oleh

Sangihe Talaud Dalam Lintasan Niaga Dan Perebutan Hegemoni Kekuasaan Abad 15

Sangihe Talaud, di peta sejarah niaga dunia adalah salah satu kawasan lintasan persaingan dagang dan perebutan hegemoni kekuasaan di masa lalu. Sebagai kawasan di perairan laut Sulawesi, Sangihe Talaud masuk dalam enam Jalur Niaga –disebut juga Jalur Rempah– terpenting di abad ke-15.

Sejumlah ahli sejarah, sebagaimana kutip Aji Negoro dalam artikelnya yang berjudul, “Menengok Nusa Utara: Lintasan Niaga yang Kini Jadi Daerah Periferi Republik” menyebutkan, wilayah geo-politik kawasan ini adalah warisan atau blue-print dari wilayah Hindia-Belanda. Mengapa?

Jawabnya, di masa lalu, letak geografis yang strategis, serta potensi komoditi ekspor yang menjanjikan, membuat tiga kekuatan Barat yakni Belanda, Portugis, dan Spanyol bersaing mati-matian untuk menancapkan pengaruh di gugusan kepulauan Sangihe Talaud terutama pada abad ke-16 sampai akhir abad ke-18.

Dari beberapa jalur perdagangan kuno di dunia, boleh dikatakan jalur rempah merupakan jalur perdagangan penting dibanding sejarah jalur sutra yang berhulu di Cina. Di era Marco Polo (1254-1323), catat misionaris D. Brilman dalam bukunya “onze zendingsvelden de zending op de Sangi en Talaud (Wilayah-Wilayah Zending Kita, Zending di Kepulauan Sangi dan Talaud), disebutkan Venesia dan Genoa telah menjadi gerbang bagi rempah-rempah asal Timur Nusantara, terutama pala, cengkih, fuli dan lada untuk pasar Eropa.

Di era yang sama, alur perdagangan Hindia juga memasok hasil bumi negeri timur ini lewat pelabuhan-pelabuhan laut tengah dan laut hitam. Dari sana, barang-barang itu kemudian diangkut orang Italia ke kota-kota pelabuhan mereka, kemudian dipasarkan ke seluruh belaham Eropa. Terutama pala, cengkih, fuli dan lada dipakai dalam jumlah besar untuk jamuan dan ramuan.

Sementara Anthony Reid, kutip NuuN, menyebut tahun 1400-1650 sebagai zaman perdagangan di wilayah Asia Tenggara dengan keadaan pasar yang amat menggembirakan. Pengaruhnya tidak hanya ke Eropa dan Laut Tengah, tetapi juga sampai ke Cina dan Jepang. Ketika itu, kota pelabuhan merupakan pusat perekonomian regional, politik, dan kebudayaan yang menonjol. Masa ini, jalur rempah bisa ditelusur dengan lebih terang.

Saudagar dari berbagai bangsa telah bergiat di sepanjang rute yang membentang dari Timur ke Barat. Di wilayah Kepulauan Melayu nusantara sendiri, kota-kota pelabuhan tumbuh dan berkembang. Sebut saja Pegu (Burma), Ayutthaya (Thailand), Pnompenh, Hoi An (Faifo), Champa, Malaka, Patani, Brunei, Pasai, Aceh, Banten, Jepara, Gresik, sampai Makassar sangat pesat (Reid, 2011, hlm 3).

Meski sejumlah sumber China sebelum abad ke-14 mengenal asal cengkeh dari Maluku, dan kemudian kepulauan Sangihe Talaud, hanya ada satu catatan bertarik 1350, yang betul-betul menulis Jung China langsung berlayar dari China ke daerah tersebut. Pengumpulan dan pengangkutan rempah Maluku ke belahan dunia barat Nusantara ditangani sepenuhnya oleh orang-orang Melayu, Jawa, dan Banda.

Catat NuuN, para pedagang dari Melayu, Arab, Persia, dan China membeli rempah dari Nusantara, kemudian dibawa dengan kapal ke Teluk Persia dan didistribusikan ke seluruh Eropa melalui Konstantinopel (Istanbul) di wilayah Turki saat ini, dengan harga mencapai 600 kali lipat.

Di antara abad ke 13 hingga Abad ke 16, perdagangan rempah-rempah merupakan sumber kemakmuran bagi beberapa negara Eropa yang wilayahnya berbatasan dengan Laut Mediterania, hingga memunculkan negara-negara kota di Eropa.

Dalam catatan D. Brilman, seorang misionaris Eropa yang pernah bertugas di Sangihe Talaud sejak 1927 disebutkan, pada bulan September 1509 beberapa kapal Portugis di bawah komando Diego Lopez de Sequaria telah berangkat ke Asia Timur, dimana mereka tiba di Makal, melalui yang kini di sebut Hindia Belanda.

Pada tahun 1511 mereka merebut kota dagang Malaka yang sangat maju, di bawah pimpinan d’Albuquerque sendiri. Di kota ini, dimana seorang Uskup ditempatkan di bawah Uskup Agung dari Goa, maka orang Portugis menemukan rempah-rempah yang berasal dari Hindia yang diperdagangkan di tempat itu, namun mereka belum sampai ke negeri asalnya.

Baru pada bulan Desember 1511 beberapa kapal di bawah komando Antonio d’Abreu di kirim oleh d’Alburqueque dengan maksud untuk menemukan negeri rempah yang sangat diharapkan itu.

Masih belum berahkir tahun 1511, sampailah armada ini di Gresik,di pulau Jawa, dan dari sana mereka ke Banda, dimana waktu itu untuk pertama kalinya orang Eropa membeli rempah-rempah langsung dari orang pribumi penghasilnya. Hubungan antara Eropa dengan Maluku telah di mulai.

Pada tahun itu kekuasaan atas pulau-pulau yang kecil ini berada di tangan sultan-sultan dari Ternate, Tidore, Bacan dan Jailolo yang saling berjuang antar mereka untuk mencapai kekuasaan tertinggi. Terlebih antara kesultanan Ternate yang kecil dengan kesultanan Tidore yang sama kecilnya terdapat suatu persaingan yang hebat.

Sultan-sultan kedua pulau itu, tulis Brilman, sangat menginginkan agar para ksatria asing itu dapat dilihat di dalam keratin mereka. Sultan Ternate pada saat itu sudah yang paling berkuasa, mendahului rekannya dari Tidore dan mengundang mereka untuk berkunjung.

Undangan ini diterima dan pada tahun 1512 ketika Serrao dengan para pengikutnya tiba di Ternate, orang Portugis memasuki suatu daerah dimana mereka bertahun-tahun lamanya dapat bertahan, daerah yang juga bertahun-tahun lamanya menjadi pusat ketiga kegiatan yang terkenal pada waktu itu, yakni pemerintahan, perdagangan dan pekabaran injil.

Pada mulanya, ungkap Brilman, orang Portugis tidak menganggap wilayah-wilayah ini sebagai suatu wilayah jajahan baru. Jauhnya jarak dari Malaka dan Goa rupanya telah menjadi salah satu sebab, mengapa orang tidak mementingkan ‘’pemerintahan’’ tetapi justru mereka cukup puas mendirikan kantor-kantor dagang.

Hal ini berobah waktu tetangga mereka dari Eropa, yaitu orang Spanyol, juga ingin menjadi tetangga mereka di Hindia, karena pada bulan Nopember 1512 mereka mendarat di Tidore, pulau yang bermusuhan dengan Ternate.

Dibawah pimpinan Fernando de Magelhaen(atau magellaan) mereka telah menemukan jalan laut yang baru ke pulau-pulau rempah-rempah Hindia ,melalui yang sekarang di sebut selat Magellaan, kepulauan Philipina, dan kepulauan Sangihe Talaud.

Dengan penemuan ini orang Portugis sama sekali tidak senang dan menganggap pendudukan orang Spanyol di Maluku sebagai tindakan yang mungkin tidak syah. Karena, untuk mengendalikan persaingan antara Spanyol dan Portugal, maka Paus Alexander VI telah menarik garis batas terkenal, yang menentukan bahwa dari daerah-daerah yang baru ditemukan, bagian yang terletak di sebelah timur garis itu kepada Spanyol.

Dalam perjanjian Tordesillas pada tanggal 7 Juni 1494, satu dan lain hal, tulis Brilman, diuraikan lebih lanjut oleh kedua raja yang bersangkutan dan garis batas ditentukan pada 370 mil sebelah barat dari kepulauan Tanjung Verde dan pulau-pulau Asur.

Menurut pembagian ini Maluku terletak dibagian yang ditentukan kepada Portugal, yang sejak saat itu bertindak lebih kuat. Dalam bulan Pebruari 1522 sebuah armada Portugis mendarat di bawah komando Antonio de Britto di pulau Banda, yang tiba pada bulan Mei berikutnya di Ternate dan pada tanggal 24 Juni tahun itu juga sudah dimulailah pembangungan suatu benteng.

Sementara itu, sebelum masa VOC- Belanda, pada tahun 1594 Raja Siau Ketiga Winsulangi (1591-1639) atau yang dikenal dengan nama baptis Don Jeronimo Winsulangi mengikat perjanjian kerjasama keamanan dan perlindungan dengan gubernur Spanyol untuk wilayah Asia (Filipina) di Manila.

Sejak itu kerajaan Siau dijaga oleh Spanyol. Dua benteng pertahanan di pulau Siau yang dirintis sejak Portugis (Santa Rosa dan Gurita) langsung dihuni bala tentara Spanyol. Juga merupakan tempat mukim para paderi Spanyol, Portugis dan Italia.

Nanti pada tahun 1677 Siau ditundukkan oleh Belanda dengan mempergunakan Sultan Ternate Kaitjil Sibori sebagai pelaksana. Tercatat sejak 9 November 1677 kerajaan ini menjadi bagian dari wilayah yang tunduk pada kehendak VOC-Belanda sebagaimana perjanjian lange contract yang ditandatangani Raja Franciscus Xaverius Batahi. Di antara pasal penting yang ditanda-tangani adalah kerajaan Siau beralih agama ke Kristen Protestan Belanda.

Menurut Aji Negoro, dalam memainkan perannya merebut hegemoni kekuasaan di Jalur niaga ini, seperti biasa, upaya pertama yang dilakukan ketiga Negara Barat tersebut untuk mencapai tujuannya adalah dengan cara membangun hubungan baik dengan para penguasa lokal yang ada. Awalnya, dengan pendekatan agama melalui misi “pemberadaban” yang dibawanya. Lalu setelahnya akan diikuti dengan “bumbu-bumbu pemanis” berupa janji akan membantu kekuatan militer dari penguasa lokal tersebut untuk menghadapi kekuatan lokal lain yang dianggapnya menjadi pengganggu atau pesaing.

Dalam beberapa kasus lain, tulis dia, ada dari para penguasa lokal tersebut yang justru mengundang kekuatan Barat ini untuk datang ke daerahnya (Invited Colonialisme), dengan tujuan pasti: mencari perlindungan dari serangan kekuatan lokal lain yang dianggap sebagai musuh atau pengancam.

Mengutip sejarawan Perancis, Dennys Lombard, Aji Negoro mengatakan, di Nusantara, setidaknya sampai paruh terakhir abad ke-15 terdapat enam satuan kawasan perniagaan-laut. Keenam kawasan-laut tersebut terbagi sebagai berikut: (1) Selat Malaka, (2) Selat Sunda, (3) Laut Jawa, (4) Bali dan pulau-pulau sekitarnya, (5) Laut Sulawesi, serta yang terakhir (6) Laut Maluku.

Keenamnya, bisa terbentuk hingga sedemikian rupa, ungkap dia, karena dipengaruhi oleh dua sebab utama. Pertama, daerah tersebut merupakan tempat di mana jalur perniagaan menuju Pulau Rempah berada. Kedua, sebagai tempat di mana persaingan dagang dan perebutan hegemoni kekuasaan sedang berlangsung (Lombard, 1987: 3-12).

Ia juga menambahkan, kala itu aktor dari luar yang turut bermain dalam urusan perdagangan rempah ini pun masih terbatas dari kalangan orang-orang Timur Asing, entah itu dari golongan pedagang Arab, India ataupun Cina.

Sementara ungkap Alex John Ulaen dalam “Nusa Utara: Dari Lintasan Niaga ke Daerah Perbatasan”, sebagai daerah yang masuk pada kawasan perniagaan Laut Sulawesi, peran Nusa Utara (Kepulauan Sangihe dan Talaud) adalah sebagai tempat transit penting dari dua jalur perniagaan utama menuju Pulau Rempah. Yakni, bagi para pedagang yang datang berlayar dari arah barat, Malaka, yang biasanya akan berlayar menuju Pulau Rempah dengan menyusuri laut di bagian utara Pulau Borneo, lalu berbelok ke arah timur menuju Laut Sulu, transit di Kepulauan Nusa Utara, baru setelahnya pergi ke Pulau Rempah Maluku Utara.

Sedangkan dalam jalur pelayaran lain, adalah yang biasa dilalui oleh para pedangan dari daratan Cina yang berlayar melalui wilayah barat Kepulauan Filipina, menuju ke Laut Sulu, transit sebentar di Kepulauan Nusa Utara, baru setelahnya pergi manuju ke Pulau Rempah.

Dua jalur pelayaran inilah yang nantinya akan diikuti oleh Bangsa-Bangsa Barat ketika mereka hendak menuju ke Pulau Rempah pada awal-awal kedatangannya di Nusantara.

Penjelajah Spanyol, Ferdinand Magellans, dalam perjalanan terkenalnya mengelilingi bumi, kutip Ulaen dari catatan Pribadi Antonio Pigafetta tertanggal, 28 Oktober 1521 menyebutkan sebagai berikut: “Tanggal 28 Oktober 1521, berlayar ke selatan-tenggara, kami melewati delapan buah pulau, sebagian dihuni dan sebagian tidak berpenduduk. Mereka menamaninya Cheava (Marore?), Cavio (kawio), Cabiao (Kamboleng), Camanuca (Mamanuk/matutuang), Cabaluzao (Cawaluso), Cheai (Dumarehe). Lipan (Lipaeng) dan Nusa (Nusa). Pulau Sanghir (Sangihe-Besar) merupakan pulau terbesar di gugusan Kepulauan Sangihe. Di sana terdapat empat raja, yakni raja Matandatu, raja Laga, raja Bapti, dan raja Parabu.”

Sementara, Robertus Padbrugge, seorang pegawai VOC yang berkunjung ke daerah ini pada 1677 mengungkapkan, gugusan kepulauan ini selain letak geografisnya yang strategis sebagai tempat transit, juga memiliki beberapa komoditi penting yang sangat dicari kala itu seperti minyak kelapa (coconut oil) dan kopra (Ulaen, 2016: 43-44). Alasan-alasan yang terakhir inilah yang lebih lanjut, menjadi magnet lain bagi Bangsa-Bangsa Barat untuk datang menancapkan kekuasaannya di sana. (*)

Penulis: Iverdixon Tinungki

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed