oleh

Bumi Karema Karya Rose Kampoong: Bukan Sekadar Jujur Tapi Hidup

Manado, Barta1.com – Diskusi publik membedah buku karya Rose Kampoong yang berjudul ‘Bumi Karema’ melihat pluralitas Sulut lewat lensa kamera yang melibatkan 2 pemantik.

Gedung Terpadu Lantai 5, Kampus IAIN Manado, Senin (19/08/2019) sedikit adem-adem ketika Delmus P Salim, Rektor IAIN Manado mewakili akademisi dan Alex John Ulaen, sejarawan dan antropolog, tampil sebagai pembicara diskusi tersebut.

Kegiatan yang diwadahi Kampus IAIN Manado berkerja sama dengan tim Rose Kampoong ikut dihadiri ratusan mahasiswa IAIN dari beberapa fakultas yang terundang.

Keterpangilan untuk menulis sebuah buku karena ingin mengetahui berbagai hal terkait budaya, suku dan agama yanga ada di Sulut. “Sama halnya ibu-ibu yang ingin menciptakan masakan yang enak dengan resep yang baru. Begitu juga dengan saya mencoba untuk mencari tahu pengetahuan dengan membuat buku dari hasil-hasil gambar yang diambil dilapangan dan dijadikan buku,” ungkap Rose Kampoong, membuka diskusi.

Rose menambahkan sebenarnya dirinya bukan seorang fotografer, tapi datangnya dari berbagai aspek untuk mejadikan karya yang baik. Buku ini ada karena buah cinta keluarga, jika tidak diijinkan suami mungkin karya ini tidak ada.

“Dalam gambar dan penulisan saya dibantu beberapa orang. Pengambilan gambar dibantu suami yang tugasnya sebagai prajurit dan penulisannya dibantu kawan-kawan jurnalis. Dan buku ini sangat independen tanpa ada intervensi dari pemerintah,” kata dia.

Rektor IAIN Manado, Delmus P Salim mengatakan isi dari buku Bumi Karema ini menceritakan berbagai gambar yang sangat jujur berbeda dengan buku yang banyak dengan kata-kata bisa untuk menipulasi pembaca.

“Tetapi buku ini betul-betul mengambarkan berbagai budaya, suku dan agama tanpa editan. Gambar pada buku tersebut bukan sekedar jujur tetapi terlihat hidup,” ujarnya.

Delmus menambahkan anak-anak milenial saat ini, lebih senang melihat gambar yang bisa menumbuhkan cara pandang yang bisa mengambarkan kehidupan dari pada ceramah dan sebagainya. “Ceramah itu perlu, tetapi kita harus mengimbangi dengan apa yang menjadi kemauan anak-anak milenial saat ini. Dan buku ini baik untuk bahan pendidikan,” ungkapnya.

Untuk itu, mengurangi rasa hormat, jika ada edisi buku lainnya pihaknya berharap bisa diperbanyak foto-fotonya lagi.

“Kita berpikir secara logika dan nalar, jika satu per satu gambar dikumpulkan dan dijadikan satu buku, ini merupakan hal yang luar biasa,” tambah sejarawan dan antropolog, Alex John Ulaen.

Buku ini sangat menceritakan seni yang baik untuk pendidikan sebagai informasi bagi anak-anak dan cucu kita maupun sampai keluar negeri. “Dan saya mengharapkan ada lagi buku edisi kedua sampai ketiga,” tambah Alex.

Peliput: Meikel Pontolondo

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed