oleh

Amburara, Kayu Bakar Alternatif dan Perekat Budaya Baku Tolong di Pulau Kabaruan

Amburara (bahasa lokal) yaitu tempurung dan sabut kelapa yang dibelah untuk diambil daging kelapanya, menjadi kayu bakar alternatif masyarakat Pulau Kabaruan, Kabupaten Kepulauan Talaud.

Tidak seperti proses pengolahan daging kelapa menjadi kopra pada umumnya yakni sabut kelapa dipisahkan dari tempurung, masyarakat Kabaruan memilih membelah langsung buah kelapa. Hal ini bertujuan, selain mempercepat proses pembuatan kopra, Amburara bisa digunakan sebagai pengganti kayu bakar yang digunakan sehari-hari.

Seperti diungkapkan warga, Amburara menjadi kayu bakar alternatif karena mudah diperoleh dan daya nyalanya lebih lama dari kayu.

Abrianto Taarega salah seorang pemuda yang dijumpai saat sedang melakukan aktifitas bakore kopra mengatakan, Amburara sangat membantu masyarakat dalam sebagai bahan bakar aktivitas rumah tangga sehari-hari seperti memasak.

“Selain gampang mo dapa tu Amburara itu irit. Jadi bagus kalo jaga pake hari-hari,” kata pemuda yang akrab disapa Anto ini, Rabu (11/09/2019).

Hal ini diamini oleh Erni Essing salah seorang ibu rumah tangga. “Memang Amburara ini pas sekali digunakan untuk memasak. Bukan cuma untuk memasak makanan, Amburara ini juga bagus dipakai untuk merebus air. Apalagi sebagian besar warga mengonsumsi air minum yang direbus sendiri,” jelas Erni.

Candra Essing warga Pulau Kabaruan lainnya menerangkan, manfaat lain dari Amburara selain baik digunakan dalam aktifitas di dapur, Amburara ini dapat mengurangi perambahan hutan sebagai bahan kayu api.

“Jumnlah penebangan pohon untuk dijadikan kayu api mulai berkurang sejak warga menggunakan Amburara dalam memasak,” jelas Candra.

Tak hanya itu, Erens Gumansalangi pentua adat setempat menilai, proses mengeluarkan daging kelapa dari tempurung (Bakore kalapa) untuk menghasilkan Amburara ini menjadi perekat tali kekeluargaan. Pasalnya, dalam tahap ini warga datang berbondong-bondong ke lokasi tersebut untuk membantu.

“Warga akan datang membantu proses bakore kopra ini. Setelah itu, Amburara yang ada diberikan kepada warga yang datang untuk dibawa pulang sebagai bahan bakar di rumah masing-masing,” ujar Ratu Banua Kabaruan.

“Tetapi Amburara yang diberikan tersebut bukan untuk membayar tenaga warga dan bukan itu tujuan utama dari warga yang datang tersebut tetapi untuk membantu,” terang Ernes.

Lanjutnya, ketika mereka akan ba kopra, warga yang sebelumnya mereka bantu akan datang juga dan ikut membantu dan begitu seterusnya. Tradisi baku tolong ini tidak mengenal lokasi dimana proses bakore kopra ini dilaksanakan baik di kebun maupun di kampung. (*)

Peliput : Evan Taarae

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed