oleh

Gegara Kata ‘Sayang’ Oknum Pendeta GMIST Kena Bacok

Sangihe, Barta1.com – Oknum pendeta di Gereja Masehi Injili Sangihe-Talaud (GMIST) yang berinisial DJW harus menerima luka bacokan di tangannya oleh pria yang berinisial NS. Bukan tak ada alasan, saling sapa menggunakan kata ‘sayang’ via pesan singkat whatsapp (WA) dengan istri NS menjadi pemicu penganiayaan tersebut. Alhasil, proses hukum pun berlangsung hingga ke Kepolisian Sektor Tahuna, Jumat (2/8/2019).

Berawal dari MT yang adalah istri oknum pendeta DJW menemukan pesan WA yang isinya saling berbalas kata sayang dengan seorang wanita berinisial JM. Istri oknum pendeta tersebut kemudian mendatangi rumah JM mengkonfirmasi mengenai pesan yang ia baca.

Hal demikian kemudian dimediasikan oleh pihak kelurahan bersama MT mendatangi rumah JM. Mendengar permasalahan itu, NS suami JM marah tak terkendali dan melakukan tindakan penganiayaan setelah selesai mediasi.

“Pelaku NS yang merupakan suami dari JM terbakar cemburu mendatangi korban DJW dan langsung menganiaya korban dengan menggunakan parang yang mengakibatkan luka ringan di bagian yang tidak fatal, seperti tangan, dan kaki,” ungkap Wakapolsek Tahuna, Ipda Anderson J Rahotan.

Menurut Rahotan, korban DJW mengakui bahwa kata ‘sayang’ yang ia gunakan itu tidak hanya ditujukan terhadap JM semata, namun juga kepada pihak lain. “Dan itu hal yang biasa menurut DJW,” ucap Wakapolsek.

Setelah mendapat penganiayaan, oknum pendeta DJW langsung melaporkan kejadian itu ke Polsek Tahuna. Tak lama dari itu oknum pendeta DJW yang merupakan korban kemudian mencabut laporan tersebut serta memilih kasus ini diselesaikan secara kekeluargaan.

“Kami pihak kepolisian memediasi permasalahan ini dan kami juga mengeluarkan surat pernyataan kepada pihak DJW dan JM untuk tidak mengulangi perbuatannya tersebut dan tidak saling berkirim pesan menggunakan kata sayang,” ungkap Rahotan.

Sementara itu, Ketua Sinode GMIST, Pdt Patras Madonsa yang juga hadir mengamati persoalan demikian mengatakan akan menunggu hasil dari pihak kepolisian. “Kita belum tahu masalahnya. Cuma karena dorongan sebagai penanggung jawab pelayanan, saya datang. Jadi akan menunggu dulu. Tindakan sinode adalah melihat persoalannya dulu. Kami tidak bisa memprediksi apa yang dilakukan, dan kami akan mendalami dulu persoalannya. Kami akan menindaki secara kelembagaan ketika sudah ada hasil pemeriksaan dan bukti-bukti yang menyatakan dia bersalah. Jadi kita akan tunggu hasil dari pemeriksaan kepolisian,” jelas Madonsa kepada awak media.

Terpaan masalah ini pun menjadi konsumsi publik dan menuai tanggapan dari sejumlah masyarakat. Pasalnya beberapa oknum yang ada di dalamnya merupakan tokoh masyarakat yang seharusnya menjadi panutan di tengah-tengah masyatakat.

“Kami berharap pihak Sinode GMIST menindak tegas hal-hal seperti ini. Perbuatan oknum-oknum tersebut sangat mengecewakan masyatakat. Okelah, sanksi hukumnya mungkin tidak memenuhi unsur hukum formal kita, namun demikian fakta sosial itu tak dapat dipungkiri sebagai tamparan buruk di wajah kelembagaan GMIST di hari ini,” ungkap salah satu warga yang tak ingin namanya diberitakan.

Peliput : Rendy Saselah

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed