oleh

Sejenak Mengenal Gerakan Mehengke Nusa Sangihe

Secara harfiah Mehengke Nusa merupakan ungkapan Bahasa Sangihe yang berarti mengangkat negeri. Tak heran spirit Mehengke Nusa, sebuah komunitas kreatif yang mempunyai semangat menghidupkan sumber daya masyarakat terutama generasi muda melalui berbagai macam karya nyata.

Berbasis di Desa Hesang, Kecamatan Tamako, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Mehengke Nusa memfokuskan diri pada pemberdayaan sumber daya masyarakat, pengembangan pariwisata, dan kepedulian terhadap lingkungan.

Ketika berbincang dengan Celine Sandil, Ketua Umum Mehengke Nusa, gadis berusia dua puluh tahun itu menjelaskan, setidaknya ada delapan proyek yang akan dilaksanakan Mehengke Nusa kedepannya.

Pertama, Mehengke Nusa Production, sebagai sarana mempublikasikan karya-karya berupa foto, video dan lagu-lagu tentang Sangihe. Lalu, Sangihe Kuliner, memperkenalkan kuliner tradisional Sangihe. Ada juga Bank Sampah (Waste Bank), tata kelolah sampah dan edukasi pemanfaatan limbah.

Selanjutnya, Workshop, atau Bengkel Art, memfokuskan diri untuk orang-orang atau masyarakat atau komunitas itu sendiri yang ingin menghasilkan karya-karya seni kreatif.

Art Shop Gallery, menampung karya-karya seni Mehengke Nusa untuk dijual secara langsung maupun secara online, Playground Facility, tempat bermain seperti rakit tradisional guna tourism atau wahana bermain.

Tak kalah menarik juga, Pengobatan Tradisional, memberdayakan pengobatan tradisional Sangihe. Tour and Travel, melakukan pemetaan objek wisata di Sangihe.

Lebih jauh lagi menurutnya, karena Hesang juga dikonsepkan sebagai desa wisata dan ramah limbah, akan dibuka kelas belajar Bahasa Inggris. Hal itu menurutnya merupakan misi pemberdayaan masyarakat terutama bagi generasi muda di kampung tersebut. “Barangkali pertama akan dibuka kelas dengan jumlah 10 orang anak untuk belajar Bahasa Inggris,” ujar Celine.

Sejauh ini Mehengke Nusa telah memproduksi beberapa karya lagu tentang Sangihe, demikian juga hasil kerajinan tangan dari olahan sampah plastik. Dan kedepannya akan banyak karya seni yang akan dipajangkan melalui Art Shop Gallery Mehengke Nusa.

Tak hanya itu, gerakan nyatanya juga menyetuh soal lingkungan. Belum lama ini mereka mengajak masyarakat dan anak-anak melakukan rahabilitasi hutan mangrove yang ada di kawasan pantai Kampung Hesang. Menariknya kedepannya wilayah ini menurut Celine Sandil, akan dikembangkan menjadi objek wisata desa.

“Nah anak-anak itu sudah mengerti tentang kebersihan lingkungan, dengan melarang dan saling mengingatkan untuk tidak membuang sampah sembarangan. Inilah tujuan utama Mehengke Nusa, yaitu mendidik masyarakat termasuk anak-anak kecil untuk sadar mengerti dan bergerak di dunia kepariwisataan yang kompleks,” ungkapnya.

Membentuk Jaringan Internasional Melalui Trashpacker

Mehengke Nusa kini mulai dikenal di dunia internasional khususnya melalui gerakan Trashpacker. Pada peringatan Global Clean Up Relay 23 Maret 2019 lalu, Sangihe berada di posisi delapan pengumpul kantong sampah terbanyak versi trashpacker, dan dipelopori oleh Mehengke Nusa.

Sangihe adalah satu-satunya perwakilan Indonesia ketika event itu dilaksanakan dan berhasil mengumpulkan 80 kantong sampah dan lebih dari 50 trashpacker yang mengikuti event tersebut.

Hal demikian mendapat respon positif dari berbagai element, antara lain Ungke Kaumbur, salah satu putra terbaik Sangihe yang kini namanya meroket di dunia perfilman nasional gencar mempromosikan gerakan Mehengke Nusa. Nama lain juga Jemmy Makasala merupakan Direktur Bank Sampah yang ada di Minahasa Utara, turut mengambil bagian membentuk Bank Sampah di Kampung Hesang.

Demikian juga dari pihak-pihak BUMN seperti PLN Tahuna dan juga pemerintah kabupaten kepulauan Sangihe, serta pemerintah Kampung Hesang tempat dimana Mehengke Nusa berada.

Terkait dengan Bank Sampah (Waste Bank) akan dimanfaatkan guna memberikan edukasi serta untuk mendapatkan nilai ekonomis, dimana masyarakat bisa menabung sampahnya dan mereka bisa mendapatkan uang dari sampah yang mereka bawah.

“Indonesia penghasil sampah terbesar nomor dua di dunia. Dan Sangihe berada di tengah golden triangle itu penghasil sampah terbesar di dunia, jadi sampah yang ada di sangihe tidak saja hanya sampah yang ada di sini tetapi adalah sampah kiriman,” kata Celine Sandil.

Sementera itu dengan hadirnya Mehengke Nusa, antusiasme masyarakat sangatlah baik menyambut adanya gerakan ini. Terutama dengan adanya Waste Bank membuat masyarakat terdorong untuk bisa menabung sampah. Tak hanya itu, keseriusan mereka mendorong untuk melakukan koordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kepulauan Sangihe untuk mendapatkan tempat pembuangan sampah sementara di Kecamatan Tamako. “Kami ingin mendapatkan Tempat Pembuangan Sampah (TPS), agara supaya di Tamako walaupun belum ada TPA kami sudah mempunyai tempat pembuangan sampah sementara yang dimana lebih dari 60% sampah itu bisa didaur ulang,” ungkap bungsu dari dua bersaudara itu.

Saat ini jumlah orang-orang yang ada di internal organisasi Mehengke Nusa berkisar 60 orang. Dan kemungkinan kedepannya akan bertambah. Celine Sandil, mempunyai cita-cita kedepannya agar gerakan serupa bisa ada di berbagai pelosok Kepulauan Sangihe.

Bupati Kabupaten Kepulauan Sangihe Jabes Ezar Gaghana hadir merayakan global clean up relay bersama Mehengke Nusa merespon positif dan menyambut baik program anak-anak muda yang ada di Mehengke Nusa.

Hal demikian ditandai dengan kedatangan Bupati Kabupaten Kepulauan Sangihe, Jabes Ezar Gaghana di acara deklarasi “Mantelagheng Buresi” dalam rangka hari kebersihan dunia, global clean up relay, Sabtu (22/6/2019) di Kecamatan Tamako.

Bersama PLN Wilayah Tahuna yang merupakan sponsor utama kegiatan itu, Pemkab Kepulauan Sangihe turut mengambil bagian dalam kegiatan mengumpulkan sampah yang ada dibeberapa wilayah di Tamako. Alhasi,l dengan peserta sebanyak 150 orang yang terdiri dari unsur, masyarakat, TNI, Polri, BUMN, komunitas se-visi dan pemerintah setempat, mereka berhasil mengumpulkan 61 kantong sampah. “Khusus untuk sampah plastik nanti akan dibawa ke Waste Bank Mehengke Nusa untuk didaur ulang,” ujar Celine Sandil yang mengkoordinir kegiatan itu.

Kegiatan itu pun mendapat respon yang sangat baik dari founder the Trashpacker, Tijmen Sissing dari Belanda. Dimana ia mengatakan akan berkunjung ke Sangihe dan bersama melakukan edukasi kepada masyarakat tentang pengelolaan sampah.

Tak hanya itu, apresiasi Bupati Kepualauan Sangihe Jabes Ezar Gaghana menambah semangat anak-anak muda Mehengke Nusa untuk terus bergerak. Melalui sambutannya Gaghana berbangga kepada anak-anak muda yang peduli terhadap lingkungan di Sangihe. “Saya berbangga dan bahagia dengan kehadiran anak-anak muda yang berinovasi, kreatif dan memiliki semangat kerja,” kata Gaghana, sambil mengajak semua pihak untuk mendukung gerakan anak-anak muda Tamako itu.

Camat Kecamatan Tamako, Nikodemus Kalase, menyampaikan terima kasih kepada komunitas Mehengke Nusa atas upaya pendeklarasikan Mantelagheng Buresi atau Tamako Bersih. “Saya sebagai Camat Tamako tentu mangucapkan terima kasih kepada Mehengke Nusa karena telah melakukan gerakan bersih-bersih di Kecamatan Tamako. Ini dilakukan untuk menuju Indonesia bersih sebagai wujud sadar wisata,” ungkap Kalase.

Mehengke Nusa dibentuk di Tamako 1 Oktober 2018. Meski belum setahun, gerakan anak-anak muda Tamako ini telah menambah energi positif dalam pengembangan daerah perbatasan Kepulauan Sangihe. Mengusung slogan Mesembau Memunara Mehengke Banua, Mehengke Nusa saat ini tengah berbenah dan berkembang lebih tinggi membangun negeri.

Penulis : Rendy Saselah

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed