oleh

Sensasi Membunuh Manusia Dalam Game Battle Royal

Game jenis Battle Royal, apapun namanya, selalu menawarkan formulasi yang sama; membunuh lawan untuk bertahan hidup. Beberapa dekade terakhir permainan virtual dengan genre yang satu ini sangat digandrungi. Bahkan ada yang sampai ketagihan dalam sensasi menghabisi sesama.

Gerry (20-an) mengaku baru 3 bulan akhir ini bergelut dengan game PUBG, akronim dari players unknown battleground. Empat hingga lima jam dalam sehari bisa dihabiskan mahasiswa perguruan tinggi negeri di Manado ini untuk memainkan game tersebut. “Saya seperti kecanduan,” katanya singkat, pada Barta1, Senin (20/05/2019)

PUBG banyak menyita waktunya. Ada beberapa aktivitas vital termasuk studi yang kadang dikesampingkan gegara perhatiannya tersita dengan perangkat seluler. Tak jarang dia mengaku mengurung diri di kamar memainkan PUBG agar bisa terus mengasah kemampuan untuk bertahan hidup, mencari senjata dan pada akhirnya membunuh musuh yang terakhir, menjadi pemenang dalam setiap sesi pertandingan.

Mengakhiri keberadaan lawan yang hadir dalam bentuk permainan membawa sensasi tersendiri pada pemainnya. Pada game seperti PUBG atau Free Fire, hal ini adalah keniscayaan. Survival mengharuskan pemain game bergenre battle royal membunuh atau dibunuh. Di alam virtual Battle Royal, sensasi membunuh manusia telah tereksplorasi dengan sempurna.

Sementara, game-game seperti PUBG, Free Fire, Fortnite, Rule of Survival, hingga yang modelnya lucu seperti Battlelands Royale dan Pixel Unknown Battle Ground laris manis karena menawarkan ide yang menyentuh sisi humanitas terdalam manusia, insting membunuh sesamanya.

Bertahan Hidup
Insting membunuh demi bertahan hidup ini sifatnya sudah lahiriah pada diri manusia. Sebuah penelitian menunjukan hal itu pada lur genetika atau sosiobiologi, tulis tirto.id dalam artikelnya bertajuk “Kecenderungan Membunuh pada Diri Manusia,” 17 Desember 2016. Insting untuk bertahan hidup diuji coba pada sampel janin kembar dalam rahim yang dianalisa menggunakan MRI. Satu janin dengan yang lainnya berupaya mendapatkan ruang yang maksimal dalam rahim ibunya. Untuk itu, mereka tak segan untuk mendorong dan menendang saudaranya.

Review Global menulis, berdasarkan penelitian David M Buss, psikolog cum profesor di University of Texas Austin, menyatakan sekitar 91 % pria dan 84 % wanita memiliki keinginan untuk membunuh makhluk hidup lainnya. Tak peduli apakah itu hewan, tumbuhan atau pun sesama manusia. Buku Base Instincts: What Makes Killers Kill? Yang ditulis Jonathan Pincus menyebut manusia akan cenderung melakukan aksi membunuh manusia lainnya sebagai upaya mempertahankan diri atau menyelamatkan nyawanya sendiri.

Dalam sebuah artikel, Time pernah mengulas upaya penelitian sejumlah psikolog di Monash University Melbourne pada 48 subyek manusia, untuk mengungkap bagaimana reaksi otak ketika keinginan membunuh muncul.

Dikutip dari Time, otak manusia terkode untuk perasaan welas asih, rasa bersalah, dan sakit empatik yang menyebabkan seseorang secara sengaja menyakiti untuk membuat orang lain merasakan hal yang sama dengan dirinya. Sebuah studi dilakukan oleh para psikolog di Monash University Melbourne untuk lebih mengerti apa yang terjadi pada otak seorang pembunuh.

Dilansir detik.com dalam postingannya, “Apa yang Terjadi pada Otak Saat Seseorang Membunuh?, Kamis 15 November 2018, para psikolog merekrut 48 subyek dan meminta mereka untuk memindai otak mereka menggunakan alat functional magnetic resonance imaging (fMRI) saat mereka menonton tiga video dengan skenario yang berbeda. Satu video menampakkan seorang prajurit membunuh prajurit lawan, selanjutnya prajurit tersebut membunuh warga sipil, dan terakhir seorang prajurit yang menembak namun tak mengenai siapapun.

Seluruh subyek menonton video tersebut dari sudut pandang prajurit dan diberi pertanyaan di akhir “Siapa yang kamu tembak?” dan harus menekan satu tombol yang mengindikasikan jawaban mereka. Setelah dipindai, mereka juga ditanyai menggunakan rating 1-7, seberapa bersalah yang mereka rasakan di tiap skenario.

“Aku akan fokus terlebih dahulu pada aktivitas orbitofrontal cortex, sebuah area di otak bagian depan yang telah lama diketahui terlibat dalam sensitivitas moral, nilai moral dan penentu pilihan bagaimana harus bersikap. Temporoparietal junction (TPJ) terdekat juga berperan dalam beban moral ini, memproses rasa agensi – tindakan melakukan sesuatu dengan sengaja sehingga memiliki tanggung jawab untuk itu,” papar Pascal Molenberghs, salah satu psikolog tersebut.

Hasilnya, ada area lain yang disebut fusiform gyrus yang lebih aktif saat para subyek membayangkan mereka membunuh para warga sipil. Fusiform gyrus bertanggung jawab dalam menganalisa wajah, mengungkapkan bahwa para subyek sebelumnya mempelajari ekspresi para korban imajiner mereka terlebih dahulu, dalam kata lain ‘memanusiakan’ mereka.

Sedangkan saat para subyek membayangkan mereka membunuh para prajurit lawan, ada aktivitas lebih besar pada area yang disebut lingual gyrus, sebuah area yang terlibat dalam bisnis penalaran spasial yang jauh lebih memihak. Seperti misalnya saat ditugaskan untuk membunuh orang yang dianggap benar atau berhak untuk dibunuh.

Sebagian besar subyek mengaku merasa sangat bersalah usai menonton video tersebut. Sehingga dapat disimpulkan, jelas bahwa ‘akar’ moral dan akar ‘saraf’ pada pembunuh benar-benar terlibat, sehingga pembunuh atau psikopat sekalipun bukanlah ‘berdarah dingin dan tak memiliki moral’, namun hanyalah bentuk reaksi yang terjadi dalam otak mereka. Para psikolog yakin dengan memisahkan sedikit kedua ‘akar’ tersebut dapat membantu mereka dan para kriminolog untuk memprediksi pembunuh dan menghentikan mereka sebelum mereka beraksi. (*)

Editor: Ady Putong

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed