMPOK MUNCUL. ABIGAIL TERSENTAK KAGET, KEMUDIAN KETAKUTAN. IA MEMELUK ERAT KOTAK UANG DAN PERHIASAN MILIKNYA. PERAMPOK ITU MENGANCAMNYA DENGAN PEDANG.

Elhud:
Letakan kembali kotak itu ke atas meja!

Abigail:
Siapa kamu?

Elhud:
Aku Elhud.

Abigail:
Elhud? Perampok Samaria, dari gunung Gerizim?

Elhud:
Ternyata kamu pernah mendengar namaku. Nama yang penuh reputasi sepanjang timur sungai Yordan.

Abigail:
Efraim suamiku, juga seorang keturunan Samaria, berasal dari Yudea. Bagaimana perampok Samaria sepertimu merampok harta milik sesama Samaria.

Elhud:
Jangankan sesama Samaria. Harta kuil suci Jerusalem kurampok. katakan kepada semua orang, Elhud namaku. Perampok yang berani merampok harta milik kuil Tuhan. Letakan kembali kotak itu!

Abigail: (Memelas.)
Tidak Elhud. Jangan ambil kotak ini. Ini buah jeri lelah kami bertahun-tahun, mengumpul sedikit demi sedikit, dari usaha ternak kami.

ELHUD MENDEKAT KE ABIGAIL DAN MENGANCAM DENGAN PEDANG.

Elhud:
Letakan kota itu! Kalau tidak kau akan kubunuh!

DENGAN TERPAKSA ABIGAIL MELETAKAN KOTAK KE ATAS MEJA. ELHUD KEMUDIAN MEMAKSA MENGIKAT ABIGAIL PADA SEBUAH KURSI. ABIGAIL MENCOBA MERONTA, TAPI SIA-SIA. TAK DI SANGKA, DARI PINTU MUNCUL GEMBALA TUA ZADOK, IA MENGARAHKAN SEBUAH PANAH KE ELHUD.

Zadok:
Elhud, bebaskan perempuan itu!

ELHUD KAGET DAN MENOLEH. IA LANGSUNG KENAL GEMBALA TUA ZADOK.

Elhud:
O… kau ternyata gembala tua Zadok. Jangan campuri urusanku, gembala tua!

Zadok:
Bagus, kau masih mengenalku Elhud. Kuminta, bebaskan perempuan itu.

Elhud:
Kalau kau masih mencampuri urusanku, akan kubunuh kau lelaki tua.

Zadok:
Usiaku boleh tua Elhud. Tapi panah ini tak pernah tua. Panah yang tak pernah meleset dalam kisah para pengembala di padang. Panah ini untuk para serigala. Tapi kalau kau tak bebaskan perempuan itu, panah ini akan menembus jantungmu.

Elhud: (Geram)
Jangan mengertak aku Zadok.

Zadok:
Selangkah kau maju lagi. Jantungmu akan segera berhenti.

ELHUD JADI GUSAR, IA BERPIKIR SEJENAK, LALU MENURUNKAN EMOSINYA.

Elhud:
Turunkan panahmu. Aku akan pergi.

Zadok:
Bagus! (Menurukan panahnya.)

ELHUD MERAIH KOTAK DI ATAS MEJA LALU DENGAN CEPAT PERGI. ABIGAIL TIBA-TIBA MENJERIT.

Abigail:
Kembalikan kotak itu! Gembala tua Zadok, kenapa kau tak mencegah dia.

Zadok:
Sudahlah. Dia sudah pergi.

Abigail: (Sedih.)
Tapi, gembala tua zadok, Elhud telah mengambil semua harta milik kami.

Zadok:
Jadi kotak itu milik kamu?

Abigail: (Menangis.)
Iya. Itu kotak penyimpanan uang dan perhiasan milik kami. Samua itu kami kumpulkan dalam waktu yang lama. Kini semua hilang, gembala tua Zadok.

Zadok:
Kupikir kotak itu milik Elhud. Ya mau bagaimana lagi, dia sudah pergi.

Abigail:
Apa yang akan kukatakan pada suamiku. Ia pasti sangat marah.

Zadok:
Suami ke mana?

Abigail:
Dia pergi ke Betlehem. Katanya mau melihat kelahiran Mesias. Dia mengajak aku. Tapi aku berkeras tidak mau ikut.

Zadok:
Seandainya kau ikut ke Betlehem dengan suamimu, maka perampokan ini tidak terjadi.

Abigail:
Aku menyesal…

Zadok:
Kau harus bersyukur, Elhud tidak membunuhmu. Biasanya ia tidak membiarkan orang yang dirampok hidup. Aku juga sedang dalam perjalanan menuju Betlehem, seperti suamimu, diusia renta ini, aku tak mau menyia-nyiakan hidupku tanpa menyambut kelahiran sang Mesias. Sebaiknya, aku harus segera melanjutkan perjalanan. Aku pergi dulu.

ZADOK MELANGKAH PERGI, SAAT DI DEKAT PINTU KELUAR, TIBA-TIBA ABIGAIL MEMANGGILNYA.

Abigail:
Gembala tua Zadok.

ZADOK MENOLEH KE ABIGAIL.

Abigail:
Bolehkah aku menyusul suamiku bersamamu?

Zadok:
Tuhan akan senang melihat kehadiranmu di sana. Dialah sejatinya sang gembala.

KEDUANYA KEMUDIAN PERGI BERSAMA.

TAMAT. Manado, 16 Oktober 2019

Peringatan: Mengingat Hak Cipta atas karya Fragmen ini, maka bagi semua pihak yang akan mementaskannya harus seizin pengarang. Iverdixon Tinungki 085343976992.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed