oleh

Mengenal Tradisi Makan Pinang Masyarakat Desa Dapalan Talaud

Talaud, Barta1.com – Tradisi unik makan pinang bagi masyarakat Kecamatan Tampan’amma khususnya Desa Dapalan, memiliki arti tersendiri dalam kehidupan sosial masyarakat setempat.

Pohon pinang dalam bahasa Inggris, betel palm atau betel nut tree, memiliki nama latin areca catechu yang digolongkan dalam famili areceae pada ordo arecales dan kelas monocotyle, atau yang termasuk dalam tumbuhan berkeping satu ini berjejer di pekarangan rumah warga. Hal ini menggambarkan betapa lengketnya pinang dengan kehidupan masyarakat.

Ketersediaan buah pinang yang banyak di kebun maupun di perkampungan, serta beberapa bahan campuran berupa daun sirih, buah sirih masih banyak yang tumbuh di perkebunan warga membuat langgengnya tradisi unik ini. Apalagi untuk kapur sebagai bahan untuk membuat buah pinang masak bisa diproduksi sendiri oleh warga dengan proses pembakaran batu karang dan cangkang kerang yang dibiarkan beberapa hari setelah proses pembakaran selesai.

Makan Pinang Pengikat Tali Persaudaraan

Makan pinang merupakan ciri khas masyarakat di Kecamatan Tampan’amma. Hal ini nampak jelas dalam keseharian warga.

Hengky Aula, salah satu tokoh masyarakat mengatakan, makan pinang bagi warga Dapalan memiliki arti khusus dalam keseharian masyarakat. “Makan pinang saat ini bukan lagi sekedar tradisi tetapi sudah menjadi sarana pemersatu masyarakat. Karena saat makan pinang belasan hingga puluhan orang berkumpul sambil membicarakan hal-hal positif termasuk kemajuan desa,” ungkap Aula.

“Apalagi saat makan pinang, tidak mengenal usia baik tua maupun muda. Semuanya bisa bergabung dan saling bertukar pikiran,” katanya.

Lanjut lelaki paru baya yang akrab disapa Om Bas ini, menuturkan dalam setiap acara makan pinang ini selalu ada baik persiapan pelaksanaan acara hingga selesainya acara ini.

Jenis Buah Pinang dan Bahasa Lokal

Dari hasil penelusuran, buah pinang dalam bahasa daerah Maman’na ini, memiliki beberapa jenis yang biasa dikonsumsi warga yakni; Maman’na Wiasa, Maman’na Pungusan, Maman’na Anggou, Maman’na Pare.

Dijelaskan oleh Jambry Pareda, salah satu tokoh masyarakat bahwa Maman’na Wiasa adalah jenis buah pinang ini ukurannya lebih kecil dari beberapa jenis yang lain dan bentuknya lebih lonjong.

Maman’na Pungusan merupakan jenis buah pinang yang ukurannya lebih besar dari jenis pinang biasa dan aromahnya wangi. Maman’na Anggou memiliki bentuk dan ukuran sama seperti Maman’na Pungusan. Yang membedakan kedua jenis buah pinang ini adalah aromah.

Jenis buah pinang ini oramahnya tidak terlalu wangi dibanding Maman’na Pungusan. Maman’na Pare merupakan semua jenis buah pinang yang sudah tua atau kulitnya sudah kering dan hanya diambil isinya.

Serunya Makan Pinang

Untuk benerapa komunitas masyarakat, minum kopi merupakan momentum untuk berkumpul dan mendiskusikan banyak hal. Tapi ini berbeda dengan masyarakat di Kecamatan Tampan’amma yang lebih suka berdiskusi sambil makan pinang.

Serunya makan pinang bisa dirasakan ketika banyak orang terkumpul dan makan pinang bersama. Apalagi ketika saling berbagi pinang dan bahan campurannya satu sama lain.

Cara makan pinang ini, tidak memiliki kerumitan. Buah pinang yang ada di campur dengan daun sirih, buah sirih dan diolesi kapur kemudian di makan.

Hal ini seperti yang diterangkan oleh Simon Larungkondo salah seorang anak muda yang gemar makan pinang. Dia mengatakan saat makan pinang jangan sampai kapurnya terlalu banyak karena lidah hangus oleh panasnya kapur.

Penulis : Evan Taarae

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed