oleh

Manado Fiesta: (Jangan) Beking Pastiu!

Catatan Alfeyn Gilingan

Tahun ini untuk ketiga kalinya Manado Fiesta digelar. Sejak awal digelar, iven ini sudah dianggap mentereng. Setidaknya begitu di mata masyarakat Manado, Sulawesi Utara.

Diawali launching program Pesona Wisata Manado (PWM) di Balairung Soesilo Soedarman gedung Sapta Pesona Jakarta, yang kemudian menjelma secara ril dalam Manado Fiesta 2017. Plot dananya lebih dari cukup dalam APBD plus APBN, ada beragam acara yang ideal, panggung yang elok, pengisi acara bejubel, dan disambut gempita oleh warga Manado (dan masyarakat pariwisata dunia).

Dalam Manado Fiesta, pemajuan sektor pariwisata Manado telah muncul penuh gairah. Pelaksanaan Manado Fiesta 2017 diawali dengan peluncuran program PWM pada Senin malam, 21 September 2016 itu, dihadiri Menteri Pariwisata Arief Yahya bersama Gubernur Sulut Olly Dondokambey. Walikota Manado GS Vicky Lumentut kala itu didampingi didampingi Wakil Walikota Mor Bastiaan, dengan senyum penuh arti memukul gong sebagai tanda dimulainya guliran paket mixed wisata Manado.

Manado Fiesta, sesungguhnya masuk dalam kategori paket industri pariwisata Manado yang bersifat composite product (produk gabungan). Sejak 2017, Manado Fiesta telah disaksikan langsung oleh wisatawan domestik dan manca Negara. Dari event-event Manado Fiesta 2017, turis mendapat pengalaman baru yang mereka beli dengan harga tertentu. Sebagai produk gabungan dalam paket industri wisata, aspek jasa dan pelayanan menjadi bagian yang sangat penting di dalam Manado Fiesta 2017.

Seremoni Manado Fiesta 2017 berlangsung penuh kemeriahan yang megah. Sepanjang jalan Boulevard dijejali masyarakat Manado dan yang datang dari luar daerah. Dua panggung besar di kawasan Manado Town Square dan Boulevard II Sindulang menampilkan berbagai atraksi seni dan budaya dikemas dalam harmoni kearifan lokal.

Harus diapresiasi adalah salah satu sub mata acaranya, Manado Cantat. Acara ini mendorong Direktur Artistik Konzert, Profesor Nelson Kwei di Siglap South Community Center Singapura, pada 21 Desember 2016 menandatangani kerjasama dengan Pemerintah Kota Manado yang diwakili Wakil Kota Manado, Mor Dominus Bastiaan. Manado Cantat Festival 2017 mengusung tagline Singing City of Asia, merupakan sebuah kompetisi paduan suara internasional dan simposium.

Maka Manado Cantat 2017 menjadi satu dari dua festival paduan suara internasional di Indonesia setelah Bali Choir Festival yang benar-benar menyita simpati masyarakat pariwisata dunia. Digelar 1-6 Sep 2017 di Hotel Sintesa Peninsula, menghadirkan juri dan pembicara dari sembilan negara: Aida Swenson (Indo-nesia), Christo Burger (Afrika Selatan), Eriks Esenvalds (Latvia), Foong Hak Luen (Singapura), John August Pamintuan (Filipina), Kari Turunen (Finlan-dia), Masahiro Kishimoto (Jepang), Tim Sharp (Amerika Serikat) dan Weng Chia Fen (Taiwan).

Misi digelarnya symposium itu, lebih bersifat mengedukasi para konduktor maupun penyanyi. Materinya berupa training and sound building, 21st Century Philip-pine Choral Music, baltic choral soundscape (In search of northern light), A Good Rehearsal, dan vocal techniques for problem solving and the use of the imagination for interpreting music part 1.

Mengusung yel-yel berupa slogan Marijo ka Manado, Manado Fiesta 2017 menjadi momentum yang dihadirkan pada waktu yang tepat ketika pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla telah menetapkan sektor pariwisata sebagai lead-ing sektor dalam pembangunan demi meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia.

Tetapi kalau tujuan akhir Manado Fiesta adalah ‘pengyucapan syukur’ sebagaimana pernah dikatakan Walikota Manado saat closing Manado Fiesta 2018, saya kira formatnya tidak perlu lelah dibahas dan dilakukan persiapan selama berbulan-bulan. Tidak perlu ada…ah, banyak yang tidak perlu dan tidak dapat disebutkan satu-satu di sini. Karena intinya, Manado Fiesta tidak perlu menghabiskan dana puluhan milyar jika hanya untuk sebuah seremoni gelaran ucapan syukur: dari torang untuk torang!

Saya sedikitnya tahu banyak bagaimana Manado Fiesta muncul ke permukaan menjadi sebuah iven kolosal yang dikukuhkan sebagai salah satu dari calendar of event pariwisata Indonesia (di Manado, Sulawesi Utara). Bahkan sejak awal saya ikuti cukup cermat poin to poin benih gagasan Manado Fiesta. Tapi pada Manado Fiest 2018, performa Manado Fiesta 2017 sudah jauh berubah. Maka Manado Fiesta, sejatinya belum memperlihatkan ruh yang sesungguhnya: torang Manado! Iven yang menyedot biaya puluhan milyar ini seharusnya untuk menyokong pendapatan asli daerah plus bermanfaat bagi ekonomi masyarakat kota kecil ini.

Walau tidak hadir di ruang pertemuan, saya tahu bagaimana tema Manado Fiesta 2017 dibahas alot dan kemudian ditetapkan adalah Manado Our Home Together, Conservace Bunaken Marine Park (Manado Rumah Kita Bersama, Lestarikan Taman Laut Bunaken). Sehingga pada pertengahan tahun 2017 itu, Manado Fiesta merupakan momentum berharga dan patut dicatat dalam rentet sejarah pengembangan pariwisata kota Manado di era pasar bebas ini.

Tapi pada Manado Fiesta 2018, apa yang terjadi? Manado Cantat Festival dihilangkan. Entah alasan apa, tidak jelas. Seiring dengan tidak jelasnya alasan dilakukan pergeseran kepala-kepala SKPD di pemeritahan waktu itu. Termasuk Kepala Dinas Pariwisata, dari Hendrik Warokka, S.Pd, DEA, diganti oleh Lenda Pelealu SH, dengan posisi pelaksana tugas Kepala Dinas Pariwisata. Pasca pelaksanaan, tata kelola pemanfaatan dana puluhan milyar Manado Fiesta 2018 didera masalah hingga ke ranah hukum. Meski demikian, ujung dari masalah ini berlabuh pada predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) pengelolaan keuangan pemerintah Kota Manado dari BPK.

Adanya posisi strategis Kota Manado etalase pariwisata Sulawesi Utara, memang mengharuskan pemerintah Kota Manado harus bertindak sebagai pelopor, penggerak, dan sekaligus menjadi model bagi pengembangan sektor pariwisata di bumi Nyiur Melambai. Untuk aktualisasi kepeloporan, penggerak, dan model pengembangan, sejak 2005 pemerintah Kota Manado melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan telah menyusun Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPPDA, Dinas Pariwisata Sulut menggunakan istilah RIPPARDA) 2006-2010 –yang sampai hari belum diperbaharui.

Penyusunan RIPPDA merupakan sikap dan keputusan Kota Manado untuk segera keluar dari imbas krisis ekonomi yang berakhir tahun 1997. Sasaran prioritas pengembangan yang cepat dan mudah dilakukan adalah serbaneka potensi kota Manado yang terakomodir dalam sektor pariwisata. Maka pemerintah kota meyakini, bahwa menggerakkan secara dinamis dan enerjik sektor pariwisata, ekonomi Manado akan mengalami pertumbuhan yang efektif. Ketika terjadi pertumbuhan eko-nomi dapat bergerak efektif dengan operasional yang efisien, dampak posi-tifnya akan bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Merupakan sutau keharusan dan dengan adanya penyusunan RIPPDA, Kota Manado memulai langkah untuk memelopori, menggerakkan, dan menjadi model pengembangan sektor pariwisata di Sulawesi Utara. Sejak itu, setiap tahun Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Manado menggelar sejumlah iven pariwisata sekaligus dalam koridor memeriahkan peringatan hari ulang tahun kota di bulan Juli.

Beragam program yang dioperasikan secara teknis oleh Dinas Pariwisata Kota Manado mendapat dukungan masyarakat dan sejumlah stakeholder walau menuai kritik dari berbagai kalangan. Namun kenyataannya, masyarakat pariwisata dunia menyambut baik program PWM, yang mewujud dalam perhelatan Manado Fiesta 2017. Hal ini dibuktikan dengan adanya peningkatan pendapatan usaha perhotelan dan restoran, sehingga kondisi itu merupakan penanda objektif bahwa kedatangan wisatawan manca negara maupun domestik yang datang berkunjung ke Manado melalui jalur udara di Bandara Internasional Sam Ratulangi Manado mengalami pertumbuhan yang signifikan.

Artinya, program Pesona Pariwisata Manado dengan iven Manado Fiesta yang menampilkan aneka potensi dan keberadaan Kota Manado, telah membagun citra kota Manado sebagai destinasi pariwisata. Dengan membangun citra sebagai destinasi wisata, sama artinya dengan membangun citra daerah secara keseluruhan.

Lalu, apakah potensi seni budaya masyarakat dan lembaga yang menaunginya termasuk entitas yang ikut membangun citra kota Manado? Apakah hanya sebagai pelengkap pemanis dalam Manado Fiesta? Atau sengaja diposisikan oleh pemerintah kota Manado sebagai pelengkap penderita?

Ketika Bali dinyatakan sebagai destinasi parwisata utama di Indonesia, masyarakat Bali dianggap sangat mampu melindungi warisan seni budaya mereka terhadap ancaman industri pariwisata. Kekhawatiran mengenai kehancuran kebudayaan Bali tidak terbukti, bahkan sebaliknya masyarakat Bali telah mampu meresap pengaruh dari dunia luar tanpa harus mengorbankan ciri khas identitas mereka pada tonggak seni dan budaya.

Apakah seni budaya di Kota Manado dapat dibangun menjadi tonggak pengembangan sector pariwisata Sulawesi Utara?

Ya, setidaknya menjadi salah satu tonggak! Sebab upaya mengembangkan sektor pariwiata, sejatinya harus selaras dengan niat baik untuk memelihara dan melindungi warisan seni budaya. Toh Manado sampai hari ini, telah menjadi ‘rumah’ bagi masyarakat heterogen. Masyarakat yang kaya potensi seni budaya. Cara pengembangannya, pemerintah kota tidak pilih-pilih atau sengaja tidak menyertakan potensi lokal yang dimiliki.

Sungguh, turis domestik atau manca negara sekalipun, akan lebih suka melihat keunikan seni budaya lokal ketimbang menyaksikan penampilan panggung artis ibukota. Jika mereka ingin menyaksikan penampilan artis ibukota, sangat rugilah kalau mereka harus datang menyaksikannya di panggung Manado Fiesta. Turis domestik, misalnya dari Palangkaraya, akan berhitung dua kali datang ke Manado hanya untuk menyaksikan penampilan Krisdayanti di Manado. Bukankah jarak Palangkaraya-Jakarta lebih dekat, mengapa harus ke Manado hanya untuk melihat goyang panggung Krisdayanti yang dibayar puluhan juta oleh pemerintah kota Manado?

Manado punya potensi seni budaya yang tidak dimiliki oleh daerah asal turis domestik. Begitu pula di negara asal turis. Mereka punya artis terkenal, yang diidolakan dan sudah mendunia. Tetapi mereka tidak akan pernah dapat menyaksikan bagaimana apiknya kolaborasi musik tradisional di Sulawesi Utara jika tidak datang di panggung Manado Fiesta. Pertama kali melihat yang baru, yang unik di panggung Manado Fiesta, maka tahun berikutnya para turis itu akang datang lagi.

Ketika racikan apik musik tradisional itu ada di panggung Manado Fiesta 2019, misalnya, dengan demikian seni budaya punya menjadi entitas penting yang punya andil untuk mengangkat citra daerah: Torang Manado! Itulah karakteristik Manado yang lengkap, yang tidak dimiiki oleh daerah lain di Indonesia.

Keberhasilan sebuah iven, termasuk Manado Fiesta, entitas utamanya bukan terletak pada superiornya Event Organizer yang mendesain acara dan ditunjang dengan biaya memadai. Ketersediaan materi dasar akan menjadi titik berangkat untuk mencapai tujuan digelarnya Manado Fiesta. Dan Manado Fiesta yang kolosal dengan menyedot biaya milyaran rupiah, bukan hanya iven yang digelar untuk menghibur dan seremoni berucap syukur bagi warga Manado dan para pejabat; bukanlah pula acara ‘dari torang untuk torang’, melainkan sebauh acara wisata mixed ‘dari torang untuk dorang’ (turis), dan (turis) ‘dorang pe doi maso pa torang’!

Artinya, Manado Fiesta jangan menjadi iven yang beking pastiu pa torang! Desain acaranya hanya untuk menyedot biaya besar dan memberi untung bagi pihak-pihak tertentu. Teman saya pekan lalu sempat memberi tahu soal bagaimana pihak EO dapat menyedot untung besar dari sebuah iven karena longgarnya poin-poin yang cenderung tidak berbenturan dengan aturan karena bukan sebagai pekerjaan fisik yang dapat dihitung seperti kebutuhan pasir ketika membangun sebuah gedung dengan volume, meter atau kubikasi.

Kita nantikan bersama bagaimana racikan dan performa acara Manado Fiesta 2019 yang tidak lama lagi akan digelar. Saya masih berharap bahwa program Manado Fiesta 2019 akan menampilkan secara utuh seluruh potensi kota Manado. Walaupun setelah memperhatikan visual design acara yang dipersiapkan cenderung formal karena lebih dominan memberdayakan ASN dan pelajar. Karnaval misalnya, pesertanya masih seperti tahun lalu, yaitu SKPD dan pelajar. Saya yakin, penampilan pelajar pada atraksi entertainmen drum band, tari kabasaran dan musik bambu, serta tarian nusantara itu adalah keharusan yang bernilai intervensi dan sudah pasti menyedot biaya dari orang tua/wali.

Entah, saya tidak paham persis goal lomba Busana Kaeng Manado yang pesertanya dari ASN, pemuda dan anak-anak, apakah hanya seremoni belaka atau untuk kepentingan jangka panjang kaeng Manado. Beberapa kali menyaksikan Jakarta Fashion and Food Festival (JFFF) besutan PT Sumarecon Agung Tbk di mal Kelapa Gading, saya berharap akan mendapatkan ruh yang sama, lebih khusus pada kemasan food dan fashion di Manado Fiesta 2019. Lagi pula, JFFF tidak hanya ‘menjual’ acara yang tersentral pada lokasi pelaksanaan melainkan juga tempat-tempat wisata lain di Jakarta. Tahun ini JFFF keenambelas digelar usai Manado Fiesta 2019, yaitu pada pekan kedua Agustus hingga September.

Yang saya mau tegaskan, dalam kemasan dan suguhan paket acara Manado Fiesta 2019, tampilan atraksi seni budaya daerah sebagai tonggak seni budaya nasional itu diharapkan harus menjadi andalan yang mendukung produk-produk kuliner dan fashion. Selain diarahkan untuk maksud komersialisasi, atraksi-atraksi seni budaya itu sudah waktunya merupakan buah dari upaya pembinaan dan pelestarian nyata potensi daerah yang dijalankan secara teknis oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Manado, yang bukan saja dikhususkan bagi pelajar dari sekolah pilihan tetapi di dalamnya ada sanggar dan komunitas seni yang tidak dipilih-pilih dengan melibatkan lembaga atau organisasi seni budaya yang berbasis di Kota Manado seperti Karya Cipta Indonesia, Komunitas Musik Manado, Dewan Kesenian Manado, dan sebagainya. Sehingga Manado Fiesta (tahun-tahun selanjutnya) jangan beking pastiu! (*)

Alfeyn Gilingan, wartawan tinggal di Manado

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed