oleh

Lebaran Ketupat Dalam Tutur Syarifudin Saafa

-Berita, Daerah-1.035 views

Manado, Barta1.com — Masyarakat Kota Manado umumnya mengenal dua kali pelaksanaan Lebaran, yaitu Idul Fitri dan Lebaran Ketupat. Idul Fitri dilaksanakan tepat pada 1 Syawal, sedangkan lebaran ketupat adalah satu minggu setelahnya atau 8 Syawal.

Anggota DPRD Manado, Syarifudin Saafa Kamis (13/06/19) menjelaskan tradisi Lebaran Ketupat bagi masyarakat Manado diselenggarakan pada hari ke delapan bulan Syawal setelah menyelesaikan puasa Syawal selama 6 hari.

“Hal ini berdasarkan sunnah Nabi Muhammad SAW yang menganjurkan umat Islam untuk bepuasa sunnah 6 Hari di bulan Syawal,” jelas Saafa yang 6 hari lagi akan merayakan ulang tahunnya.

Pada 44 tahun yang lalu lulusan perguruan tinggi Fakultas Teknik Unsrat ini, dalam sejarah lebaran ketupat pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga. Saat itu sang Sunan memperkenalkan dua istilah Bakda kepada masyarakat Jawa, Bakda Lebaran dan Bakda Kupat.

Bakda lebaran dipahami dengan prosesi pelaksanaan shalat Ied satu Syawal hingga tradisi saling kunjung dan memaafkan sesama muslim, sedangkan Bakda Kupat dimulai seminggu sesudah lebaran. Seperti halnya pada hari kemarin, Selasa (12/06/19) masyarakat muslim di Kelurahan Maasing dan Kelurahan Mahau, Kecamatan Tuminting.

“Umumnya membuat ketupat, yaitu jenis makanan yang dibuat dari beras yang dimasukkan ke dalam anyaman daun kelapa (janur) yang dibuat berbentuk kantong, kemudian dimasak. Setelah masak, ketupat tersebut disajikan ke kerabat, saudara atau tamu undangan yang berkunjung di Lebaran Ketupat, sebagai simbol persaudaraan dan lambang kasih sayang,” ujar Saafa.

Saafa menambahkan dalam pesan moralnya di Lebaran Ketupat kepada kerabat yang semuanya diyakini merupakan tuntunan luhur untuk bagaimana menjadi pribadi yang baik di kemudian hari.

“Lebaran ketupat merupakan tradisi baik yang telah lama mengakar kuat dalam benak masyarakat muslim di kota Multikultural ini. Harapannya tradisi lebaran ketupat sejak awal abad ke-15 masi tetap terjaga, dengan begitu mampu meniaga salah satu budaya keislaman yang pernah akan punah,” ungkap wakil rakyat yang terpilih lagi pada periode 2019-2024 ini. (*)

Penulis: Albert P. Nalang

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed