oleh

5 Sajak Dari Sebuah Kota Imajinir Iverdixon Tinungki

CATATAN LEPAS SEBUAH KOTA 1

aku tumbuh di sini
dibesarkan petakpetak bacaan
dan banyak simpang memberiku pilihan
namun hidup tetaplah hidup
dan segala sesuatu memiliki alasan

aku membaca dari sudut pandangku sendiri
aku menulis diterangi cahaya dalam diri
apa yang dijalin halamanhalaman sumpek
jembatan, bangunanbangunan tinggi
sebentar berdiri, sebentar runtuh lagi
juga percakapan berakhir pilu
tanpa puing
“bukankah manusia unggul lahir dari kesesakan
ditempa rasa sakit dan penderitaan”

seakan burungburung
kususuri banyak jalan
kian lama kian pikuk
arca para pahlawan
pohonpohon di tikung selalu diam
berpeyorasi sebagai rumah pasir
dalam jalinan waktu menyaru sebagai yang hilang
di suatu percakapan yang fana dan yang abadi

aku barangkali sudah gila
seperti edgar, montefiore, atau Jonathan black
terus mencari rahasia hidup tersembunyi dari dunia
lalu mencipta kota imajinir tak saja untuk cinta
tapi juga untuk daya hidup tanpa batas
kendati siapa mau percaya pada katakata

tak ada batas manusia menjadi apa
namun mengapa semua percaya kota selalu ibu
memeluk anakanak liar
tanpa masa lalu, tanpa masa depan

di kota semacam ini tak ada warna lokal selain para pemabuk
silih berganti datang pergi
meneguk dan meninggalkan umpatan
karena pada sebuah kota konon kenangan pun tak punya nama
bahkan sejarah hanya omong kosong

kota bagiku kadangkadang semacam ibu tanpa air mata
tanpa tenaga melindungi saat anakanaknya meletus
seperti balonbalon ditusuki jarum

CATATAN LEPAS SEBUAH KOTA 2

bukankah setiap yang menangis pasti punya alasan
demikian pula aku
seperti kanakkanak menggambar dengan krayon
merindukan sudutsudut manis penuh warna warni
karena hanya yang indah punya tempat abadi
selebihnya abadabad bualan tersusun rapih
dibentengi pagar, tandatanda peringatan
atau gonggongan anjing
menegaskan kota sebenarnya adalah pelacur
dijaga para monster
karena siapa bisa mewakili pontensi dirinya
kecuali orang miskin lebih dekat dengan kebenaran
oleh karenanya mereka akan mati siasia

di Salak, selalu ada bunyi piano dan tangisan
begitu ramai, begitu sendu
begitu saja bertalu, berselisih dari dinding ke dinding
tak pernah tidur melayani waktu

maka dari tahuntahun tak perlu kusebut
aku melihat api dalam katakata
api yang diucapkan
dinyalakan
seperti sirkus bermain
merebut pukau dan tepuk tangan

begitulah sebuah kota
ia selalu tempat paling suram dari kehidupan
fantasi meninggi di tengah sampah berjatuhan
lalu terbakar
terbakar di ujung katakata

CATATAN LEPAS SEBUAH KOTA 3

di setiap perempatan
ludah mengeras menggenapi dongeng kitab suci
hanya yang mau jadi batu menoleh ke patung garam
terus berjalan pun akan bersua dinding siap menimpa

tak ada hari tanpa lolongan
benuabenua pucat dalam takut
seolaholah putaran detik dari jam
akan mengulang angka yang sama
penghitung batas hidup dan akar segala mati
lalu papan iklan
barus dari tubuh membentuk katakata baru
di sana api kian biru

dalam ketidaktahuan terpupuk itu
bangunanbangunan tumbuh
tumbuh sebagai pohonpohon dendam
sebagai hutan belantara untuk serigalaserigala
lalu seberapa panjang jalan melintasi nasib
menyusuri dosadosa mendahului ini

demikian sebuah kota
semua orang lahir sebagai petualang
kendati tak ada yang tahu untuk apa ia hidup
kecuali merayakan sebatas nafas
mengulangi sejarah seakanakan
tak akan menjalar tanpa api

CATATAN LEPAS SEBUAH KOTA 4

Seperti Dante, Troubador, dan Raphael
dengan selimut tebal masa lalu
aku ingin mengenang seorang gadis
gadis yang memelukku di pinggir laut
dan aku merindukannya
karena aku percaya pada cinta
namun di kota semacam ini
tak ada lebih menyimpang dari usaha
membayangkan diri memasuki pikiran orang lain
kendati ia sang kekasih
bahkan agama tak lagi mengawasi
pantulan Tuhan pada sebuah diri

kota hanyalah sebuah masyarakat bunga
tempat para tiruan Hercules dilayani dewadewa perempuan
iblisiblis muncul dari akar gaib modernisme
para pengendali pikiran
selalu melontarkan bunga api dari kata yang sama
yang digantang dari kisahkisah menghanguskan

di sebuah swalayan
tak ada lebih sibuk dari kaki perempuan
mereka adalah pelayan waktu
tidak punya timbangan utuh akan kenangan
tapi setiap lelaki harus percaya
perempuan yang selalu dipikirkannya adalah cinta

CATATAN LEPAS SEBUAH KOTA 5

seperti sebuah pulpen
menggores titik koma
pada datang pergi
segala yang fana
begitu kota ini menulis
tualang manusia

dulu, beberapa tahun silam
di bandar hujan tak pernah duduk sendirian
selalu ada tangan
lentik dan cekatan
membilas kecemasan

lalu kecemasan menjadi tua
juga batangbatang Ketapang
menunduk
memegang hati yang hilang
hati yang bimbang

aku teringat beberapa nama
namun ingatan tak mampu menahan
yang fana

hidup seperti uap bakal tersusun pada sepi
dan waktu
semua tergugu di simpang ingatan
begitu kota ini menulis keinginan

perbedaan masa lampau dan kini
sesungguhnya terletak pada gerai rambut dan lagu
semuanya terus maju mencipta pilu yang baru
pertokoan, jalan dan gang sempit adalah kekasih
kekasih gelisah
melepas namanama akan berpisah

dan aku tak kuat menulis semua catatan sepanjang jalan
kabut, kebisingan, wajah yang berubah
angin bertiup bau remaja
akhirnya bersua masa fana yang sama

berapa harga masa silam
selain hilang, dilupakan

di sudutsudut tertentu aku terkenang cinta
meski tak ada lagi pelukan
setidaknya
cinta selalu berbagi cerita kehidupan

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed