oleh

Kolaborasi Panji Yosua dan LC Berjaga di Mesjid Tertua di Manado

Manado, Barta1.com – Toleransi di Manado, Sulawesi Utara, sudah terjaga sejak lama. Saat Salat Idul Fitri pun menjadi bukti bagaimana harmonisnya umat Kristiani dengan umat Muslim.

Pukul 06.30 WITA warga mulai berbondong-bondong memasuki Mesjid Agung Awwal Fathul Mibien yang berada di ruas jalan Hasanudin, Kelurahan Kampung Islam tersebut. Mereka dengan khusyuk melakukan Salat Ied 1440 Hijriah.

Di luar mesjid pertama di Manado itu, sudah berjaga-jaga dan melakukan pengawalan dua organisasi masyarakat (ormas) dari Kristen Protestan dan Kristen Katolik.

Adalah Panji Yosua dari Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) yang merupakan gereja Prostestan kedua terbesar di Indonesia setelah Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Panji Yosua GMIM Tasik Generazet Sindulang II ini sejak pukul 06.30 WITA sudah stand by di depan mesjid. Selain memberi salam kepada umat Muslim yang datang ibadah, mereka juga mengatur arus lalu lintas.

Ikut bergabung juga Ormas dari Kristen Katolik, Legium Christum (LC). “Kami yang datang pagi ini ada 10 orang. Pengamanan di mesjid ini sudah kami rencanakan sejak pekan lalu. Dan rutin setiap tahun saat perayaan Idul Fitri,” ujar personil Legium Christum, Jemmy Motorbongs, di Manado, Rabu (5/6/2019).

Saleh, warga Muslim yang ikut sembahyang mengaku bangga dengan toleransi di Manado yang masih cukup kuat terjaga. “Salut dan bangga buat kawan-kawan Kristen di sini yang menjaga kami sedang sembahyang. Kami yakin tidak akan terjadi apa-apa saat kami salat, tapi bukan di situ nilainya, kehadiran saudara-saudara kita Kristen menandakan kebersamaan dan toleransi yang kuat,” ujar tokoh pemuda Muslim ini.

Mesjid Pertama di Manado Didirikan Muslim Ambon

Mesjid Agung Awwal Fatul Mibien yang berada di kawasan Manado bagian Utara, tepatnya Jalan Hasanudin, Kelurahan Islam Manado, Kecamatan Tuminting, merupakan mesjid tertua di Manado, atau mesjid pertama berdiri di Manado. Kini dalam kondisi pemugaran yang ikut dibantu dananya oleh mantan Presiden RI, Megawati Soekarnoputri.

Masjid ini merupakan salah satu bukti sejarah masuknya Islam di tanah Minahasa. Bila hendak ke tempat ini dari pusat kota, hanya butuh waktu 5 menit saja dan mudah mendapatkannya karena berada tepat di depan jalan utama.

Mesjid ini sudah lima kali direnovasi, dan sudah tidak nampak keaslian rumah ibadah yang pertama dibangunnya bersifat langgar pada tahun 1776 oleh pendatang dari Ambon. Saat ini terlihat sementara dalam proses renovasi untuk kali ke enam. Kini renovasi mesjid itu sudah mencapai 70 persen, dan tersisa perbaikan beberapa item bangunan mesjid tersebut.

Ketua Panitia pembangunan, Hamzah Radjap menjelaskan sejarah singkat sebagaimana yang dia kutip dari Almarhum Ust Said Taha Bachmid, bahwa Mesjid Awwal Fathul Mubien artinya masjid pertama pembuka yang nyata.

“Sejarah awalnya dari 1760 di bawah kekuasaan kolonial Belanda, ada beberapa orang Muslim asal Ternate, Makiang dan Ambon datang bermukim di Manado. Kemudian pada 1770 mulai berdatangan Muslim dari Jawa Tengah, Jogjakarta dan Jawa Timur sehingga mereka menetap dan memberi nama desa Suraya (jenis tumbuhan yang tumbuh di wilayah ini) dan sekarang namanya Kampung Islam,” ujar Hamzah.

Dijelaskannya pada tahun 1776 mereka membuat tempat ibadah bersifat darurat berbentuk Langgar, berlantaikan tanah, atap daun rumbia serta dinding anyaman bambu. Orang Muslim mulai berdatangan dari Sumatra Barat, Sumatra Selatan, Sulawesi serta Jamaah dari Yaman Hadra Maud.

Mereka berprofesi sebagai pedagang, guru mengajar membaca Al-Quran, Maulida, Barzanji, Handra, Samrah dan bela diri pencak silat. “Semua budaya itu masih terpelihara sampai sekarang” tuturnya.

Seiring dengan bertambahnya jumlah jamaah, pada tahun 1802 status tempat ibadah itu menjadi mesjid, selanjutnya pada tahun 1830 mengalami renovasi menjadi ukuran 8 x 8 meter persegi, berpondasi batu karang dan lantai papan. Pembangunan itu bertepatan dengan dibuangnya Pangeran Diponegoro beserta pengikutnya ke Manado.

Kemudian pada 1930 terjadi renovasi ketiga menambah luas bangunan menjadi 8 x 12 meter persegi, seterusnya tahun 1950, 1967, 1975, menambah luas bangunan dan bagian interior serta 1983 dibangun menara masjid sebagai pelengkap.

Akhirnya pada 1994 bangunan mengalami penambahan tiga meter samping kiri dan kanan. Fisik bangunan ini bisa bertahan sampai 48 tahun sejak dibangun tahun 1967.

Departemen Agama menetapkan tanggal 1 Juli 1991 sebagai bukti Syiar Islam pertama di Manado dan Minahasa. Perjalanan sejarah Masjid ini disadari kaya akan kearifan lokal, sehingga jadi barometer kerukunan umat beragama di Indonesia khususunya di Sulut.

Penulis : Agustinus Hari

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed