oleh

Surat Terbuka Aktivis Perempuan Buat Jokowi: Pariwisata Sulut Monopoli?

Manado, Barta1.com – Presiden Joko Widodo mengunjungi Sulawesi Utara. Lokasi-lokasi pariwisata dan berbagai infrastruktur pembangunan menjadi sorotan kunjungan orang nomor satu Indonesia ini.

Fantastisnya, kunjungan Jokowi yang terpilih kembali sebagai Presiden RI pada Pemilu Presiden beberapa waktu lalu, merupakan kunjungan ke enam kali di Nyiur Melambai.

Pelak saja, masyarakat pun terbelalak dan muncul beragam respon. Termasuk aktivis Sulut, Jull Takaliuang yang melayangkan surat terbuka melalui media sosial facebook miliknya. Jull yang dikenal aktif dalam advokasi kasus lingkungan hidup, perempuan dan anak, memberikan catatan beberapa hal terkait kondisi yang ada di Sulut. Berikut surat terbuka tersebut:

Kedatangan Presiden Jokowi nampaknya menyihir masyarakat Sulawesi Utara. Antusiasme dunia permedsosan dipenuhi oleh berbagai komen dan ekspresi ‘kecintaan’ masyarakat kepada figur Presiden yang baru saja terpilih lagi meneruskan tonggak pemerintahan untuk ke 2 kalinya di Indonesia.

Selamat Datang dan Selamat bertugas di daerah Nyiur Melambai Pak Presiden dan Ibu Negara Iriana yg cantik dan murah senyum.

Sebagai Ibu rumah tangga yang berdomisili di daerah ini, ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan secara terbuka kepada Bapak Presiden yakni:

Jika dilihat dari semangat kunjungan Pak Presiden jelas mengarahkan Sulawesi Utara menjadi salah satu provinsi yang mengutamakan pariwisata sebagai sektor andalan pembangunan ke depan.

Geliat sektor pariwisata yang makin digenjot memang bertumbuh jika indikatornya adalah kunjungan turis asal Tiongkok…tapi menurut saya keberhasilan ini sangat sumir. Karena masyarakat Sulut secara luas maupun segmen2 lain yg juga bergerak di bidang industri pariwisata belum dilibatkan secara adil.

Harusnya diuji juga dengan pertanyaan kepada masyarakat Sulut: apakah ekonominya meningkat signifikan akibat kedatangan turis asal Tiongkok??? Membangun kesadaran masyarakat untuk menjadi tuan rumah yang baik, ramah, bersih, dan lain-lainl..bukan hanya diumumkan di media..tetapi harus dengan sentuhan jitu ke wilayah kognitif masyarakat dengan ‘sesuatu’ yang mampu membangunkan gerakan se-Sulut bahwa daerah Nyiur Melambai adalah provinsi tujuan wisata.. sehingga harus ‘bergerak’..

Pariwisata harus menjadi bagian paten dari jiwa dan raga seluruh masyarakat ke depan, bukan hanya menguntungkan segelintir orang yang memonopoli ‘managemen’ kepariwisataan seperti selama ini terjadi dan sudah dikeluhkan pegiat-pegiat wisata di Sulut. Lalu, apa yang dijual kepada wisatawan selain keindahan alam???

Jika demikian, usul saya sebagai masyarakat Sulut kepada Pak Presiden:

  1. Hentikan memberikan ijin pertambangan di Sulawesi Utara. kemarin Bapak ke Likupang, mestinya meninjau pembuangan limbah 2 perusahaan tambang yang ada di Tokatindung.. meskipun dam tailingnya di daratan.. tapi sedikit atau banyak alirannya akan melalui beberapa sungai yang bermuara persis di kawasan ekonomi khusus (KEK) lalu ke laut yg menjadi spot2 diving nantinya.. Pengembangan KEK Pariwisata Likupang harus memperhitungkan keberadaan limbah tambang yang ada di Toka Tindung tsb… atau mungkin itu akan disulap menjadi bagian dr Pariwisata Perusakan Lingkungan… walahuallam
    Jika Pak Presiden akan konsisten dengan pariwisata, ijin operasi untuk perusahaan tambang tersebut sudah berakhir 2018. Sebaiknya tidak diperpanjang oleh Pak Gubernur dan Pak Presiden. Sebab, KEK Pariwisata di Likupang tidak sempurna jika di sisi yang lain ada proses penghancuran lingkungan bahkan berpotensi terjadi pencemaran.. sangat kontraproduktif..
  2. Hentikan reklamasi pantai atas nama pembangunan infrastruktur pariwisata.. sebab akan terjadi perusakkan lingkungan pesisir dan sekitarnya. Apalagi reklamasi akan mengakibatkan sedimentasi yang mengancam biota bawah laut yang mengancam keindahan Bunaken dan sekitarnya.
  3. Daerah kabupaten kepulauan di Sulut yakni Sitaro, Sangihe dan Talaud memiliki keindahan alam natural yang sangat indah dan kondisi sosial budaya serta adat istiadat yang luhur. Ini juga merupakan potensi pariwisata sangat layak utk dikembangkan menjadi daerah tujuan wisata. Sehingga terjadi keadilan dan pemerataan pembangunan… tidak hanya terkonsentrasi di daratan..
  4. Nyiur Melambai adalah sebutan bagi Sulawesi Utara. Tetapi kapitalis-kapatalis besar yg berinvestasi di Sawit sdh menguasai tanah-tanah bekas HGU maupun yang akan habis masa berlakunya, mereka mendapatkan informasi tentang tanah-tanah tersebut pasti dari instansi pertanahan atau yang berkaitan. Lalu difasilitasi mengurus ijin atau memperpanjang HGUnya..

Hari ini di Sulut sudah banyak konflik agraria khususnya perebutan lahan petani yang menanam kelapa dalam dan tanaman pertanian lain dengan perusahaan Sawit.. Jika reforma agraria yang Bapak canangkan itu adalah solusi bagi rakyat untuk mendapatkan tanah sebagai sumber kehidupan bagi petani, hendaknya ijin-ijin kepada Pengusaha Sawit yang akan merusak Sulut dibatalkan.. Mungkin utk tanaman Sawit Pak Presiden bisa kembangkan di pulau besar lain di Indonesia.. Biarkan Nyiur tetap melambai di Sulut. Karena Nyiur Melambai adalah identitas abadi Sulawesi Utara.

  1. Harga komoditi pertanian Sulut akhir-akhir ini sangat memprihatinkan, sehingga banyak petani yg mulai putus asa karena tidak kunjung membaik.. Semoga di penghujung periode I pemerintahan Bapak Presiden, akan membahagiakan petani dengan memperbaiki harga pasaran: kopra, cengkih, dan pala..
  2. Dalam upaya membangun infrastruktur pariwisata seperti bandara, jalan tol, hotel2, dan lain-lain yang tentunya akan bersentuhan tanah-tanah milik masyarakat.. Pak Presiden harus memastikan bahwa ganti untung tanah masyarakat harus layak. Karena, bukan rahasia lagi, tersendat-sendatnya sebuah proses pembangunan seperti jalan tol dll, karena ulah para mafia tanah ‘berseragam’ yang mau meraup keuntungan…. berseliweran di area-area pencairan dana dll..

Itulah hal-hal yang terlintas melihat kunjungan Bapak Presiden di Sulut.

Mohon maaf Pak Presiden, bahasa surat saya ‘mamalintuang’…

Semoga Pak Presiden selalu sehat dan mampu terus menunjukkan keteladanan tentang ‘kesederhanaan’ yg tidak membangun pemerintahan dengan dinasti.. tetapi terus bersahaja dengan leadership yg mumpuni..

Bangga padamu Pak Presiden Jokowi!! Salam Hormat

Surat terbuka itu pun mendapat reaksi masyarakat Sulut yang sangat mendukung dengan isi surat terbuka itu. Dua jam di posting lewat facebook Jull Takaliuang, warga pun memberikan tanggapan. “Betul sekali ibu Jull, berjuang terus,” tulis Jamila Hasan.

Begitu juga Rahayu Mokodompit yang sangat setuju dengan surat terbuka itu. “Miris mmg, pariwisata Sulut spt dibanggakan stengah mati oleh stage holder, pdhal yg menikmati hanya dimonopoli oleh 1 agen travel saja. Mulai dr transportasi udara, darat, laut, akomodasi hotel, restoran hingga urusan tetek bengek souvenir dikuasai oleh kartel travel tsb. Maka rakyat bahkan swasta lainnya tdk menikmati manisnya benefit dr kunjungan turis cina tsb. Jd utk siapa KEK Pariwisata itu dibangun? Utk agen travel kartel itukah?,” tulis Hardy Kindangen.

Editor: Agustinus Hari

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed