oleh

Proyek 27 M di Talaud ‘Memakan Korban’

-Daerah-10.719 views

Talaud, Barta1.com – Proyek preservasi jalan Rainis-Melonguane-Beo, lingkar Miangas dan lingkar Kakorotan yang berbandrol Rp 27.805.050,000 (dua puluh tujuh miliar delapan ratus lima juta lima puluh ribu rupiah) yang bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) menjadi petaka bagi warga.

Pasalnya, proyek yang dikerjakan PT Kawanua Keramik ini membuat pengguna kendaraan yang melintas merasa harus ekstra hati-hati karena separuh ruas jalan yang dikeruk mengunakan alat berat ini memaksa pengguma jalan mengenakan masker. Itu disebabkan tebalnya debu yang beterbangan. Bahkan saat ini separuh ruas jalan tersebut berubah menjadi kolam lumpur akibat hujan yang mengguyur beberapa hari ini.

Terpantau, selain membuat arus kendaraan tersendat karena pengendara tidak lagi melintasi kolam lumpur tersebut. Akhirnya kendaraan yang berlawanan arah saling berdempetan karena sempitnya ruas jalan. Kondisi ini berdempetan lantas mengakibatkan salah satu kendaraan roda empat terperosok di dalam parit.

Kabar yang beredar di kalangan masyarakat, pekerja proyek sedang libur karena ada perayaan hari raya Idul Fitri. Bahkan tak kalah menarik, ada yang menuturkan bahwa sejumlah alat berat yang digunakan dalam pengerjaan proyek ini berada dalam kondisi rusak dan tidak bisa dipakai.

Situasi ini membuat geram anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Talaud, Godfried Timpua.

Timpua mengatakan, jalan Rainis Melonguane-Beo ini merupakan akses menuju ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Mala. Dan dapat memperlambat waktu dan jarak tempuh ke rumah sakit. Apalagi kalau ada pasien yang sudah gawat.

“Sayangnya kontraktor terkesan tidak bertanggung jawab. Ruas jalan ini sangat vital karena merupakan akses ke rumah sakit. Bahaya sekali bagi masyarakat, apalagi yang membawa orang sakit ke rumah sakit,” tegas Timpua ketika ditemui saat memantau lokasi pengerjaan proyek, Sabtu (8/6/2019).

Dia juga meminta agar aparat penegak hukum segera turun tangan untuk menelusuri penyebab terjadinya permasalahan ini. Tak hanya itu, Camat Melonguame membeberkan rasa kwatir dan protes dari warga Desa Mala dan Desa Mala Timur yang disampikan kepadanya terkait aktifitas proyek ini.

“Persoalan yang membuat kwatir masyarakat desa Mala dan Mala Timur adalah pembuatan drainase yang merupakan satu paket kerja dari proyek ini. Hal ini dikarenakan pagar desa yang ada di dua desa ini terancam roboh akibat galian drainase yang berada persis di depan pagar yang mulai terkikis air hujan. Apalagi saat ini sudah musim penghujan,” beber Maliatja.

Maliatja juga mengatakan, dirinya sudah beberapa kali menghubungi pihak kontraktor proyek via handphone tetapi tidak mengangkat telpon.

Terpisah, Ketua DPC LSM LAKI Talaud, Ryan Maariwut menegaskan, pihak terkait segera menindaklanjuti persoalan yang ada karena ini menyangkut kepentingan rakyat. “Kami mendesak kepada pemerintah dan pihak terkait untuk segera menindaklanjuti persoalan di tengah masyarakat akibat pengerjaan proyek ini,” tegas Maariwut.

“Kami akan melaporkan kepada aparat penegak hukum apabila kontraktor membiarkan problem yang ada,” tukas Maariwut.

Ia menambahkan, dirinya sudah berusaha menghubungi kontraktor namun sejauh ini tidak mendapatkan respon.

Peliput : Evan Taarae

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed