oleh

Agustinus Sasundu, Maestro Musik Bambu Indonesia dari Sangihe

Agustinus Sasundu hanyalah seniman kecil di pulau kecil, Sangihe, yang berada di pinggiran Indonesia. Bertahun-tahun dia mengabdi tanpa pamri, untuk membesarkan tradisi leluhurnya, supaya dapat dipatri di tonggak-tonggak sejarah Indonesia,” tulis Alffian Walukow dalam buku, Agustinus Sasundu Maestro Musik Tiup Bambu Indonesia.

Buku karya Walukow itu memaparkan tentang ketokohan dan konsistensi berkesenian seniman daerah perbatasan lewat musik tiup bambu.

Ia adalah Maetro penerima penghargaan Kebudayaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI melalui anugerah KEHATI AWARD ke VII untuk kategori CITRA LESTARI KEHATI tahun 2016.

Agustinus Sasundu atau dikenal dengan panggilan “Utu” lahir di kampung Lenganeng, Kecamatan Tabukan Utara, Kabupaten Kepulauan Sangihe pada 17 Agustus 1950. Ayah dari Agustinus bernama Martinus Sasundu, ibunya bernama Frederika Bawotong. Agustinus adalah anak paling bungsu dari 5 orang bersaudara. Kakak-kakaknya bernama Daud Sasundu, Agustin Sasundu, Edwina Sasundu, Margaretha Sasundu.

Bakat seninya mulai nampak ketika ia mengenyam pendidikan di SMOA (Sekolah Menengah Olahraga Atas) Tahuna. Bakat seninya lebih dominan ketimbang olahraga. Setamat dari SMOA, ia melanjutkan pendidikan di PGSLP Pondol Manado jurusan Seni Rupa. Ketertarikannya pada musik lebih besar dari Seni rupa yang pada akhirnya mengubah pemikirannya untuk berhenti dari perkuliahan lalu pulang ke kampung.

Sejak pulang kampung, Agustinus mulai aktif dalam kelompok musik bambu kampung pimpinan bapak Albert Bawelle. Aktifitas kelompok musik bambu kampung tidak sebatas meniup dan memainkan alat musik, tetapi semua anggota kelompok harus tahu membuat alat musik. Agustinus sebagai bagian dari kelompok tersebut melakukan hal yang sama.

Tak hanya itu, bakat seni rupa yang ia pernah tekuni membawanya pada pemahaman ingin mengembangkan lebih jauh bentuk alat musik bambu. Sejak saat itu, Agustinus secara diam-diam belajar dari kelompok-kelompok musik lain, seperti kelompok musik di Tahuna (kelompok Fajar) dan di Manganitu.

Sehingga sejak tahun 1969 ia mulai membuat sendiri alat musik bambu hingga ditemukanlah sebuah bentuk alat musik bambu yang berbeda dari bentuk alat musik sebelumnya.

Dedikasi dan Konsistensi

Sejak tahun 1973 hingga 1988 secara berkelanjutan Agustinus Sasundu melatih beberapa grup music di beberapa wilayah di daratan Sangihe-Talaud hingga wilayah kepulauan seperti Nusa Tabukan dan lain sebagainya.

Tahun 1974, ia melatih Kampung Binebas dan Manalu-Tabukan Selatan bersamaan dengan Kampung Kalurae Tabukan Utara, Manalu, Lehupu, Likuang tahun 1976, Nanedakele hingga Kampung Beo, Pulau Talaud tahun 1977. Di tahun yang sama juga melatih 3 grup musik secara bersamaan untuk kegiatan lomba.

Kemudian Manganitu dan Laine dilatihnya pada tahun 1978, Kampung Laine dan Sawang Jauh tahun 1979, Kampung Sensong tahun 1980, Kampung Kalasuge tahun 1981, Kampung Mala dan Tamako Banala tahun 1982, Kampung Kalekube tahun 1984, Kampung Kolongan Beha tahun 1983-1987, Kampung Sesiwung tahun 1987-1990.

Tahun 1990 bersama grup musik Sesiwung menghadiri upacara adat Sangihe “mehebing datu” di Jakarta. Pada tahun 1990–2005 melatih grup musik Kampung Kauhis. Tahun 2005-2008 melatih grup musik Kampung Pananaru, Makalekuhe dan Bungalawang, tahun 2011 di Kampung Laine, tahun 2012-2013 Kampung Ngalipaeng.

Tak hanya di Sangihe-Talaud, sang maestro juga tercatat melatih grup musik bambu di Jayapura di tahun 2013, dan 2014 melatih grup musik anak sekolah di Kabupaten Bolaang Mongondow. Tahun 2015 menjadi pelatih grup musik Kampung Sawang Jauh. Masih ditahun yang sama melatih grup musik bambu kaum muslim Tabukan Utara untuk pementasan di acara Musyawarah Wilayah Muhamadyah di Bolaang Mongondow.

Penghargaan

Beberapa penghargaan pernah diterimanya yaitu di tahun 2001 dari Dinas Pendidikan Sulut dalam pembimbingan musik tiup bambu Sangihe Talaud tahun 2005, dari Bupati Kepulauan Sangihe atas pengabdian, pelestarian, dan pengembangan pendidikan nasional, seni dan budaya di Sangihe, tahun 2008. Dan tahun 2016 penghargaan kebudayaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI melalui pemberian penganugrahan KEHATI AWARD ke VII untuk kategori CITRA LESTARI KEHATI.

Penghargaan ini diberikan atas dedikasinya mengembangakan musik tradisi.

Menariknya di tahun 2019 nama Agustinus Sasundu diterima Irjen Pol (Purn) Benny Mamoto, setelah diajukan oleh Alffian Walukow untuk menerima Anugerah Padior pada Festival Kebudayaan Minahasa di Batu Pinawetengan dalam dekat-dekat ini. Dirinya menjadi satu-satunya orang Sangihe yang bakal menerima penghargaan dalam helatan akbar di tanah Minahasa itu.

-Sumber tulisan: dirangkum dari Alffian Walukow dalam buku, Agustinus Sasundu Maestro Musik Tiup Bambu Indonesia.

Penulis : Rendy Saselah

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed