oleh

Naskah Drama Natal Untuk Anak-anak

Suara Hati Anak-Anak
Naskah: Iverdixon Tinungki

Bagian Pertama :

  1. Di Jendela, seorang anak perempuan dengan lilin yang menyala.
    Sesaat ia tampak sunyi. Tapi kemudian ia Menyanyi.
    Lagu : Hai Kota Mungil Betlehem

Beberapa anak menari di panggung depan. Tarian mereka gemulai dan indah
mengambarkan malaikat-malaikat menyambut kelahiran Yesus. (Catatan : adegan ini
bisa dikembangkan ada tokoh Yusuf dan Maria, Para Majus, ada palungan. Konsep
penggarapannya adalah permainan drama dalam drama).

Tiba-tiba suasana itu dikacaukan bunyi tembakan yang hiruk-pikuk. Penari dan beberapa
anak berlarian kebingungan. Mereka menjerit minta tolong.

Anak 1: Tolong….Tolong… Tolong.
Anak 2: Mama… di mana mama… mama…
Anak 3: Papa Tolong…Tolong kami
Semua : Tolong…Tolong…Tolong.

Setelah usai suasana kegaduhan itu, di panggung depan tersisa sepasang kakak beradik
anak lelaki dan perempuan. Mereka nampak ketakutan di suatu sudut.

Anak Perempuan di Jendela mengucapkan narasi:

Narasi Anak di Jendela :
Ibu-ibu, bapa-bapa, kakak, dan teman-teman, serta adik sekalian, hari ini kita kembali
merayakan hari Natal. Hari Bahagia kelahiran Tuhan Yesus. Di kota mungil Betlehem
Tuhan Yesus lahir untuk menebus dosa dunia. Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk saling mengasihi, saling menyayangi. Tapi, mengapa di sana-sini masih terjadi perang. Disana –sini terjadi kerusuhan, terjadi perkelahian, terjadi pertengkaran, terjadi pembunuhan.
Tidakkah orang-orang ingat, dimana Tuhan Yesus sudah datang untuk mengajarkan kita saling mengasihi.
Mengapa dunia ini begitu jahat, sehingga banyak teman-teman kami, adik-adik kami, menjadi anak-anak terlantar, anak-anak terbiar, anak-anak yang hanya mampu menangis di tengah perang, di tengah kerusuhan, di tengah kemiskinan. Mengapa orang-orang tak mendengar teriakan parau tangis anak-anak itu? Mengapa dunia begitu jahat pada anak-anak. Apakah arti anak-anak di tengah dunia ini. Apakah kami tidak punya tempat untuk mengimpikan dan menjalani hari-hari kami dengan ceria. Lalu bagaimana dengan nasib kami anak-anak, jika orang dewasa, jika orang-orang tua kerjanya hanya berperang, bertengkar dan saling membunuh?

(Menunjuk ke tempat sepasang anak yang ketakutan)
Lihatlah kedua anak itu, mereka adalah bagian dari sekian banyak anak di dunia ini yang menjadi korban perang, korban kerusuhan, korban kejahatan orang-orang dewasa, korban perceraian ibu dan bapak. Kasihan mereka.
(Anak perempuan di jendela itu kemudian pergi. Di panggung yang tersisa hanya sepasang kakak beradik)

Adik: Kakak, mengapa orang-orang itu menembaki mama dan papa kita?
Kakak: Kakak tidak tahu.
Adik: Kalau mama dan papa ditembaki, apakah mereka mati?
Kakak: Kakak juga tidak tahu.
Adik: Mengapa orang-orang itu membakar rumah kita ?
Kakak: Kakak tidak tahu.
Adik: Mengapa kakak bilang semua tidak tahu.
Kakak: Memang karena kakak tidak tahu. Kakak tidak mengerti apa yang terjadi. Kalau orang-orang dewasa saling menembaki, membakar rumah, berkelahi, kakak tidak tahu apa maksud mereka.
Adik: Kakak, orang-orang besar itu jahat ya, mereka membunuh mama dan papa kita!
Lalu kita bagaimana kak. Kita harus ke mana. Siapa yang akan beri makan kita.
Kakak: Berdoalah dik. Berdoalah kepada Tuhan Yesus. Tuhan Yesus akan beri kita makan.
Adik: Tuhan Yesus itu orang dari mana kak?
Kakak: Tuhan Yesus itu Juru Selamat dari surga. Ia akan datang menolong orang-orang seperti kita dik.
Adik: Apakah Tuhan Yesus akan bawa roti kak?
Kakak: Ya.
Adik: Juga bawa nyam-nyam dan permen karet kak?
Kakak: Ya.
Adik: Kalau begitu, ayo kita cari Tuhan Yesus kak. (menarik tangan kakaknya) Ayo kak, kalau Tuhan kasih aku dua permen karet nanti satu biji aku kasih sama kakak. Ayo…
(Mereka keluar Panggung)

Bagian Kedua :

  1. Di rumah sebuah keluarga bahagia.

Dua orang anak Yatim itu berdiri di luar pagar memandang seorang ibu sedang menghiasi pohon Natal.

Ibu: Kristi sini. Tolong bawah bunga itu kemari.
(Kristi masuk membawa bunga)
Kristi: Ini ibu. Pohon Natal ini indah sekali ya bu.
Ibu: Iya. Kita harus bikin pohon Natal yang indah untuk merayakan hari kelahiran Tuhan Yesus. Karena Tuhan Yesus sudah kasih kita hidup yang berbahagia.
Kristi: Ibu, apa ayah akan kasih hadiah pada Kristi di Natal ini?
Ibu: Ya. Pasti, ayahmu akan kasih hadiah karena ayahmu sangat sayang padamu.
Ibu juga punya hadiah padamu.
Kristi: Oh ya. Kristi senang sekali.

(Ayah Masuk)
Ayah: Selamat malam.
Ibu: Eh Ayah datang.
Kristi: Selamat malam ayah.
Ayah: Pohon Natalnya sudah selesai dibuat?
Ibu: Sudah pak.
Kristi: Pohon Natal buatan ibu indah sekali ayah.
Ayah: Pohon Natal itu memang harus indah. Karena pohon Natal itu simbol dari hati kita merayakan hari kelahiran Tuhan Yesus. Tuhan Yesus sudah anugerahkan kita hidup yang bahagia. Jadi kita mesti mencintai Tuhan Yesus dengan hati yang indah pula.
Kristi: Ayah, apakah ayah bawa hadiah buat Kristi?
Ayah: Ada. Ayah memang sudah sediakan hadiah Natal yang indah buat anak ayah tercinta. (Mengeluarkan hadiah dan memberikannya pada Kristi)
Kristi: Terima kasih ayah. (Kristi tampak senang sekali)
Ibu: (mengambil hadiah) Ibu juga berikan hadiah Natal buat anak ibu paling manis ini. (menyerahkan hadiah)
Kristi: Terima kasih ibu. Kristi sayang sama ayah dan ibu.
Ayah: Apakah Kristi punya hadiah buat ayah dan ibu di Natal ini?
Kristi: Kristi juga punya hadiah buat ayah dan ibu, yaitu sebuah lagu :
Menyanyi lagu:
“Bila Aku Besar Nanti” (Lagu bisa diganti dengan lagu lain yang cocok).
Kristi menyanyi sambil menari. Ayah dan ibu ikut menari riang gembira.
Ibu: Terima kasih atas lagu yang indah itu nak.
Kristi: Ayah, ibu, hari ini Kristi ingin mengajak ayah dan ibu pergi mengantar hadiah Kristi buat anak-anak yatim. Kristi punya hadiah untuk mereka dari tabungan Kristi.
Ayah: Aduh. Itu ajakan yang bagus. Ayah setuju. Ternyata anak ayah sangat baik hati. Sikap saling mengasihi dan saling menolong itu adalah sikap yang baik. Kristi ayah bangga punya anak yang suka mengasihi orang lain. Seperti juga Tuhan mengasihi kita, kita harus mengasihi orang lain. Ayo kita pergi.
(Keluar panggung)

Bagian Ke tiga :

  1. Kedua anak yatim di luar pagar masuk panggung depan

Adik: Kita tidak seperti mereka ya kak. Mereka senang punya ayah dan ibu.
Kakak: Kau jangan sedih. Kita memang anak yatim. Tapi Tuhan Yesus mengasihi kita semua tidak ada bedanya. Tuhan tidak saja mengasihi orang kaya. Tapi Tuhan juga mengasihi orang miskin seperti kita.
Adik: Tapi sampai saat ini Tuhan Yesus belum juga antar kita roti dan permen karet.
Kakak: Tuhan Yesus pasti punya cari sendiri untuk kasih kita hadiah Natal dik. Sebaiknya adik banyak berdoa, agar hadiah dari Tuhan Yesus itu cepat datang.
Adik: Kak, ini kan hari Natal. Apakah kita juga bisa merayakan hari Natal seperti anak-anak yang punya orang tua?
Kakak: Kita juga berhak merayakan Natal. Karena Natal untuk semua orang. Tuhan Yesus datang untuk semua umat manusia tanpa membedakan yang kaya dan yang miskin.
Adik: Tapi bagaimana kita harus merayakannya kak, sedangkan kita ini cuma anak jalanan tanpa rumah.
Kakak: Bagaimana kalau kita rayakan di sini saja dik. Kakak punya sepotong lilin. (mengeluarkan lilin dari tasnya).
Adik: Ya. Kita rayakan di sini saja kak.
Kakak : kalau begitu, adik pasang lilin, nanti kakak yang menyanyi.

(mereka berdua kemudian mengatur tempat lilin dan sang adik memasang lilin, sedang kakak menyanyi)
Lagu Kakak : Aku dan Rembulan. (atau lagu lain yang cocok).

Bagian Ke Empat :

  1. Sementara kedua kakak beradik sedang merayakan Natal dengan sederhana di jalan itu, tiba-tiba datang beberapa anak nakal, mereka langsung menganggu.

Rudi: Hai teman-teman, lihat dua gembel itu sedang merayakan Natal.
Yohan: Sudah kita ganggu saja mereka.
Rudi: Ya kita usir mereka.

Kelompok anak nakal itu kemudian mendekati sang kakak dan adiknya.

Rudi: Sedang apa kamu di sini?
Kakak: Kami berdua sedang merayakan Natal.
Yohan: Apa? Apakah pantas merayakan Natal di jalanan?
Adik: Habis, kami tidak punya rumah dan orang tua.
Rudi: Berarti kalian berdua ini gembel ya?
Kakak: Kami bukan gembel, tapi kami ini yatim piatu.
Yohan: Ya sama saja.
Rudi: Kalau begitu kalian tidak pantas merayakan Natal. (mereka kemudian merusak lilin dan tempat kedua kakak beradik itu merayakan Natal) Pergila kalian dari sini. Kalian ini hanya merusak pemandangan di tempat ini. Ayo pergi!

(Kedua kakak beradik jadi takut. Untung kejadian itu sempat dilihat Kristi dan ayah ibunya yang muncul di sana)
Ayah: Hai, apa yang sedang kalian lakukan. Mengapa kalian ganggu anak itu?
Rudi: Habis mereka gembel pak.
Kristi: Rudi kau jangan begitu. Habis kalau mereka gembel, lalu tidak berhak hidup.
Ayah: Betul itu Rudi. Kalian tidak boleh menyakiti orang lain. Apalagi jika orang itu tidak mengganggu kalian.
Yohan: Habis om, mereka kan anak yatim yang cuma mengotori pemandangan di sini. Disini kan bukan tempat orang miskin seperti mereka.
Ibu: Yohan, ayah dan ibumu pasti tidak suka kalau kau bicara begitu. Ayah dan ibumu adalah orang yang terkenal sangat baik hati di kampung ini. Jadi, anaknya juga harus jadi anak yang baik, bukan menjadi anak yang suka menyakiti orang lain.
Rudi dan Yohan: Maafkan kami pak.
Ayah: Nah itu baru anak yang baik. Sekarang kalian minta maaf kepada kedua sahabat baru kalian ini.
Yohan dan Rudi: (minta maaf kepada kakak dan adik) Maafkan kami ya.
Kakak dan adik: Ya kami maafkan.
Kristi: Nah itu baru bagus. Sekarang saya punya hadiah untuk teman baru kita ini. (Memberikan kado) Terimalah ini sebagai hadiah dari kami semua. Isinya ada roti, permen karet dan nyam-nyam. semoga kamu berdua senang menerimanya.
Adik: Pasti kami senang. Inikan hadiah dari Tuhan Yesus.
Kristi: Ya. Karena Tuhan Yesus mengasihi kita semua. Tuhan Yesus mengasihi semua orang tiada bedanya. Makanya, kita juga harus saling mengasihi.
Ayah: Nah, itu baru anak papa.
Adik dan kakak: Terima kasih Tuhan Yesus atas berkatMu ini.

Mereka semua menyanyi
Dan para penari menari dengan gembira.

Tamat

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

1 comment

News Feed