oleh

Rayakan Hari Kemerdekaan, UKIT YPTK Kembali ke Area Kampus

Tomohon, Barta1.com — Sivitas Akademika UKIT YPTK GMIM menemukan sinarnya kembali tepat pada perayaan kemerdekaan Republik Indonesia, Sabtu 17 Agustus 2019. Pada hari itu, mahasiswa, dosen hingga staf kembali memasuki area kampus di kompleks Bukit Inspirasi Tomohon, untuk melanjutkan proses belajar-mengajar.

Area yang mereka tempati adalah Wisma West Hill. Pintu masuk bangunan itu sebelumnya terpalang balok kayu. Namun usai upacara bendera dan prosesi peribadatan, beberapa dosen dan mahasiswa mencongkel palang sembari berteriak merdeka.

Sebelumnya mereka mengalami peristiwa tidak mengenakan. 11 Juli 2019 lalu para mahasiswa dan dosen terpaksa meninggalkan kampus karena pengamanan aset yang dilakukan BPMS GMIM. Tanah dan bangunan yang biasanya digunakan untuk berkativitas diklaim sebagai milik Gereja Masehi Injili di Minahasa. Sementara UKIT YPTK, disebut-sebut beberapa pihak tidak lagi terafiliasi dengan GMIM.

Rektor UKIT YPTK Pdt Dr Richard Siwu optimis proses perkuliahan segera berjalan normal kembali. Apalagi bangunan yang mereka tempati saat ini, hanya beberapa puluh meter dari bangunan kampus lama, memiliki keabsahan berupa Akta Jual Beli (AJB).

Plang aset yang akan digunakan UKIT YPTK untuk proses akademik.

“Kami memiliki AJB, dan itu sudah ada sejak tahun 80-an bahkan 70-an, ada (aset) yang sifatnya sumbangan,” ujar Richard pada wartawan.

Rencana akademik siap berlanjut lagi pada pekan di muka. Menurut Rektor, ini umumnya berupa pembenahan jadwal dan registrasi atau kerja-kerja terkait Tri Dharma Perguruan Tinggi. Karena ini merupakan kuliah integratif, maka perencanaan ruangan untuk perkuliahan juga akan dimatangkan.

“Kegiatan akademik akan tetap berjalan karena ini adalah hak dan kewenangan kami yang memiliki legalitas untuk melakukan hal tersebut,” jelas dia.

Proses penyatuan data akademik di pangakalan data Pendidikan Tinggi antara UKIT YPTK dan UKIT AZR Wenas pun sedang berlangsung. Baik dirinya selaku rektor di YPTK, maupun Prof Mezak Ratag Rektor di Wenas, terus bergegas, mengingat ini adalah salah satu arah menuju rekonsiliasi atau UKIT bersatu.

Upacara memeringati Hari Kemerdekaan yang dilakukan mahasiswa, staf pengajar dan dosen.

“Memang sudah tugas kami untuk menyelenggarakan kegiatan-kegiatan perguruan tinggi, bila tidak sama artinya kita abai terhadap apa yang sudah dipercayakan pada kita,” jelas Richard lagi.

Memilih Kebenaran
Pengamanan aset yang menimpa komunitas UKIT YPTK juga terjadi pada rumah dinas yang ditempati dosen. Pdt Leonard Masalamate MTeol salah satu pengajar yang disurati pihak terkait untuk segera meninggalkan rumah yang ditinggalinya di area Bukit Inspirasi. Namun hingga kini, eksekusi belum dilakukan. Kalau pun terlaksana, Leonard memilih pulang kampung.

“Saya akan pulang Tahuna,” katanya pada Barta1.

Dosen senior ini sebelumnya adalah Tenaga Utusan Gereja (TUG) dari Gereja Masehi Injili Sangihe Talaud (GMIST). Kemudian dia mengajar di UKIT sejak 1997. Melewati konflik belasan tahun antara kedua yayasan pada pengelolaan universitas, sikap Leonard adalah bertahan di YPTK.

“Bertahan pada kebenaran,” kata dosen bidang studi biblika ini, sambil menunjuk dadanya.

Loyalitas sejumlah tenaga pengajar pada universitas juga ditunjukkan Dr Denni Pinontoan dan Vera Loupatty. Nasib keduanya sama dengan Pdt Leonard, sudah diminta untuk meninggalkan rumah dinas. Namun bertahan pada kebenaran adalah sebuah pilihan.

“Sampai hari ini saya masih di sini,” ujar Vera, singkat.

Sedangkan Denni berharap penyatuan staf pengajar dari UKIT YPTK ke Wenas, atau dalam konsep UKIT Satu, tidak berlangsung parsial. Prosesnya harus secara kelembagaan dan mengedepankan prinsip keadilan. Ini juga mengingat data para pengajar YPTK telah terakomodir di pangkalan Dikti.

Sedangkan Dosen perempuan Pdt Agustien Kaunang menyatakan hingga kini belum melihat bagaimana ujung proses penyatuan UKIT. Karena juga belum ada pembicaraan bagaimana nasib para pengajar ke depan. Pastinya Agustien menyebut, dia bekerja pada lembaga pendidikan yang legal dan inkrah pada keputusan Mahkamah Agung. (*)

Peliput: Albert P. Nalang, Ady Putong

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed