oleh

Terobos Daerah Terlarang, Longsoran Batu Lava Karangetang Ancam Pendaki

Sitaro, Barta1.com – Meski masuk sebagai salah satu destinasi dari tujuh destinasi yang dikembangkan di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro, tapi saat ini Gunung Api Karangetang tidak aman dalam kegiatan pendakian bagi pendaki.

Dari laporan sumber data KESDM, Badan Geologi, PVMBG melalui PGA Karangetang dengan periode pengamatan 12 Juli 2019 pada pukul 00:00-06:00 Wita, dimana tremor menerus atau microtremo terekam dengan amplitudo 0.25 mm (dominan 0.25 mm), dalam keterangan lain untuk seismogram didominasi oleh nois angin, sehingga kesimpulannya tingkat aktivitas Gapi Karangetang berada pada Level III atau Siaga. Bahkan pada pukul 12.19 WITA teramati di ujung kabut guguran lava ke Kali Bantu Siau Barat dengan jarak luncur 1500 m.

Menurut Ketua Pos Gunung Api (PGA) Karangetang Siau, Yudia P Tatipang, memang aktifitas pendakian dikategorikan tidak aman, karena selain aktivitas gunung juga sering terjadinya longsoran batu lava pada tubuh gunung.

“Selama ini aktivitas guguran lava terjadi sesekali longsor dari tubuh lava dan dari pinggiran kubah lava ke kali Batu awang dan juga Kali Kahetang. Sehingga ini sangat tidak aman untuk kegiatan pendakian, dan longsoran ini juga terjadi karena ada yang menerobos disementara kondisi batu yang labil dan tentu ini bisa mengancam keselamatan pendaki,” kata Tatipang, pada Barta1.com, Jumat (12/07/2019).

Lanjut dia, sesuai dengan rekomendasi dalam laporan pengamatan, yang pertama masyarakat dan pengunjung atau wisatawan diharapkan agar tidak mendekati atau tidak melakukan pendakian.

Serta tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya yaitu radius 2.5 km dari puncak Kawah Dua (Kawah Utara) dan Kawah Utama (selatan) serta area perluasan sektoral dari Kawah Dua ke arah Barat Laut-Utara sejauh 4 km, yaitu wilayah yang berada di antara Kali Batuare dan Kali Saboang.

“Yang kedua, masyarakat di sekitar Gunung Karangetang dianjurkan agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi potensi bahaya gangguan saluran pernapasan jika terjadi hujan abu. Kemudian masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai,” jelas Tatipang.

Peliput : Stenly Rein Mes Gaghunting

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed