oleh

Dari Aceh Hingga Papua, Merekam Bencana Dalam Puisi

Sajak-sajak Iverdixon Tinungki

DUKAKU DUKA PINGAI FANSURI
dari laut perahu Fansuri datang ia ke dukaku
bersama airmata tiga puluh satu sultan dan empat sultanah
dari empat abad berkabar mereka tentang bencana:
Acehku berduka!
berduka Aceh dalam dukaku

matanya kelam
tak bercerita ia kecemerlangan Peureulak dan Pasai purba
rumah elok sanjak memuja tarian burungburung pingai
seperti cerita datukku tentang para Syekh menulis tasawuf dan sufi
buat berbagi cahya ke negerinegeri tersembunyi

ia memang menangis
menangis ia dalam dukaku

sejak zaman Syiah Kuala selalu kubaca Aceh nan indah
datuk-datukku pernah bersinggah di bandarbandarnya
belajar kesatriaan dari kitab Teungku Chik Kuta Karang

tapi kini datang berita memilukan
ratusan ribu orang mati dihantam tsunami di Acehku
ratusan ribu orang Acehku kumakam dalam dukaku

karena dukaku, duka Fansuri
bersama airmata tiga puluh satu sultan dan empat sultanah

doaku, doa Fansuri di sayapsayap pingai
terbang mengiringi perjalanan ribuan jiwa ke negeri abadi

MENTAWAI
di suatu hari yang muram
Umauma lantak bersama ratusan mayat
saat itu baru kubaca sejarah Sekerei menjagai laut Mentawai
airmatanya berhamburan ke udara
seperti buibui tua di pucuk ombak

ini duka Sipora, Pagai dan Siberut dan dukaku
tsunami berbagi kisah manusia tetap saja manusia

Tuhan yang Itu, selalu rahasia. yang mulia
mengurai sejarah panjang Tua Pejat yang tua
di rinai airmata Mintaon’peta migrasi bangsabangsa

mari berbagi airmata di tanah duka ini
biar Mentawai kuat melafal Arat Sabulungan
syairsayir Taikaleleu di keharmonisan alam
dan nenek moyang gagah tetap menguncupkan daun
buat puja Tai Kabagat Koat dan Tai Ka Manua
di jantung peradabannya

di sini,
pemburu membuat penatoan seperti matahari
dalam sakramen sikerei dan rimata, kerena lelaki mestilah lelaki

Ia berangkat dari Sipatiti hingga John Crisp menulis sajaksajak
ombak Poggy buat peselancar bertemu dunia
laut mendidih di sejarah moyang Mentawai

para lelaki dan primadona menari Turuk Uliat
meragakan gerak binatang alam
“uliat bilou, uliat manyang
turuk pok-pok, galagau”

mari menari
di gelombang pasang yang menghujam
biar Mentawai terus bergerak
dalam bebunyian syairsyair keindahannya

DUKA PALU
dari Kaili ke Sigi
apa lebih duka
dari katakata yang mati
airmata menjelma logam api
dari hati ke pipi
sebagai tangis
tapi tak bisa memanggil yang pergi kembali
dari Kaili ke Sigi
yang retak tak saja tanah
tapi luka itu menusuk dada
–namun siapa bisa mengira bencana.
ia datang bagai tamu yang biasa
tak mengucap pisah
karena sejak lahir, mati menjadi jalan
untuk berjumpa
dari Kaili ke Sigi
barangkali kita akan rindu Tilako
mainan bambu memandu riang
mengajak surga memandang
antara teluk dan suluksuluk tanah
ada gembira berlentera
namun katakata apalagi bisa kita ucapkan
selain mengaminkan, sejak Lolove dimainkan
hidup sesungguhnya bambu yang beruas
tak ada nada yang selaras
tanpa melampaui batasbatas

MENULIS DONGGALA
tak ada yang bisa mendetilkan bencana
selain air mata
bahkan tinta akan tumpah jadi nila
saat ia memaksa menulis Donggala
di sana duka menjelaga
tak bisa ditakar katakata
kecuali menghabiskan banyak malam
mendengar ribuan nama
diucapkan angin dan pohonan
lewat jendela atau gang
yang tibatiba menjelma ruang tamu
bagi kesedihan
di atas pedih yang tumpah bagai bah ini
tak ada jalan lain selain menyawai kenduri
untuk semua terkasih
agar bertemu jalan ke negeri abadi
lalu bergegas kembali
meladangi setiap sisa hari
saat embun masih bernyanyi
meski bencana masih terasa nyeri
karena manusia yang berani
adalah mereka yang mampu
memaafkan diri sendiri

IRONI DARI TANAH HITAM
adikku, aku ingin berbagi sembab denganmu:
di sini lelaki dengan bahasa gerak tubuh Marokaahe menari
orang Marind, sejarah tua kapal uap di sungai Maro
mengusung gasing Izakod Bekai Izakod Kai
seperti resital indah kisah surga di tanah hitam

harusnya waktu berada dua jam di masa depan
di Wamena, dan mata cekung orang Dani.
rasanya mundur ribuan tahun
ke belakang membawa Jayawijaya Adikku…

di Obiah ada tempat acara purba bakar batu
seorang Onduwafi berdiri di puncak menara kayu
mengintai jauh di kesuraman Papua
ia berteriak memanggil para lelaki dengan panah dan tombak
melontarkan bebunyian ritmis dari mulutnya
mengekalkan sajaksajak langit dan tanah muram

pria berkoteka, pilamo di pintu gerbang
umma berjajar di sampingnya
perempuan dan anak-anak berdandan
melumuri tubuh dengan lumpur
menyanyikan lagu terdengar seperti masa lalu

kamupun akan tahu, di sini adikku…
Sang Onduwafi akan menyuruh dua orang pemuda
membawa seekor babi
pemanah tua menembakkan sebuah panah kayu
menusuk jantung buat alirkan darah ke udara
seperti suara nyanyian purba penduduk nan riuh
semakin keras dan cepat di nguikan babi merenggang ajal

sepasang pria dan wanita muncul
mereka berlarilari melepasan roh di tarian mistisnya

pernahkah kau baca hot plate purba
babi dan hipere terpanggang di atas tumpukan batu panas
ditahan tumpukan daun segar dan rerumputan basah
yang menutupi tungku tradisional

beginilah aku berbagi denganmu di senyap Papua:
Pepera seperti prasasti sunyi pusaka terlara

di sini engkau dapat menyaksikan Musamus
gundukan tanah rumah rayap yang tinggi
Kangguru, Tikus pohon. Kasuari, Rusa
pada piguru usang riwayat penjarahan dan perusakan

lalu kau dengar adikku…
di Teluk Wondama, ribuan pengungsi banjir Wasior
apa yang mereka makan di ladang airmata itu

sungkawa gunung keramat
air turun dari tanah tersayat
mengirim ratusan jiwa sebagai pesan
di sini luka mengangahkan Papua
berdarah seperti babi yang tertikam anak panah

adikku, Papua adalah ironi
kemiskinan simiskin di atas tanah berlimpah ruah sumber daya alam
tambang emas dan tembaga terbesar di dunia
lapangan gas dan hutan biodiversitas, plasma nutfahnya luar biasa.

tapi Onduwafi yang berdiri di puncak menara kayu
berbagi airmatanya denganmu

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed