oleh

Bintang Kehidupan, Sebuah Naskah Drama Natal Musikal Kolosal

Bintang Kehidupan
Naskah Karya: Iverdixon Tinungki
Durasi Pentas: 120 Menit.

Sinopsis:

Hidup dalam keteladanan Kristus adalah manifesto umat Kristiani dalam menghadapi pergumulan dunia yang diwarnai tragedi demi tragedi. Umat Kristiani dituntut untuk bercahaya di tengah peradaban yang gelap. Tema sentral lakon ini diangkat dari kitab Filipi 2:15-16a.

Alur utamanya menggambarkan perjuangan umat Kristiani memenangkan dunia ke dalam kasih Kristus. Seperti warna-warni mission sacre dalam perang besar Kristus melawan dunia yang senantiasa menolak untuk diselamatkan.

Dunia kehilangan cinta kepada Sang Esa, manusia, dan alam semesta. Akibatnya, dunia terperosok dalam sejumlah persoalan besar, chaos dan sekarat. Dan keadaan ini harus diselamatkan.

Misi penyelamatan inilah tugas utama umat Kristiani di tengah dunia. Seperti bintang yang menuntun para Majus, begitulah umat Kristiani menerjemahkan misi suciNya dalam penyelamatan dunia. Umat Kristiani harus jadi penuntun bagi sesamanya ke dalam suatu perjumpaan dengan Kristus Yasus.

Simbol realitas keseharian umat manusia mengalir dalam lakon ini yaitu, orang-orang yang kehilangan hak hidup, hak bicara, tertindas, mereka laiknya patung-patung yang berserakan tanpa makna. Kepada siapa mereka mengeluh? Untuk apa air matanya menetes? Ketika mereka digusur, ketika mereka disengsarai siapakah Mesias bagi mereka?

Atau seorang anak yang lapar dan dahaga, siapa yang mempedulikannya? Baik orang sekitar, termasuk seorang gadis bernama Emelia, datang masuk ketaman sambil membawa makanan tapi tak ada empati sama sekali melihat keperihan si anak kecil yang kelaparan.

Di tempat yang lain ibu dari anak itu terpaksa mencuri agar bisa memberi makan anaknya meski ia harus menghadapi sejumlah resiko dari perbuatannya itu. Di sisi yang lain lagi banyak orang hidup berfoya-foya lengkap dengan kelimpahan materi dan hedonist. Malaikat-malaikat kasih menangis. Langit mengerut lisut menjemput doa-doa orang sengsara. Tapi seperti Judas banyak orang justru ambil untung dari persoalan-persoalan itu. Mereka menghasut dan terus mencipta sengketa, adu domba.

Kejahatan merebak dalam warna-warninya mencipta kemuraman. Ada orang yang dirampok dan dipukuli sampai pingsan. Sebuah kehidupan Kristiani yang dualisme. Orang-orang berdatangan dari berbagai kalangan hanya menyaksikan semua kemuraman itu, tapi enggan bertindak.

Masyarakat dengan pribadi yang terbelah. Politik yang cenderung berpihak pada kekuasaan. Pengadilan yang sarat isterest. Manusia hidup dalam topeng. Eksploitasi terhadap alam yang berlebihan. Bencana alam yang mengguncang. Kemiskinan merebak. Ada yang punya ketabahan seperti Ayub. Tapi ada yang hidup melacur. Inilah perang antara Tuhan melawan Setan. Kita di pihak mana? ***

Bintang Kehidupan

Inspirasi Naskah: Filipi 2:15-16a
Naskah Karya: Iverdixon Tinungki
Durasi Pentas: 120 Menit.

Narasi Pembuka:
Entah berapa Milenia dunia berada dalam kekelaman. Kemudian DIA datang di Betlehem bersama tangisan bayi-bayi yang terbunuh dalam pemerintahan Herodes. IA YESUS KRISTUS, PUTRA NATAL, SANG PEMBEBAS. Mesias bagi dunia yang terluka. Berjalan dalam derita penyaliban untuk dosa semua orang. Tapi sudakah dunia mengenalNya dan menerima penyelamatanNya serta hidup dalam ajaran-ajaranNYA? Mari kita lihat DIA dalam wajah hari ini!

BAGIAN I : MOSAIK KEHIDUPAN

Keseharian manusia berlalulalang di atas panggung. Deru mobil dan mesin yang lain, para penjual barang menawarkan dagangan kepada pembeli. Polisi, Preman, Pegawai, anak sekolah, peminta-minta, pemulung, orang gila, semua di sana memberkaskan realitas natural.
Dua orang berjas masuk bersamaan lalu memainkan permainan lempar-lemparan bola basket dengan gerak yang unik. Dari kedua samping depan panggung. (Mereka adalah pedih perih yang medetak dan mendetik).
Sementara itu masuk iring-iringan gerobak patung-patung dari beberapa pintu. Patung mengangkat patung masuk dan diletakkan pada beberapa komposisi. Ada yang terpasung, terbungkam, terguling, terikat, kaku, dst. Tak ketinggalan penjual topeng menawarkan topeng wajah manusia.

Penjual Topeng:
(Menawarkan dagangannya kepada beberapa orang. Ada yang membeli ada yang tidak)
Mask…mask…Mask…mask… Maskman…maskman… topeng—topeng… apa kalian mau topeng? Manusia moderen pakai topeng. Topeng manusia… Manusia bertopeng. Mask…mask… ayo beli…ayo pakai… topeng…topeng…topeng. Ini budaya moderen, budaya topeng… mask…mask…mask.

Di panggung itu, juga membaur kelompok paduan suara. Mereka kemudian menyanyikan sebuah lagu sambil menari:

Lagu Paduan Suara:

Inilah sandiwara
Sedih duka berganti
Tawa dan tangis mengisi hari
hidup bagai fatamorgana
menguap pergi datang kembali
mengitari cakra waktu tanpa tepi
kisut lisut itulah hidup
air mata tawa semua punya makna
warna warni oh warna warni
sengsara bahagia
gambaran manusia

Setelah selesai lagu semua orang meneliti, mengenali dan menganalisa bentuk-bentuk patung-patung itu. Tiba-tiba patung-patung itu bicara:

Semua:
Tolong… tolong… tolong…

Suara jerit tolong ini terdengar riuh dari mulut patung-patung terpasung
Si Gila maju ke depan. Ia kemudian membacakan puisi. Monolog :

Puisi:
Hal terhebat dalam diri manusia mengibuli dirinya
(respons patung-patung : Kibuli ! (teriak dan mengubah komposisi)

Si Gila :
Ada pemimpin yang gagal tapi iklan media massa bilang ia berhasil
Ada pemimpin korupsi tapi pengadilan ketuk palu tanda ia bersih
Ada rakyat miskin terpinggir tapi koran tulis mereka sejahtera
Ada calon pemimpin bersih tapi media massa nistakan ia di sana-sini

(Respons patung-patung : Berantas… (Bergerak liar dan beringas, Tapi kemudian berhenti dalam satu komposisi)

Si Gila mengambil posisi menjadi Dirigen :
Wahai patung-patung Indonesia mari kita menyanyi lagu Indonesia raya. Satu…dua…Tiga.

Patung-patung :
Indone… (Tercekat)

Lagu itu diulang berkali-kali tapi tetap tercekat.

Si Gila:
(Menggerutu)
Hu aneh. Orang-orang saat ini ternyata tak tahu lagi lagu kebangsaan bangsanya sendiri. Aneh!

(Si Gila Exit dengan permainan mobil-mobilan sambil menyanyi sepotong lagu dengan suarah perih: Tuhan Adalah Gembalaku. Semua orang sesaat terpana menatap kepergiannya. Lalu semua mengendap-endap mengikuti langkah si Gila sampai Exit kecuali patung-patung yang masih tercekat dalam sepi di tempat masing -masing.

BAGIAN II : PERGUMULAN WAKTU

Angin bertiup menerbangkan debu dan daun-daun
Sosok waktu dan lelaki misterius di antara patung-patung. Lelaki itu memikul dua ember air. Ia menatap patung-patung, matanya diam, bibirnya diam, dia mematung kemudian dengan gerak perlahan tangannya mencelup ke dalam ember memercik air ke arah patung, memerciknya kemana-mana.

Lelaki misterius :
Keindahan lahir dari air. Kelak keindahan mati karena kehilangan air, hari-hari berlanjut kemanakah mereka pergi di setiap musim? Mereka melepaskan cuaca di antara tanah, langit, dan laut. Kemanakah mereka menitipkan harapan sebuah pagi yang terjerat gerimis dan sunyi? Kemana? Doa yang diucapkan sepi selalu kembali jatuh dengan wujud yang lain menjadi hujan, harapan selalu ditenggelamkan matahari dalam perjalan senja yang kekal. Kemanakah cinta? Kemana ia berlari mengikuti angin yang membawa tarian perih? Nafas hanya menabung racun ke dalam harapan yang tak pernah teraih oleh cinta. (Lelaki Misterius mengambil debu dengan menebarkannya ke angkasa) inilah doa… inilah doa, doa yang ditembakan ke angkasa ia selalu kembali dengan wujud yang lain mencari gerimis yang membasahi penungguan. Sepi sunyi tak pernah menjauh seperti sauh, yang dilempar ke hulu. Aku seperti dermaga yang dikunjungi kapal-kapal yang berpenghuni sunyi. Aku ingin bicara dengan waktu.

(Waktu terbuka seperti matahari bersinar)

Patung-patung :
Detak-detik… (dinyanyikan oleh patung detak-detik sambil membentuk komposisi)

Lelaki misterius:
Di antara dua sungai di manakah jejak muara? Di antara dua matahari ke senja manakah ia terbenam? Di antara dua bunga pada musim manakah ia mekar? Pada dua buah lubang luka di darah dimanakah cinta menetes? Waktu … waktu kenapa kau ada?

Waktu :
Yang pertama adalah tiada dan dari tiada itu menjadi ada, abu ke debu, debu ke tanah, tanah ke pasir, pasir ke batu, batu ke bukit, bukit ke gunung, gunung ke awan, awan ke hujan, hujan ke laut, laut ke pantai, pantai ke tanjung, tanjung ke muara, muara ke kuala, kuala ke mata, mata ke air, air ke kabut, kabut, ke asap, asap ke api, api ke nafas, nafas lalu menuju ke cinta, cinta ke hidup dan hidup ke mati. Yang pertama adalah tiada dan dari tiada itu menjadi tiada, seperti telur hidup itu menetas jatuh ke tanah menjadi batang, batang menjadi ranting, ranting menjadi daun, daun menjadi bunga, bunga menjadi buah… dan itulah waktu. Di tanah yang ku pijak ini cinta bertumbuh selebat dan semaut luka. Akulah waktu sang penjaga nafas yang berkata-kata dalam bisu cinta.

Koor patung :
(Dinyanyikan)
Kami rindu tabir gerbang surga terbuka
Agar ada cahnya bagi orang sengsara

Waktu :
Aku selalu mempertemukan dan memisahkan. Aku selalu menghitung tanpa peduli ke mana nafasku mengalir, aku tidak pernah berhenti menagih kepada zaman dan sejarah, semua hendaklah berjalan mengikuti jejak yang ku tinggalkan.

Lelaki misterius;
(marah)
Waktu tak berhak menandai cinta, waktu hanya sebuah ruang yang menyimpan kenangan dan ketakberdayaan, waktu adalah racun dalam penungguan.

Waktu :
Meski aku letih aku tetap sabar berjalan menulis sejarah karena aku tak pernah mati, meski sepi selalu menepi di tepi hari.

Lelaki misterius:
Mengapa waktu merantaiku dalam rasa haus yang teramat panjang? Berapa lama lagi aku menanti sang cinta.

Koor patung :
(dinyanyikan)
Cinta itu seperti detik yang pergi dan kembali, usia adalah menit yang mengikuti jejak nafas dan waktu adalah catatan yang menulis cinta dan maut di atas sebuah kertas yang bernama harapan.

Lelaki Misterius :
Tubuh ini kering, tubuh ini haus, air mata membasuhku dalam dingin dan petaka, dalam dua hujan yang terbelah. Cinta Kapan engkau datang?

Koor patung :
(dinyanyikan)
Penungguan adalah kedinginan yang dirawat cinta dalam kemarau yang teramat panjang.

Waktu :
Cinta selalu membutakan aksara yang ditulis waktu

Lelaki Misterius:
Kau hanya waktu. Kau selalu menikam sepi dan sunyi ke dalam detakku. Biarkan aku menanti dia sebelum air hidup mengering agar sepasang merpati punya waktu mengunjungi abad-abad.

Angin bertiup dan gelegar halilintari menerbangkan debu dan daun-daun
Dan bebunyian itu berubah sebuah irama lagu menyayat dari patung-patung

Lagu Patung Patung :
Jesus kecil, Jesus besar
Ia manusia. Ia cinta

Sosok Perempuan Zaitun muncul sambil menyanyi dan menari.

Kidung Perempuan Zaitun :
Aku mencari Dia, dalam senja yang merah
Agar malam punya cahya, dan siang menjadi cerah

Lelaki Misterius :
Bila Jusuf menceraikan Maria engkau tak punya kisah
Kita sama-sama hanya tertunduk dalam nestapa
Seperti konser kematian cinta
gelap maha gelap
samar maha samar
kenangan adalah pedang terhunus
air mata kelam mengirimkan pedih
dari sayatan hati tanpa perih
langit mengecil dan terbang lenyap
tak ada cahaya di atas
kabut tanpa batas

tanah lembek goyah
mengamblas pikiran
ditiup angin serupa debu
menggelinding
ke negeri-negeri beku

Perempuan Zaitun :
adakah danau dan laut awalnya dari air mata
jika demikian, betapa banyaknya kepedihan
kita pun telah menambahkan beberapa tetes untuknya

bila kita menangis
menangislah kita tentang kebahagiaan
bukan untuk kepedihan
biar danau dan laut tak semata mitos kekelaman

Lelaki Misterius :

tak ada lebih mendukakan ketika malam kirimkan resah
ribuan kunang-kunang terbang tanpa suara entah ke mana
gigil daun-daun begitu senyap dan perih
aku di sini melolong bimbang mencakar-cakar bayang sendiri

Perempuan Zaitun:
Aku Perempuan Zaitun, perempuan penuh dosa
Berharap ada penebusan dari cinta maha cinta
kecermelangan di atas kecemerlangan
bergerak dalam bening air mata embun di atas embun
mendesah senandung damainya senandung
menerbangkan hati menggapai terangnya matahari
terang maha cahaya indah bunga dan mimpi
kabut menyusupkan simphonynya desir maha desir
tanah menjadi gembur subur
buat cita-cita tumbuh
kita pun tertegun
angin mengirimkan nada melangkoli
berhembus
membawakan wangi pada makna senyum juga tangis

Lagu Perempuan Zaitun:
(Dinyanyikan)
Dengan palang Ia buat jalan
Menyambung zaman tak lekang malang
Lambung tertikam tak Ia mengerang
Dari palungan untuk yang terkekang

Angin bertiup lagi menerbangkan debu dan daun-daun

Lagu Patung-patung :
Jesus kecil, Jesus besar
Ia manusia, Ia cinta

Nyanyian Waktu :
Orang Majus mencariNya
Tapi masih banyak orang berpikir
Jesus adalah sebuah metafora
Ia diandaikan Merpati Putih atau Roti Hidup
Tapi siapakah yang ingin ikuti cahaya bintang di sayap timur

Tiba-tiba muncul orang Majus di atas panggung Sambil Menyanyi

Lagu Para Majus :
Wahai tuan-tuan tahukah kalian dimana tempat lahir Mesias?

Patung 1:
Siapakah kalian. Dari mana asal kalian.

Majus 2:
(dinyanyikan)
Kami majus majus dari timur.
Kami melihat cahaya bintang.
Ini menandahkan kelahiran Raja Besar.
Ia adalah Mesias.

Patung 2 :
Siapakah Mesias itu? Adakah Mesias untuk kami.

Majus 3 :
(Dinyanyikan)
tak ada air mata tanpa tawa.
Tak ada duka tanpa bahagia
Ia akan datang untuk jamah hati setiap orang.
Agar menjadi bintang kehidupan

Patung 3 :
Kami orang-orang terpasung dan terbungkam. Tersingkir dan di singkir. Kemiskinan adalah warna kehidupan kami. Suatu bentuk kehidupan yang tak dipihaki oleh orang-orang yang bernama pemimpin. Masikah bisa kami berharap akan lahir seorang pemimpin yang bermakna Mesias. Sudahlah kalian jangan menjual kebohongan pada kami. Cukup sudah kami dikenyangkan oleh retorika para politisi yang keranjingan mengumbar janji-janji kosong dan kebohongan.

Waktu :
Empat belas keturunan dari Abraham sampai Daud.
Empat belas keturunan dari Daud Sampai Kristus
Begitu Kisah Matius
Balada cinta Tuhan sebuah misteri
Duka, serpihan rindu tertudung di atas orang-orang terpilih
Tapi isyarat Nabiah Mikha mesti dipenuhi.
Meski adanya di balik pedih

Lagu Perempuan Zaitun :

Jika kesalahanku itu benang
panjangnya melilit bumi
Jika kesalahanku itu air mata
Ia menderas seperti sungai
Jika kesalahanku itu angin
Ia telah menjadi badai menenggelamkan kapal-kapal
Jika kesalahanku itu pohon
Ia telah menua, meninggi
Jika kesalahanku itu gelap
Ia sewarna malam tanpa bintang dan rembulan

Waktu :
Dalam setiap detakkan jarum jam
Salah dan dosa terus beringsut menorehkan catatan kelam
Berpasal-pasal Benci dan nafsu
Terukir disetiap langkah dan nafas
Tetapi Jesus Ia tetap Cinta
Selalu datang menuntun dua puluh empat jam
Di hati yang membukakan pintu Ia datang
Kini ia di pintu hatimu dan berkata:
Adakah tempat untuKu?

Koor Majus :
Kami mencari Mesias karena percaya.
Seperti pohon tak bertanya adakah langit.
Tapi ia tumbuh dibesarkan udara
meski tanpa sepotong kata.
Harapan tempatnya di nun.
Nun itu tak mudah digapai.
Tapi semua tahu dan percaya nun itu ada.
Dan hanya orang yang mencarinya
akan berjumpa dengannya.
Begitulah kami datang
mencari Mesias berbekal sepotong iman
bahwa Mesias itu ada.
Seperti seseorang yang berpengharapan
menjumpai nun
meski ia entah dimana
(Kepada kedua temannya Bicara) Lihat Bintang itu…Ia di sana. (lalu mereka berjalan mengikuti bintang hingga exit)
(Semua Orang mengikuti Majus hingga Exit)
Angin bertiup menerbangkan debu dan daun-daun
Seorang anak kecil masuk kepanggung

Lagu anak kecil:
Andai Ia cintaku terindah
tak ada gelisah hati yang terluka
dalam cintaNya, dalam SayangNya
aku tak akan sengsara

Penjual Topeng :
(Melintas)
(Menawarkan dagangannya kepada beberapa orang)

Mask…mask…Mask…mask… Maskman…maskman… topeng—topeng… apa kalian mau topeng? Manusia moderen pakai topeng. Topeng manusia… Manusia bertopeng. Mask…mask… ayo beli…ayo pakai… topeng…topeng…topeng. Ini budaya moderen, budaya topeng… mask…mask…mask.
(exit)

BAGIAN III : SURAT DARI SUNYI

Sebuah tangan menerobos pintu tengah. Tak berapa lama diikuti kepalanya. Kepala itu bergantung seperti gambar pada sebuah bingkai.

Suara dari kepala Anak Manusia:
Aku anak itu. Aku selalu ingin lahir.
Bunyi halilintar lagi susul menyusul, kemudian redah, Sayub kemudian jelas terdengar lagu Malam Kudus

Di langit bulan muncul Sosok Ibu dengan biola.

Ibu:
Jadi anak engkau harus punya keberanian Tanpa itu, dengan apa kau ubah dunia. Sia-sia kau buat pintu atau jendela di hatimu. Sementara matamu tak berani melihat matahari dan kulitmu beku di angin. Takdir manusia adalah mencari dan mengubah. Membuat dan melahirkan. Masuklah wahai Anaku. Engkau adalah suratku di tengah sunyi

(Ibu Melemparkan surat-surat ke anak Manusia)
Anak Manusia itu menerobos pintu dan mencari dunianya pada setiap pucuk surat.

Puisi Ibu :
Dunia adalah jalan panjang ratapan. Jadilah engkau penafsir kepedihan.

Tangan Anak Manusia melambai-lambai dan meliuk-liuk penuh luka menggapai surat-surat.
Ia tak mampu lagi menahan tubuhnya yang payah

Anak Manausia :
Setiap hari aku selalu ingin lahir. Seperti bayi yang baru melewati rahim ibu. Putih. Penuh kebenaran. Kelahiran yang harus kulewati di halaman setiap sejarah. Kemengertian yang harus kuhirup dalam ruang-ruang kehidupan. Kearifan yang harus kucaba di mata orang miskin. Tapi rembulanku, siapakah mereka yang memercikkan darah ke tubuhku, darah yang setiap harinya meleleh di kaca-kaca televisi, di halaman koran, di jalanan, dan dalam ratap hati orang-orang papah yang kelaparan dan kedinginan. Mengapa berita hari ini hanya sengketa.

Anak Manusia itu terkulai lagi. Ibu dengan payung hitam. Ia mengelilingi sang Anak Manusia sambil menyanyi

Lagu ibu :
Kau harus memperjuangkan kehidupan
meraih cita-cita.
Jaga api keberanian dalam nafas dan jiwamu
hingga kau tak perlu gugur sebelum ajal
Tak perlu mati sebelum bertempur
Jadilah putra,dan sinar yang terang bagi bangsamu.

Ibu Exit Anak mengikuti bulan sampai kepinggir awan dengan wajah penuh tanya.
Dari pintu yang lain. Bayangan Hitam muncul menerobos pintu.

HITAM :
(Terbahak. Wajahnya jahat dan busuk)
Plato, Humerus, Shakespiere, Hugo, Michael Angelo, Beethoven, Pascal, dan Newton, semuanya adalah pahlawan jenius. Mereka bergumul dengan kebenaran-kebenaran fundamental, dengan esensi paling dalam dari semesta alam. Mereka memiliki akal budi untuk menciptakan ilmu pengetahuan dan kesenian. Tetapi, mereka tidak dapat menciptakan suatu dunia yang adil penuh rasa persaudaraan dan damai.
(terbahak lagi)
Tidurlah wahai anakku.

Anak Manusia:
(sang Anak bangun lagi)
Keadilan tak dapat diciptakan. Karena keadilan bukan formula yang dapat direkayasa. Keadilan adalah keadilan. Keadilan hanya ada karena ada ketidakadilan. Kedamaian adalah kuntum dari keadilan. Sedang bunga dari ketidakadilan adalah derita. Sementara kasih dan kebenaran adalah obat mujarab untuk mengalahkan ketidak-adilan.

HITAM:
(bertepuk tangan)
Hebat… hebat. Kau dapat mendefinisikan arti perjuanganmu. Tapi kau tak mampu mengakhiri penderitaanmu. Apa artinya?

Anak Manusia:
Perjuangan seorang yang menderita bukanlah mengakhiri penderitaan. Tetapi membijaksanai penderitaan itu. Penderitaan jika dinikmati, lambat laun akan terasa mengenakan. Jika ini terjadi, maka penabur derita akan menyaksikan apa yang mereka perbuat tak lebih dari lelucon semata.

HITAM :
Perkataanmu tak dapat dibuktikan kawan. Justru saat ini manusia lebih gemar bersengketa. Kerusuhan, pengeboman, korban bergelimpangan, iri, dengki, saling menjegal korupsi, acuh tak acuh, semuanya menguncup, menguncup seperti bunga, seperti bunga yang menguncup ketika datangnya musim semi.

DARI SEBUAH PINTU MASUK SOSOK PUTIH :
Kalau kau jadi guru, banyak anak akan tersesat.

HITAM :
Siapa kau?

PUTIH :
Aku gadis miskin yang malang, yang terpaksa bekerja di sebuah pabrik arloji. Aku ingin sekolah, tapi ayah ibuku tak cukup punya uang. Terpaksa di usia muda aku bekerja untuk mendapatkan nafkah dan menabung untuk meneruskan cita-cita masa depanku. Tapi disuatu malam, aku diculik, diperkosa, dan dibunuh oleh orang-orang yang benci keadilan, yang benci perikemanusiaan.

HITAM :
Betapa tragis kehidupanmu. Kasihan!

PUTIH :
Ya. Dalam hidup ini, kebanyakan orang cuma bisa mengatakan kasihan. Tapi tak banyak orang yang mampu mewujudkan kasih itu dalam kenyataan. Dimana-mana banyak anak-anak yang tak bisa sekolah karena tidak ada biaya. Mereka menjadi anak-anak murung, terlantar tak punya masa depan. Tapi semua orang cuma bisa mengatakan kasihan. Tak ada yang dengan jiwa besar datang dan menolong mereka agar bisa meraih masa depan.

HITAM :
Itu salah orang tua mereka !

PUTIH :
Lebih dari separoh penduduk negara kita adalah kaum miskin. Puluhan ribu orang terjebak pengangguran karena tidak ada lapangan kerja. Sampai hatikah engkau mengatakan itu kesalahan orang tua mereka? Jika pemerintah tak bisa menyiapakan lapangan kerja, jika pemerintah tak mampu memberi makan rakyatnya, jika upah pegawai tak bisa dibayar. Apakah derita itu semuanya harus dipikul rakyat, sementara gudung kantor pemerintah dibangun super mewah. Mereka naik mobil mewah. Mereka berpesta pora, gedung sekolah mewah, kampus mewah. Dan rakyat miskin tak bisa membayar uang sekolah yang mahal, buku yang mahal. Gaji tenaga pendidik pas-pasan. Haruskah rakyat miskin disalahkan. Apakah untuk ini bangsa kita merdeka.

HITAM :
Kau memang penghasut. Pantas saja kau dibunuh.

PUTIH :
Aku bisa mati, tapi kebenaran tak mungkin terkubur

Hiatam Exit. Putih masuk ke tempatnya.

BAGIAN IV : DI PINTU DUKA IBU

Ibu di balik pintu menyanyi lagu duka:

IBU :
Anakku ! Apakah kebahagiaan berpihak padamu ?

Anak Manusia :
Masuklah ke pintu kenyataan dan lihatlah Anakmu bunda dengan setumpuk cita-cita untuk meraih masa depan !

IBU :
Benarkah ?

Anak Manusia :
Masuklah !

Ibu masuk dari pintu kenyataan.
Melihat keadaan pahit yang dialami Anaknya. ia tampak terpukul.

IBU :
Tangan dan tubuhmu terluka putraku? Jiwamu tampak sekarat ?

Anak Manusia:
Bundaku, sejak merdeka, yang diwariskan kepada anak-anakmu hanyalah dendam. Keinginan berperang yang dikobar-kobarkan. Makanya di tubuh kami selalu terlihat bayangan darah. Sejak merdeka, yang diwariskan kepada anak-anak adalah hutang, makanya dijiwa kami tergambar larah.

PUTIH BANGUN LAGI

PUTIH :
Ibu, bahagia aku bertemu denganmu, mendengar suaramu yang manis, meski aku tinggal arwah dari anakmu yang malang. Aku generasi mudamu yang untuk mempertahankan hidup pas-pasan harus berkeliling menjajakan kue setiap pagi dan sore. Masa kecilku hilang. Aku harus mengeluarkan uang dari hasil jajan kue itu untuk bisa menyewa sebuah buku dan membacanya agar aku tak bodoh. Tapi rupanya sulit bagi anak-anak miskin untuk bisa membangun harapan-harapannya di negeri ini. Ibu, aku hanyalah arwah dari anak-anakmu diantara ribuan anak-anakmu yang terbunuh sejak belia karena kemiskinan, kesewenangan, diskriminasi, dan ketidakadilan.
Untuk inikah kita merdeka?

ORANG GILA MENEROBOS PINTU
Ia bercakap-cakap dengan matahari dan kekosongan.

Si Gila:
Mentari… jika kau punya otak, mengapa kau tidak berikan semua orang kecerdasan dan kasih sayang. Ternyata kau bodoh ! Kerjamu sehari-harinya cuma berjalan dari timur ke barat. Hari-harinya cuma terbit dan terbenam. Kapan..? Kapan..? kau bisa berubah ? Bodoh….bodoh.
(Menangis) Matamu besar hingga kau bisa menerangi seluruh dunia. Tapi tak bisa mengubah apa-apa. Aku telah kehilangan anak-anakku, Istriku, rumahku, pekerjaanku, tapi kau diam saja. Aku benci kau mentari !!!
(bermain di pojok)

PUTIH :
Bunda lihat orang itu! Ia gila karena kehilangan segalanya di negerimu. Kerusuhan, pertikaian, ketidakadilan, telah membuat sebagian dari rakyatmu menjadi orang-orang tak punya masa depan. Mereka menjadi gila.

Si Gila :
Mereka membunuh Istriku. Mereka rampok hartaku. Manusia macam apa mereka. Mereka gila. Gila ! Mereka menciptakan kerusuhan agar bisa ambil kesempatan. Gila ! Gila !
(exit)

Lelaki Misterius Muncul dengan Pikulan dua Ember air. Ia mendekati Sang Anak Manusia dan membaptis anak itu sambil berkata:

Lelaki Misterius:
Ini air dari tuwung surga
Air mata abad-abad terluka
Buat mencuci duka

Sementara Ibu Menangis sambil bernyanyi :
Lagu : Gita Sorga Bergemah
Diikuti Suara Paduan Suara dan tarian Malaikat-Malaikat.
Burung merpati beterbangan di udara.

TIBA-TIBA TERDENGAR BUNYI TEMBAKAN
SUARA SUARA :
Kerusuhan, kerusuhan… lari….bakar…. bunuh saja.

Narasi Anak di Jendela :
Ibu-Ibu, Bapa-Bapa, Kakak, dan teman-teman serta adikku sekalian hari ini kita kembali merayakan hari Natal. Hari Bahagia kelahiran Tuhan Yesus. Di kota mungil Betlehem Tuhan Yesus lahir untuk menebus dosa dunia. Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk saling mengasihi, saling menyayangi.
Tapi, mengapa di sana-sini masih terjadi perang. Disana –sini terjadi kerusuhan, terjadi perkelahian, terjadi pertengkaran, terjadi pembunuhan.
Tidakkah orang-orang ingat, dimana Tuhan Yesus sudah datang untuk mengajarkan kita saling mengasihi. Mengapa dunia ini begitu jahat, sehingga banyak teman-teman kami, adik-adik kami, menjadi anak-anak terlantar, anak-anak terbiar, anak-anak yang hanya mampu menangis di tengah perang, di tengah kerusuhan. Mengapa orang-orang tak mendengar teriakan parau tangis anak-anak itu? Mengapa dunia begitu jahat pada anak-anak. Apakah arti anak-anak di tengah dunia ini. Apakah kami tidak punya tempat untuk mengimpikan dan menjalani hari-hari kami dengan ceria. Lalu bagaimana dengan nasib kami anak-anak, jika orang dewasa, jika orang-orang tua kerjanya hanya berperang, bertengkar dan saling membunuh?
(Menunjuk ke tempat sepasang anak yang ketakutan)
Lihatlah kedua anak itu, mereka adalah bagian dari sekian banyak anak di dunia ini yang menjadi korban perang, korban kerusuhan, korban kejahatan orang-orang dewasa, korban percereian ibu dan bapak. Kasihan mereka.
(Anak perempuan di jendela itu kemudian pergi. Di panggung yang tersisa hanya sepasang kakak beradik)

Adik :
Kakak, mengapa orang-orang itu menembaki mama dan papa kita?
Kakak :
Kakak tidak tahu.
Adik :
Kalau mama dan papa di tembaki, apakah mereka mati?
Kakak :
Kakak juga tidak tahu.
Adik :
Mengapa orang-orang itu membakar rumah kita ?
Kakak :
Kakak tidak tahu.
Adik :
Mengapa kakak bilang semua tidak tahu.
Kakak :
Memang karena kakak tidak tahu. Kakak tidak mengerti apa yang terjadi. Kalau orang-orang dewasa saling menembaki, membakar rumah, berkelahi, kakak tidak tahu apa maksud mereka.
Adik :
Kakak, orang-orang besar itu jahat ya, mereka membunuh mama dan papa kita!
Lalu kita bagaimana kak. Kita harus kemana. Siapa yang akan beri makan kita.
Kakak :
Berdoalah dik. Berdoalah kepada Tuhan Yesus. Tuhan Yesus akan beri kita makan.
Adik :
Tuhan Yesus itu orang dari mana kak?
Kakak :
Tuhan Yesus itu Juru Selamat dari surga. Ia akan datang menolong orang-orang seperti kita dik.
Adik :
Apakah Tuhan Yesus akan bawah roti kak?
Kakak :
Ya.
Adik :
Juga bawah nyam-nyam dan permen karet kak?
Kakak :
Ya.
Adik :
Kalau begitu, ayo kita cari Tuhan Yesus kak. (menarik tangan kakaknya) Ayo kak, kalau Tuhan kasih aku dua permen karet nanti satu biji aku kasih sama kakak. Ayoh.

(Mereka menyanyi kemudian keluar Panggung)

BAGIAN V: PANGGUNG TRAGEDI

Keributan, Lelaki Misterius dikejar beberapa orang.

Lelaki Misterius dalam keadaan terluka masuk ke stage dengan tertatih sambil memegang perutnya yang berlumuran darah, kemudian roboh sekarat di atas sebuah trap dengan terlentang. Seseorang datang melihat. Berteriak minta tolong.

Seseorang :
Tolong… tolong… tolong.

Orang berdatangan dengan berbagai profesi , ingin melihat korban penembakan. Seorang Wartawan juga muncul di sana

Wartawan :
(Langsung memeriksa)
Ada apa ini ha? wah dia masih hidup. Nadinya masih bergerak , tertembak rupanya.
(Sambil mngambil kameranya dan memotret beberapa kali)
Siapa diantara kalian yang melihat penembakan ini,
(mau menulis tapi semua menggelengkan kepala mereka)
(Bertanya kepada Satpam) Kaukan Satpam keamanan disini ? Kau tidak tau juga? Sebaiknya kau angkat dia dan bawa kerumah sakit. Kemudian malapor ke kantor polisi.

Sementara itu masuk wartawan lain dengan kamera tv nya lengkap. Mengambil gambar korban dan orang orang yang akan bicara.

Satpam:
Jadi saksi? Untuk apa berurusan dengan polisi, pasti bolak balik, bikin repot.
Sayakan cuma satpam gaji saya sebulan tidak cukup untuk menyewa mobil dan menanggung biaya operasinya. Ah mau makan saja morat marit.

Wartawan :
Wah Tuan saja, karena saya lihat Tuan ini punya profesi Dokter, bagaimana kalau Tuan obati dia, ya setidaknya menolong dia untuk operasi, atau bedah. Bagaimana dokter?

Dokter :
Lantas siapa yang akan membayar saya, kalau saya yang mengurus dia mengobati dia itukan bisa menghambat saya karena saya punya tempat praktek.
Kalau mengobati dia, siapa yang mau bayar obat, apalagi sekarang ini obat itu mahal.
Saya ini buang uang banyak untuk jadi dokter pak, dan saya harus cari uang untuk mengembalikan biaya kuliah saya.

Wartawan :
Wah orang ini bisa mati, ayo, siapa. Bagaimana kalau Bapak.

Penatua :
Wah saya lagi repot pak, saya ini mau pimpin Ibadah di gereja saya.
Masak mau urus orang seperti ini, apalagi diakan penjahat. Ini resiko panjahat.
Jadi cari orang lain saja Pak.

Wartawan :
Oh begitu ya? Kalau begitu Tuan yang berbaju coklat saja.

Pegawai :
Saya? Wah tidak bisa pak, saya ini pegawai negeri, saya ini sangat repot, saya lagi di suruh foto copy berkas proyek jalan lingkar. Jadi tidak bisa diganggu. Nanti pencairan dana proyeknya bisa terlambat. Bos bisa ngamuk Pak, maklum saya ini cuma staf.

Wartawan :
Saya tahu Nona ini seorang pengusaha muda yang berhasil. Tentunya sebagai pengusaha Nona bisa menolong orang ini, dia tertembak dan sekarang lagi sekarat, Nona.
Kalau pengusaha seperti nona, tentunya punya prinsip banyak membantu pasti usaha dan bisnis nona akan lebih maju. Yah kalau pengusaha maju seperti nona juga merasa bahwa membantu orang seperti ini adalah merupakan suatu kewajiban tentu semua akan berterima kasih kepada nona.

Emelia :
Bagimana e , cape deh. Saya tidak kenal dia, walupun saya pengusaha tapi hasil usaha saya bukan untuk mengatasi kesulitan orang seperti ini, panggil saja polisi itukan urusan mereka, masak kejadian seperti ini anda anggap urusan pengusaha. So ganti dang ?

Sementara itu masuk Yosua.

Yosua :
Ada apa Emelia. Wah kenapa orang ini, kena tembak rupanya,
Kenapa dibiarkan saja. Ayo kita bawa kerumah sakit, mari tolong saya pak.

Amelia :
(Menahan Yosua)
Yosua, itu bukan urusanmu! Biarkan saja, ayo kita jalan. Kita masih banyak urusan!

Yosua :
(berusaha Menolong)
Tidak! kita harus tolong orang ini, dia bisa mati. Ayo, siapa yang mau menolongnya!

(Yang Lain Meninggalkan tempat itu. Yang datang hanya para pengemis mereka mengangkat orang itu dan membawa keluar Bersama-sama dengan Yosua)

Amelia :
Yosua! Kau bukan nabi yang harus selalu berbuat kebaikan! Sudalah sini kamu!

Tokoh Anak Manusia muncul menemui Amelia.
Amelia duduk di atas trap. Sementara Anak Manusia berdiri di trap lain

Anak Manusia:
Tak adakah tersisa kebaikan di hatimu?

Amelia:
Maksudmu pengemis pengemis itu? Bukankah aku tidak membuat mereka menjadi seperti itu?

Anak Manusia:
Ketika aku lapar engkau tidak memberi aku makan. Ketika aku haus engkau tidak beri aku minum. Ketika aku kedinginan engkau tak beri aku pakaian. Ketika aku minta tolong, engkau membiarkan aku. Hati seperti itu betapa gelap dan tandus.

Amelia:
Siapakah engkau hingga berani berkata-kata bijaksana padaku?

Anak Manusia:
Dunia tak mengenal aku. Tapi aku mengenal dunia.
Siapa yang mengetuk hatiku, kepadanya hatiku kubukakan. Siapa yang meminta padaku, padanya kuberikan.

Amelia :
Kau hanya lelaki gembel mau berlagak di depanku?
Aku ini orang yang terdidik
Lihat… mengurus diri saja kau tak bisa
Bagaimana kau harus mengurus orang lain?

Anak Manusia:
Anak manusia harus datang di tengah dunia yang terluka
Ia menjadi manusia di tengah nestapa
Batu-batu mengenalnya
Seperti orang-orang sederhana mengenalnya

Tiba-tiba masuk Perempuan Zaitun. Ia di kejar orang-orang dengan suara.
gaduh .

Orang-orang :
Tangkap dia… hajar dia… seret dia ke polisi. Pelacur… dst… (riuh dan gaduh)

Perempuan Zaitun :
(Berlindung di belakang tokoh Anak Manusia) Tolong saya…Tolong saya…mereka mau memukuli saya!

Anak :
(Suara lantang)
Tahan!
(Sambil menghadang para pengejar)
(Semua Kaget dan terdiam)
Siapakah kalian hingga harus menghakimi perempuan ini?

Orang 1 :
Dia pelacur. Dia membuat kampung kami ini tercemar!

Orang 2 :
Dia menganggu suamiku !

Orang 3 :
Dia harus di usir dari sini.

Orang 4 :
Kalau perlu bunuh saja dia.
(kepada orang-orang)
bagaimana?

Orang-orang :
Ya… Rajam saja orang itu.

Anak Manusia :
(Kepada Perempuan Zaitun )
Apakah benar perkataan orang-orang ini?

Perempuan Zaitun :
Benar dulu aku pelacur. Tapi sekarang tidak lagi. Aku sudah bertobat. Aku kembali ke kampungku ini untuk memulai hidup baru. Tapi banyak orang menyangka aku datang untuk membuat keonaran itu.

Seseorang :
Sekali busuk tetap saja busuk. Keluar kau dari kampung kami!

Anak Manusia :
(Kepada Orang-Orang)
Wahai saudara-saudaraku. Bila ada di antara kamu yang merasa tidak pernah berbuat dosa. Maju…dan silakan lempari perempuan ini dengan batu.
(Semua diam tak beringsut dari tempat masing-masing)
Mengapa diam? Tadi kalian ingin membunuh dia, karena dia seorang pendosa. (Dengan suara dingin) karena semua orang pernah berbuat dosa, janganlah saling menghakimi. Hiduplah rukun dan saling mengasihilah kamu. Hanya dengan begitu, kampung kalian ini bisa jadi damai dan maju.

Perempuan Zaitun :
(Menatap anak manusia)
Terima kasih tuan atas pertolongan dan kebijaksanaanmu.

Anak Manusia :
Carilah pekerjaan yang benar. Dan Jangan berbuat dosa lagi.
(Mengajak orang-orang)
Marilah duduk bersama. Aku punya cerita untuk kalian.

(Orang-orang pun datang mengikuti Anak Manusia dan mencari tempat duduk masing-masing di tempat itu. Anak Manusia ada pada sebuah trap yang lebih tinggi dari mereka)

Anak Manusia :
(Bercerita. Orang-orang mendengarkannya)
Ada cerita dari suatu negeri. Seorang Guru kearifan memiliki dua orang murid. Satu saat ketika tiba masa pengujian akhir ilmu yang ditimba kedua muridnya, ia berkata: Pergilah kalian ke hutan. Tangkaplah burung merpati untukku. Aku ingin sekali menyanpat daging merpati. Pagi itupun kedua muridnya pergi dengan senjata panah masing-masing masuk hutan. Tak berapa lama salah seorang muridnya sudah kembali dengan beberapa ekor burung merpati hasil buruannya. Sudah mendekati senja, murid yang satu lagi baru kembali, tapi tak membawa hasil apa-apa.
Keesokkannya, sang guru kembali menyuruh kedua muridnya untuk berburu rusa. Tak berapa lama, murid yang kemarin berhasil membawa merpati sudah kembali dengan seekor rusa jantan gemuk hasil buruannya. Mendekati senja murid yang kemarin gagal pulang dengan tak membawa hasil apa-apa.
Setelah mereka bertiga berkumpul. Guru kearifan itu bertanya kepada sang murid yang berhasil mengikuti perintahnya: Bagaimana sampai engkau begitu cepat mendapatkan hasil buruan? Jawab murid itu: semua ilmu yang guru ajarkan membuat aku tak mendapatkan kesulitan menangkap buruanku. Sang guru mengangguk sejenak, lalu bertaya pada muridnya yang selalu gagal mendapatkan buruannya: Mengapa engkau tak mematuhi perintahku, kan ilmu yang kuturunkan pada kalian sama hebatnya? Murid itu menjawab: Seharusnya tak sulit bagiku untuk menangkap semua buruanku guru. Tapi ketika aku mengarahkan anak pana ke merpati-merpati itu, mata Tuhan melihatku. Ketika aku mengarahkan anak pana ke sekelompok rusa, mata Tuhan terus mengikuti dan menatapku. Bagaimana aku bisa membunuh buruanku, sedang aku tahu Tuhan melihat perbuatanku. Guru kearifan memandang muridnya itu dengan penuh haru dan berkata: Muridku kau lulus. Sebab, mengukuti perintah Tuhan lebih penting dibanding perintah siapa pun di dunia ini. Kepada muridnya yang satu lagi, guru kearifan itu berkata: engkau harus belajar lagi.

Salah Seorang 1 :
Jadi, kami bisa tak mematuhi perintah atasan kami guru?

Anak Manusia :
Kalau atasanmu menyuru engkau melakukan korupsi, apakah engkau harus mematuhinya?

Salah seorang 2 :
Kalau kami tidak mematuhi perintah atasan, kami bisa dipecat guru!

Anak Manusia :
Memang sulit untuk jadi orang benar saudaraku. Tapi pernahkah engkau melihat burung-burung, mereka tidak menanam tapi tetap menuai. Apa yang engkau takuti dari pemecatan oleh atasanmu. Sedangkan hidupmu di tangan Tuhan. Upah dosa adalah maut. Sekarang pilihan di tanganmu. Apakah engkau memilih dipecat oleh atasan, atau memilih maut?

Salah Seorang 3 :
Atasan itulah yang salah! Mengapa ia memerintahkan perbuatan buruk seperti itu!

Anak Manusia :
Ada masa dimana ilalang akan dipisahkan dari gandum.

Penjual Topeng:
(Menawarkan dagangannya kepada beberapa orang.)
Mask…mask…Mask…mask… Maskman…maskman… topeng—topeng… apa kalian mau topeng? Manusia moderen pakai topeng. Topeng manusia… Manusia bertopeng. Mask…mask… ayo beli…ayo pakai… topeng…topeng…topeng. Ini budaya moderen, budaya topeng… mask…mask…mask.

Anak Manusia :
(Kepada penjual topeng)
Hai anak muda, berhentilah menjual kepalsuan. Tinggalkan pekerjaan itu dan ikutlah aku.

Penjual Topeng :
Tapi bagaimana aku bisa mendapatkan uang?

Anak Manusia :
Memang lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum, anak muda, dari pada seseorang yang kaya masuk surga.

Penjual Topeng :
(Membuang dagangannya, dan bergabung dengan kelompok itu)

Amelia :
Guru! Jadi orang kaya itu tak akan masuk surga?

Anak Manusia :
Belajarlah bijaksana seperti Salomo. Jangan biarkan tumpukan kekayaan hanya menjadi santapan rayap. Lihatlah di sampingmu, betapa banyak orang membutuhkan perolongan dan belas kasihanmu. Kasihilah mereka maka kamu akan hidup.

Tiba-tiba muncul 3 orang Majus Sambil Menyanyi. Dibelakangnya banyak orang mengikuti mereka

Lagu Para Majus :
Wahai tuan-tuan
Dapatkah kamu tunjukan
dimana tempat lahir Mesias?
Kami datang menyembah Dia

Di timur ada cahya bintang
Menuntun kami datang
Majus-majus mencari raja
KuasaNya di dunia di sorga

Koor Pengikut Majus :
Tunjukan kami semua
Berjumpa yang kuasa
Dimana tak ada air mata tanpa tawa
Dimana tak ada duka tanpa bahagia

datanglah jamah hati semua
Agar jadi hidup dan berseri

Lagu Anak Manusia :
(Menjawab dengan Lagu)

Banyak yang mencari
Tapi tak mendapati
Hanya hati yang bersih
MenjumpaiNya di setiap hari

(Koor Semua)
Inilah kami semua
Bukakan hati kami
Ajar kami mengerti
Jalan hidup hingga di surga nanti

Narasi Anak Manusia :
Mesias, Ia berada dua puluh empat jam dengan kamu semua
Berdetak bersama waktu dalam nafas
Mengalir dalam darah kehidupan
Ia tak pernah jauh dari hati yang meminta
Karena Ia hanya sejauh doa

(Koor Semua)
Haleluyah…. Haleluyah
Terpuji Raja Sorga

BAGIAN VI : PENYALIBAN KEBENARAN

(Tiba-tiba masuk Yosua dan beberapa orang petugas. Yosua menunjuk Sang Anak Manusia)

Yosua :
Orang itu berbahaya pak. Ia seorang provokator. Ia mungkin kaki tangan teroris. Ia mengajarkan hal-hal yang melawan pemerintah. Di mana-mana ia telah banyak pengikut. Ia sedang membangun kekuatan untuk makar. Demi keamanan dan stabilitas, tangkap orang itu.

Amelia :
(Marah)
Yosua! Apakah kau mengerti dengan apa yang kau katakan. Orang ini tak seperti yang kau tuduhkan. Justru ia yang membukkan mata hatiku yang dulu tertutup dari kebaikan. Sampai hati kau mengatakan orang baik ini seperti itu.

Yosua :
Jangan pedulikan kata-kata pacarku itu. Ia telah termakan oleh kata-kata manis orang itu. Ini semua harus dihentikan pak.

Amelia :
Yosua! Aku kecewa dengan kamu. Kamu ternyata manusia busuk. Singa yang berbulu domba.

Anak Manusia :
Wahai perempuan… biarkanlah ia menjalankan tugasnya. Ada dua belas murid, tapi seorang dari mereka akan menyerahkan anak manusia ke tiang penjagalan. Yang terdahulu menjadi yang terkebelakang.

Yosua :
Jangan dengar lagi ocehan orang itu. Tangkap dia!

(Para Petugas menangkap dan menyeret anak manusia keluar panggung. Orang-orang mengikutinya dengan tangis dan ketakutan hingga Exit. Yang tersisa di panggung hanya Amelia dan Yosua)

Amelia :
(Menangis)
Engkau jahat Yosua… Engkau jahat. Tidak engkau melihat kebaikan di mata orang tadi. Mengapa kau menuduhnya seperti itu.

Yosua :
Ini semua kulakukan demi kita Amelia. Para petugas sudah lama mengincar orang itu. Hanya saja mereka tak punya alasan untuk menangkapnya. Mereka memberikan aku uang yang banyak hanya sekedar menuduh orang itu seperti tadi. Kan mudah kulakukan. Apalagi, kita butuh dana untuk membangun masa depan kita nanti setelah menikah.

Amelia :
(Masih Menangis)
Yosua… tak akan ada pernikahan antara kita. Kamu jahat. Aku tak mau menikah denganmu. Kita putus.

Yosua :
(ketakutan)
Jadi rencana pernikahan kita batal?

Amelia :
Batal. Batal semua. Kamu tega menukar nyawa orang dengan uang. Kamu Judas…Kamu Judas…Kamu Judas Iskariot… Pergi kamu… Pergi… (Melempari Yosua dengan sepatu)

(Yosua akhirnya Exit dari panggung dengan penuh penyesalan)
(Suara guntur dan angin menggelegar. Kilar menyembar dari beberapa penjuru. Langit menjadi buram dan samar. Amelia masih di panggung ketika muncul seorang lelaki memikul balok salib dalam keadaan terluka dan sekarat. Amelia terpana melihat keadaan lelaki yang kemudian dikenalnya sebagai Sang Anak Manusia itu. Ia mengendap mengikuti lelaki itu. Lelaki itu terus berjalan kearah tempat yang tinggi dan tersalib di sana)

Anak Manusia :
(Di atas Salib. Parau dan pedih)
Eli-eli lama sabatani…

Amelia :
(Tertunduk di bawah kaki Salib. Ia mulai menyenyi )

Lagu Amelia :
The Lord Prayer

(lagu ini kemudian diikuti paduan suara yang masuk dari berbagai penjuru yang berjalan ke arah kaki salib. Suasana begitu pedih dan mencekam)

(Usai Lagu itu. Anak Manusia kembali berkata)

Anak Manusia:
Ya. Bapa ke dalam TanganMu Kuserahkan nyawaKU.

Tiba-tiba terjadi gempa luar biasa di tempat itu. Tabir bait Allah terbelah dua. Keadaan menjadi kocar-kacir di atas panggung. Semua orang meninggalkan tempat itu.

BAGIAN VII: PANGGUNG PENGUTUSAN

Di trap atas kanan panggung Sosok Anak manusia, sedangkan di trap kiri atas Amelia. Semua pemain di bawah mereka.

Anak Manusia :
Pergilah ke seluruh bumi. Jadikanlah semua bangsa Muridku. Baptislah mereka dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus.

Amelia membuka lagu tema dan diikuti semua pendukung.

BINTANG KEHIDUPAN
Ciptaan : Iverdixon Tinungki

Tak terkata smua tawa dan air mata
Kita punya cerita menuju Sang Esa

Meski tanpa sayap gapai langit termulia
Tumbuh bagai pohon payungi sgala cinta

Reff:

Knit your beautiful heart
Make the word smiles
And everything flies to you
Unto the shining stars
That change sadness be happiness

Smua menatapmu
Smua memandangmu
Smua berjalan kearahmu
Bintang kehidupan

T a m a T
Mementaskan lakon ini harus seizin pengarang, Iverdixon Tinungki 085343976992.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed