oleh

Di Balik Nama Pantai Timbako, Warga Sebut Sudah Turun Temurun

Apabila kita menuju ke Pemandian air Panas Timbako, maka hal pertama yang akan dijumpai adalah gerbang masuk dari beton yang di cat dominan berwarna merah dengan pos penjaga di samping kanan. Dan nama Timbako terpampang dengan penulisan ” Timba’Ko “. Setelah itu akses jalan setapak sampai ke lokasi pemandian.

Fasilitas sektor pariwisata ini dibangun dari Alokasi Dana Desa (ADD) dengan jiwa membangun infrastruktur potensial di bidang pariwisata. Dan pembangunan ini melibatkan setiap unsur masyarakat baik pemerintah kampung, MTK, Tokoh masyarakat setempat pun berkordinasi dengan dinas Terkait ( Pariwisata dan Kebudayaan ).

Kisah di balik Nama Timba’ko
Dalam publikasi atau upaya promosi, baik yang dilakukan pemerintah maupun perorangan, telah melewati koordinasi atas filosofi, cerita rakyat, maupun nama di balik lokasi sebuah destinasi.

“Lewat beberapa pertemuan dengan MTK dan tokoh masyarakat setempat telah diperoleh kisah dibalik nama Timba’ko,” tutur penggiat pariwisata Sitaro, Buyung K Mangangue SH, baru-baru.

Hasil pertemuan dengan stakeholders serta berbagai kajian, maka nama Timbako dipampang di lokasi wisata permandian air panas.

“Pulau Siau adalah kawasan yang sering dilanda kemarau berkepanjangan. Situasi ini semakin di persulit dengan aktifitas gunung api Karangetang yang selalu aktif sepanjang tahun. Kesulitan air pada jaman itu sangatlah meresahkan warga, pesisir utara Pulau Siau pun tak luput dari bencana tersebut,” cerita awal Mangangue mengutip kisah yang selama ini diyakini masyarakat.

Lanjut dia, erupsi Gunung Api Karangetang kemudian menimbulkan gejala alam di luar ekspektasi masyarakat di jaman itu. Tiba-tiba munculah asap tebal di tanjung Kampung Mini.

“Serentak warga datang melihat kejadian tersebut. Beberapa tetua kampung memerintahkan sekelompok anak muda untuk menimba (timba) air yang mendidih dengan harapan air di sekitar adalah air tawar. Kalimat perintah dalam Bahasa siau adalah menambahkan ‘Ko’ di akhir kata kerja sehingga menjadi Timba’Ko,” jelas dia.

Hal ini turut diungkapkan, warga Kampung Mini Daniel Mantoneng, yang turut me-replay cerita turun temurun dari para orang tua di Kampung Mini terkait kisah dibalik nama Timbako.

Baca Juga:

“Yang betul itu Timbako, dimana kami sudah sejak kecil orang tua menyebut Timbako dan kami masyarakat di kampung ini lebih tahu ketimbang orang luar,” ungkap Mantoneng.

Penegasan nama Timbako semakin diperkuat dengan adanya penuturan Pjb Kapitalau Kampung Mini, Piethein B Gandaria ketika ditemui Barta1.Com di kediamannya Rabu (11/07/2019), dimana nama Timbako sudah diceritakan dan disebutkan secara turun temurun.

“Secara turun temurun ini sudah sering disebut Timba’Ko, yakni menimbah air dengn kalimat perintah Ko di belakangnya,” tegas Gandaria.

Papan Nama di Objek Wisata
Penamaan sebuah kampung tentunya tidak lepas dari makna filosofi maupun kisah yang terkandung di balik nama tersebut. Timbako adalah objek wisata yang belakangan viral pada tingkatan lokal, nasional bahkan internasional. Objek wisata dengan unggulan spot mata air panas di cela bebatuan bercampur dengan air laut di tepian tebing batu lengkap, dengan dive spot berkarakter wall ini belakangan menuai kontroversi argumen terkait penamaan “Timbako”.

Adalah Ekspedisi Nusantara Jaya ( ENJ ) sebuah program Nasional Kementerian Pariwisata yang merekrut para pemuda dari berbagai background pendidikan untuk melakukan ekspedisi di seluruh Nusantara dengan durasi waktu yang ditargetkan. Tim espedisi ini mengunjungi Kampung Mini sebagai Lokasi objek wisata populer ini. Setelah menggali kisah maupun filosofi dari Timbako para pemuda ini kemudian membuat “mark point” berupa rambu pariwisata yang mendukung point of view kawasan pemandian air panas Timbako yang berlatar sunset di sore hari.

Beberapa orang belakangan menyebutnya dengan Temboko, dengan asumsi arti Temboko yang cenderung “dipaksakan” sebagai melompat dengan kepala ke air. Aktifitas ini jelas adalah aktifitas baru yang dilakukan setelah kejadian karena erupsi yang mengakibatkan munculnya mata air panas Timbako. Karena lokasi ini bukan tempat mandi/terjun dari batu, mengingat akses ke lokasi pada era itu yang relatif sulit dan terbilang angker. Temboko juga memiliki arti dalam bahasa Siau lebih dekat pada menyeruduk dengan kepala atau menerjang.

Pesan logis dari perbedaan pemahaman nama ini, di mana sebuah kumpulan masyarakat yang menempati suatu wilayah tentu tidak tanpa pertimbangan menaruh nama atau penamaan pada gerbang wilayah mereka. Jika yang melakukan adalah pihak luar, sudah pasti akan menuai kritikan.

Apapun asumsi yang berkembang dan polemik yang terjadi, namun nama Timba’Ko sudah dikenal dan ngetren di dunia pariwisata, baik lokal, nasional maupun internasional, dan kita semua punya tanggungjawab bersama untuk menjaga, melestarikan bahkan mempromosikannya. (*)

Peliput : Stenly Rein Mes Gaghunting

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed