oleh

Nama Pulau Siau, Asal Usul dan Sejarahnya

-Histori-15.604 views

Sejarawan HB Elias agak meyakini, ikwal kata “Siau” sebagai nama untuk pulau Siau, di Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara, berawal pada masa Spanyol abad ke 16 ketika journal-journal pelaut Eropa mulai mencatat perairan di seputar Pulau Siouw. Benarkah?

Banyak pihak masih meragukan pendapat itu. Sebab, sebelum armada Spanyol menyinggahi pulau ini, Siau sudah melekat sebagai nama bagi pulau penghasil pala terbaik dunia tersebut. Lantas, bagaimana asal-usul dan sejarahnya? Inilah titik menarik dari secuwil rentetan data berikut ini.

D Brilman, salah satu penulis asal Eropa. Ia yang menyebut nama pulau-pulau di kawasan Sangihe Talaud seperti yang terus digunakan hingga saat ini. Ia seorang pekabar Injil yang bertugas di Sangihe Talaud sejak 1927.

Dengan menggunakan banyak sumber dari era Spanyol, Portugis, dan VOC, Brilman menulis “Onze Zendingsvelden De Zending op de Sangi – en Talaud- eilanden”. Buku itu kemudian diterjemahkan oleh GMIST menjadi “Wilayah-wilayah Zending Kita, Zending di Kepulaun Sangi dan Talaud”.

Raksasa yang sedang berasap adalah metafora Brilman untuk menggambarkan lanskap pulau Siau. Nama Siau sudah disebut dalam suatu publikasi peter Antonio Marta pada tahun 1588 dan Ds. F. Valentijn pada 1700, ungkap Brilman.

Data lain yang menyebutkan, pencantuman nama Siau dalam sejumlah sketsa dan peta pelayaran abad 16 oleh sejumlah penulis, diantaranya, catatan harian Antonio Pigaffeta, “Primer Viaje en Torno del Mondo” yang mencatat perjalanan eskader yang dipimpin Laksamana Magelhaes melewati Kepulauan Sangihe dan Talaud pada Oktober dan November 1521. Tome Pires, dalam “The Suma Oriental of Tom Pires and the Book of Fransidco Rodriques” Armendo Cortesao, menyebut pulau Siau dengan nama Chiaoa. Nicolas Desliens pada tahun 1541 menyebut Siau dengan Siao. Huich Allardt menyebut Siaw pada 1652.

Lebih menarik lagi data yang dipapar sejarawan Dr Ivan RB Kaunang SS MHum. Dalam bukunya “Bulan Sabit di Nusa Utara, Perjumpaan Islam & Agama Suku di Kepulauan Sangihe Talaud”, ia menyebutkan, nama Siau sudah dicantumkan dalam buku pentunjuk pelayaran pelaut Cina, sebelum pelaut Spanyol dan Portugis melintasi perairan Nusa Utara (Kepulauan Sangihe Talaud).

Mengutip buku petunjuk pelayaran Shun Feng Hsin Sung tahun 1500, dosen Fakultas Ilmu Budaya (dulunya Fakultas Sastra) Universitas Sam Ratulangi Manado ini menyebut, nama Shao (Siau) telah dicatat sebagai bagian dari jalur Utara Cina melewati Zamboanga ke bagian Timur Mindanao, kemudian ke Selatan menuju pengunungan Shao atau Siau.

Seperti juga D Brilman, Kaunang mengungkapkan, jauh sebelum armada Eropa melintasi Sangihe Talaud, para pelaut dan pedagang Cina, Arab dan India telah menjadikan pulau-pulau Sangihe Talaud sebagai tujuan untuk mendapatkan produk-produk andalan seperti kayu hitam, minyak kelapa, kelapa, cengkeh, pala dan fuli serta persediaan makanan. Juga sebagai daerah lintasan dari Mindanao ke Maluku. Sementara jalur perdangan dan pelayaran yang dilakukan Spanyol dan Portugis baru dimulai pasca-jatuhnya Kerajaan Malaka ke tangan Portugis pada tahun 1511.

Ketika didirikan pada 1510 oleh raja pertama Longkongbanua (1510-1545), kedatuan itu telah bernama Kedatuan Siau. Imperium kecil ini, menurut situs Arkeologi dan Riset Sejarah, awalnya hanya terdiri dari pulau Siau yang luasnya tak lebih dari 100 Km2. Kemudian waktu, berkembang mencakup daerah-daerah di bagian selatan Sangihe, pulau Kabaruan (Talaud), pulau Tagulandang, pulau-pulau di Teluk Manado dan wilayah pesisir jazirah Sulawesi Utara (kini Minahasa Utara), serta ke wilayah kerajaan Bolangitan atau Kaidipang (Bolaang Mongondow Utara), bahkan berekspansi armada lautnya sampai ke Leok Buol.

Enam tahun setelah kedatuan Siau berdiri, tepatnya April 1516, untuk pertama kali pelaut Spanyol dan Portugis masuk ke Siau untuk kepentingan merayakan Misa Paskah di darat. Dalam catatan Sudirno Kaghoo, pada bukunya “Jejak Leluhur, Warisan Budaya di Pulau Siau”, mereka diterima oleh Raja Lokongbanua.

Baru pada tahun 1518 keinginan pihak Spanyol dan Portugis membangun benteng Gurita di Ondong dan Benteng Santarosa di Lalento, Ulu, yang bertujuan untuk menampung hasil bumi berupa pala, cengkeh dan kelapa yang mereka peroleh dari Maluku, Ternate, Tidore dan Sangihe mendapat persetujuan dari Raja Lokongbanua.

Peristiwa sejarah dan catatan terdahulu ini sudah pasti mematahkan anggapan bahwa nama pulau Siau berasal dari era Spanyol dan Portugis di kisaran abad ke 16.

Menengok ke belakang, yaitu sejak abad ke 15, pulau Siau sudah dihuni oleh beberapa kelompok keluarga yang disebut balageng. Balageng merupakan kelompok keluarga batih yang membentuk koloni (kulano) dan menempati suatu tempat kemudian mengatur cara hidup anggotanya secara mandiri.

Kulano ini mirip dengan sebuah clan yaitu kumpulan dari beberapa keluarga dari satu garis keturunan yang sama. Setiap kulano mempunyai satu orang pemimpin yang mengatur tata laksana kehidupan sosial kelompoknya. Dalam satu Kulano terdapat pula seorang wahani atau pemberani yang dianggap sebagai pahlawan.

Menurut Kaghoo, pernah ada lima Kulano yang tinggal di pesisir Pulau Siau. Kulano-kulano itu antara lain: Kulano Gumabo, Kulano Bowongpansihe, Kulano Kasahu, Kulano Kumbohang dan Kulano Sense Madunde.

Di era para kulano itu, bahkan pada masa kerajaan Bowongtehu yang eksis sejak tahun 1400 di Pulau Manado Tua dipimpin Raja Mokodaludut, nama Siau sudah disebut-sebut.

Nama Siau Dari Berbagai Kisah dan Legenda

Dalam syair lagu daerah Sangihe Talaud, Tahanusangkara adalah nama dari budaya “Sasahara” (budaya bahari) untuk pulau Siau. Namun dalam cerita masyarakat setempat, nama pulau Siau di masa purba yaitu Alamina.

Alamina konon merupakan daratan pulau besar yang membentang dari Bacan hingga Mindanao dengan seorang pemimpin spiritual (kulano) yang bernama Ampuang Tatetu. Ia dipercaya sebagai wakil dewa moyang tertinggi Aditinggi yang berdiam di puncak Gunung Karangetang.

Pulau Alamina ini kemudian dihancurkan dan ditenggelamkan oleh sang Ampuang, karena manusia tak lagi patuh pada hukum dewa moyang tertinggi (Narang). Dari bencana besar itu, yang tersisa adalah puncak-puncak gunung yang kemudian membentuk pulau-pulau.

Hamparan karang di dalam laut di wilayah utara muncul menjadi pulau-pulau karang yang baru. Karena letaknya jauh ke laut maka disebut pulau karang jauh di laut (Malaude atau Talaude). Sisa reruntuhan Alamina di Selatan Talaude, oleh datuk Tatetu dinamakan Nusalawo (pulau banyak), saat ini dikenal dengan kepulauan Sangihe dan Siau Tangulandang Biaro (Sitaro).

Ada juga yang mengatakan nama pulau Siau ini terkait dengan Sembilan (Sio) mata air ditemukan di daerah Liwuadaha. Dari kata Sembilan atau Sio itu berkembang menjadi sebutan Siau. Ada juga yang percaya kata Siau itu berawal dari banyaknya tumbuhan sejenis Ubi yaitu “Siawu” yang bertumbuh dihampir semua wilayah di pulau ini.

Ada pula kisah yang lain dituturkan masyarakat terkait tradisi kelautan warga Siau pada masa lampau, sebagaimana dikutip dalam “Kumpulan Cerita Rakyat Kabupaten Kepulauan Siau, Tagulandang, dan Biaro” yang diterbitkan Disparbud Kabupaten Kepulauan Sitaro, dimana disebut suatu ketika ada sekelompok pelaut dari pulau ini yang melakukan pelayaran menuju Ternate.

Sesampainya, sebagaimana adat kebiasaan pada masa itu, Sultan Ternate bertanya kepada mereka, “dari mana kalian datang?” Para pelaut yang belum begitu paham bahkan tidak tahu bahasa setempat mengira yang ditanyakan ialah bagaimana mereka bisa datang ke istana. Dengan serempak mereka menjawab, “nesio”, yang dalam bahasa Siau bermakna ”bersama-sama”. Sebaliknya Sultan Ternate hanya menangkap kata ”Sio” pada jawaban yang didengarnya. Maka Sultan bergumam, “Hm dari Pulau Sio”. Sejak saat itu pulau ini disebut pulau Siau.

Dalam cerita lain dikisahkan, kemungkinan asal nama pulau Siau adalah dari petualangan laut yang dilakukan oleh satu kapal berasal dari Ternate hendak menuju Ambon. Namun hembusan angin Selatan yang sangat kuat, maka kapal tersebut terbawa arus.

Setelah seminggu lebih, nakhoda melihat sebuah daratan yang penuh dengan pohon-pohon dan nyiur. Ia pun memerintahkan agar kapalnya merapat ke daratan. Setelah tampak jelas bahwa daratan itu adalah pulau yang berpenghuni, sang nakhoda dengan gembira berucap, ”Oh sio” (artinya oh kasihan), sambil menyapu dadanya. Mendengar ucapan nakhoda para awak kapal berkata sambil berbisik, ”oh itu pulau Sio”. Dari situlah kata Siau konon kemudian dikenal.

Orang-orang di daratan Sulawesi Utara (Minahasa) juga punya cerita lain, dikisahkan bahwa kata Siau itu berasal dari status atau ikatan darah penduduk pulau ini dengan suku-suku yang hidup di Minahasa. Dipercayai bahwa orang Siau adalah keturunan dari anak kesembilan dotu Minahasa benama “Sio” atau “Makasiou”. Itulah sebabnya orang Siau banyak yang memiliki kulit seputih orang Minahasa.

Namun sejarawan asal Siau, HB Elias, dalam catatan tertulisnya menyatakan bahwa dari semua cerita yang berkembang di tengah masyarakat ini, hanyalah kisah yang bermula dari kedatangan bangsa Spanyol pada abad ke-16 yang paling dapat dipercayai kebenarannya meskipun hal ini tetap membutuhkan penelitian ilmiah yang lebih lanjut.

Dikisahkan Elias, suatu waktu datanglah kapal Spanyol berlabuh di pantai di sekitar Paseng yang merupakan ibukota kerajaan waktu itu. Kehadiran kapal asing ini mengundang rasa penasaran warga setempat maka mereka mendatangi pantai dan berjejer sembilan orang.

Nakhoda kapal Spanyol itu turun dari kapalnya dengan perahu sekoci kecil didampingi beberapa awak kapalnya mendekati sembilan orang itu lalu bertanya, ”Adakah diantara kalian bisa memberitahu nama pulau ini”. Ia bertanya demikian seraya menunjuk ke sembilan orang itu satu persatu. Merasa sedang dihitung, kesembilan orang itu menimpali, ”Sio”. Nakhoda pun manggut-mangut dan berkata ke anak buahnya, “ini Pulau Siouw”.

Saat ia kembali ke kapalnya, nakhoda pun memberitahukan kepada awaknya yang tidak sempat turun ke darat bahwa pulau itu bernama pulau Siouw. (*)

Penulis : Iverdixon Tinungki

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed