oleh

Dari Sulawesi Utara Untuk Peradaban

Media massa (cetak, televisi, radio dan online) sesungguhnya merupakan pilar demokrasi, dan sebagai alat peradaban.

Sayang belakangan ini masalah kebangsaan dan kenegaraan serta kebhinekaan justru cukup tinggi tensinya dan telah keluar dari batas-batas kemanusiaan.

Isu yang menghancurkan tatanan kebhinekaan kita sedemikian disebar dan di propagandakan hingga akhirnya menjadi viral, jadi perhatian publik. Dan tidak sedikit yang menjadi pemicu keresahan dan kemarahan masyarakat. Sebaliknya, hal-hal yang sifatnya konstruktif dan progressif bagi kematangan guna mempererat persatuan begitu diabaikan.

Mirisnya, semua hal itu dilakukan para pelaku media yang tidak bertanggungjawab. Harusnya, para pelaku media menyadari bahwa berita atau opini yang mereka bangun dan propagandakan sangatlah mempengaruhi pengetahuan masyarakat, juga kondisi kebatinan masyarakat. Itu tergambar jelas ketika Pemilu 2019 yang telah kita lewati, terutama tingginya tensi pendukung Capres Jokowi dan Prabowo.

Lihat pula sedemikian banyak media massa, apalagi online, televisi maupun cetak yang dijadikan alat syahwat kepentingan segelintir orang atau penguasa yang tidak sama sekali berorientasi membangun peradaban bangsa.

Mereka membentuk media hanya sekadar untuk mencitrakan diri mereka dengan segala kebohongan dan kemunafikan. Dan bahkan tidak sedikit menjadikan media sebagai alat untuk menyerang dan menjatuhkan lawan-lawannya.

Mafum saja, inilah konsekuensi demokrasi pasca reformasi. Inilah kebebasan dan kemerdekaan bermedia dan lain sebagainya. Yang di ekspresikan dengan dalih: kebebasan berserikat dan kemerdekaan menyatakan pendapat dimuka umum. Lalu negara tidak boleh memasung dan atau membatasi kebebasan dan kemerdekaan itu.

Media massa telah berkontribusi untuk menciptakan kondisi gaduh tersebut. Dan itu telah dilakukan oleh oknum pelaku media yang sama sekali tidak bertanggugjawab. Mereka sesungguhnya telah menyalahgunakan fungsi media sebagai pilar demokrasi, sebagai alat peradaban!

Padahal di alam demokrasi terbuka seperti sekarang ini, media massa menempati posisi yang sangat istimewa. Media adalah pilar keempat demokrasi (the forth demokrasi), disamping Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif. Media massa berfungsi sebagai medium untuk mengontrol dan mengawasi kekuasaan, membentuk pola relasi masyarakat, dan lebih dari itu, media massa adalah sebagai sarana mencerdaskan masyarakat secara luas.

Pelaku media harus menyadari bahwa mereka bukanlah alat penguasa yang hendak mewujudkan syahwat politiknya. Atau bahkan mau diperalat untuk menciptakan kondisi yang jauh dari kata beradab. Jika hal ini seringkali diabaikan, maka alih-alih menjadi the forth demokrasi, para pelaku media malah menghancurkan, memperkosa dan bahkan memporak-porandakan nilai dan fungsi media massa itu sendiri.

Untuk membangun peradaban bangsa, kita mesti menyadari bahwa eksistensi dan peran media massa sangatlah sentral dan penting. Media massa seharusnya menjadi alat untuk membangun peradaban.

Media Massa sejatinya adalah alat untuk membebaskan dan memerdekakan manusia, masyarakat.

Pelaku media massa (khususnya para jurnalis) mesti memahami dan memiliki kesadaran peradaban itu sendiri. Bahwa media massa tidak hanya berhenti pada penyaluran informasi, pendidikan ‘dari tidak tahu menjadi tahu’, sosial kontrol atau juga hiburan semata.

Namun lebih dari itu, bahwa media massa adalah alat propaganda untuk membentuk kesadaran kolektif, yakni peradaban nan luhur adalah landasan dan dasar segala aktifitas media massa itu sendiri.


Keprihatinan dan semangat itulah yang menaungi para pengelolah Media Online Barta1.com pada pemunculannya 24 Juli 2018 lalu, yang hari ini genap berusia satu tahun. Tekad mendirikan media yang independen dan bebas dari intervensi pemilik modal adalah sebuah keniscayaan bagi trio Iverdixon Tinungki (sastrawan/wartawan) Agust Hari (wartawan) dan Ady Putong (wartawan) untuk membangun media yang bernaung di bawah perusahan PT Barta Sulut Mandiri.

Itu sebabnya sejak hadir menyapa pembaca, beragam konten dan karya jurnalistik dimunculkan. Tak hanya sekadar news tapi tulisan sejarah, seni budaya, sastra hingga wisata menjadi menu utama.

Kami menyadari Barta1.com masih jauh dari kesempurnaan sebuah media massa (online), namun percaya cita-cita media untuk sebuah peradaban membuat kami terus berbenah. Kami bukan yang tercepat menyajikan berita karena kami hanya berusaha menjadi barometer berita di Sulut.

Karya berkualitas dengan standar tinggi mengharuskan para jurnalis terus mengasah kemampuan menulis plus pemahaman akan etika dan kaidah-kaidah jurnalistik, itu paling utama. Betul, bahwa apa artinya sebuah karya bermutu lalu para jurnalisnya abai dan tak patuh pada kode etik jurnalistik.

Sementara, pengembangan media juga penting, setelah melihat potensi yang besar dalam dunia digital Indonesia. Selain pengguna internet yang terus tumbuh dan berkembang pesat, distribusi informasi melalui digital masih didominasi platform media sosial yang kadang menyertakan informasi sampah dan berita hoax.

Ini ancaman, sekaligus tantangan bagi kami untuk membuat konten berkualitas dan menjadi rujukan publik. Kami ingin memproduksi banyak konten informatif untuk para pembaca media digital yang terus meningkat.

Barta1.com akan mengedepankan konten yang indepenpen, kredibel, inspiratif, interaktif, dan beragam. Penyajian dilakukan dengan informasi yang menarik dan didukung format multimedia sesuai dengan perkembangan zaman.

Dengan banyak konten berkualitas dan inspiratif, serta disalurkan melalui jalur distribusi konten yang tepat, kami yakin dapat bersaing dengan media-media lain yang lebih dulu hadir di Sulawesi Utara. Buktinya? Kami satu-satunya media online di Sulut yang berjejaring dengan portal nasional Suara.com.
Suara.com adalah media online pertama di Indonesia yang telah melantai di bursa saham dan punya jaringan luas di seluruh Indonesia.

Kami juga butuh kritik dan masukan untuk perbaikan ke depan. Akhirnya, dari Sulawesi Utara untuk peradaban Indonesia. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.