oleh

Ketika Prof Boetje ‘Mendamaikan’ Dikotomi Modernitas dan Tradisionalitas dalam Sistem Pengobatan

-Opini-1.170 views

Oleh: Sovian Lawendatu

Perayaan HUT ke-73 Prof dr Boetje Herry Moningka DAF SPFK yang dihelat siang tadi di lokasi wisata Rendem Hall Tree On Tree, Jumat (07/6/19) Danowudu, Kota Bitung terasa unik.

Maklum, salah satu acaranya adalah Peluncuran dan Bedah Buku berjudul PENGOBATAN TRADISIONAL MINAHASA-TONSEA karya sang farmakolog yang saat ini tercatat sebagai Guru Besar Emiritus pada Fakultas Kedokteran Unsrat Manado yang akrab disapa Prof. Boetje.

Sebagai karya yang digarap dari riset terhadap kearifan lokal, buku ini memang tergolong buku ilmiah pengobatan yang langka di Tanah Air. Itu sebabnya, kehadiran buku dari Tuama kelahiran Lembean, Minahasa (kini Minahasa Utara) ini mendapat apresiasi dari ratusan peserta, termasuk Walikota Bitung Maxmillian Jonas Lomban dan para akademisi serta budayawan.


Dunia kesehatan modern selama berabad-abad telah didominasi oleh pendekatan, metode, dan teknik pengobatan ilmiah yang khas Barat: rasionalistik, empiristik, dan teknologis. Maka kerja perdukunan yang mentradisi dalam kehidupan masyarakat-masyarakat lokal dianggap tahayul. Citra negatif ini kian menjadi dengan adanya pandangan teologi Gereja yang mencap dunia perdukunan sebagai “pekerjaan setan”.

Namun, dikotomi antara modernitas dan tradisionalitas itu telah didamaikan oleh Prof Boetje dalam bukunya yang setebal 86 halaman (inti) ini. Itu jelas kalau kita menyimak pernyataan Prof Dr Peter Euwijk MA PhD, yang dalam acara itu tampil sebagai pembahas. Guru Besar Antropologi Sosial dan Kultural yang bertugas di Universitas Basel (Swiss), dan Universitas Zurich (Swiss) serta Universitas Freiburg (Jerman) ini antara lain menyatakan, “Buat Prof Boetje dua sistim kesehatan ini yaitu sistem modern dan sistim tradisional tidak berarti satu kontradiksi ilmiah dan permusuhan antagonistis, bahkan Prof. Boetje mampu menjembatani dua sistim ini dalam pengertian holistis. Dua pemahaman ini bersama-sama menyembuhkan orang Tonsea. Ada penyakit yang tidak cocok dengan dokter dan semata-mata dengan dukun, ada juga yang cocok sekali dengan dokter atau kedua-duanya cocok.”

Itu berarti, bagi Prof Boetje, sistem pengobatan modern dan sistem pengobatan tradisional ibarat mata kanan dan mata kiri manusia. Maka, manusia yang ingin sehat secara fisik tentu harus memiliki dan menggunakan kedua belah mata itu.

Pembahas lain, Drs Alex Ulaen, sesuai dengan kepakarannya di bidang antropologi kultural, melihat bahwa buku karya Prof. Boetje ini merupakan bukti atau hasil sebuah proses literasi budaya. Maksud Ulaen dengan literasi-budaya adalah kemampuan membaca, memahami dan kemudian menuliskan realita budaya yang secara khusus mengambil wujud pengobatan tradisional, sebuah kearifan leluhur Minahasa-Tonsea.

Dari pembahasan Ulaen itu jelas bahwa dengan bukunya ini Prof. Boetje sesungguhnya telah meneladankan kepada generasi muda tentang pentingnya melakoni secara nyata apa yang disebut dengan “budaya literasi” itu. Keteladanan ini penting karena dewasa ini masyarakat kita, bahkan sebagian dari kita, lebih menyukai “budaya omong”, yang sering bahkan berbobot “kosong”, ya omong kosong-lah, sehingga realitas yang bermakna bagi kehidupan manusia dan masyarakat hilang tak berjejak bagi generasi mendatang.

Prof Boetje sendiri sebagai penulis memaparkan bahwa bukunya ini bermula dari makalahnya yang berjudul “Beberapa Bahan Obat dan Ritus dalam Pengobatan Tradisional Tonsea Minahasa”. Makalah tersebut, begitu kisah suami dari Pendeta (Emiritus) Wiesje Olvien, Tirajoh STh ini, pertama kali dipresentasikan dalam forum Seminar Indonesia Bagian Timur, yang dihelat oleh LEKNAS LIPI pada bulan Juli 1985.

Menurut Penatua Am yang pada tahun 1990-an berperan aktif dalam proses ‘eksperimentasi’ penyusunan liturgi GMIM secara sinodal ini, makalahnya itu ketika itu mendapat sambutan yang sangat mengesankan dari para peserta seminar. Malah, makalahnya itu telah menginspirasi beberapa kandidat doktor dari Swiss dan Jerman, sehingga mereka melakukan penelitian tentang ethnomedicine di Minahasa.

Dalam bentuknya yang sekarang, yakni sebagai buku, karya ilmiah dari Prof. Boetje ini tentulah akan memberi kontribusi bagi upaya perintisan dan pengembangan sistem pengobatan yang berbasiskan kearifan lokal. Selebihnya, buku ilmiah ini niscaya menginspirasikan pembaca semacam saya bahwa warisan budaya leluhur yang mengandung nilai kearifan lokal merupakan anugerah dan rahmat Tuhan. Alhasil, ia patut dilestarikan dan diberdaya-manfaatkan sebagai berkat sorgawi bagi kesejahteraan hidup manusia dan masyarakat.(*)

*Catatan Budaya, Sovian Lawendatu Seputar Acara Peluncuran dan Bedah Buku PENGOBATAN TRADISIONAL MINAHASA-TONSEA karya Prof dr Boetje Herry Moningka DAF, SPFK

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed