oleh

Tempat ini sebenarnya bernama Temboko bukan Timbako

Sangihe, Barta1.com- Menjadi salah satu tempat wisata andalan Kabupaten Siau, Taghulandang dan Biaro, tempat permandian air laut panas ini terletak di kampung Lehi Kecamatan Siau Barat.

Menurut budayawan Jupiter Makasangkil, tebing di tepi pantai lokasi tersebut adalah ujung erupsi magmatik eksplosif Gunung Api Karangetang yang meletus pada tahun 1712 dengan aliran lava di sebelah barat di kampung Lehi sampai ke Laut dan di sebelah timur ke Ulu dan berhenti 1400 meter dari tepi laut menjadi bukit yang diberi nama Bowong Ulu dan Batutuide.

Nama tempat itu kini popular dengan sebutan Timbako. Sebuah objek wisata permandian air laut panas. Tak sedikit wisatawan Domestik dan Mancanegara datang mengunjungi tempat itu. Tingkat kunjungan wisatawan ungkap Kepala Dinas Pariwisata Sitaro, Eddy Salindeho, melalui wartawan barta1.com Stenly Rein Mes Gaghunting, pada tahun 2017 mencapai 462 wisatawan dan kemudian per Agustus 2018 sudah mencapai 357. Dan permandian air pana tersebut adalah salah satu objek wisata yang di tuju.

Namun begitu penyebutan nama Timbako adalah hal yang keliru. Dari sudut pandang bahasa dan makna kata yang terkandung pada nama suatu tempat atau benda, perubahan nama akan berpengaruh terhadap sejarah penamaan objek tersebut, “lokasi permandian air panas di sisi tebing pantai kampung Lehi Siau Barat, oleh para leluhur dikenal dengan nama Tembo’ko,” ujar Jupiter Makasangkil.

Sedikit diceritakan Makasangkil, Temboko konon berasal dari ucapan seorang raja yang memerintahkan pengawalnya untuk terjun dari tebing pantai ke air laut agar diketahui sebarapa panas air laut itu,” tumpa, Temboko atau terjunlah,” begitu kata sang raja tutur Makasangkil.

Pengawal itu pun terjun dengan kepala lebih dahulu ke dalam air laut. Setelah diberi tahu bahwa air laut itu hangat dan tidak terlalu panas, sang raja berucap kuat, “temboko” lalu menceburkan dirinya dari atas perahu ke laut.

“sejak saat itu orang-orang yang akan berenang dan melompat dari tebing batu ke air laut di tempat itu, akan mulai terjun dengan berteriak, temboko!,” ujarnya.

Kisah ini menurut Makasangkil dituturkan tahun 1982 oleh Bapak Toli Kepala Kampung Lehi, dan dituangkan dalam buku sejarah kecamatan Siau Barat tahun 1983.


Makasangkil pun menanyakan memperhatikan sekarang ini telah diberi nama baru Timbako, “adakah kisah tradisi yang mendukung perubahan nama itu?” tanya budayawan yang hari ini sementara menyelesaikan tulisan mengenai raja-raja di Sitaro. (*)

Penulis : Rendy Saselah

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed