oleh

Kegundahan Herkis Sebelum Mundur dan Penjelasan Manajemen Sulut United

Latihan Sulut United usai tur Kalimantan Timur terlihat penuh canda dan riang gembira antar sesama pemain dan pelatih, di Stadion Klabat Manado, Selasa (10/9/2019) sore tadi.

Sebelum latihan para pemain duduk dan bercengrama dengan para pencinta bola yang menyaksikan laga Liga 3 antara PS Bina Taruna versus Manguni FC. Setelah pertandingan berakhir yang berkesudahan 1-1, kemudian satu per satu para pemain memasuki lapangan.

Tak terkecuali, Pelatih Kepala Herry Kiswanto pun masih melempar senyumnya kepada suporter dan wartawan. Rupanya, itu adalah senyuman terakhir sang arsitek. Ternyata di balik senyumannya, dia menyimpan banyak beban soal kondisi Sulut United.

Dan, kabar mengejutkan datang dari manajemen. Mantan stoper timnas Indonesia itu mengundurkan diri sebagai pelatih. “Saya berterima kasih kepada semua pemain, official, dan manajemen Sulut United atas kerja sama selama ini. Tetap semangat hadapi kompetisi disisa musim ini,” kata Herkis, sebelum pamit.

Bahkan, tanda-tanda dirinya bakal mundur sudah terlihat. Kepada wartawan dia mengaku kadang-kadang susah tidur.

Soal kondisi tim, dirinya terus memotivasi para pemain karena dia yakin masih mempunyai kesempatan. “Kita masih punya kesempatan. Ada empat pertandingan di luar, dan dua di kandang. Jangan sia-siakan kesempatan itu. Setiap pertandingan itu final,” ujarnya sembari menyemangati para pemain.

Mantan kapten timnas itu mengatakan, ada perbedaan saat main di luar kandang karena banyak faktor mempengaruhi. “Seperti wasit, dan lain-lain. Kita kemarin dua pinalti di Mitra Kukar harus dapat. Saya juga sedikit sentil itu, saya menyayangkan,” ujarnya.

Dirinya menginginkan ada rasa memiliki terhadap tim Sulut United. “Saya ingin ada rasa memiliki. Biar asal dari daerah mana, saya tanamkan harus ada rasa memiliki. Dengan penampilan di lapangan yang agresif. Secara teknis itu yang bisa saya lakukan, selebihnya yang melakukannya adalah para pemain di lapangan,” ujar Herkis lagi.

Keputusan Manajemen

Namun motivasi kepada pemain seakan tak mempan. Manajemen ternyata sudah punya pilihan yang dijatuhkan kepada Herkis.

“Mengingat beberapa hasil pertandingan yang dicapai, ternasuk pertandingan terakhir lawan Persiba Balikpapan yang menelan pil pahit dan posisi Sulut United di klasemen yang cukup kritis. Dan hanya terpaut tipis dari tim di zona degradasi. Maka manajemen setelah melalui pertimbangan yang cukup panjang dan matang menganggap perlu untuk melakukan penyegaran dalam tim. Head Coach Herry Kiswanto telah mengajukan pengunduran diri. Dan pengunduran diri tersebut secara berat hati telah diterima dengan baik oleh manajemen,” ujar Sekretaris Tim, Mohamad Ali Ridho dalam keterangan resminya tadi malam.

Manajemen mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas sumbangsih Herry Kiswanto selama ini dalam membangun tim. “Mulai dari titik nol sampai dengan saat ini dan kami harapkan kesuksesan untuk coach Herkis ke depannya,” bebernya.

Menghadapi enam pertandingan sisa di putaran kedua Liga 2 Grup Timur yakni dua laga kandang dan empat tandang, manajemen harus menyiapkan pengganti Herkis.

“Menindaklanjuti pengunduran diri tersebut, manajemen telah berusaha untuk bergerak cepat mencari pengganti Herry Kiswanto. Dan telah menunjuk pelatih muda penuh potensi Ricky Nelson yang pernah mengantarkan Borneo FC B Runner Up Piala Presiden 2017. Kami harapkan perubahan ini akan membawa angin segar bagi tim sehingga Sulut United dapat menuai hasil optimal disisa 6 pertandingan,” pungkas Ridho.

Kiprah Herkis

Sejak kecil, pemain kelahiran Banda Aceh, 25 April 1955 ini sangat mencintai dunia sepakbola. Setelah bermain hampir 20 tahun diberbagai klub, ia memutuskan gantung sepatu dan menjadi pelatih sepakbola.

Meski lahir di Aceh, ia memiliki keluarga keturunan Sunda. Orang tuanya membawa Herkis waktu kecil ke Ciamis, Jawa Barat yang merupakan kampung halaman keluarganya.

Ia sudah mulai bermain sepak bola semenjak kecil kemudian setelah lulus sekolah bergabung dengan klub Tornado dan PTPN XIII.

Tak lama Herkis pindah ke Bandung untuk melanjutkan kuliahnya, ia juga mulai bermain bersama klub UNI Bandung. Pada awalnya ia berposisi sebagai gelandang, tapi ia mulai bermain sebagai libero. Saat itu ia telah bergabung bersama Pardedetex Medan.

Dirinya cukup lama membela klub asal Medan tersebut, sebelum akhirnya pindah ke Yanita Utama dan melanjutkannya ke Krama Yudha Tiga Berlian. Di klub ini, kariernya semakin mentereng dengan membawa klubnya menjadi juara Galatama selama 4 tahun berturut-turut pada tahun 1983 hingga 1987.

Dikutip dari VIVAnews, Herkis menjadi salah satu pemain yang paling diburu banyak klub kala itu. Ia kemudian memutuskan pindah ke Assyabaab Salim Grup sebelum berlabuh di Bandung Raya tahun 1993. Bersama klub asal Kota Kembang ini merupakan puncak dari kariernya dengan mengantarkan Bandung Raya Juara Liga Indonesia 1995-1996 yang saat itu dilatih oleh Henk Wullems.

Meskipun posisinya sebagai libero, Herkis adalah seorang pemain yang sportif selama 20 tahun kariernya, ia hanya mendapatkan satu kartu kuning. Ini adalah hal yang jarang terjadi bagi seorang libero atau pemain belakang.

Berkat kemampuannya itu dirinya juga kerap kali dipanggil tim nasional Indonesia. Ia beberapa kali memperkuat timnas Garuda untuk berbagai kejuaraan level Asia. Dan tidak lama setelah itu ia memutuskan untuk “gantung sepatu”.

Setelah memutuskan pensiun pada usia 41 tahun, ia memilih untuk menjadi pelatih. Dan Persija Jakarta menjadi klub pertama yang ditanganinya pada tahun 1996.

Pengalamannya saat menjadi pemain ia coba terapkan di klub asuhannya. Ia pun sempat beberapa kali menangani klub Indonesia, seperti PSIS Semarang, Persikabo Bogor, PSS Sleman, Persmin Minahasa, Persiraja Banda Aceh, hingga Persiba Balikpapan.

Memasuki 2017, ia diminta menangani menjadi pelatih Persela Lamongan untuk berlaga di kompetisi Liga 1. Keberadaannya diharapkan memberikan yang terbaik bagi Persela. Meski belum menunjukkan hasil yang menggembirakan, ia tetap mempunyai peluang membawa klub binaannya menjadi juara sama seperti ia sebagai pemain.

Namun, kenyataanya Herkis gagal membawa Persela ke papan tengah klasemen. Dihajar 5 kekalahan beruntun, Persela Lamongan tak karuan. Skuat teronggok di urutan 15 klasemen Liga 1 2017, Herry pun memilih mengundurkan diri sebagai bentuk tanggung jawabnya.

Kiprah di Sulut United juga terbilang buruk. 14 kali bermain, mengalami 6 kekalahan, 4 kemenangan dan 4 seri dengan poin 16. Dan harus puas di posisi 9 atau tiga terbawah dari dasar klasemen.

“Suporter bisa saja menyampaikan saya mundur. Tapi ingat saya bukan diangkat suporter tetapi manajemen,” kata Herkis kala Sulut United ditahan imbang Persik Kediri di Stadion Klabat Manado.

Kini, Herkis telah meninggalkan mes Moy Residance Bahu Manado, dan apakah kemunduran dirinya akan memberikan perubahan pada tim untuk berusaha lolos dari zona degradasi? Ini yang menarik ditunggu. Apalagi kabarnya tim pelatih yang lain ikut mundur: Leo Akira Soputan (Asisten Pelatih) dan Robby Meiriyana (pelatih fisik).

KARIER PEMAIN
Persib Bandung, 1976 – 1979
Pardedetex Medan, 1979 – 1983
Yanita Utama Bogor, 1983 – 1984
Krama Yudha Tiga berlian, 1985 – 1991
Assyabaab Salim Grup, 1991 – 1993
Mastrans Bandung Raya, 1993 – 1996
Timnas Indonesia, 1979 – 1993

KARIER PELATIH
Persija Jakarta, 1996
PSIS Semarang, 2004
Persikabo Bogor, 2004
PSS Sleman, 2005 – 2006
Persmin Minahasa, 2007
Persiraja Banda Aceh, 2008
Persikab Bandung, 2009
Persiraja Banda Aceh, 2010
Persiba Balikpapan, 2013
PSS Sleman, 2014
Persela Lamongan, 2017
Sulut United, 2019

Peliput: Agustinus Hari

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed