oleh

Kritik Untuk Rektorat yang Larang Mahasiswa Berdemo

Manado, Barta1.com — Elemen mahasiswa mengkritisi kebijakan sejumlah rektorat perguruan tinggi di Manado yang membatasi pergerakan mahasiswa untuk melakukan aksi demonstrasi. Hal mana disebut organisasi mahasiswa sebagai sesuatu yang disayangkan.

“Kami heran kenapa aksi mahasiswa seakan dibatasi oleh pihak kampus, kita bisa lihat dari batasan-batasan yang diberikan oleh pimpinan-pimpinan universitas,” ujar Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, Cris Tumbel, baru-baru ini.

Sepatutnya menurut dia gerakan mahasiswa turun ke jalan dilihat dari perspektif kemarahan masyarakat yang hanya bisa disuarakan secara lantang dan terbuka oleh mahasiswa. Apalagi kata dia proses reformasi yang terjadi hingga masyarakat hidup di alam saat ini adalah hasil pergerakan mahasiswa.

“sekali lagi saya sayangkan ketika ada pergolakan hari ini seakan-akan pergerakan mahasiswa itu dibatasi oleh Universitas yang saat ini mahasiswa menambah ilmu,” jelas dia.

Anggota DPRD Sulut Fabian Kaloh turut menanggapi masalah tersebut. Dia menyebut perlu adanya alam demokrasi yang sehat dan kebebasan berekspresi.

“Saya kurang faham regulasi internal kampus. Tetapi melarang mahasiswa berdemo sesuai kaca mata universal demokrasi itu tidak sehat dalam menumbuhkan kebebasan mahasiswa dalam berekspresi.

Salah satu pihak yang mengeluarkan ‘surat peringatan’ bagi mahasiswa yang berdemo adalah Politeknik Negeri Manado, atau Polimdo. Ada 6 poin pada surat edaran yang dikeluarkan rektorat. Adapun point ke 4 berbunyi, sesuai kelender akademik, minggu ini adalah minggu pelaksanaan UTS dan UAS (Khusus bagi jurusan teknik sipil). Kegiatan tersebut tetap dilaksanakan dengan konsekwensi mahasiswa yang tidak menghadiri kegiatan UTS dan UAS, tidak akan diberikan nilai pada ujian ini. Surat edaran tersebut bertanda tangan wakil direktur (Wadir) 1 Bidang Akademik, Mareke Alelo MBA.

Mareke yang ditemui Barta1 Kamis 26 September 2019 sudah menanggapi ketika ditanyai mengenai surat edaran tersebut.

“Spirit dari point 2 adalah rasa kasih kami kepada anak-anak atau mahasiswa kami. Kami tidak ingin lagi melihat ada korban kecelakaan sia-sia. Massa demo yang besar biasanya susah dikendalikan. Bagaimana kalo terjadi sesuatu yg membahayakan nyawa mereka? Bayangkanlah betapa hancurnya hati orang tua,” ungkap Mareke.

Saat ditanya terkait poin ke 4 ? Mareke merespon pertanyaan tersebut dengan mengajak mahasiswa Polimdo untuk kembali belajar seperti semula.

“Mari ikut ujian, terkait permasalahan di jurusan poin ke 4 nanti selesaikan di jurusan. Pada intinya mahasiswa ikut pembelajaran lagi,” kata dia. (*)

Peliput: Meikel Pontolondo

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed